
Adrian membuka ruangan yang sudah ia sewa sebelumnya. Adrian menyewa ruangan yang ada di lantai tertinggi restoran itu, sebuah rooftop yang hanya ada 1 meja dan dua kursi yang saling berhadapan.
Mata Siska membulat, bibirnya tersenyum saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Ia kemudian menoleh pada Adrian yang kini tersenyum padanya.
"Kita akan diner di sini?"tanya Siska.
Adrian mengangguk." Kau suka?"balas Adrian.
Seketika Siska mengangguk dan menghambur memeluk tubuh Adrian." Terimakasih, honay." Ucap Siska di dalam pelukan Adrian.
Adrian memejamkan mata, ia menggertakkan giginya saat siska memeluk erat tubuhnya. Namun, sepersekian detik Adrian terpaksa tersenyum dan membalas pelukan Siska" Sama-sama, sis." Balas Adrian.
Setelah itu, Adrian mengajak Siska masuk ke dalam area rooftop yang sudah di dekorasi sedemikian rupa agar terlihat cantik. Sebenarnya Adrian sangat muak jika harus melakukan ini semua. Tetapi mau tidak mau ia harus melakukan ini agar semua masalahnya cepat selesai.
Sesampainya di dalam ruangan, Adrian lalu menarik kursi dan mempersilahkan Siska untuk duduk. Setelah itu ia berlari kecil dan duduk di kursi yang ada tepat di seberang kursi yang diduduki Adrian.
Adrian lalu menaikkan tangannya dan menepuk sebanyak dua kali. Seorang waiters datang dengan mendorong sebuah meja beroda empat dengan sajian makanan yang ada di atasnya.
Setelah itu, waiters mulai menyajikan makan pembukaan. Kemudian menyalakan lilin.
Siska tampak tersenyum saat mendapatkan perlakuan istimewa seperti saat ini.
Setelah makanan pembukanya telah habis. Waiters itu kembali lagi dengan membawa makanan utama. Sebuah steak. Lagi-lagi Siska tersenyum saat Adrian Berdiri dari kursinya dan maju kehadapan Siska. Ia kemudian mengambil alih garpu dan pisau yang ada di tangan Siska kemudian menekuk sedikit tubuhnya, kemudian mulai memotong-motong steak Milik Siska.
Lagi-lagi Siska tersipu saat mendapatkan perlakuan manis dari Adrian. Setelah itu, Adrian kembali lagi ke kursinya dan menikmati makanan utamanya.
Sementara di tempat lain, Erwin yang kini sudah bersiap diluar ruangan, menahan waiters yang akan masuk ke dalam rooftop membawa anggur merah yang sudah di pesan Adrian terlebih dahulu.
Erwin kemudian berbisik pada waiters itu, dan menarik sebuah amplop dari saku jasnya dan ia berikan kepada waiters itu, waiters itu mengantuk dan tersenyum..
Erwin kemudian memulai rencananya. Ia menuangkan anggur merah itu ke dalam dua gelas pialang yang ada di meja tersebut. Dan salah satunya ia beri serbuk untuk memabukkan.
"Kau harus ingat, berikan gelas ini pada wanita itu." Ucap Adrian pada waiters itu.
Waiters itu mengangguk dan mulai mendorong meja itu menuju meja Adrian.
Setelah sampai di sana, waiters itu mulai menaruh anggurnya ke depan Siska, begitupun dengan Adrian.
Setelah waiter itu berkedip, Adrian mengangguk kecil, ia mulai mengangkat gelasnya dan mengajak Siska untuk menubrukkan gelasnya mereka.
Dengan senang hati, Siska mengangkat gelasnya kemudian menubrukkan gelas mereka.
Kedua sudut bibir Adrian terangkat, saat melihat Siska mulai meminum anggurnya." Apa kau mau lagi?" Tanya Adrian ia mengangkat botol anggur itu dengan sedikit mencondongkan botol anggur itu ke hadapan Siska.
Siksa mengangguk."tentu, rasa anggur ini begitu nikmat, aku tidak ingin menyia-nyiakannya." Ujar Siska dan kembali menambahkan anggur ke dalam gelasnya di bantu oleh Adrian.
"Terima kasih." Siska kembali menyeruput gelas pialang miliknya.
Adrian tersenyum menatap wajah Siska yang terlihat mulai memerah. Saat ini, ia hanya menunggu obat yang tadi di berikan Erwin bereaksi.
***
Sudah dua jam berlalu setelah Erwin memberikan serbuk itu pada Siska. Dan sekarang Siska sudah terlihat sempoyongan. Ia meracau tidak jelas, kadang tertawa, kadang terlihat diam.
"Sis." Panggil Adrian. Ia memegang tangan Siska yang saat ini berada di atas meja.
"Hmmm, ada apa honay." Jawab siswa.
"Apa kau mencintaiku?"tanya Adrian.
"Tentu saja aku mencintaimu, tidak mungkin aku mau mengejar-ngejar mu jika aku tidak mencintai mu." Jawab Siska. Ia menatap Adrian dengan mata sayu, sesekali terlihat ia tersenyum.
__ADS_1
"Jika kau mencintaiku, jawab pertanyaan ku dengan jujur. Apa kau mau?" Tanya Adrian.
Seketika Siska mengangguk. Wanita itu sudah terlihat sempoyongan.
"Apa kau hadir di acara party pak Tommy yang di adakan di Bogor tempo hari?" Tanya Adrian.
Siska terlihat tersenyum." Tentu saja aku hadir. Karena aku ingin bertemu dengan mu, aku sudah sangat merindukanmu." Balas Siska dan tersenyum pada Adrian.
"Apa kau mengenal pelayanan ini?"tanya Adrian. Ia memperlihatkan sebuah foto pada Siska.
Siska menatap foto itu, kemudian menyipitkan matanya.
"Ada-ada saja kau honey, mana mungkin aku mengenal pria kelak seperti dia." Ujar Siska.
"Coba kau lihat lagi." Adrian Berdiri kemudian mendekat pada siska.
Siska kembali menyipitkan matanya melihat gambar di foto itu.
"coba ingat-ingat lagi apa kau mengenalnya?"tanya Adrian.
Siska terlihat berpikir, ia mengigit bibirnya sambil menaikkan matanya dan menaruh telunjuknya di depan bibirnya." Emmm ."
"Bagaimana? Apa kau mengenalnya?" Adrian kembali melontarkan pertanyaan pada Siska.
Siska terlihat tersenyum." Aku akan jawab, tapi kau cium aku dulu."pinta Siska memanyunkan bibirnya. Ia memejamkan matanya sambil menunggu ciuma dari Adrian.
Melihat tingkah Siska, Adrian harus extra sabar menghadapi wanita ini. Mau tidak mau ia harus mengikuti kemauan Siska.
Adrian mencium bibir Siska.
"Susah."ujar Adrian.
Siska tertawa cekikikan.
Seketika Siska mengeleng." Tidak honey, aku tidak mengenalnya."pungkas Siska.
Adrian kembali memejamkan matanya dan bernafas berat." Jadi, tadi kau hanya mengerjai ku?"ujar Adrian. Ia mengangkat tangannya hendak melayangkan pukulan pada siska karna barusan Siska mengerjainya. Tetapi beberapa detik kemudian Adrian tersadar. Ia mengelengkan kepalanya kemudian bangkit dari posisinya dan kembali duduk di kursinya.
"Maaf honey, apa kau marah?" Tanya Siska. Ia menatap sendu pada Adrian.
"Tidak lupakan saja." Ujar Adrian.
Ia mengusap wajahnya kasar dan menyandarkan kepalanya kebelakang. Entah bagaimana caranya ia bisa mendapatkan semua bukti jika sebenarnya ia tidak bersalah, ia tidak melakukan itu pada Siska. Malam itu yang Adrian ingat adalah saat seorang pelayan memberi dia minum. setelah itu, kepalanya terasa pusing dan lama kelamaan ia sudah tidak sadarkan diri. Dan pagi harinya saat Adrian terbangun, ia sudah berada di atas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang di tubuhnya dan lebih parahnya ia tidur bersama siska dengan tak mengenakan sehelai benang seperti dirinya.
Setelah lama terdiam dan tak mendapatkan hasil apapun, kini Adrian bangkit hendak meninggalkan Siska.
"Honey, kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku." Panggil Siska ia berusaha berdiri dari kursi yang ia duduki berniat mengejar Adrian. Namun, tenaganya tidak begitu kuat. Sehingga ia terpaksa duduk kembali di kursinya.
Adrian menoleh. dan kembali menatap Siska." Ada apa lagi?" Tanya Adrian. Pria dengan tempramental tinggi itu berusaha menahan dirinya.
"Tunggu, aku akan berusaha mengingatnya." Seru siska.
Mendengar ucapan Siska mau tidak mau Adrian kembali duduk di kursinya." Baik, jika kau membohongiku lagi? Aku akan meninggalkan mu." Ancam Adrian.
"Jangan, honey " ucap Siska ia menarik tangan Adrian yang ada di atas mej kemuy mengenggamnya." Kau jangan meninggalkan ku lagi, aku tidak bisa hidup tanpa mu." Ujar Siska. Ia kembali mengingat wajah di foto itu.
Tak lama ia tersenyum.
"Apa kau mengingatnya?" Tanya Adrian.
Siska terlihat mengangguk." Aku mengingatnya, honey." Jawab Siska."Dia yang Tempo hari menolong ku."
__ADS_1
"Menolong?" Tanya Adrian.
"Iya, dia yang Tempo hari menolong ku saat acara party Tommy."Jawab Siska.
"Menolong apa?"
"Dia yang sudah menolong ku mengantarkan minuman ke meja yang kau duduk honay."seru siska dan Tertawa.
Seketika Adrian terlihat mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia memberi Bogeman pada wanita di depannya. Namun ia harus mengontrol emosinya. Ia tidak ingin gagal dalam mengambil informasi.
"Cepat kau jelaskan, obat apa yang kau taruh di minuman ku?" Tanya Adrian.
Siska terlihat tersenyum. Ia kembali menatap Adrian dengan tatapan sendu.
"Cuma obat tidur biasa, honey. Aku salah menaruh obat." Wajah Siska terlihat sedih kemudian kembali bercerita." Awalnya aku ingin menaruh bubuk perangsang ke minuman itu. Namun, om Suhendi salah memberi obat pada ku. Ahhh ingin rasanya aku merasakan nikmatnya bercinta dengan mu malam itu. Namun, aku harus menerima kenyataan jika aku salah memberikan obat." Siska kembali tersenyum, ia mengakat wajahnya dan kembali menatap Adrian." Bagaimana jika malam ini kita mengulang semuanya." Ujar Siska.
"Cih, bahkan untuk menyentuh mu aku tidak sudih."balas Adrian ia menaikkan suaranya satu oktaf.
"Jadi, di mana kau mengambil darah itu?" Tanya Adrian.
Siska kembali tersenyum." Aku menyuruh orang ku membeli darah dan meneteskannya tepat di atas sprei yang kita tidurin sebelum kau sadar."balas Siska.
Ia menghela nafas berat." Walaupun begitu aku sempet bermain-main dengan benda keramatmu honey. Aku memegangnya bahkan bermain dengan mulutku." Seru Siska.
Mata Adrian Membulat sempurna mendengar ucapan Siska. Ia mengutuk Siska bahkan mengucapkan sumpah serapah pada wanita di depannya. Bahkan di saat ia tidak sadar wanita ini dengan berani melakukan hal menjijikkan semacam itu pada seorang pria, dimana harga dirinya selama ini.
Setelah itu, Adrian menoleh pada Erwin yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Erwin mengangguk. Ya, tadi selama Adrian bertanya pada Siska. Erwin yang tidak jauh dari mereka mulai merekam semua yang di ucapkan Siska tanpa kurang sedikit pun. Rekaman itu yang akan Adrian jadikan bukti saat papanya dan Siska terus mendesaknya untuk untuk menikahi siska dengan dalih telah meniduri Siska dan mengambil ke sucian gadis itu. Dan nyatanya Adrian tau jika Siska bukan wanita suci. Adrian beberapa kali memergoki Siska keluar dari hotel dengan bergonta ganti pria. Hal itu juga yang membuat Adrian sangat jijik pada Siska dan tidak ingin jika papanya terus menjodohkannya dengan Siska yang nota bandnya adalah anak sahabatnya.
"Honey." Panggil Siska.
Seketika Adrian tersadar.
"Ada apa dengan mu, honay?" Tanya Siska lagi.
"Jauhkan tangan kotormu, aku tidak sudih di sentuh oleh wanita jalan sepertimu." Seru Adrian. Matanya terlihat memerah menahan emosi. Andai saja Siska adalah seorang pria, sudah tentu Adrian akan menghajarnya Hingga tak bisa berkutik lagi. Namun, nayatanya Siska adalah seorang wanita.
Adrian kemudian bangkit Secara kasar, bahkan kursi yang ia duduki terjungkal ke belakang.
"Kau jangan menggangguku lagi." Titah Adrian. Ia kemudian berbalik dan berjalan keluar.
"Honey, kau kenapa?" Tanya Siska . Ia ikut bangkit dari kursi dan berniat mengejar Adrian. Tetapi tenaganya tidak cukup kuat sehingga ia terjatuh ke lantai.
"Honay," panggil Siska.
Adrian menoleh dan tersenyum miring.
"Erwin kau urus dia, antarkan dia pulang. Aku harus segera pulang dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi pada Anaya."ucap Adrian.
Erwin mengangguk." Iya bro, biar gue yang mengurus wanita ini."
Setelah mengatakan itu, Adrian kembali berjalan, ia berlari menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anaya. Beberapa hari saling diam dan kuncing-kucingan membuat Adrian tersiksa. Ia harus cepat sampai ke apartemen dan menjelaskan semua kesalah pahaman ini pada Anaya agar tidak berlarut-larut. Ia juga ingin meminta maaf pada Anaya atas sikapnya Tempo hari yang membuat Anaya menagis.
.
.
Terima kasih untuk yang masih mengikuti. di awal bulan ada gift pulsa 50 untuk dukungan terbanyak.
.
__ADS_1
.
dan pemenang gift awal bulan sekarang sudah saya transfer pulsa 50 di kartu XL nya ya. terima kasih buat de Gucci.🙏