Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 146. season 2


__ADS_3

Setelah mengerjakan semua pekerjaannya, Adrian dan Anaya kini bersiap untuk pulang.


"Nay." Panggil Erwin.


"Iya, ada apa pak?"


"Gue titip ini buat Adrian."Erwin meletakkan sebuah kartu undangan di meja Anaya.


"Ini apa pak?"tanya Anaya. Ia membolak balikkan kartu undangan yang di berikan Erwin barusan.


"Itu kartu undangan dari pak Tommy buat Adrian." Balas Erwin.


Anaya mengangguk.


"Ya sudah, gue balik duluan." Ujar Erwin kemudian meninggalkan Anaya yang masih di kursi kerjanya.


Setelah Erwin pergi, pintu ruangan Adrian terbuka. 


"Ada apa, nay?" Tanya Adrian.


"Ini, mas. Surat undangan dari pak Tommy, Erwin baru saja menitipkannya. katanya untuk, mas." Balas Anaya kemudian mengambil tasnya.


Adrian mengangguk."oh iya aku sampai lupa jika besok aku akan ke Bogor."ucap Adrian dan langsung mengambil kartu undangan yang ada di atas meja.


Anaya menatap Adrian." Kok mas ngak ngomong sih?" Tanya Anaya.


"Maaf, sayang. Mas juga baru taunya kemarin." Balas Adrian. Ia merangkul pundak Anaya dan  berjalan menuju lift.


Setelah mereka sampai di parkiran kantor Adrian dan Anaya langsung masuk ke dalam mobil.


"Mas,"panggil Anaya.


Adrian menoleh."ada apa, nay?"jawab Adrian.


"Bisa singgah di supermarket sebentar ngak mas? Aku harus membeli beberapa kebutuhan dapur."ujar Anaya.


" Bisa, Nay." Jawab Adrian di ikuti tersenyum. Tangannya terangkat mengusap kepala sang istri.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di supermarket. Mereka keluar dari mobil setelah Adrian memarkirkan mobilnya.


Saat Anaya sampai di dalam supermarket, Anaya langsung mengenderkan pandangannya sekeliling dan langsung Menuju rak penyimpanan makanan. 

__ADS_1


Setelah mengambil semua barang yang di ingin, Anaya kembali berjalan menuju kasir, ia hendak membayar semua belajaannya. Setelah membayar semua belajaannya, Anaya langsung menghampiri Adrian.


"Mas." Panggil Anaya.


Adrian menoleh." Apa Semuanya sudah kau beli?" Tanya Adrian. Ia menatap semua kantongan belanjaan Anaya yang masih berada di troli


"Sudah, mas." Jawab Anaya.


Adrian tersenyum." Nay, Kau tunggu mas dulu di sini, mas pengen ke toilet." Pamit Adrian.


Anaya mengangguk kemudian tersenyum." Jangan lama mas."ucap Anaya.


Dari jauh, Terlihat sepasang mata yang memperlihatkan mereka dengan tatapan jahat." Jangan sampai gagal." Orang itu memberikan amplop beserta kap cofe kepada orang itu.


Orang itu mengangguk dan langsung berjalan.


"Maaf, saya tidak sengaja." Ujar seorang gadis saat menabrak Anaya ia mengibas-ngibaskan tangannya, berusaha membersihkan bekas coffe yang menempel di pakaian Anaya.


"Tidak, apa-apa." Anaya mundur beberapa langkah ke belakang, kemudian tersenyum. Ia mengambil tissue basah yang ada di dalam tasnya kemudian membersihkan pakaiannya.


"Sekali lagi saya mohon maaf, Bu. Saya tidak sengaja." Ujar gadis itu.


"Kalau begitu saya pamit yah, Bu." gadis itu menuduk dan langsung pergi meninggalkan Anaya.


Tak lama Adrian datang dan langsung menghampiri Anaya." Kau kenapa." Tanya Adrian saat melihat Anaya terus mengusap pakaiannya mengunakan tissue basah.


"Ini, mas. Tadi ada seseorang yang tidak sengaja menabrak ku. Kemudian coffe yang ia pegang terjatu dan mengenai pakaianku." Balas Anaya. Ia mengerucutkan bibirnya.


"Jangan cemberut gitu, Nay. Kau terlihat jelek jika cemberut. Nanti kita mampir ke butik." Ucap Adrian.


Seketika mata Anaya menatap tajam ke arah Adrian saat Adrian mengatainya jelek." Siapa yang jelek?Hah?" Tanya Anaya ia mencubit perut Adrian. Seketika Adrian terkikik." Ampun, Nay." Seru Adrian saat perutnya di cubit oleh Anaya.


"Mas aku ke toilet dulu, aku ingin membersihkan pakaianku." Ucap Anaya.


"Mau aku temani?" Tawar Adrian.


"Tidak usah, mas. Aku bisa sendiri."tolak Anaya. Kemudian pamit dan langsung meninggalkan Adrian.


Setelah Anaya sampai di toilet. Ia langsung membersihkan pakaiannya. Setelah selesai membersihkan pakaiannya, ia langsung beranjak untuk keluar dari toilet. Namun baru saja ia melangkah seorang wanita menyudutkannya ke dinding dan langsung mengapit rahang Anaya mengunakan jarinya." Siapa, kau?" Tanya Anaya. Saat wanita itu semakin menyudutkannya.


"Kau tidak perlu tau siapa aku. Aku hanya ingin memperingatkan mu,  jika aku akan merebut kembali Adrian dari sisimu. Gara-gara kau, aku dan Adrian tidak jadi menikah."ujar wanita itu.

__ADS_1


"Siapa kau, berani mengancamku. Aku tidak takut dengan ancamanmu." Anaya kembali membalas tatapan tajam wanita itu.


Wanita itu kembali meremas Rahang Anaya."Kau benar-benar berani menantang ku. Kita lihat saja nanti siapa yang menang di antara kita."wanita itu berucap kemudian meninggalkan Anaya yang masih bersandar di dinding.


Setelah wanita itu pergi, Anaya memegang rahangnya. Ia sedikit meringis. Tadi saat wanita itu mengapit rahangnya, kuku wanita itu menancap di pipi Anaya, meninggalkan bekas goresan di sana.


Anaya menatap pintu toilet." Siapa wanita itu." Lirihnya ia sedang berpikir, mengingat-ingat kekasih Adrian enam tahun yang lalu. Tetapi sepertinya bukan. Lama terdiam memikirkan siapa wanita itu, ia  Kemudian menegakkan tubuhnya dan meninggalkan toilet.


"Kau kenapa." Tanya Adrian saat melihat wajah Anaya yang terdiam. 


Anaya mengeleng." Aku tidak apa-apa, mas. Ayo kita pulang." Ajak Anaya. Ia menarik tangan adrian menuju ke mobilnya.


Saat sampai di mobil, Anaya langsung masuk, dan langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang. Pikirannya saat ini sedang menerawang, mencari tau siapa gadis itu. Adrian tidak pernah menceritakan apapun padanya, tentang siapa kekasihnya. Anaya hanya pernah melihat Adrian bersama dengan wanita beberapa tahun yang lalu, tetapi sepertinya bukan wanita yang tadi.


"Nay, kau kenapa?" Tanya Adrian. Pasalnya sejak tadi Anaya terdiam tidak mengucapkan sepatah kata apapun.


Anaya tidak merespon, ia masih terdiam sambil melihat keluar jendela.


Adarin kemudian memegang tangan Anaya." Nay, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Seketika Anaya menoleh.


"Ah! Iya. Ada apa, mas."Anaya tersadar saat Adrian menyentuh punggung tangannya.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Adrian lagi.


Mendengar pertanyaan Adrian, Anaya langsung menggeleng" tidak ada, mas. Mungkin aku hanya lelah." Jawab Anaya dan kembali melihat keluar jendela.


Setelah melaju cukup jauh, Adrian langsung memarkirkan mobilnya di Depan sebuah rumah makan seafood." Ayo kita makan." Ajak Adrian.


Anaya mengeleng." Mas, saja. Aku sedang tidak berselera."balas Anaya.


"Kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Adrian. Ia memegang dahi Anaya. Ingin memastikan jika wanita ini sedang sakit atau tidak.


"Tidak demam." Gumam Adrian.


"Ayo, Nay. Setidaknya kau makan sedikit. Aku tidak ingin kau sakit." Titah Adrian.


Setelah Adrian  membujuk Anaya, akhirnya Anaya setuju untuk keluar dari mobil. Lalu Anaya melangkah masuk ke dalam restoran dengan langkah malas.


"Jika kau adalah masalah bicaralah, jangan dipendam." Seru Adrian saat menarik kursi untuk Anaya.


Anaya kembali tersenyum." Aku serius, mas. Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan saja."

__ADS_1


__ADS_2