Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 167. season 2


__ADS_3

Hampir 17 jam mengudara. Kini pesawat yang ditumpangi Adrian mendarat dengan sempurna di bandara internasional schiphol, Belanda.


"Apa kau masih kuat berjalan?" Tanya Adrian.


Anaya mengangguk. Ia terlihat Sangat lemas. Ia berjalan sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.


Setelah sampai di pintu kedatangan, Adrian mengendarakan pandangannya, mencari kursi yang bisa di duduki oleh Anaya. Adrian membawa Anaya duduk di kursi tunggu.


"Ayo, kau istirahat di sini dulu. Aku akan menghubungi Haris." Ucap Adrian sambil mengambil ponsel di sakunya.


Anaya hanya bisa menurut tanpa membanta ucapan Adrian.


Dari jauh terlihat seorang pria berlari menghampiri mereka. 


"Adrian." Panggil orang itu, yang tak lain adalah Haris sepupu Adrian yang tinggal di Belanda.


Adrian menoleh. Ia tersenyum dan langsung berpelukan dengan Haris. 


"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu." Tanya Haris.


"Seperti yang kau lihat." Jawab Adrian memperlihatkan tubuhnya pada Haris.


Haris tersebut sambil menepuk pundak Adrian." Perlu di akui kau tidak berubah, malah semakin tampan." Puji haris.


"Kau bisa saja. Kau juga tak berubah masih sama seperti dulu." Balas Adrian.


Setelah mengobrol cukup lama, perhatian Haris beralih pada Anaya yang duduk diam di belakang adrian.


Haris menatap Anaya dan Adrian secara bergantian. Kemudian tersenyum.


Adrian mengangguk. Mereka tertawa dan saling berpelukan kembali.


"Selamat, aku tak sempat hadir, pekerjaan ku menumpuk di sini. Kau tau sendiri bukan, semenjak ayah ku meninggal perusahaan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya." Eluh Haris.


"Tidak masalah. Aku faham." Balas Adrian.


"Oh iya, Nay kenalan ini harus sepupuku yang tinggal di Belanda." Ucap Adrian.


Anaya tersenyum. Mengulurkan tangannya.


"Anaya." Ucap Anaya.


"Haris." Balas.


"Apa kau masih kuat berjalan?" Tanya Adrian.


"Kepalaku bertambah pening." Adu Anaya.


Haris yang melihat itu tampak khawatir.


"Kau tunggu di sini, biar mobilnya aku majukan." Ucap Haris.


Adrian mengangguk." Terima kasih, Ris."balas Adrian.


Haris lalu pergi meninggalkan mereka untuk mengambil mobilnya yang terparkir agak jauh dari pintu kedatangan. Setelah sampai di mobil, Haris langsung masuk. Menyalakan mesin kendaraannya kemudian memutari jalan mencari jalan yang lebih dekat dari pintu kedatangan.


Setelah beberapa saat berputar, akhirnya Haris memarkirkan mobilnya di pintu kedatangan yang dekat dari tempat Adrian sekarang.  Haris yang masih berada di dalam mobilnya melambaikan tangannya agar Adrian masuk ke dalam mobilnya.


Adrian mengangguk. Lalu mengajak Anaya berjalan menuju mobil Haris.


Sesampainya Anaya di dalam mobil, Anaya kembali muntah. Dan hal itu membuat Adrian membulatkan matanya. Ia terlihat sangat khawatir.


"Apa kau masih mabuk?" Tanya Adrian.


"Sepertinya iya mas. Sejak tadi rasanya bergejolak." Eluh Anaya.


"Bagaimana kalau kita langsung kedokteran." Ucap Haris yang ada di kursi kemudi.


"Tidak usah, mas. Aku hanya masuk angin." Tolak Anaya.


"Tapi saat ini kau sedang sakit." Ujar Adrian.


Anaya kembali mengeleng." Ini sepertinya hanya masuk angin mas." Jawab Anaya. Ia kembali menyandarkan punggungnya ke belakang sambil memejamkan matanya.


Adrian yang melihat Anaya sudah mulai tenang langsung menutup pintu mobil dan berjalan hendak masuk di kursi yang ada di samping kemudi.


"Tidak apa-apa, kau di belakang saja temani istri mu." Titah Haris.


"Memang tidak apa-apa, Ris?"


Haris mengeleng." Tidak apa-apa.

__ADS_1


"Terima kasih, Ris.


Adrian tersenyum dan kembali menutup pintu depan dan langsung masuk ke jok belakang.


***


Setelah mereka bertiga sudah sampai di rumah Haris, Adrian langsung mengajak Anaya untuk masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan Vera untuk mereka.


Sesampainya di kamar, Adrian mengajak Anaya untuk merebahkan tubuhnya di kasur.


"Kau istirahat saja dulu, mas ingin keluar. Mas tidak enak pada Haris dan juga Vera." 


Anaya mengangguk.


Adrian tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Anaya, menciumnya kemudian bangkit dari ranjang.


Adrian berjalan keluar lalu menutup pintu.


Adrian berjalan menuju meja makan dan langsung duduk di samping Haris.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Haris.


Anaya masih mual.


"Sayang, kau buatkan Anaya air jahe. Mungkin setelah Anaya meminumnya, badannya akan lebih enakan." Titah Haris.


"Iya, mas. aku akan membuatkannya." Balas vera kemudian tersenyum.


"Haris, ver. Terima kasih sudah mau direpotkan." Balas Adrian kemudian menyuapkan makanannya masuk ke dalam mulut.


"Sama-sama Adrian, kita itu saudara. Jadi kau tidak usah sungkan." Balas Haris.


Mereka lalu menikmati makanannya sambil mengobrol tentang kemajuan perusahaannya masing-masing.


Setelan menikmati makan malamnya, Haris mengajak Adrian untuk duduk di ruang keluarga. Sementara Vera masuk ke dalam kamar yang ditempati Anaya. Ia membawa bubur yang ia buat beserta air jahe.


Vera mengetuk beberapa kali. Lalu masuk ke dalam kamar.


Saat pintu terbuka, Vera melihat Anaya duduk sambil bersandar di kepalang ranjang.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Vera. Ia meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di sisi ranjang.


Vera mengangguk. Ia mengambil mangkok bubur dan menyerahkannya pada Anaya.


"Kata Adrian kau belum makan sejak tadi, kau makan dulu, setelah itu minum air jahe, aku sudah membuatkannya untuk mu."kata Vera.


Lagi-lagi Anaya mengangguk dan tersenyum. Tubuhnya sangat lemas untuk berbicara pun sangat sulit.


Anaya terlihat mulai menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Ia memakan dengan sangat Pelang. Namun saat suapa ke lima, perutnya kembali bergejolak, ia merasa mual. Anaya bangkit dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. 


Anaya terdengar memuntahkan semua isi perutnya. Vera menyusul Anaya masuk ke dalam kamar mandi lalu memijat tengkuknya.


"Apa sudah enakan?" Tanya Vera saat Anaya sudah membasu mulutnya.


Anaya mengangguk." Sudah mbak."


Vera memapah tubuh Anaya menuju ranjang lalu membantunya duduk di kasur. Setelah itu, Vera mengambilkan air jahe kemudian menyerahkannya pada Anaya.


"Kau minum ini dulu, mungkin setelah meminum ini tubuhmu akan mulai membaik." 


Anaya meraih gelas yang diberikan Vera." Terima kasih mbak." Balas Anaya kemudian mulai meminum airnya sedikit demi sedikit.


Setelah air jahenya Habis, Anaya meletakkan gelasnya di atas nakas samping tempat tidur.


"Terima kasih, mbak." Ucap Anaya.


Vera mengangguk." Kalau begitu aku pamit, jika kau  butuh sesuatu kau panggil mbak saja."


Anaya mengangguk. Bibirnya terlihat tersenyum.


Setelah Vera keluar dari kamar, Anaya kembali merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai memejamkan mata. Anaya sangat lelah ditambah seharian ini ia tidak berhenti muntah.


***


Tiga hari berlalu Anaya kembali bangun dengan memuntahkan isi perutnya. Sudah beberapa hari berlalu Namun kesehatannya sepertinya semakin memburuk. Adrian yang selalu berada di samping Anaya kini semakin khawatir. Istrinya selalu memuntahkan makanan yang ia makan, dan saat Adrian akan mengajaknya ke dokter. Anaya selalu beralasan jika ia hanya masuk angin biasa. Seperti pagi ini, kesabaran Adrian kembali di uji. Pagi-pagi sekali Anaya kembali memuntahkan isi perutnya, mendengar Anaya memuntahkan isi perutnya, mau tidak mau Adrian bangkit dari kasur padahal ia baru saja tertidur dua jam.


"Nay, kita perlu ke dokter. Kita perlu memeriksa kesehatanmu, mas sangat khawatir." Bujuk Adrian.


Lagi-lagi Anaya menggeleng." Aku hanya masuk angin, mas."balas Anaya.


"Untuk hari ini, Mas tidak mau mendengar alasan mu, cuti mas sisa tiga hari lagi, Aku belum mengajakmu berkeliling." Pungkas Adrian.

__ADS_1


Anaya menarik nafas panjang.


"Sudah ku katakan jika aku baik-baik saja, mas. Kau tidak usah khawatir." Anaya menangkup kedua pipi Adrian.


Namun tak lama perut Anaya kembali bergejolak. Ia kembali berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Tuhkan, apa yang mas katakan. Kita perlu ke dokter. Cepat bersiap, kau akan dehidrasi jika terus memuntahkan isi perutmu." Pungkas Adrian saat sampai di dalam kamar mandi.


Untuk kali ini Anaya menurut. Ia juga heran dengan tubuhya. Biasanya jika ia mabuk kendaraan, mualnya akan hilang hanya sehari saja.


Namun kali ini Anaya terus memuntahkan isi perutnya padahal sudah 4 hari berlalu setelah ia berangkat ke Belanda.


Sejam berlalu, Adrian dan Anaya sudah selesai bersiap.


Adrian mengajak Anaya keluar kamar lalu bergabung bersama haris  dan Vera.


"Bagaimana dengan kondisimu, apa sudah baika?" Tanya Vera.


"Balum mbak." Balas Anaya. Ia menyeruput teh yang ada di depannya.


"Jangan-jangan kau hamil?"kata Vera.


Anaya terbatuk-batuk saat mendengar ucapan Vera.


"Nay, kalau minum hati-hati," kata Adrian.


"Hamil, mbak?" Ulang Anaya. Ia menatap Vera. Mencari pembenaran atas ucapan Vera.


"Iya, mungkin saja kau hamil." Balas Vera.


Adrian dan Haris saling tatap.


"Tidak mungkin, mbak. Aku hanya masuk angin." Kekeh Anaya.


"Agar lebih akurat, kau lebih baik memeriksa kondisimu ke dokter. Hamil atau tidak serahkan pada Tuhan." Balas Vera.


Wajah Anaya berubah sendu saat Vera menebak jika ia hamil.


"Hamil, ver?" Kali ini Adrian yang berucap.


Vera mengangguk sambil tersenyum.


Anaya menoleh pada Adrian. Pikirannya kembali ke beberapa bulan saat Adrian melempar alat kontrasepsi dan mengatakan jika ia tidak ingin memiliki Anak dari wanita jalan sepertinya.


"Ada apa, Nay?" Tanya Vera.


Anaya seketika tersadar.


"Tidak apa-apa, Mak." Anaya tersenyum.


Setelah mereka semua selesai menikmati sarapannya. Adrian mengajak Anaya untuk ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya.


Sepanjang jalan Anaya tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Ia terus menatap keluar jendela. Mengingat apa yang diucapkan Vera barusan.


"Kau kenapa sayang?" Tanya Adrian. Adrian mengusap kepala Anaya.


Anaya menoleh. Tersenyum lalu menggeleng.


Sesampainya Mereka di rumah sakit. Anaya keluar dari mobil. Namun Anaya tetap duduk di dalam. Ia tidak beranjak sedikit pun.


"Sayang, ayo." Ajak Adrian." Kau baik-baik saja kan?" Tanya Adrian lagi.


Adrian meraih tangan Anaya lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah sakit.


Anaya melangkah dengan ragu, jantungnya berdetak sangat kencang.


Setelah sampai di loket pendaftaran, seorang petugas mulai menanyai Anaya tentang kondisinya. Anaya pun menjawab sesuai apa yang ia rasakan. 


Petugas itu mulai mencatat, dan menyarangkan Anaya ke poli kandungan. 


Dengan ragu Anaya mengambil nomor antrian poli kandungan yang diberikan petugas itu.


Anaya menatap nomer antrian itu. Jantungnya semakin berdetak kencang.


"Bagaimana jika ia hamil? Bagaimana reaksi Adrian nanti? Apakah Adrian akan meninggalkannya jika ia memang benar hamil?" Batin Anaya. 


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2