
Setelah Noureen pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Cakra, Cakra lalu mendudukkan tubuhnya ke ranjang dan langsung bersandar di ke palang ranjang. Ia memijat Pangkal batang hidungnya, karena saat ini kepalanya terasa berdenyut nyeri memikirkan semua masalah yang menubruknya akhir-akhir ini.
Beberapa hari kemudian. setelah Cakra memutuskan untuk membawa Noureen ke Singapura untuk melakukan persalinan disana. Hari ini tiem dokter mulai melakukan penyuntikan pematang paru untuk sang bayi. Penyunting pematangan paru berfungsi untuk meningkatkan fungsi paru-paru bayi.
Seperti yang dikatakan team dokter yang menangani Noureen, bahwa paru-paru adalah organ yang paling akhir terbentuk di dalam tubuh bayi, biasanya paru-paru bayi baru akan terbentuk sempurna setelah usia kandungan sekitar 36 Minggu sedangkan saat ini janin yang dikandung Noureen baru menginjak 31 Minggu.
***
Pagi ini Noureen sudah siap dengan long dress di bawah lutut berwarna dark blue. Ia menghampiri Cakra yang saat ini sedang memakai jam tangan di walk in closet.
"Mas," panggil Noureen saat masuk kedalam walk in closet.
"Iya, ada apa sayang,"Cakra menoleh ke sumber suara. Lalu tersenyum. Kemudian mengecup pipi Noureen sekilas. Tangan yang satunya tak berpindah dari pergelangan tangannya yang sedang memasang jam di tangannya.
"Mas, mau pakai dasi yang mana," tanya Noureen. memperlihatkan 2 buah dasi dengan warna dan corak yang berbeda.
" Kalau Menurut mu bagus yang mana, sayang?" Tanya Cakra kembali.
"Kalau aku sukanya yang dark blue, mas. Ini senada dengan dres yang sekarang aku kenakan,"ucap Noureen, wajahnya tampak cantik di usia kehamilannya yang menginjak 31 Minggu.
"Dark blue aja, sayang."jawab Cakra tersenyum dan langsung mencium pipi Noureen sekilas.
Noureen tersenyum saat mendengar dasi pilihan cakra, ia kemudian maju dan langsung memasangkan dasi yang ia pegang ke leher sang suami.
Saat Noureen sibuk memasangkan dasi ke leher Cakra. tiba-tiba saja Cakra langsung ******* bibir Noureen yang tampak mengoda pagi ini, Noureen tak Tinggal diam, noureen pun ikut membalas ciuman sang suami. tangannya ia kaitkan di leher Cakra hingga mereka berciuman dengan sangat ganasnya
Lama barciuman, kini mereka saling melepas pangutan.
"Terimakasih,sayang," ucap Cakra. Tangannya terangkat untuk mengusap bibir Noureen.
Noureen menunduk sambil menyembunyikan senyumnya. Raut wajah malu tampak jelas terlihat dari wajahnya.
Cakra tersenyum melihat tingkah Noureen, ia kemudian memeluk tubuh sang istri.
"Sayang, kau harus janji, kau tidak akan pernah meninggalkan ku. Kita akan hidup bersama, menua bersama hingga Duduk sambil melihat anak cucu kita berlari dan saling mengejar." Bisik Cakra menenggelamkan kepala Noureen di dadanya.
Seketika Noureen mengangguk, ada dua bulir bening terjatuh dari pelupuk matanya. Entah kenapa saat ia mendengar ucapan Cakra. hatinya seperti tercubit. Ada rasa haru yang saat ini ia rasakan.
lama berpelukan, Cakra akhirnya melepas pelukannya, ia menatap wajah sang istri.
Tangannya terangkat menangkup wajah Noureen kembali." Kau harus janji untuk tidak meninggalkan ku." Ucap Cakra menatap wajah Noureen lalu berpindah mengusap sisa jejak air mata Noureen yang masih tertinggal.
__ADS_1
Noureen mengangguk kembali." Aku janji, mas. Aku tidak akan meninggalkan mu," jawab noureen tersenyum. Tangannya ikut terangkat mengusap sisa air mata yang tertinggal di wajah pria tampan yang begitu sangat mencintainya. Tak lama ia kembali bersuara." mas kenapa akhir-akhir ini kau terlihat sangat cengeng.
"Itu hanya perasaanmu, Sayang,"balas Cakra mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Seketika Noureen menggeleng, melihat tingkah laku suaminya.
***
Pukul delapan pagi terlihat Cakra masuk ke dalam lobi rumah sakit Medistra Jakarta dengan menggandeng tangan sang istri.
Saat tiba di loket pendaftaran, ia langsung mengambil surat pendaftarannya tanpa harus mengantri seperti beberapa orang yang ada di sana. Kerena tadi sebelum Cakra berangkat dari rumah, Alex sudah terlebih dahulu mendaftarkannya. itu sebabnya, saat Cakra dan Noureen tiba di rumah sakit, ia hanya mengambil surat pendaftaran tanpa harus mengantri lagi.
Setelah mengambil surat pendaftaran di loket Noureen kemudian berjalan menuju ruangan khusus yang sudah di siapkan khusus untuknya.
Sesampainya di ruangan itu seorang suster mendatanginya.
"Dengan nyonya Noureen?" Tanya suster.
"Benar, sus."Jawab Noureen dan Cakra bersamaan.
"Silahkan masuk, pak, bu. Dokter sudah menunggu anda di dalam,"ucap suster itu.
Noureen mengangguk dan langsung berjalan Menuju ruangan yang ada disana.
"Apa kabar, Bu?"tanya dokter Arif.
"Baik, dok,"jawab Noureen.
"Apa ada masalah yang dirasakan akhir-akhir ini, Bu? Seperti bercak darah dan sebagainya?" lanjut dokter Arif.
"Alhamdulillah, tidak ada masalah, dok."balas Noureen.
"Ibu biasanya merasakan gerak janinnya bergerak berapa kali sehari," tanya dokter Arif.
"dari pengamatan saya, janinnya bergerak 10 kali per 12 jam dok,"jawab Noureen lagi.
"Baik, kalau begitu, Bu." lanjut dokter Arif kembali menuliskan sesuatu di buku rekam medis milik Noureen.
Setelah itu, dokter Arif mulai berbicara kembali.
"Karena Hari ini kita akan menyuntikan obat pematang paru untuk bayi ibu, sebelumnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu," ucap dokter Arif.
__ADS_1
"Baik, dok" jawab Noureen sambil mengangguk.
Seketika dokter Arif kembali berbicara.
"Pertama-tama saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang suntikan ini. Pada kehamilan kurang bulan atau bisa dikatakan prematur, sebagian besar paru-paru belum matang karena pembentukan zat yang berperan dalam proses tersebut belum sempurna. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi mengalami gangguan pernafasan. itu sebabnya sebelum ibu Noureen melakukan persalinan Caesar, ibu harus disuntikkan pematang paru terlebih dahulu." Jelas dokter Arif. Kemudian melanjutkan ucapannya, adapun obat yang di suntikkan dan tempatnya dimana. Yaitu berupa obat kortikosteroid yang biasa di gunakan untuk menstimulasi maturasi paru yang isinya berupa betamethasone yang diberikan dua kali suntika kedalam otot ibu dengan dosis 12 mg selama 24 jam."ucap dokter Arif.
"Sampai disini paham Bu, pak." Lanjut dokter Arif.
"Paham, dok," jawab Cakra dan Noureen secara bersamaan.
Dokter Arif kemudian melanjutkan ucapannya.
"Adapun efek sampingnya, ibu akan mengalami seperti : kemerahan di wajah dan dada, peningkatan glukosa dalam darah, gangguan tidur dan gatal pada ******, dan penurunan gerak pada janin,"lanjut dokter Arif.
"Ada yang ingin di tanyakan lagi? Pak, Bu?"tanya dokter Arif.
"Dokter tadi mengatakan, jika akan ada penurunan gerak pada janin, apa masalah itu tidak beresiko untuk bayinya, dok?" Tanya Cakra. Wajahnya tampak serius.
"Itu aman-aman saja, pak. Selama masih ada pergerakan," lanjut dokter Arif.
Cakra terlihat mengangguk.
"Sampai di sini jelas, pak."
"Jelas, dok" jawab Noureen dan Cakra bersamaan.
Seketika dokter Arifin berdiri di ikuti oleh seorang suster yang membawa kotak kecil berupa suntikan dan obat-obatan yang akan di suntikkan ke tangan Noureen.
"Silahkan Bu." Suster itu mempersilahkan Noureen untuk berbaring di brankar.
"Baik, sus," ucap Noureen, berjalan ke arah brankar dan langsung menidurkan tubuhnya disana di bantu oleh cakra.
Dokter Arif kemudian mengambil suntikannya lalu mengisinya dengan obat sebanyak 12 mg. Mengusap lengan Noureen dengan alkohol.
"Permisi, ya, Bu," ucap dokter Arif saat mulai memasukkan jarum suntikannya ke kulit lengan Noureen."sudah, Bu,"lanjut dokter arif
"Trimakasih, dok," ucap Noureen setelah dokter Arif menyuntikan obat pematang paru pada tubuhnya.
"Sama-sama, Bu," jawab dokter Arif.
__ADS_1
Setelah itu semua suster berjalan ke arah brankar Noureen lalu mendorongnya menuju ruangan observasi.