Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 121. season 2


__ADS_3

Pukul lima sore Anaya baru sampai di depan rumahnya. Ia mengernyit heran saat ada beberapa mobil terparkir di halaman rumahnya, ia kemudian melangkah masuk, tepat saat kakinya menyentuh keramik teras, terdengar suara berisik dari arah ruang tamu. Seketika Anaya memperlebar langkahnya untuk masuk kedalam rumah.


Saat tiba di ambang pintu, langkah Anaya terhenti saat melihat beberapa pria bertubuh kekar berdiri tidak jauh dari pria yang duduk di ruang tamu bersama paman dan bibinya.


" Saya tidak mau tahu, bapak harus mengganti seluruh kerugian perusahaan, jika tidak... bapak harus siap-siap mendekam di dalam penjara," ucap salah seorang pria yang duduk di kursi Tunggal ruang tamu. Ia menatap tajam ke arah pak Darwis.


" Saya bersumpah pak, saya tidak pernah mengambil uang perusahaan, saya yakin saya di fitnah pak," jawab Pak Darwis dengan raut wajah ketakutan. Ia terus memohon. Bu asih yang berada disamping pak Darwis hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata apapun.


" Di fitnah bagaimana? jelas-jelas saya punya bukti kalau bapak yang menandatangani pembelian barang kantor," jawab pria itu." Pokoknya saya tidak mau tahu. saya memberi bapak jangka waktu selama Tiga hari. kalo bapak belum juga mengembalikan semua uang perusahaan dalam jangka tiga hari, maka… bapak siap-siap mendekam di dalam penjara, ingat itu," ucap pria itu lalu bangkit dan berjalan di ikuti beberapa bodyguard dibelakangnya, melewati tubuh Anaya yang berdiri mematung tepat didepan pintu.


" Kita harus bagaimana pak," ucap bi Asih dengan air mata yang terus mengalir.


" Bapak juga tidak tahu Bu." Jawab Pak Darwis sambil memijat pelipisnya.


" Kita tidak punya uang sebanyak itu pak, 1M bukan uang sedikit pak, ibu takut bapak di penjara," ucap Bi Asih lagi dengan air mata yang masih berderai.


Anaya lalu menghampiri Bi Asih, ia memeluk Bu Asih, mengusap punggung bibinya. 


" Sabar Bi, nanti Naya bantu nyari pinjaman ke teman-teman Naya." Seru Anaya berusaha menguatkan Bii Asih.


" Tapi nay, uang 1M itu bukan sedikit nay, siapa yang mau meminjamkan kita uang sebesar itu." Balas Bi Asih.


Anaya terdiam, ia sedang berusaha berfikir dimana ia akan mencari pinjaman. tidak mungkin juga jika ia harus meminjam lagi pada Noureen.


Akhirnya ia memutuskan meminta tolong pada Erwin, mungkin Erwin bisa menolongnya.


Anaya  melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Masih pukul lima lewat seperempat, akhirnya Anaya memutuskan untuk menemui Erwin.


Ia kemudian bangkit dari duduknya lalu masuk kedalam kamarnya untuk menyimpan tas yang berisi berkas miliknya lalu keluar dari kamar tanpa Mengganti pakaiannya. Anaya hanya membawa dompet beserta ponsel miliknya.


Sebelum melangkah keluar ia meminta izin, untuk meminjam motor pamannya. " Paman, Naya minjem motor yah. Motornya nay, masih rusak," ucap Anaya.


Pak Darwis mengangguk. pertanda mengizinkan Anaya untuk meminjamkan Anaya motor miliknya.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Anaya tiba di apartemen milik Erwin, Anaya kemudian masuk menuju lift. Di Depan lift, ia memencet salah satu tombol yang menempel disana. Tak lama pintu bergeser. Anaya kemudian masuk dan langsung memencet kembali tombol yang mengarah naik lalu menekan lantai unit kamar milik Erwin.


Terdengar dentingan. pintu kemudian bergeser ke samping. Anaya lalu keluar dan langsung berjalan menuju unit milik Erwin.

__ADS_1


Sesampainya di depan unit apartemen Erwin. Anaya memencet berkali-kali. Namun, sepertinya pemiliknya sedang tidak ada.


Anaya menghela nafas. Ia lalu merogoh ponsel yang ada di sakunya. Ia menghubungi Erwin. Namun, ponsel Erwin pun tidak aktif. Hanya ada suara lembut gadis operator yang terdengar di seberang sana. tadi pagi, Erwin mengambil cuti. Erwin berangkat ke Inggris untuk memperjelas hubungannya dengan Vita, itu sebabnya saat Anaya datang ke apartemennya, Erwin tidak ada di sana.


Sejenak Anaya terdiam lalu berfikir." Dimana lagi aku harus mencari pinjaman." Gumam Anaya sambil mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Saat keluar dari dalam apartemen milik Erwin, Anaya terlihat tampak lesu, ia berjalan menghampiri motornya. lalu berdiri disana. ia mengambil kembali ponsel yang ada di sakunya. Kemudian langsung menghubungi Erwin kembali. Namun, masih sama, ponsel Erwin masih tidak bisa dihubungi. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang.


Ditengah jalan, ia berhenti sejenak. Kemudian memarkirkan motornya di tepi jalan dan langsung turun dari motor. Ia berniat menghirup udara malam sebentar sebelum pulang ke rumahnya. saat ini, pikirannya sedang kacau. Anaya lalu mendudukkan tubuhnya di pinggir trotoar, ia menekuk kedua lututnya. Seketika Bayangan akan masalah pamannya kini menari-nari di otaknya. bagaimana jika dalam tiga hari ia tidak mendapatkan pinjaman, ia tidak tega melihat pamannya harus mendekam dibalik jeruji besi.


Anaya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. menghirup oksigen sebanyak - banyaknya lalu bangkit dan langsung berjalan ke arah di mana motornya terparkir lalu kembali kerumah.


Saat Anaya sudah tiba dihalaman rumah. terlihat pak Darwis dan Bi Asi sudah menunggunya di teras.


Anaya kemudian memarkirkan motornya kemudian langsung turun menghampiri bibi dan pamannya.


"Bagaimana, nay?" Tanya Bi Asi. Menghampiri Anaya yang berjalan lesu kearahnya.


Anaya menggeleng." Aku tidak bertemu dengannya, Bi. apartemennya kosong.


Bi Asi tersenyum kemudian berucap."tidak apa-apa, nay. Kamu istirahat saja dulu, besok kita akan mencari solusinya bersama-sama. mudah-mudahan besok paman dan bibi bisa menemukan jalan keluarnya, " Ucap Bi Asi. Mengusap punggung Anaya.


*** 


Tiga hari kemudian


Sudah tiga hari sejak kejadian itu. hari ini tepat hari ke tiga, di mana masa jatuh tempo yang diberikan orang itu kepada pak darwis.


Bi Asi dan Anaya yang duduk di kursi, hanya bisa menatap pak Darwis yang berjalan mondar-mandir di ruang makan.


"Pak, duduk dulu, kita sarapan, yuk," ajak Bi asih. Pasalnya sejak pagi pak Darwis belum makan apapun


"Iya, paman. Sarapan, yuk," ajak Anaya. berdiri menghampiri pak Darwis.


Pak Darwis mengeleng.


"Aku belum lapar, nduk," jawab Pak Darwin. Yang terlihat was-was.


"Ayolah paman, dikit saja." Bujuk Anaya.

__ADS_1


Namun, belum sempat pak Darwis melangkah. Terdengar suara gedoran dan teriakan dari arah depan.


Seketika mereka bertiga langsung bangkit. Dan langsung berjalan keluar menuju pintu depan.


"DARWIS!!! keluar kau, kalau tidak, akan ku dobrak pintu ini," ucap seseorang yang berada di balik pintu itu.


Seketika Pak Darwis membuka pintu itu. saat pintu terbuka. Terlihat sudah banyak pria bertubuh kekar berdiri di teras rumah mereka.


Pak Darwis tersenyum, tapi tidak ditanggapi oleh orang-orang itu.


"Bagaimana? apakah uangnya sudah ada?,"tanya laki-laki itu.


"Be...Lum, pak. Kami belum mendapatkan pinjaman! apakah bapak bisa memberi Kami waktu lagi?" Ucap pak Darwis memohon.


Namun, ucapan pak darwis, tidak ditanggapi oleh orang itu, orang itu malah mengedipkan satu matanya kepada para bodyguard.


Secepat kilat mereka berjalan masuk. Menarik kerah kemeja pak Darwis, kemudian menghajarnya dengan membabi buta.


"Ampuni saya, pak! Saya bersumpah, saya tidak mengambil uang itu," ucap pak Darwis memohon dengan berderai air mata.


"Tolong pak. jangan lakukan itu," ucap Anaya menangis, ia ingin menghampiri pamannya, menolong pamannya. Namun, kedua tangannya dipegang oleh salah satu bodyguard itu, sedangkan Bu Asi terkulai lemas, pingsan tak sadarkan diri.


Diluar pagar, terlihat sudah banyak orang yang melihat. namun, Mereka hanya bisa menatap iba tanpa bisa berbuat apa-apa kepada keluarga pak Darwis.


"Pak, saya mohon, lepaskan paman saya." ujar anaya masih menggibah. Anaya semakin menangis histeris, saat satu pukulan menghantam wajah pak Darwis lagi. Darah segar kembali mengalir, keluar dari mulut pak Darwis.


Anaya yang melihat itu, semakin tak tega. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Adrian, ia akan memohon pada Adrian, agar meminjamkannya uang, walaupun ia harus membayarnya seumur hidupnya.


Seketika Anaya langsung bersuara kembali."pak, tolong beri saya waktu, setidaknya sampai malam ini! saya janji akan melunasinya sebelum jam 12 malam."ujar Anaya.


Seketika orang itu mengangkat tangan." STOP! Nanti malam kita kesini lagi." ucap orang itu melangkah keluar menghampiri mobilnya, diikuti oleh beberapa bodyguard dibelakangnya.


Saat tangan Anaya sudah dilepas, seketika Anaya langsung berlari menghampiri pamannya, ia menangis meraung-raung sambil memeluk pamannya


.


.


.

__ADS_1


Vote, like, komen dan beri hadiah. di awal bulan ada gift pulsa 50k untuk dukungan terbanyak.


__ADS_2