
Bi Asih berdiri tepat didepan pintu mobil Adrian, kemudian ia mengetuk. wanita berumur itu tampak mengerutkan keningnya. Tidak biasanya ada mobil yang terparkir di depan rumahnya.
Tak lama Anaya membuka pintu mobilnya dan langsung keluar dari dalam mobil sambil tersenyum.
"Kamu toh nduk. bibi kira mobil siapa yang terparkir di halaman rumah. Kamu pulang dengan siapa?"Bi asih mencerca Anaya dengan banyak pertanyaan.
belum Anaya menjawab. Kepala bi asih menunduk, menatap masuk ke arah jok pengemudi. Ia mendapati seorang pria tampan sedang duduk dibalik kemudi mobil. Pria itu tampak menunduk seraya memberi hormat pada wanita itu dan tersenyum.
" Itu siapa nduk." Tanya bii Asih melirik ke arah ponakannya.
" Itu bos Anaya bi, kenalkan bi, beliau pak Adrian, bos Anaya." Anaya memperkenalkan Adrian pada bi asih sebelum bibinya salah faham.
Adrian tersenyum. kemudian, lalu keluar dari mobil berlari kecil menghampiri wanita paruh bayah yang tersenyum ramah kepadanya.
" Bibi kira pacar mu nduk." Ucap bi asih. lalu kembali tersenyum ke arah Adrian.
Anaya mengeleng.
" Bukan bi, pak Adrian bos Anaya. kami tadi ada meeting diluar, karena terlalu kesorean untuk mengambil motor di kantor, jadinya pak Adrian nawarin nganterin Naya pulang, bi.
" Saya Adrian tante, teman Anaya. Adrian mengulurkan tangannya, lalu mencium punggung tangan bii asih setelah ia berada tepat di hadapan bi Asih.
Bi asih tersenyum. " Terimakasih sudah nganter Anaya pulang nak Adrian."
" Sama-sama tante kebetulan kami searah."
" Kamu sudah makan? Kebetulan Tante habis masak. Ayo masuk." Ajak bi asih, lalu beranjak masuk kedalam rumah.
Kini tersisa Anaya dan Adrian, tak ada pembicaraan antara keduanya. hingga Anaya bersuara.
"Katanya cuma pengen nganter, tau-taunya bapak pengen minta makan."ejek Anaya.
"Kau jangan asal bicara, ya. siapa juga yang mau minta makan. Tante kamu yang ngajakin makan. Aku hanya menghormati ajakan Tantemu." Terang Adrian.
"Tak ada alasan." Lanjut Anaya.
"Terserah kau. capek aku bicara sama gadis macam kamu, kagak waras, kagak ada kalem-kalemnya." Ujar Adrian.
__ADS_1
" Kau ya, berani ngatain aku tidak waras." Tuding Anaya geram.
Saat keduanya sibuk saling mencaci maki, terdengar suara bi asih yang sedang berdiri di depan pintu. Wanita itu sejak tadi memperhatikan kedua orang itu hingga akhirnya ia bersuara.
" Kenapa cuma berdiri disana. nay, ajak nak Adrian masuk, ucap Bi asih kembali tersenyum ke arah Adrian, lalu menatap Anaya. " Nay ajak nak Adrian masuk, keburu makanannya dingin.
" Iya bi." Teriak Anaya.
" Ayo masuk." Ajak Anaya judes. Tanpa menunggu sahutan dari Adrian, Anaya pergi meninggalkan Adrian yang masih di tempat.
" Dasar gadis aneh, kalau bukan karena tantenya yang baik, ogah banget aku mampir." Gerutu Adrian lalu melangkah masuk kedalam rumah.
***
Adrian sudah duduk di meja makan, aroma makanan yang begitu harum sampai menusuk ke Indra penciuman Adrian membuat cacing di perut Adrian minta untuk segera di isi. Padahal tadi sewaktu di jalan, ia sudah menghabiskan semua jajanan yang di beli Anaya. Namun, ketika ia melihat samua makanan yang disajikan bi asih cacing di perutnya seketika meronta-ronta untuk segera di isi.
"Silahkan makan nak Adrian." Ujar bi Asih setelah menyerahkan piring yang berisi nasi untuk Adrian.
Adrian segera menerima piring yang diberikan bi Asih lalu mengisi dengan beberapa lauk pauk. saat suapan pertama masuk kedalam mulutnya, Adrian berhenti sejenak lalu mulai mengunyah dengan pelang, ia menikmati rasa makanan nya. Sambil mengunyah ia memejamkan matanya, menikmati sesuap demi sesuap makanan yang ada di piringnya.
"Rasanya nikmat, hampir sama persis dengan buatan Almarhum ibu dulu." Gumam Adrian dan kembali menikmati makanannya. Saat ini, Adrian sedang menikmati sesuap demi sesuap makanan buatan Bi asih yang hampir sama persis dengan buatan sang ibu. Sejak kematian ibunya, Adrian tinggal di apartemen. karena kesibukannya membuat Adrian lebih sering makan makanan siap saji atau memesan makanan dari luar.
"Nay." Panggil bi Asih.
"Ia bi." Sahut Anaya tersadar.
"Makanannya kok cuma di aduk toh nduk, kamu sakit?" Tanya bi Asih, pasalnya Anaya tak biasa seperti ini, ia selalu langsung menghabiskan makanannya.
"Ngak apa-apa kok bi, Anaya cuma kecapean." Elak Anaya, padahal saat ini, ia sedang sangat lapar, tadi sewaktu di restoran. ia hanya memakan sedikit makanannya. dan tadi, saat dia di taman, Adrian menghabiskan jajanan yang ia beli, ia selalu tak bersemangat dan tak berselera saat sedang bersama dengan Adrian.
"Adrian melirik sekilas, lalu kembali menikmati makanannya, ia memilih cuek seolah tak ingin kehilangan kesempatan menikmati setiap suapan yang masuk kedalam mulutnya.
Selang beberapa menit akhirnya Nasi di piring Adrian tandas tak tersisa sedikitpun. Adrian kemudian meneguk segelas air putih yang telah disiapkan bi asih.
"Terima kasih tante, makannya enak." Ujar Adrian setelah ia membersihkan bibirnya menggunakan tissue.
" Sama-sama nak Adrian, kalau ada waktu berkunjunglah kembali ke rumah kami." Pinta Bi asih.
__ADS_1
Anaya membulatkan matanya.
"Jangan... jangan." Anaya berucap secara refleks memberi penolakan.
"Loh, Kenapa nduk?" Tanya Bi asih mengerutkan alisnya.
Anaya tersadar, ia langsung menggigit bibir.
"Anu Bi, pak Adrian kan sibuk, pasti ia tak memiliki waktu berkunjung ke rumah sederhana kita." Anaya beralasan.
"Apa benar begitu nak Adrian." Tanya bi asih, melirik ke arah Adrian yang tersenyum samar.
Anaya menatap Adrian meminta Adrian mengiyak ucapannya.
Karna Adrian tak kunjung menjawab, akhirnya Anaya menendang kaki Adrian.
"Awww." Pekik Adrian kemudian meringis.
" Ada apa nak Adrian." Tanya bi Asih.
"Gak apa-apa kok Tante, tadi kaki saya keinjek kucing." Jawab Adrian sambil melirik Anaya.
Anaya menahan tawanya.
" Ooo, tante kira kamu kenapa.
Adrian tersenyum menanggapi lalu melirik ke arah Anaya kembali.
"Awas ya kamu." Geram Adrian.
Setelah menikmati makan malamnya. Pak Darwis mengajak Adrian untuk bermain catur. Sebenarnya Adrian tidak tahu tentang permainan catur. Ia terpaksa mengiyakan keinginan pak Darwis. Tadi Anaya sempat mengusirnya secara halus dan menyuruh Adrian untuk segera pulang. Namun, pria itu menanggapi ucapan pamannya. Hingga saat ini Adrian dan pak Darwis bermain catur di teras rumah mereka.
"Nay." Panggil pak Darwis.
Mendengar panggilan pak Darwis, Anaya yang baru saja keluar dari dapur langsung keluar dan menemui pak Darwis.
"Iya, ada apa paman." Balas Anaya.
__ADS_1
"Tolong buatkan kami kopi, sejak tadi kami bermain catur. Mungkin tenggorokan nak Adrian sudah kering." Ujar pak Darwis dan langsung terkekeh.
Mendengar permintaan pak Darwis, Anaya mengangguk dan langsung berjalan masuk ke dalam dapur.