
Setelah dari gudang. Cakra memperlebar langkahnya memasuki ruangannya. Para karyawan memandang aneh padanya. Mungkin Menurut para karyawan. Hari ini bosnya nampak terlihat begitu menyeramkan. Terlihat dari wajahnya yang tampak memerah Dengan rahang yang mengeras. Ia berjalan melewati beberapa karyawan yang sibuk dengan beberapa berkas di tangannya. Alex yang melihat itu, lalu menatap tajam ke arah para karyawan. Melihat tatapan Alex, seketika semua karyawan itu menunduk.
Saat sampai di dalam ruang, Cakra lalu mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Sial! Sampai detik ini, kita belum juga mendapatkan bukti apapun," Cakra terlihat menggeram menahan emosi.
Alex diam. Tak berani mengucapkan satu kata apapun. Alex tahu, sifat dan watak atasannya. Cakra tipe orang yang tidak ingin dibantah sedikit pun.
"Hubungi orang mu. tanyakan, Apakah dia sudah mendapatkan bukti." Cakra berucap menatap Alex yang masih setia berdiri di depan meja kerjanya.
"Baik, tuan!" Alex mengambil ponsel yang ada di sakunya. Lalu langsung menghubungi Bimo, orang suruhan nya.
Tak menunggu lama, terdengar suara Bimo dari sebrang sana.
"Apa kah kau sudah menemukan bukti," tanya Alex the point.
__ADS_1
" Belum, tuan!"balas Bimo.
"Apa yang kau kerjakan seharian ini! hah? mencari bukti saja sangat sulit," Alex berucap.
"Maaf, tuan. Seharian ini saya sudah mengikutinya. Namun, tak ada satupun tanda-tanda mencurigakan dari orang itu. Tetapi saya akan terus mengikutinya tuan!
"Baiklah. Saya menunggu kabar baik dari mu.
"Baik, tuan!
"Hey, apa kau ucapkan barusan?" Tanya Alex.
"Mati aku."Bimo memukul jidatnya."maaf, tuan. Mungkin tuan salah dengar."
"Yah sudah!" Alex kemudian mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
***
Noureen kembali melihat jam yang ada di dinding kamarnya. Sudah pukul 11 malam, namun suaminya belum juga kembali dari kantor. Noureen terlihat khawatir, entah apa yang terjadi dengan suaminya akhir-akhir ini.
"Mas," lirih Noureen.
Noureen kemudian berjalan ke arah balkon kamarnya. Ia menatap langit malam ini dan berharap apapun yang menimpa suaminya dapat diselesaikan.
Cakra, Alex dan Bimo kini berada di sebuah lobi apartemen. Mereka bertiga terlihat memakai masker. tadi sore, petugas penjaga CCTV itu sudah mengaku jika ada seseorang yang menyuruhnya untuk meretas sebagian rekaman CCTV di bagian-bagian tertentu yang ada di perusahaan. Namun sayangnya petugas itu tidak tahu siapa orangnya. Karena pada saat itu, orang itu memakai topi dan sebuah masker. itu sebabnya, petugas itu tak mengetahui siapa orangnya. Petugas itu hanya mengatakan jika orang itu bertubuh tinggi dan berkulit putih. Tentu saja dari tinggi dan kulitnya Cakra bisa menebak jika itu Candra. Tetapi ia tidak ingin terlalu terburu-buru menebak jika belum menemukan sebuah bukti yang konkrit.
Tak lama sepasang kekasih itu terlihat keluar dari lift. Buru-buru mereka bertiga berpencar, takut Candra curiga. Namun ada hal yang aneh yang ditangkap oleh Cakra. Wanita yang saat ini dia rangkul adalah Alea, mantan kekasih Cakra.
Cakra mengepalkan tangannya, rahangnya ikut mengeras, bukan karena cemburu saat Melihat mantan kekasihnya bermesraan dengan Candra. melainkan ia sudah tahu jika dalang dibalik semua masalah ini adalah Alea.
"Dasar wanita jalan," umpatnya. Cakra lalu melangkah ingin menghampiri sepasang kekasih itu, namun buru-buru Alex menghalanginya.
__ADS_1
"Sabar, tuan. Kita belum menemukan cukup bukti.