Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 111. season 2


__ADS_3

"Tunggu non, jangan lari." teriak baby sister bocah itu, ia  mengejar gadis mungil yang usianya kira-kira sekitar 5 tahun.


Adrian tersenyum kemudian, lalu meraih tubuh mungil viona, gadis yang berusia sekitar lima tahun. Gadis kecil itu menghampiri sang kakak lalu merentangkan tangan meminta untuk di gendong.


Sementara itu baby sitter yang mengejar viona masih terengah-engah saat tiba di halaman." Jangan lari-lari, non. Entar jatoh." Ujar Babysitter viona


"Kakak, viona kangen, kakak kok jarang pulang." Ucap viona saat berada di gendongan sang kakak. Bocah itu selalu ingin dekat dengan Adrian.


"Kakakkan sibuk, kakak banyak kerjaan, maaf yah, kakak jarang pulang." Jawab Adrian sambil menyelipkan anak rambut viona ke belakang telinga.


Viona terlihat mengangguk-anguk mendengar ucapan kakaknya.


"Oh iya, kakak punya hadiah untuk Viona." Adrian kemudian mengambil paper bag yang ada di tangan Anaya.


"Ini untuk Viona, adik kecil kakak." Adrian menyerahkan paper bag yang berisi sebuah boneka hello Kitty untuk Viona.


Viona kemudian membuka paper bag itu dan langsung melihat isinya, senyum lucu terpancar di wajah cantik anak itu, saat melihat apa isi dalam paper bag.


" Wowww boneka hello Kitty,"ucapnya tersenyum sambil membulatkan matanya." Terimakasih. ya, kakak. kak Adrian memang yang terbaik. Ia lalu mengecup pipi Adrian kemudian tersenyum memperlihatkan giginya.


Anaya tersenyum kala melihat interaksi sepasang adik dan kakak yang saling bercengkrama. Rasa kagum Anaya seketika muncul, pria yang selama ini ia Anggap sombong, angkuh dan judes ternyata mempunyai sifat lain didalam dirinya. Saat Anaya masih sibuk melamun sebuah tangan mungil menarik-narik tangannya, seketika lamuna Anaya buyar.


"Kakak, kakak." Panggil viona


Anaya tersenyum malu saat viona sudah berdiri di depannya.


"Iya, ada apa, gadis cantik." Jawab Anaya berjongkok menyetarakan tingginya dengan Viona.


"Kakak cantik temannya kak Adrian yah? Namanya siapa."tanya viona dengan wajah imutnya ia berusaha sok kenal dengan Anaya. Mencari perhatian pada Anaya.


Anaya tersenyum kemudian mengangguk.


" Nama kakak, kak Anaya, panggil saja kak nay."Anaya mengusap rambut viona.


" Kakak cantik sekali, kalau viona besar, viona mau cantik seperti Kak nay." Ucap viona dengan wajah dibuat serius.

__ADS_1


Adrian dan Anaya tertawa mendengar celotehan viona.


" Viona yuk masuk."ajak Adrian.


Viona pun mengangguk, hingga saat ini mereka berjalan bertiga dengan Viona yang berada ditengah mereka sambil bergandengan tangan.


"Ada siapa, Bi." Suara Tante Indri terdengar dari arah pintu rumah.


"Eh, kamu Adrian. Sudah lama?"tanya Tante Indri. Yang merupakan ibu sambung dari Adrian.


" Baru saja, tente." Adrian berucap lalu mencium punggung tangan ibu sambungnya itu.


"Kenalin, tente. Pacar Adrian." Adrian melirik Anaya yang saat ini berdiri di sampingnya.


Anaya tersenyum kemudian meraih punggung tangan Tante Indri.


"Ayo masuk." Ajak Tante Indri.


***


Diruang tamu ketegangan terjadi antara Adrian adrian dan sang ayah yang tak lain adalah Suhendi Abraham.


Anaya membulatkan matanya saat mendengar setiap untaian kata yang keluar dari mulut adrian. Saat ini, rasanya Anaya ingin segera menghilang dari tempat itu. Namun, apa daya, Anaya tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa merutuki semua ucapan Adrian.


"Tenang pa, biarkan Adrian mengambil keputusannya sendiri, biarkan Adrian menentukan pilihannya, dia sudah dewasa, kita tidak boleh ikut campur terlalu jauh dengan urusan dia." Bu Indri menenangkan sang suami berusaha memberi penjelasan.


"Mamah tidak usah ikut campur! ini urusanku dengan Adrian.


"Tapi pah,kasian dengan mereka, kita terlalu egois jika memaksa menjodohkan Adrian dengan wanita yang bukan pilihannya.


Anaya hanya dapat tertunduk mendengar perdebatan antara ketiga orang di hadapan. Anaya memejamkan mata seolah ingin pergi dari situasi seperti ini. 


Terdengar helaan nafas dari pria yang sudah menginjak usia sekitar setengah abad itu. tak berselang beberapa lama terdengar ia mulai mengeluarkan suara.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian." Tanya papa Adrian.

__ADS_1


Kegugupan tiba-tiba menghinggapi mereka berdua saat mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir pria tua yang menginjak usia setengah abad itu. Anaya meremas jari jemarinya, dia tak tahu harus menjawab apa sedangkan Adrian sedang berfikir jawaban apa yang ia akan katakan kepada papanya


" Kenapa kalian diam," tanya Suhendi karena Adrian dan Anaya belum juga menjawab ucapan. Dari awal Suhendi curiga jika mereka hanya berpura-pura. Ia akan melihat sejauh mana mereka akan melangkah.


" Kami akan segera menikah."ucap Adrian dengan refleks.


Mendengar ucapan Adrian mata Anaya membulat kemudian tanpa sadar ia mengangkat pandangannya lalu berucap.


" Kami…..belum Anaya meneruskan ucapannya tapi Adrian sudah berucap terlebih dulu.


"maksud Anaya kami belum merencanakan pernikahan secepatnya."


" Lho nay, kenapa begitu," kini Bu Indri yang bertanya." Kalau punya niat baik jangan di lama-lamain entar jodohnya di ambil orang lho." Bu Indri tersenyum. Walaupun ia adalah ibu sambung Adrian. Tapi wanita itu cukup baik.


Anaya hanya dapat tersenyum kecut, tak mampu berucap apa-apa lagi. Saat ini di pikirannya hanya ingin meminta pertanggungjawaban Adrian atas semua ucapan bodoh yang telah diucapkan kepada kedua Orang tuanya.


"Menikahlah secepatnya, sebelum papah berubah pikiran untuk menikahkan mu dengan Siska." Pak Suhendi berdiri lalu meninggalkan Anaya dan Adrian tanpa mengucapkan sepatah kata, ia berjalan memasuki kamarnya kemudian menutupnya dengan keras.


Setelah papa Adrian pergi Anaya dan Adrian saling pandang. Entah rencana apa yang mereka akan ambil selanjutnya. Yang jelasnya mereka akan mencari alasan untuk menunda pernikahan mereka.


Bu Indri berdiri dari sofa lalu berjalan ke arah Anaya dan mendudukkan bokongnya di sana.


" Kau tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Bu Indri berusaha menenangkan Anaya. Ia berfikir Anaya khawatir jika suaminya tidak merestui hubungan mereka. Nyatanya bukan itu. Anaya terlihat khawatir akibat perkataan Adrian yang mengatakan jika mereka akan menikah. 


Anaya tersenyum kecut mendengar ucapan Bu Indri.


***


" Pokoknya aku ngak mau tau, kau harus meluruskan semua pernyataan bodoh yang kau ucapin barusan, aku ngak mau tau!!!


"Tapi nay….. tolong bantu aku, aku akan membayaru berapapun yang kau minta." Adrian terus bernegosiasi dengan Anaya.


" Tolong jangan paksa aku, aku membantumu sampai di sini saja. Aku tidak bisa membantumu lebih dari ini. Tolong mengerti!"


"Tapi Kenapa? Apa karena kau sudah memiliki kekasih?"tanya Adrian.

__ADS_1


Seketika Anaya Langsung mengangguk.


like, komen, vote.


__ADS_2