Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 151. season 2


__ADS_3

Seharian Anaya sibuk mondar-mandir di dalam apartemennya. Wajahnya terlihat khawatir, memikirkan Adrian yang seharian tak ada kabar. Bahkan seharian ini Anaya belum sempat makan, karena memikirkan Adrian yang tak kunjung pulang.


Anaya kembali bernafas berat, ia juga sempat menghubungi security kantor. Namun jawabannya sama, jika Adrian tidak datang ke kantor. 


Anaya lalu berjalan ke arah balkon. mentap ke bawah, di mana terlihat pintu masuk apartemen. Ia berdiri di sana, menanti kedatangan mobil sang suami yang dapat dia lihat dari atas balkon unitnya. waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, semburat cahaya jingga sudah menghilang. Dan di gantikan cahaya bulan. Anaya tetap setia di sana walaupun angin tertiup cukup kencang.


Lama menunggu, Anaya lagi-lagi menelan pil pahit, lelaki yang ia tunggu tak kunjung datang. Akhirnya Anaya memilih masuk. Mendudukkan dirinya di sofa. Menanti kabar sang suami.


Saat sibuk menghubungi Adrian. Terdengar pintu terbuka. Tanpa menunggu lama, Anaya berdiri dan berjalan keluar. Ia yakin jika itu suaminya. Sesampainya di sana, senyum Anaya seketika merekah menunggu pria yang seharian ini tak ada kabar dan membuangnya khawatir.


"Mas, kau dari mana saja?" Tanya Anaya saat ia menghampiri Adrian.


Bukannya menjawab. Wajah Adrian tampak datar. Ia langsung berjalan masuk ke dalam kamar tanpa menjawab pertanyaan Anaya.


Anaya terdiam. Ia tampak heran dengan perubahan sikap suaminya yang tidak biasanya. Tapi tak lama Anaya mengeleng ia meyakinkan dirinya jika perubahan sikap Adrian adalah karena ia kelelahan.


Anaya kemudian berjalan menyusul Adrian masuk ke dalam kamar. Tetapi di kamar Adrian tak ada. Anaya mendekat ke arah kamar mandi. Ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar. Anaya tersenyum. Anaya lalu berjalan ke arah kasur dan Duduk di sana menunggu Adrian yang masih ada di dalam kamar mandi.


Setelah cukup lama di dalam kamar mandi, Adrian keluar dengan hnduk yang masih melingkar di pinggangnya, ia berjalan dan mengambil pakaiannya di dalam lemari.


"Mas, apa kau mau makan? Aku sudah memasak makan malam untuk mu." Ucap Anaya Berdiri di samping Adrian.


"Kau makan saja, aku sangat kenyang." Jawab Adrian datar. Ia lalu Mengganti pakainya dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur smbil membelakangi Anaya yang masih berdiri di depan lemari.


Anaya tersenyum getir. Entah mengapa hatinya begitu sakit saat mendapatkan perubahan sikap dari Adrian.


Setelah lama terdiam di sana. Anaya ikut merebahkan tubuhnya di kasur sembil memandang punggung Andrian yang membelakanginya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja air mata Anaya menetes, ia terisak. Hatinya begitu sakit saat Adrian menatapnya datar. Entah apa yang terjadi pada suaminya, tiba-tiba saja sikapnya berubah. Anaya seolah tidak mengenali Adrian.


Lama terisak, akhirnya Anaya memejamkan.


Pukul tujuh pagi mata Anaya mengerjap, ia menatap ke samping, Adrian sudah tidak ada di sampingnya. Anaya bangun. berjalan ke kamar mandi, kamar mandi kosong. Ia lalu keluar ke ruang kerjanya Adrian di sana juga kosong akhirnya Anaya keluar dari unitnya dan turun ke basement. Dan benar saja mobil Adrian sudah tidak ada dimana-mana. 


Setelah itu, Anaya kembali ke unitnya. Mengambil ponsel dan menghubungi Adrian. Adrian tidak menjawab padahal panggilan Anaya tersambung.


Anaya bernafas berat. Ia benar-benar merasa aneh akan perubahan sikap Adrian setelah lelaki itu kembali dari Bogor. Lama berpikir, Anaya berjalan ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk ke kantor. 


Setelah bersiap. Anaya langsung berjalan ke pantry. Membuatkan sarapan untuk Adrian dan memasukkannya ke dalam kota bekal dan segera meninggalkan unitnya. Hari ini ia cukup telat karena akan menggunakan taksi ke kantor. 


Sesampainya Anaya di kantor, dengan langkah cepat ia berjalan masuk ke dalam lobi tanpa memperdulikan beberapa karyawan yang menyapanya.


Saat sampai di lantai teratas, Anaya cukup heran saat di meja sekretaris Sudah ada yang menempati. Anaya lantas mendekat dan bertanya pada Wanita itu, wanita itu menjawab jika ia adalah sekretaris baru Adrian.


Setelah mendengar ucapan wanita itu, Anaya langsung berjalan masuk ke dalam ruangan Adrian. Tetapi Anaya kembali terdiam, saat melihat Adrian memangku seorang wanita.


"Mas, apa-apaan ini?" Tanya Anaya saat sampai di meja kerja Adrian. Ia meletakkan kotak bekal yang tadi ia bawa.


Adrian tersenyum dan menyuruh wanita itu keluar.


Setelah wanita itu keluar, Adrian lalu berjalan ke arah jendela menatap keluar bangunan tinggi yang ada di depannya.


"Mas, coba jelaskan, apa maksud semua ini?" Anaya menatap punggung Adrian.


Adrian melongos.

__ADS_1


"Aku tidak ada maksud apa. Aku hanya merasa bosan." Jawab Adrian


Mendengar jawaban Adrian, Anaya langsung tersenyum getir. Ia terisak.


Setelah lama menangis, Anaya menyeka air matanya kemudian menatap Adrian.


"Baik mas, jika kau sudah bosan dengan ku. Mari kita berpisah, agar kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan. Aku tidak akan menuntut apapun dari mu. tapi…..pulangkan aku secara baik-baik pada paman dan bibi." Anaya kembali tersenyum getir, kemudian mengeluarkan cincin yang Tempo hari Adrian berikan.


Sungguh hati Anaya benar-benar hancur lebur, ia tidak pernah membayangkan jika pernikahannya akan berakhir seperti ini. Saat cinta ia labukan tiba-tiba kapalnya karam terbawa ombak.


"Aku janji tidak akan menuntut apapun dari mu. Aku datang tanpa membawa apapun dan akan pergi tanpa membawa apapun." Ucap Anaya. Ia kembali menyeka air matanya." Untuk saat ini, aku masih tinggal di apartemen mu sampai kau menjatuhkan talak dan mengantarku pulang ke rumah paman dan bibi." Lanjut Anaya. Air matanya kembali ia seka saat mengucapkan itu.


Sedangkan Adrian. Sejak tadi ia tidak merespon apapun yang di ucapkan Anaya. Ia hanya mendengar tanpa berniat menjawab.


"Aku pamit pulang, mas." Pamit Anaya dan melangkah meninggalkan ruangan Adrian.


***


Wanita cantik, tinggi dan berkaki jengjang masuk ke dalam club', ia berjalan ke arah ruang privasi di mana di sana sudah ada yang menunggu kedatangannya.


"Bagaimana? Apa kau berhasil." Tanya pria itu sambil bersandar di sofa ditemani oleh dua orang gadis cantik. Ia menatap wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya


"Tentu saja aku berhasil. Siapa yang bisa mengalahkan kecerdasan ku." Puji Siska pada dirinya sendiri.


Pria itu langsung tertawa. Aku tidak salah Me


Milihmu sebagai menantu ku, kau memang cerdas."pungkas pak suhendi sambil menyeruput segala Wine di tangannya kemudian tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2