Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 106. season 2


__ADS_3

Anaya menghembuskan nafasnya kasar tepat dihadapan meja kerja Adrian. Ia benar-benar geram dengan pria yang ada di depannya.


" Tetapi, aku tidak  ahli dalam bidang ini. Aku sama sekali tidak pernah menjadi sekretaris sebelum." Ucap Anaya masih dengan wajah kesalnya.


Adrian tersenyum sambil menekuk kedua tangannya." Kalau masalah itu gak masalah, Nanti ada Erwin asistenku yang akan membantu semua pekerjaan yang kau belum ketahui."


" Baiklah, aku mau jadi sekretarismu. tapi, dengan satu syarat." Anaya tersenyum berusaha bernegosiasi.


" Syarat apa itu.? Tanya Adrian.


" Jangan pernah berani menyentuhku atau berbuat mesum seperti beberapa tahun silam seperti yang pernah kau lakukan pada ku." Anaya berucap.


Seketika adrian tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan anaya. 


" Hey gadis bodih! Waktu itu aku khilaf, aku sempat tidak sadar. Seandainya waktu itu aku tidak dalam pengaruh alkohol, aku gak bakalan Sudi menyentuh gadis seperti mu. Kau Gadis yang tidak mempunyai daya tarik sedikit pun. Kau coba bercermin. Jangan sok kepedean. Cantik tidak, bodi mirip tiang listrik yang ada di depan perusahaan." Ejek Adrian. Sebenarnya sampai detik ini, ia masih merasa bersalah pada apa yang pernah ia lakukan pada Anaya. Tetapi, karena gengsinyalah Adrian tidak mau mengakui kalau ia merasa bersalah pada gadis yang ada di hadapannya ini.


***


Setelah kembali dari ruang CEO Anaya berjalan masuk ke dalam ruangannya. lalu mendudukkan bokongnya pada kursi yang baru sehari ia duduki dan besok ia harus pindah ke kursi di depan ruangan CEO.


Anaya mendengus lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi, kemudian, mendongak menatap langit-langit ruangannya . " Ya Tuhan mimpi apa aku semalam, baru aja senang keterima kerja, menapa harus bertemu dia lagi. Pria mesum! Sepanjang hidup, Ini benar-benar sebuah kesialan besar yang menimpa hidupku, melebihi kesialanku saat tak mendapatkan panggilan kerja. Seketika Anaya mengusap wajahnya. karena merasa kesal dengan refleks ia berteriak dan menghentak- hentakkan kedua kakinya ke lantai.


Seketika semua mata yang ada di dalam ruangan itu beralih menatap heran pada dirinya. Menyadari hal itu Anaya lalu memperbaiki posisi duduknya sambil nyengir.


" Kak senior aku minta maaf... sekali lagi maaf." ucap Anaya menyatukan kedua tangannya tepat didepan dada lalu meminta maaf kepada semua karyawan yang ada di dalam sana.


Salah satu karyawan menggeleng-gelengkan kepalanya menatap tingkah laku Anaya.


" Nay aku kan sudah ngomong.  jangan suka berkhayal," ucap karyawan itu lalu kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.


" Maaf yah kakak-kakak senior." Ucap Anaya dan kembali fokus pada tumpukan berkasnya. Saat ini Anaya fokus merapikan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam kardus, karena besok pagi kursinya bukan diruang ini lagi melainkan pindah ke kursi yang ada di depan ruangan CEO.


"Apes...apes." ucap Anaya saat menyusun barang-barangnya untuk dimasukkan kedalam kardus. Saat semuanya sudah rapi Anaya mulai mengangkat satu persatu kardus miliknya untuk dipindahkan ke meja sekretaris.


Saat tiba di meja sekretaris Anaya kemudian Merapikan semua barang-barangnya, hari ini ia tampak lesu setelah keluar dari ruangan CEO perusahaan ini. ia sudah tak bersemangat lagi. Ia berpikir setelah hari ini, pasti hidupnya tak akan bisa tenang lagi.


Saat sibuk merapikan barang-barangnya. tampak Erwin keluar dari ruangan wakil CEO. Matanya melirik gadis cantik yang ada di meja sekretaris. Seketika ia berjalan mendekat ke arah Anaya.


" Hay, kamu sekretaris baru yah, yang menggantikan sekretaris lama Adrian " tanya Erwin tersenyum menatap wajah Anaya. Wajah tampannya dengan senyum menawan ditambah aroma maskulin  yang keluar dari tubuhnya tak membuat Anaya tertarik untuk menanggapi 


" Hmmm' jawab Anaya cuek.


" Perkenalkan Nama ku Erwin, aku asisten pribadi Adrian." Ucap Erwin sambil menyodorkan telapak tangannya hendak berkenalan.


" Anaya ." Jawab anaya dengan mode yang masih cuek tanpa membalas uluran tangan Erwin. Seketika Erwin mengepalkan tangannya lalu menurunkannya. Ia tersenyum kecut saat gadis dihadapannya bersikap cuek.


Karna Erwin tak mendapatkan respon dari gadis di hadapannya. ia memutuskan masuk kedalam ruangan Adrian.


" Kalau  gitu aku tinggal, jika kau butuh bantuan, kau bisa menghubungi ku, ruangan ku disana." Ucap Erwin menunjuk ke arah  ruangannya.

__ADS_1


" Hmmm." Jawab Anaya singkat tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tetap Fokus pada kardus-kardus dan barang-barang miliknya yang baru saja di pindahkan.


Setelah meninggalkan Anaya. Erwin lalu masuk ke dalam ruang Adrian." Sekretaris baru, bro?" Tanya Erwin.


"He'em." Jawab Adrian tanpa mengalihkan tatapannya dari tumpukan berkas yang ada di depannya.


"Cantik." Ujar Erwin.


"Lo, suka?" Balas Adrian ketus. Ia beralih menatap Erwin.


Adrian Tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Adrian." Tidak mungkin, bro. Aku masih menunggu kedatangan….." Erwin menjeda ucapannya." Lupakan saja bro?" 


" Kedatangan siapa?" Tatapan Adrian beralih menatap Erwin. Dan sudah di pastikan jika Erwin masih menunggu kedangkalan Vita. Gadis masa remajanya yang pergi kuliah ke Inggris untuk mengambil jurusan arsitektur. Adrian sangat tidak suka jika nama Vita yang di sebut oleh Erwin. Menurut Adrian Vita bukan wanita baik-baik. Adrian pernah bertemu dengan gadis itu sebelum Erwin mencaritakan kisah cintanya. Tentu saja Adrian bertemu dengan Vita saat Adrian berkunjung ke sebuah tempat hiburan malam di Inggris. Dan saat Erwin memperlihatkan foto gadis itu, Adrian sudah bisa menebak jika wanita yang ada di dalam foto itu adalah wanita pekerja malam yang menemani malam Adrian saat ia di Inggris.


"Jangan bilang, jika kau masih menunggu kedatangan, Vita." Tebak Adrian.


Erwin tersenyum menanggapi.


"Sudah, bro. Dia bukan wanita baik-baik." Adrian terus mengingatkan. Namun, Erwin sepertinya tidak mendengarkan perkataan Adrian. Pasalnya Adrian tidak punya cukup buktik untuk memperlihatkan kebusukan wanita itu. Ia juga tidak mau menceritakan pada Erwin jika ia pernah menghabiskan malam panjang bersama dengan wanita itu.


Erwin Menghela nafas panjang. Ia terdiam cukup." Aku sangat mengenalnya, dia wanita baik-baik." Erwin berkata. Ia menyunggingkan sedikit senyumnya mengingat wanita pujaannya itu.


Adrian menutup semua berkas yang ada di depannya. Ia menatap Erwin dengan menekuk kedua tangannya di atas meja.


"Win, semua orang pasti akan berubah. Mungkin dulu dia wanita baik-baik sebelum ia berangkat ke Inggris. Tetapi sekarang setelah ia tinggal di Inggris selama delapan tahun, apakah kau bisa menjamin jika wanita itu masih sama dengan wanita remaja yang dulu kau kenal." Adrian berucap ia menatap expresi wajah Erwin yang terdiam cukup lama. Pria tinggi, berkulit putih itu sebenarnya tidak menampik semua perkataan Adrian. Jika semua orang pasti aka berubah. Tetapi perkataan Adrian tidak mempunyai cukup bukti jika Vita bukan wanita baik-baik.


Adrian kembali menghembuskan nafas panjang. Ia mengambil cek di dalam laci kemudian menuliskan sejumlah uang di sana. Ia memberika cek itu pada Erwin.


Setelah keluar dari ruangannya. Lagi-lagi Adrian menyungingkan senyumnya. Tadi, ia berniat keluar untuk menikmati makan siangnya yang terlambat. Namun saat berada di depan ruangannya ia menghentikan keinginannya. Ia berjalan ke arah meja sekretarisnya yang baru beberapa jam lalu menjadi sekretarisnya.


"Apa kau butuh bantuan." Tanya Adrian setelah sampai di meja kerja Anaya.


Seketika Anaya menoleh," kau mengagetkanku tuan!" Ujar Anaya. Ia masih saja terlihat ketus saat bertemu dengan Adrian.


"Apa mau aku bantu?" Tanya Adrian lagi. 


Anaya mengeleng." Tidak, terima kasih. Anda selesaikan saja urusan anda. Ini perkejaan ku dan aku yang aka menyelesaikan semuanya." Anaya berucap tanpa mengalihkan tatapannya dari tumpukan kardus di depannya.


Mendengar jawaban Anaya, bukannya mendengar, Adrian melah menghentikan pergerakan tangan Anaya dan menarik tangan Anaya.


"Kau ikut dengan ku." Tiba-tiba saja Adrian menarik tanga Anaya untuk ikut dengannya.


"Anda aka mengajak ku kemana?" Tanya Anaya.


"Kau jangan banyak bicara. Ikut saja." Adrian berucap.


Sepanjang jalan, semua mata menatap mereka bardua dengan penuh tanda tanya. Apalagi ibu serli karyawan senior yang terlihat judes dari kemarin.


Anaya melirik ke arah mereka. Tampaknya semua karyawan sedang berbisik membicarakan mereka.

__ADS_1


Sekilas terdengar Jika Anaya adalah karyawan baru yang tiba-tiba diangkat menjadi seorang sekretaris. Mereka mengambil kesimpulan jika Anaya dan Adrian pasti memiliki hubungan spesial.


Di tengah perjalanan menuju parkiran, Anaya barusaha melepaskan tangannya dari tangan Adrian yang terus menariknya. Namun bukannya terlepas, Adrian malah semakin mempererat pegangan.


"Tuan, lepas. Tidak enak di lihat karyawan lain." Ujar Anaya.


"Ssttttt. Jangan berisik! Kau ikuti saja aku. Siapa yang berani padaku. Aku pemilik perusahaan ini." Pungkas Adrian.


Mendengar ucapan Adrian mau tidak mau Anaya menurut, ia menundukkan wajahnya karna merasa tidak enak dengan beberapa karyawan yang saat ini sedang menatapnya sinis.


Setelah mereka sampai di parkiran khusus petinggi perusahaan. Adrian membuka pintu untuk Anaya dan setelah itu ia mengitari mobilnya dan langsung duduk di kursi kemudi.


"Anda akan membawa saya kemana tuan?" Tanya Anaya.


"Sejak tadi kau sibuk membereskan barang-barangmu, aku tau kau belum makan." Balas Andrian.


"Tapi, aku tadi membawa bekal, tuan." Sambung Anaya.


"Kau diamlah. Mulut mu itu Sangat berisik."pungkas Adrian. Ia lalu menyalakan mesing mobilnya dan meninggalkan area parkiran perusahaan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Adrian menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah yang ada di pusat kota.


Adrian keluar dari mobilnya di ikuti Anaya. Dengan ragu gadis itu mengikuti langkah Adrian yang terlihat sombong.


Sesampainya di dalam restoran, Adrian lalu menarik kursi menyuruh Anaya duduk dan di ikuti Adrian yang duduk di seberangnya.


Tak lama seorang whiters datang memberikan buku menu. Anaya masih terdiam. Ia ragu untuk memesan karena saat ini ia tak memiliki uang sama sekali. Hari ini hari pertamanya Bekerja, tentu saja sebulan lagi barulah ia mendapat gaji.


"Kenapa tidak memesan?" Tanya Adrian.


Anaya meremas jari jemarinya." Tuan saja yang memesan, aku sepertinya masih kenyang." Anaya berucap tapi  tak berselang lama perutnya tiba-tiba berbunyi.


Adrian Tertawa saat mendengar sumber suara dari perut Anaya. Yang ternyata, saat ini gadis itu sedang lapar 


"Pesanglah, sepertinya.kau sangat lapar." Adrian menyodorkan buku menu tepat di depan Anaya.


Anaya mengeleng." Tuan saja, saya masih ada bekal di kantor." Ujar Anaya.


"Kenapa?" 


Anaya tampak terdiam. Ia meremas jari jemarinya.


"Yah sudah, ayo kita kembali."


"Tapi, tuan."


"Lantas kenapa kau tidak mau memesan."


"Aku hanya tidak memiliki uang." Potong Anaya. Mau tidak mau akhirnya ia jujur.

__ADS_1


"Pesanlah, untuk hari ini aku yang akan mengtraktirmu makan, besok-besok kau yang akan mentraktir ku." Ujar Adrian.


Anaya mengangguk dan mulai memesan makanannya.


__ADS_2