Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 169. season 2


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan Adrian, Anaya tertegun.


"Aku sangat mencintaimu, Nay. Aku bahagia kau mengandung anakku." Ucap Adrian.


Adrian bergeser duduknya lalu menangkup kedua pipi Anaya.


"Nay, aku mencintaimu, sungguh sangat mencintai mu, kau jangan pernah berpikir jika aku akan meninggalkanmu. Aku hampir gila jika aku tak menemukan mu."ujar Adrian.


Anaya masih tertegun. 


Adrian membawa Anaya ke dalam pelukannya, mengecup pucuk kepala Anaya." Nay, aku sangat mencintaimu. jadi, jangan berpikir jika aku akan pergi meninggalkanmu. Kau dan janin yang sekarang kau kandungan adalah hal paling berarti di hidup ku, tidak ada yang lebih berarti dari itu."


Anaya mendongak, memandang wajah Adrian .


"Apa kau tidak marah?" Tanya Anaya.


Adrian kembali memeluk anaya.


"Aku tidak marah sama sekali, aku bahagia, sangat bahagia. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah." Ucap Adrian. 


Anaya tersenyum. Ternyata apa yang ia pikirkan tidak terjadi, ketakutan yang sejak tadi muncul di kepala nya hanya kekhawatiran belakang. Adrian suaminya sangat bahagia atas janin yang dikandungnya sekarang.


Setelah lama berpelukan Adrian melepaskan pelukannya, ia mencium wajah Anaya bertubi-tubi, tidak peduli dengan semua mata yang mungkin saja melihatnya saat ini.


"Terima kasih, mas." Ucap Anaya saat Adrian sudah melepas pelukannya.


"Sama-sama, nay." Jawab Adrian.


Adrian berdiri dari kursinya." Ayo." Ajak Adrian


Anaya mengangguk kemudian tersenyum. Lalu memeluk lengan Adrian tanpa malu, Adrian hanya tersenyum saat Anaya memeluk lengannya.


Mereka berjalan keluar dari taman, dengan Anaya yang memeluk lengan Adrian dengan mesrah, seolah menjelaskan jika Adrian adalah hanya milik.


Sepanjang perjalanan Adrian bercerita tentang kota Amsterdam, dimana sang ibu dimakamkan di sini. Adrian pun bercerita tempat-tempat yang sudah ia kunjungi di Belanda, dan bercerita tentang kanal-kanal indah yang ada di sana. Tak lupa Adrian bercerita jika ia pernah berjumpa dengan Naureen di sana. Namun satu hal yang Adrian tidak ceritakan. Yaitu Adrian Pernah jatuh hati pada Noureen. Menurut Adrian biarlah ia menyimpan semuanya sendiri, bukan karena ia tidak ingin terbuka pada Anaya. Tapi Adrian berusaha menjaga perasaan sang istri, ia tidak ingin saat mereka bertemu akan menjadi canggung.


***


Keesokan harinya, seperti biasa Anaya kembali mual. Semua makan yang ia makan hanya nyangkut dan kembali keluar. Rasa mual, rasa pusing tidak beranjak sedikit pun. Adrian yang selalu setia di samping Anaya semakin khawatir saat sang istri tidak makan sedikit pun.

__ADS_1


"Nay, makan yah?" Bujuk Adrian.


Anaya lagi-lagi menggeleng." Tidak mas, aku tidak kuat memakannya, rasanya perutku bergejolak." Eluh Anaya.


"Ayolah, Nay, sedikit saja." Bujuk Adrian. Ia mengarahkan sendoknya ke depan bibir Anaya.


Bukannya membuka mulut, perut Anaya kembali bergejolak. Anaya bangkit dan kembali berlari ke arah wastafel.


Adrian menaruh mangkuk yang masih ia pegang dan berjalan menghampiri Anaya. Ia memijat tengkuk Anaya dengan penuh sabar.


"Maaf kan mas yah, Nay." Ucap Adrian. Wajahnya terlihat sedih saat melihat kondisi anak.


Setelah memuntahkan isi perutnya. Adrian kembali membatu Anaya merebahkan kenali tubuhnya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?" Tanya adrian.


Anaya tampak berpikir lalu menggeleng." Tidak mas."


"Nay coba dipikir lagi, atau kau mau mas membuatkanmu sup?" Adrian terlihat pusing, ia sangat frustasi karena Anaya belum makan sama sekali.


"Tidak, mas. Aku tidak ingin memakan sup ataupun yang lain." Tolak Anaya.


Mendengar ucapan Adrian, kini Anaya kembali berpikir.


"Baiklah mas, aku ingin makan bakso. Tapi bakso hasil racikan mu sendiri." Ucap Anaya.


Mata Adrian langsung mebulat."bakso? Mas tidak bisa membuat bakso."balas Adrian.


"Yah sudah, mas. Tidak usah kalau begitu." 


Adrian menghela nafas. Kemudian kembali berucap.


"Baik, mas akan membuatkan bakso untuk mu." Balas Adrian.


Anaya tersenyum gembira." Terima kasih, mas."


"Sama-sama, sayang." Adrian mengusap pucuk kepala Anaya." Kalau begitu, kau tunggu di sini. Mas akan keluar untuk membuatkan mu bakso."


Anaya mengangguk.

__ADS_1


Adrian melangkah meninggalkan Anaya keluar dari kamar. Di luar kamar Haris dan istrinya sedang duduk sambil menikmati teh.


"Kau kenapa? Lesu banget." Ucap Haris 


"Ini Anaya minta di buatkan bakso. Bagaimana coba aku membuka bakso. Membuat telur mata sapi saja aku tidak bisa ." Balas Adrian.


"Biar aku saja yang membuatnya, kau duduk saja bersama haris." Ucap Vera.


"Tidak, Anaya tidak mau jika orang lain yang membuatnya, dia hanya mau jika aku yang membuatnya " balas Adrian. 


Haris dan Vera terkekeh. 


"Itu contoh perjuangan mu, untuk menjadi seorang ayah." Ledek Haris dan kembali terkekeh.


Adrian menghela nafas panjang tanpa membalas ledekan Haris.


Setelah sampai di dapur. Adrian mulai membuka youtubo, mencari cara untuk membuat bakso.


Adrian mulai menyiapkan bahan, sesuai dengan instruksi yang ada di youtubo itu. Satu persatu bahan yang ada di kulkas Adrian keluarkan. Tidak lupa ia mengambil daging sapi lalu memotong-motongnya menjadi bagian kecil agar saat ia memasukkan dagingnya kedalam blender akan membuat dagingnya mudah hancur tanpa tersendat.


Haris dan Vera hanya bisa tersenyum melihat perjuangan Adrian membuat bakso untuk sang istri. Mereka tidak berniat membantu Adrian. Adrian dari awal sudah menolak untuk di bantu.


Satu persatu bahan Adrian masukkan ke dalam chopeer, dari daging, bawang putih, merica, baking powder, garam, putih telur, dan penyedap rasa. Setelah itu Adrian mulai menyalakan chopeer. Ia menghaluskan daging dengan pelan dan penuh perasaan. Ia tidak ingin jika bakso buatannya tidak enak dan berakhir Anaya kembali memuntahkannya.


Setelah semua bahan sudah tercampur dengan rata. Adrian mulai mendidihkan air. Kemudian membentuk adonan bakso dan mulai memasukkannya ke dalam air sesuai instruksi yang ada di ponselnya.


Adrian tersenyum saat melihat Satu persatu bakso mengapung ke atas. Adrian mengambil penyaring lalu menyaring satu persatu bakso yang mengapung ke atas. Aroma daging tercium sangat lezat, membuat Haris dan Vera tidak sabar ingin mencicipi bakso buatan pengusaha sukses asal Indonesia itu.


Setelah selesai membuat bakso, kini Adrian merebus air ke dalam panci, lalu mengambil iga sapi yang sejak tadi ia rendam. Adrian mencuci iganya, meniriskan nya sembari menunggu air yang ada di panci mendidih.


Dua puluh menit berlalu, panci sudah mulai mengeluarkan uap, itu pertanda jika air yang Adrian rebus sudah mendidih. Adrian mengambil iga sapi, kemudian memasukkannya ke dalam air secara perlahan. aroma kuahnya tercium sangat lezat.


Haris berdiri dari kursinya kemudian mendekat.


"sepertinya enak. ternyata selain CEO kau juga sudah bisa jadi kang bakso." ledak Haris dan kembali terkekeh.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2