
Setelah keluar dari Abraham grup, Anaya langsung menyetok taksi, dan langsung masuk di kursi penumpang, kini air matanya mengalir, rasa sesak menghantam jiwanya. Baru beberapa hari merasakan kebahagiaan kini kebahagiaan itu sudah hilang.
Sesampainya Anaya di apartemen, ia menyeka air matanya dan memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi dan langsung keluar dari taksi itu. Anaya kini menatap bangun di depannya, ia tidak menyangka akan secepat ini meninggalkan bangunan ini.
Lama menatap bangunan di depannya, Anaya mulai melangkah masuk ke dalam apartemen. Setelah ia sampai di dalam kamar, Anaya langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Ia menangis meraung-raung, menangis dirinya yang tak pernah lepas dari masalah.
Setelah lelah menangis Anaya langsung tertidur.
Pukul enam sore, Anaya baru bangun, ia mengusap wajahnya, kemudian melihat ke arah jam yang mengantuk di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul enam.
Anaya pun bangkit dari duduknya dan mengambil minum yang ada di atas nakas. setelah itu, ia berjalan ke kamar mandi. Ia akan mengganti pakainya terlebih dahulu. pasalnya tadi saat ia sampai di apartemen, ia tak langsung mengganti pakaiannya. Ia malah tertidur di atas kasur.
Setelah membersihkan tubuhnya, Anaya keluar dari kamar. Ia mengendarkan pandangannya. ternyata cuma ia yang berada di sana. Seketika Anaya tersenyum getir dan langsung berjalan ke arah pentry. Ia akan memasak makan malam untuk ia dan Adrian.
Saat sibuk dengan masakannya, Anaya teringat momen di mana Adrian selalu memeluknya dari belakang ketika ia sedang memasak. Tanpa ia sadari air matanya seketika mengalir. Menyadari itu semua, Anaya buru-buru mengeleng. Kemudian menghapus jejak air matanya.
Pukul 9 malam, Anaya masih menunggu kedatangan Adrian, Namun nampak belum ada tanda-tanda pria itu akan kembali. Anaya kemudian menoleh ke arah meja makan, di sana sudah tersaji beberapa lauk dan sayur ke sukaan Adrian.
Ya, sebelum Anaya pergi dari apartemen Adrian, ia berniat memasak untuk Adrian. Bukan karna ingin supaya Adrian tidak menceraikannya dan membatalkan Semuanya. Anaya hanya ingin menikmati momen-momen terakhir bersama Adrian.
__ADS_1
Lelah menunggu Adrian, Anaya merebahkan tubuhnya disofa. Rasa kanguk sekatika menyerangnya. Ia menguap beberapa kali dan tak lama Anaya memejamkan matanya.
Pukul 3 subuh, Anaya terbangun dari sofa. Ia kembali melihat jam di dinding dan menyadari jika ia sudah tertidur cukup lama.
Setelah kesadarannya sudah mulai terkumpul semua, Anaya kembali bangkit dan kembali memeriksa kamarnya. Anaya seketika menyadari jika Adrian belum pulang.
Anaya mengusap wajahnya. Dan langsung mengambil ponselnya, ia harus bertanya pada Erwin tentang apa yang terhadi pada Adrian.
Namun tak lama terdengar pintu apartemen terbuka, Anaya bangkit dan langsung berjalan menuju pintu. Adrian datang dalam kondisi mabuk. Beberapa kali ia melihat Adrian muntah di lantai.
"Mas, kau Kenapa." Tanya Anaya saat ia akan membatu Adrian untuk masuk ke dalam kamar.
"Jangan menyentuhku!!" Adrian mengibaskan tangan Anaya, saat Anaya hendak membantunya. Tubuh Anaya hampir saja terjatuh, Namun ia berpegangan pada pintu.
Anaya yang masih Berdiri di sana terlonjak kaget saat Adrian menutup pintu ruangannya dengan sangat keras.
Saat Adrian sampai di kamarnya ia langsung menetralkan expresinya. Ya. Adrian tidak mabuk. Ia hanya pura-pura mabuk. Ia sengaja melakukan itu. Jujur saja ia belum sangup jika bertatapan langsung dengan Anaya, itu sebabnya ia pura-pura mabuk.
Tadi saat waktu Menunjukkan jam pulang kantor, Adrian tidak langsung pulang, ia beralasan jika ia ingin lembur hingga waktu menunjukkan pukul dua malam. Adrian mencoba merebahkan tubuhnya di kamar pribadinya yang ada di kantor, tetapi ia Sulit untuk memejamkan mata. Sejak tadi ia memikirkan Anaya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Namun sebelum melangkah keluar dari ruangannya, Adrian memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Ia berjalan ke kulkas meneguk wine dan keluar dari ruangannya. Ia sengaja meneguk wine terlebih dahulu. Adrian tahu saat ia sampai di apartemen, Anaya pasti akan langsung datang menghampirinya. Itu sebabnya Adrian meneguk wine agar Anaya tidak curiga.
Setelah menetralkan expresinya, Adrian langsung menyandarkan tubuhnya kebelakang. Rasanya sangat sulit jika ia harus bertatapan langsung dengan Anaya. Tadi saat di kantor Adrian juga membelakangi Anaya dan memilih menatap keluar jendela. Jujur saja ia tidak sanggup jika melihat Anaya menagis.
Adrian kemudian bangkit dari sofa. Mengambil minum dan langsung meneguknya. Ia harus memikirkan cara agar besok pagi ia tidak bertemu dengan Anaya lagi.
Tepat pukul delapan Adrian terbangun. Ia menoleh ke samping dan melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan. Ia buru-buru bangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa saat di kamar mandi. Adrian keluar, ia mengusar rambutnya mengunakan handuk dan berjalan ke arah lemari. Saat membuka lemari matanya langsung membulat saat menyadari jika semua pakaiannya sudah ia pindahkan ke dalam kamar Anaya.
Adrian mendengus dan mengusap wajahnya. Kenapa ia bisa secerobah ini. Dan sekarang mau tidak mau ia harus keluar dari kamar dan mengambil pakaiannya di dalam kamar Anaya.
Adrian membuka pintu dan mengendarakan pandangannya ke segala arah. Saat melihat tidak ada siapa-siapa, ia langsung berjalan masuk ke dalam kamar Anaya.
Setelah mengambil pakaiannya, Adrian kembali masuk ke dalam kamar. Hampir sejam Adrian bersiap di dalam kamar, kini ia keluar dengan tampilan rapi.
Namun, sebelum ia keluar dari apartemen. Ia melihat di atas meja sudah tersedia sarapan beserta kopi dengan secarik kertas.
Adrian kemudian mengambil kertas itu dan langsung membacanya (Selamat Menikmati Sarapannya, Mas).
Setelah membaca surat itu, segaris senyum terlihat terbit di bibir Adrian, tetapi ia buru-buru menetralkan kembali expresinya. Adrian kemudian duduk. Menyeruput kopinya lalu mengambil piring. Ia memakan sarapan yang di buatkan Anaya. Namun ia sedikit heran Anaya kemana sepagi ini.
__ADS_1
Setelah makan Adrian habis Adrian kemudian mengambil air dan langsung meminum hingga kandas lalu bangkit dari kursi dan meninggalkan apartemen.
saat mobil Adrian terlihat keluar meninggalkan apartemen. dari jauh anaya tersenyum. setidaknya ia bisa melihat Adrian pagi ini. ia sengaja keluar dari apartemen pagi-pagi sekali. ia tahu jika Adrian tidak ingin bertemu dengannya. itu sebabnya setelah ia memasak. ia keluar sebentar untuk menghirup udara pagi.