
Adrian melirik Anaya sekilas. Wanita itu sedang mencuci piring. Namun sejak kepergian Erwin, ia diam membisu tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, seolah mereka adalah orang asing di rumah itu.
Lama terdiam memikirkan Anaya, tiba-tiba ide muncul dari kepalanya. Ia kembali melirik Anaya." Nay." Panggil Adrian.
Anaya menoleh." Apa kau bisa buatkan aku kopi?" Titah Adrian.
Lagi-lagi Anaya mengangguk.
Hal ini membuat Adrian bertambah frustasi. Padahal ia sudah berinisiatif menegur Anaya terlebih dahulu.
Setelah beberapa menit berlalu, Anaya muncul dengan secangkir kopi di tangannya. Ia meletakkan cangkir itu tepat di depan Adrian. Namun lagi-lagi Anaya diam, ia berlalu dan meninggalkan Adrian.
Adrian mengusap wajahnya kasar. Ternyata wanita ini sangat jago dalam hal mendiami seseorang. Ini sudah ke dua kalinya Anaya mendiamkannya. Dulu sebelum mereka menikah dan sekarang saat ia sudah menikah.
Tanpa menunggu lama, Adrian bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Anaya yang baru saja memegang knop pintu hendak masuk ke dalam kamar.
"Nay, tunggu." Adrian berdiri di belakang Anaya.
Anaya menoleh." Ada apa?"
"Apa kau ingin keluar malam ini? Kita menikmati udara malam berdua."
"Tidak. Terima kasih." Anaya menjawab datar dan langsung masuk ke dalam kamar.
Adrian mengertakkan giginya saat Anaya menolaknya. Entah kenapa perasaannya menjadi gelisah saat Anaya mendiamkannya. Padahal ia tidak pernah seperti ini. Biasanya jika ada yang mendiamkannya, ia tidak peduli. Karena menurutnya apapun yang ia inginkan akan segera ia dapatkan.
Adrian menghembuskan nafasnya kasar. Ia melihat pintu kamar Anaya yang sudah tertutup rapat. Dengan langkah malas ia berjalan ke sofa dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Saat ini, ia sedang mencari cara agar Anaya tidak mendiamkannya.
Setelah lama terdiam, Adrian kembali menegakkan duduknya dan langsung menyeruput kopinya. Ia mengusap-usap Batang hidungnya. Mencari cara agar Anaya tidak mendiamkannya.
Tak berselang lama, Adrian bangkit dari sofa. Ia berjalan ke kamar, mengambil dompet berserta jaket. Setelah itu ia berjalan ke kamar Anaya. Ia mengetuk. Memutar knop. Ternyata pintunya tidak terkunci.
Adrian memasukkan setengah kepalanya, mengintip Anaya." Nay apa kau tidak mau ikut?"
Anaya menoleh. Kemudian mengeleng." Tidak, Terima kasih. Aku di sini saja."
"Oh, ya sudah. Nanti aku titip pesan pada bibi dan pamanmu jika kau tidak bisa berkunjung."
Anaya menoleh." Apa kau bilang?"
"Aku akan menitipkan mu pesan." Ujar Adrian.
Mendengar itu, Anaya bangkit dari kursi. Berjalan mendekat pada Adrian." Apa kau akan kerumah bibi?"
"Ya tentu, tadi aku sudah berjanji padanya akan Membawa martabak manis untuk Nya."
__ADS_1
Mendengar ucapan Adrian, Anaya langsung tersenyum." Aku ikut. Kau tunggu di luar, sebentar lagi aku keluar." Ujar Anaya. Setelah pintu tertutup, ia berjalan ke arah lemari mengambil baju dan Menggantinya.
Adrian berjalan ke arah sofa. Ia terlihat mengulum senyumnya saat berhasil mengajak Anaya keluar.
Setelah dua puluh menit menunggu, Anaya keluar. Ia menghampiri Adrian yang sedang duduk di sofa.
Adrian tersenyum saat melihat Anaya sudah siap." Apa kita akan jalan sekarang?" Tanya Adrian.
"Iya, ayo." Balas Anaya.
"Mana jaket mu?" Tanya Adrian." Tidak baik berkendara malam tanpa mengenakan jaket." Lanjut Adrian.
" bukannya kita akan menggunakan mobil?"
Adrian tersenyum." Tidak. malam ini kita menggunakan motor. Aku ingin menikmati udara malam ini." Balas Adrian. lagi-lagi ia mengulum senyumnya. Entah apa yang direncanakan pria ini. Yang jelas Anaya merasa tidak enak.
***
Setelah mereka sampai di basement. Anaya tidak melihat ada Motor di sana. Ia kembali menoleh pada Adrian. Adrian hanya tersenyum menanggapi.
Adrian lalu berjalan ke sudut bestman, di sana ada sebuah ruangan. Adrian menekan kode PIN, pintu tertarik ke samping. Adrian masuk dan mengeluarkan sebuah Motor Neiman Marcus Limited edition fighter berwarna hitam pekat. Anaya membelalakkan matanya saat melihat motor Adrian. Siapa yang tidak kenal dengan motor berjenis Neiman, motor termahal di dunia dan hanya diproduksi sedikit.
"Kau akan menggunakan motor ini?" Tanya Anaya.
"Tentu saja, kenapa tidak." Jawab Adrian.
Seutas senyum tipis terlihat di bibir Adrian saat melihat kebingungan dari raut wajah Anaya. Tentu saja hal ini hanya akal-akalan Adrian saja. Ia sengaja menggunakan motor ini Agar saat membonceng Anaya, Anaya akan berpegangan erat padanya.
"Tapi joknya Sangat kecil, tidak mungkin akan muat untuk kita berdua." Seru Anaya. Ia.masih berpikir.
Adrian tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Anaya. Ia memakaikan helm pada adaya dan langsung naik ke motornya.
"Ayo, naik." Adrian menoleh kebelakang. Anaya bernafas berat. Mau tidak mau ia harus naik. Dengan terpaksa Anaya mendudukkan tubuhnya tepat di belakang Adrian." Kau berpegangan. Kau tidak ingin terjatuh bukan?" Titah Adrian.
Anaya memutar kedua bola matanya. Ia melongos kemudian. Mau tidak mau ia harus berpegang pada pinggang Adrian. Adrian kembali tersenyum tipis saat Anaya sudah memeluk pinggangnya. Setelah itu Adrian langsung menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan area bestmen.
Angin malam berhembus kian kencang, menerpa wajah keduanya. Bibir Adrian tidak henti-hentinya tersenyum saat merasakan pelukan Anaya Semakin mengerat.
Setelah berkendara cukup jauh, dan tadi mereka sempat singgah membeli martabak. Akhirnya motor Adrian sampai di pekarangan rumah Bi Asih. Anaya turun dari motor, melepas helm. Dan langsung berjalan masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum." Anaya mengetuk beberapa kali. Ia menoleh pada Adrian karena belum ada yang membuka pintu.
"Apa paman dan bibi ada di rumah?" Tanya Anaya.
"Ada. Tadi aku sempat menghubungi nya." Balas Adrian. Adrian merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi Bi Asih, namun baru saja ponsel Adrian menempel di telinganya. Pintu langsung terbuka. Terlihat bi asih tersenyum pada mereka.
__ADS_1
"Maaf, bibi tadi habis sholat." Ucap bi Asih.
"Apa kalian sudah lama?" Tanya bi asih Saat berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang ada di sana di ikuti Adrian dan Anaya.
Anaya mengeleng." Kami baru sampai, bi. Maaf Anaya baru sempat berkunjung." Anaya menaruh martabak ke atas meja.
"Tidak, apa-apa nduk. Bibi paham. Dulu juga bibi seperti itu, menghabiskan waktu berdua dengan paman mu." Bi Asih terkekeh setelah mengucapkan itu.
Pipi Anaya seketika bersemu. Ia membuang wajahnya ke arah lain. Ia benar-benar malu atas ucapan bibirnya barusan.
Tak lama pak Darwis keluar dari dalam kamar. Ia berjalan ke arah sofa. Adrian dan Anaya langsung berdiri. Setelah itu mereka mencium punggung tangan pak Darwis secara bergantian.
"Kalian sudah lama?" Tanya pak Darwis. Pasalnya pak Darwis tidak mengetahui jika Anaya akan datang ke rumah mereka malam ini. Bi asih pun baru tahu jika Anaya akan berkunjung ke rumah mereka saat Adrian tadi menelponnya.
Setelah lama mengobrol, Adrian dan Anaya pamit untuk pulang. Tetapi saat akan melangkah keluar, tiba-tiba hujan mengguyur area itu. Seketika Pak Darwis bersuara." Kalian menginap di sini saja.' ujar pak Darwis.
Anaya tersenyum kecut mendengar ucapan pamannya. ia berharap Adrian menolaknya. Di mana Adrian akan tidur? Tidak mungkin mereka tidur di ranjang sempit millik Anaya.
Adrian melirik ke arah Anaya. Adrian kemudian tersenyum. Setelah itu, ia Menoleh pada Pak Darwis." Baik pak, kami akan menginap.
Anaya seketika membelalakkan matanya. Padahal tadi dia sudah memberi isyarat pada Adrian untuk menolak. Mengapa sekarang pria itu justru menerima ajakan pak Darwis. Tau begini ia tidak mau ikut kerumah BI Asih.
"Ya, sudah. Kalian istirahat. Kamarnya sudah bersih." Ujar Bi asih. Ya, walaupun Anaya tidak tinggal di rumah itu lagi. Namun, bi asih tiap hari membersihkannya. Ia tidak ingin jika saat Anaya berkunjung ke rumah mereka dan kamarnya tidak bisa ditempati.
Adrian mengangguk. Dengan penuh semangat, ia menarik tangan anaya." Ayo." Ajak Adrian. Ia menarik tangan Anaya masuk ke dalam kamar kemudian menutupnya.
"Adrian lepas. Mengapa kau mengajakku masuk ke sini. Ini bukan kamar ku Tetapi kamar bibi." Ujar Anaya.
Adrian tersenyum kikuk." Aku tidak tahu. Aku mengira jika ini kamarmu. Ayo di mana kamar mu?" Tanya Adrian. Ia kembali menarik tangan Anaya. Di depan kamar Bi Asih dan pak Darwis masih berdiri di sana, ia juga heran, mengapa Anaya masuk ke dalam kamar mereka.
"Maaf bi. aku tidak tahu jika kamar ini bukan kamar anaya.' ucap Adrian tanpa malu-malu.
Pak Darwis terkekeh.' pengantin baru memang seperti itu, selalu tidak sabar jika menyangkut masalah kamar."
Anaya menunduk. Ia tampak malu dengan ucapan Pak Darwis.
"Kamar Anaya ada di sana. Nak." Ujar pak Darwis menunjuk pintu kamar yang terlihat tertutup.
Adrian tersenyum." Terima kasih, paman. Kami pamit masuk ke kamar." Ujar Adrian dan kembali menarik tangan Anaya Menuju ke kamar Anaya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih
.