
Waktu sudah menunjukkan pukul empat Sore saat Erwin datang menghampiri Anaya di meja kerjanya.
" Nay!" Panggil Erwin yang tiba-tiba saja datang menghampiri Anaya.
" Iya, Apa apa, pak?" Anaya mendongak menatap Erwin yang saat ini berdiri di depan mejanya.
" Bos, memanggilmu," ucap Erwin, membuat anaya Menghela nafas, karena ia harus menemui Adrian. Entah kenapa setiap ia akan bertemu dengan Adrian membuat moodnya hilang. Ia menjadi tak bersemangat. Anaya bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah Ruangan Adrian.
Setelah sampai di depan ruangan, Anaya mengetuk, saat mendapatkan sahutan dari dalam, Anaya Pun masuk.
" Ada apa anda memanggil saya pak?" Tanya Anaya dengan bahasa formal. Saat ini, Anaya sedang membangun pembatas antara dirinya dengan sang atasan. Ia tidak ingin terlalu dekat dengan Adrian ataupun mengetahui semua tentang bosnya itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Adrian, Adrian kemudian melempar sebuah undangan pernikahan ke atas meja kerjanya.
"Baca" ucap Adrian dan kembali fokus pada layar laptop yang ada di depannya.
Anaya berjalan maju kemudian langsung mengambil undangan yang dilempar Adrian tadi, kemudian membaca.
Setelah membaca undangan itu, Anaya mendongak menatap sang atasan.
"Ini apa, pak." Tanya Anaya.
"Besok temani aku ke bogor untuk menghadiri acara pernikahan anak Pak Susilo, pemilik dari angkasa group." Jawab Adrian tanpa menoleh, matanya tetap fokus menatap ke arah layar laptop dihadapannya tanpa menoleh pada Anaya..
"Tapi, pak…. Besok aku ada janji dengan seseorang." Anaya beralasan. Sebenarnya besok Anaya tidak ada janji dengan seseorang, tetapi ia sengaja mencari alasan agar ia tidak ke bogor bersama dengan Adrian.
"Aku tidak mau mendengar alasan darimu, besok kita berangkat ke Bogor, aku akan menjemput mu besok pagi." Ucap Adrian. Ia mendongak menatap Anaya dan kembali menatap laptopnya.
anaya terpotong saat Adrian kembali bersuara dan dengan cepat ia mencari alasan lain.
"Maaf, pak. Aku juga tidak bisa membatalkan janji dengan seseorang."
Adrian mendongak, menatap tajam pada anaya"kau ada janji dengan siapa? Cepat batalkan! Aku tidak menerima penolakan!" Ucap Adrian dengan tegas.
Anaya bernafas berat. Mau tidak mau ia harus menerima ajakan Adrian untuk berangkat ke Bogor.
__ADS_1
" Baiklah." Jawab Anaya, kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan atasannya.
Setelah Anaya keluar dari ruangannya, Adrian kemudian menyungingkan senyum misterius. Entah apa yang sedang direncanakan pria itu.
Saat keluar dari ruangan Adrian. Anaya masih melihat Erwin di depan mejanya.
"Kenapa masih di sini, pak?" Tanya Anaya.
Erwin menoleh ke belakang." Oh ini, aku sedang membaca beberapa berkas yang baru saja kau kerjakan. Sepertinya draf bagian ini salah." Erwin menunjuk berkas yang baru saja di kerjakan Anaya. Anaya berjalan mendekat dan melihat berkas itu. Namun tak lama Anaya menoleh hingga tatapan mereka saling mengunci, hembusan nafas mereka terasa begitu dekat. Hingga saat pintu ruangan Adrian terbuka mereka masih belum menyadari.
"Hmmmm." Adrian berdehem membuat keduanya tersadar dari lamunannya.
Saat menyadari itu semua, Anaya dan Erwin langsung memundurkan tubuhnya dan menatap ke arah lain.
"Maaf," ucap keduanya bersama.
Adrian yang masih berdiri di sana langsung berdecak kesal.
"Apa-apaan kalian. Jika kalian ingin pacaran di luar jangan di kantor ini." Ujar Adrian dan langsung meninggalkan keduanya dengan perasaan kesal.
***
Ia kemudian berjalan keluar untuk berpamitan kepada paman dan bibinya.
Setelah berpamitan, Anaya lalu keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobil Adrian.
"Kita jalan sekarang?apa sudah tidak ada yang ketinggalan?" Tanya Adrian.
Anaya mengangguk." Iya. Sepertinya Sudah tidak ada yang ketinggalan."
Adrian kini melajukan mobilnya Menuju Bogor, di perjalanan tak ada pembicaraan Antara keduanya, Anaya terdiam begitupun dengan Adrian.
Sepanjang perjalanan Anaya hanya Fokus menatap keluar jendela tanpa menoleh ke arah Adrian. Tadi, saat Adrian singgah ke minimarket pun Anaya tidak ikut turun dan saat Adrian memberinya sebotol minuman, Anaya menolak, alasannya karena ia membawa sebotol minuman.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, kini mereka sudah sampai di puncak, saat sampai di puncak, Adrian kemudian mencari sebuah hotel untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum menghadiri acara nanti malam.
__ADS_1
Setelah memesan hotel, mereka pun naik ke atas, dan setelah sampai di depan kamar masing-masing mereka berpisah tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Pukul Enam sore Adrian sudah siap dengan tuksedo berwarna hitam dipadukan dengan dasi kupu-kupu sungguh menambah ketampanannya pria yang akan menginjak usia 27 tahun itu. Setelah Adrian merasa tidak ada yang kurang lagi dari penampilannya, ia kemudian keluar dari kamar lalu berjalan menuju kamar Anaya. Saat sampai di depan kamar Anaya ia kemudian mengetuk, tak lama pintu terbuka. Tampaklah Anaya dengan gaun malam berwarna gold dengan handbag berwarna senada dengan gaunnya.
"Kita jalan sekarang." Tanya Adrian.
Lagi-lagi Anaya menjawab dengan anggukan.
"Ya sudah, kita jalan sekarang." Jawab Adrian, kemudian melangkah terlebih dahulu meningalkan Anaya.
Butuh sekitar tiga puluh menit akhirnya Adrian sampai di lokasi. Setelah Adrian memarkirkan mobilnya ia kemudian keluar dari mobil dan di ikuti oleh Anaya yang juga keluar dari mobil.
Kini mereka berjalan menuju tempat dimana digelarnya acara. Namun sebelum masuk, Adrian meminta Anaya untuk bergandengan tangan dengannya. Dengan lengan Adrian setengah melingkar dan menyuruh Anaya berpegang di lengannya. Kali ini Anaya menurut tanpa protes seperti biasanya.
Di dalam gedung,nAdrian bertemu dengan beberapa kolega bisnisnya, ia kemudian meminta izin pada Anaya untuk meninggalkannya sebentar. Anaya kemudian mengangguk.
Anaya kemudian berjalan-jalan di sekitar ruangan, kemudian mencicipi beberapa makanan yang ada di sana. tak lama ada seorang waitress datang menghampirinya, waitrees itu memberikan minuman pada Anaya, karena saat itu Anaya sedang haus dengan senang hati Anaya menerima minuman itu dan meneguknya hingga tandas.
Dari jauh Adrian tersenyum menyeringai menatap Anaya yang sudah menghabiskan segelas minuman yang diberikan oleh waitress itu.
Setelah Adrian melihat Anaya sudah menghabiskan minuman itu ia kemudian berjalan mendekat.
" Kamu kenapa," tanya Adrian saat melihat Anaya memegangi kepalanya.
"Aku pusing!"jawab Anaya.
"Ya sudah ayo kita pulang," ajak Adrian, berjalan mendekat, kemudian memapah tubuh Anaya yang sudah hampir ambruk.
Saat tiba di depan hotel, kesadaran Anaya sudah menghilang. Adrian langsung menggendong Anaya ala bridal style menuju lantai atas kamar yang sudah terlebih dahulu dipesan Adrian.
Adrian kemudian menyuruh salah satu pelayan untuk membukakan pintu untuknya, saat pintu terbuka Adrian kemudian masuk lalu menidurkannya Anaya di ranjang.
.
.
__ADS_1
.
like, vote, komen.