
Pria dengan tampilan jas hitamnya berjalan menghampiri Rio dan Anaya yang sedang duduk tidak jauh dari kursi yang terletak di sudut ruangan.
"Apa yang kalian lakukan di sini." Tiba-tiba suara Adrian terdengar.
Anaya menoleh. Melihat Adrian yang sudah berdiri di belakangnya. Tatapan Adrian berapi-api, ia menatap Anaya dan Rio secara bergantian.
Dengan cepat, Anaya tersadar dan langsung menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Rio.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Adrian mendekat pada Rio dan langsung memberikan Bogeman mentah tepat di pipi Rio. Rio tersungkur ke meja. Darah mengalir di sudut bibirnya." Kau jangan mengganggu istri ku lagi." Adrian berbisik di telinga Rio. Setelah itu ia menarik tangan Anaya." Ayo pulang." Namun saat Adrian hendak melangkah, Rio bangkit dan langsung membalas memberi Bogeman tepat ke wajah Adrian.
Adrian jatuh tersungkur ke bawah. Dengan emosi yang meluap-luap, Rio mengunci tubuh Adrian dan langsung menghajarnya secara membabi buta.
"Bukan aku yang merebutnya dari mu, tapi kau yang merebutnya dariku." Rio terus menghajar Adrian hingga Anaya datang untuk melerai keduanya.
"Hentikan, Rio! Kau bisa membunuhnya." Teriak Anaya. Ia mendorong tubuh Rio dan langsung membantu Adrian yang saat ini sudah tidak bertenaga.
"Apa kau tidak, apa-apa?" Tanya Anaya saat membantu Adrian untuk duduk, ia memegang wajah Adrian yang sudah dipenuhi bekas luka memar.
Merasakan wajahnya disentuh. Tanpa perasaan Adrian menghempaskan tangan Anaya dari wajahnya. Saat ini, ia masih kesal dengan wanita di depannya. Tadi saat Adrian baru saja selesai maeting dengan kliennya, tanpa sengaja ia melihat Rio sedang mengenggam tangan Anaya. Seketika darah Adrian berdesir, Emosinya meluap. Ia langsung berjalan ke meja Anaya dan langsung memberikan Bogeman mentah pada Rio.
"Kau tidak usah memperdulikan ku." Seru Adrian. Ia meraba bibirnya yang saat ini mengeluarkan darah.
Setelah menetralkan nafasnya, Adrian bangkit dan kembali mengenggam tangan Anaya begitu keras." Ayo pulang!" Adrian menarik paksa tangan Anaya menuju ke mobilnya yang terparkir di depan restoran.
"Aakkkhhh, sakit Adrian." Anaya meringis. Namun Adrian tidak memperdulikannya.
__ADS_1
Setelah mereka sampai di mobil, Adrian lalu membuka pintu mobilnya dan mendorong Anaya masuk dan langsung menutup pintu mobilnya begitu keras. Setelah itu, Adrian berlari kecil, ia mengitari mobilnya dan langsung masuk ke dalam kursi kemudi.
Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tidak peduli dengan raut wajah Anaya yang ketakutan. Emosinya saat ini di ubun-ubun. Tadi pagi, saat ia akan berangkat, Anaya meminta izin untuk ke cafe menyerahkan surat pengunduran dirinya. lalu Kenapa Anaya ada di cafe saat ini? dan bermesraan dengan kekasihnya. Mengingat itu emosi Adrian semakin berapi-api. Ia membanting setirnya saat tanpa sengaja ia akan menabrak pembatas saja.
"Akkkkkhhh." Adrian berteriak lantang dan langsung memukul setir mobilnya.
Di luar mobil, tampak beberapa orang yang mengetuk kaca mobilnya. Adrian kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Apa anda tidak apa-apa?" Tanya Seorang pria yang berdiri di samping pintu mobil Adrian.
"Kami tidak apa-apa." Balas Adrian. Lalu kembali menaikkan kaca mobilnya. Ia tidak ingin orang yang ada di luar mobilnya melihat kondisi Anaya yang terlihat begitu ketakutan.
Adrian meminggirkan mobilnya kemudian mengatur Nafasnya yang masih tersengal-sengal. Ia begitu emosi hingga hampir saja mencelakai nyawanya sendiri.
Saat sibuk berkendara, ponsel Adrian berbunyi. Ia lalu mengenakan earphonenya dan menekan tombol bulat kecil yang ada di sana.
"Iya, ada apa, Erwin?" Tanya Adrian.
"Ada berkas penting yang harus Lo tanda tangani sekarang. Jam berapa Lo balik ke kantor?" Tanya Erwin.
"Sepertinya, gue ngak balik. Lo aja yang ke apartemen gua. Bawa semua berkas yang harus di tanda tangani." Balas Adrian.
"Baiklah, nanti sore gue ke apartemen, Lo. Jangan lupa sediain makanan yang banyak, gue lapar." Seru Erwin.
"Gue tunggu." Pungkas Adrian dan langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil Adrian sampai di basement apartemen. Ia kemudian keluar dari mobilnya dan langsung membuka pintu mobilnya begitu keras dan kembali menyeret paksa Anaya.
"Adrian, lepas. Sakit." Ucap Anaya dengan air mata yg berderai. Untung saja saat ini jam menunjukkan pukul satu siang, sebagian penghuni apartemen masih berada di kantor dan sebaginya lagi mungkin sedang beristirahat di unit mereka masing-masing.
Setelan mereka sampai di unit mereka, Adrian langsung menekan kode PIN digital door. Pintu terbuka. Adrian menyeret paksa anaya masuk ke dalam kamar. Saat sampai di dalam kamar, Adrian langsung menghempaskan tubuhnya Anaya ke ranjang.
"Kau berani berselingkuh dari ku?" Ujar Adrian dengan emosi yang masih meluap.
Anaya mengeleng, air mata kepedihan mengalir dari kedua pipinya tanpa bisa ia tahan.
"Aku tidak berselingkuh. Aku menemui Rio hanya untuk mengembalikan Cincin pemberiannya." Anaya berucap. Ia mengangkat wajahnya menatap Adrian.
"Kau jangan mengelak. Jelas-jelas aku melihat sendiri kalian berpegang tangan. Dasar wanita jalan!." Tuding Adrian.
"Aku bersumpah, aku tidak serendah apa yang kau tuduhkan. Aku bertemu Dengannya hanya untuk menyelesaikan masalahku. aku tidak berselingkuh seperti apa yang kau ucapan." Anaya masih menatap Adrian seolah ia punya seribu nyawa untuk membela dirinya di depan pria di depannya.
Mendengar ucapan Anaya, Adrin memutar tubuhnya lalu menghempaskan vas bunga yang ada di depannya.
Plak. Vas bunga yang baru saja dilemparkan Adrian berserakan di lantai. saat ini, emosi Adrian sedang tidak stabil, ia melempar vas bunga untuk meluapkan emosinya, ia sudah berjanji tidak akan bertindak kasar lagi pada Anaya. Sejujurnya ia marah bukan karna Rio dan Anaya bertemu. Melainkan saat ini, ia sedang cemburu. Entah kenapa akhir-akhir ini ada perasaan yang berbeda saat ia sedang bersama dengan Anaya. Rasa ingin memiliki seutuhnya semakin besar, hanya saja ia gensi untuk mengungkapkannya.
Setelah melemparkan vas bunga itu, Adrian keluar dari kamar dan langsung membanting pintu kamar Anaya. Ia berjalan ke arah pantry, membuka kulkas dan mengambil sebotol Vodka lalu berjalan ke arah meja. Ia mengambil gelas kemudian menuangkan cairan hitam kecoklatan ke dalam gelas, setelah itu ia menyesapnya hingga tandas.
Tatapan matanya kosong, entah apa yang saat ini Adrian pikiran. Ia hanya mengingat ibunya meninggal akibat perselingkuhan papanya dan beberapa tahun terakhir Clara juga berselingkuh darinya. Ia hanya tidak ingin hidupnya bersama dengan Anaya juga berakhir akibat perselingkuhan.
Adrian mengusap wajahnya kasar dan kembali menuangkan Vodka ke dalam gelas pialang miliknya lalu menyesapnya kembali hingga tandas.
__ADS_1