
Tangis Devano semakin melengking, entah apa yang membuat bayi itu semakin menangis.
"Sayang, kenapa dia menangis?" Tanya Cakra kembali membenamkan wajahnya ke atas bantal.
"Entahlah, mas. Sejak tadi aku sudah berusaha mendiamkannya, tetapi ia terus saja menangis."
Cakra kemudian bangkit dari ranjang dan langsung menghampiri Noureen yang saat ini berusaha mendiamkan bayinya.
"Sini, mas saja yang menggendongnya," Cakra berucap. Dengan perlahan ia berusaha meraih tubuh mungil bayinya. Tepat saat bayi itu ada di gendongan Cakra, seketika bayi itu berhenti menangis.
Cakra tersenyum saat vano berhenti menangis. Ia lalu menggendong bayinya, mengusap-usap punggung bayinya, tak lama bayi itu tertidur.
Saat melihat bayinya sudah tertidur dengan perlahan Cakra menaruhnya ke dalam box bayi. Tepat saat bokong bayinya menyentuh permukaan kasur, seketika itu juga Devano kembali menangis.
Cakra tersenyum kecut, ia lalu kembali meraih putranya. Menggendongnya. Tak lama bayi itu kembali tertidur. Dengan perlahan Cakra kembali menaruh bayinya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, Devano kembali menjerit. Entah apa yang membuat bayi itu kembali menangis.
***
Sudah pukul empat subuh. Namun, Cakra masih saja berdiri di samping box bayinya, sambil menggendong bayinya. Sejak tadi devano tak ingin tidur di box bayinya. ia hanya ingin digendong oleh sang ayah. Tadi Noureen sudah berusaha ingin mengambil Devano dari gendongan Cakra. Ia ingin suaminya itu beristirahat dulu. Namun, lagi-lagi Devano menolak. Ia hanya ingin digendong oleh papanya, hal itu membuat Cakra menjadi kelimpungan. Sesekali terlihat ia memejamkan matanya. Hal itu tidak luput dari penglihatan Noureen yang duduk di ujung kasur sambil melihat perjuangan sang suami menidurkan bayinya.
Tepat saat adzan subuh di ponsel Noureen berbunyi. Barulah bayi itu terlelap kembali.
Dengan perlahan Cakra kembali membaringkan bayinya di dalam box. Ia berdoa semoga bayinya tidak terbangun lagi. Dan benar saja, ketika bayi itu di simpan di dalam box tak ada lagi pergerakan bayinya. Bayinya sudah terlelap dengan nyenyaknya.
Cakra menghembuskan nafas lega. Berjalan ke arah ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya disana.
Dua Minggu kemudian.
Pesawat yang di tumpangi Cakra dan keluarganya mendarat dengan sempurna di bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta. setelah melakukan penerbangan kurang lebih dua jam lamanya.
Di pintu kedatangan, Alex sudah menunggu Meraka.
"Selamat datang, tuan,"Alex berucap lalu menunduk hormat pada Atasannya.
Cakra menanggapinya dengan mengangguk.
Mereka pun berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di sana.
Saat tiba di sana mereka pun langsung masuk kedalam mobilnya. Alex kemudian menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan area Bandara.
__ADS_1
"Lex, apa di perusahaan ada masalah selama aku tinggal?' tanya Cakra menatap ke arah depan. Ia menyilangkan kakinya sedangkan tangannya memeluk erat pinggang Noureen yang saat ini memeluk tubuh putranya
"Tidak, tuan. Perusahaan baik-baik saja," jawab Alex.
"Kalau begitu, besok kau atur jadwal maeting pagi. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. lalu suruh semua devisi membawa semua laporan mereka termaksud kepala bagian keuangan."
"Baik tuan."
Cakra tersenyum kemudian," kau memang asisten yang bisa diandalkan." Lanjut Cakra.
" Terimakasih, tuan." Jawab Alex saat mendengar pujian dari atasannya.
Keesokan harinya Cakra sudah siap dengan setelan jas lengkapnya. Ia dan Noureen keluar dari dalam kamarnya menuju ke ruang makan. Di ruang makan, sudah ada pak Satrio, Bu Ratna, dan Bu Citra yang menunggu mereka.
Ya, selama dua hari ini, Bu citra menginap di rumah pak Satrio. Ia ingin terus berdekatan dengan cucunya.
Setelah sarapan selesai, Cakra berpamitan pada Noureen.
"Sayang, aku berangkat dulu. Kemungkinan pulang agak malam. Kalau kau mengantuk tidurlah terlebih dahulu, tidak usah menunggu ku." Ucap cakra mengecup kening Noureen.
"Iya, mas. Hati-hati di jalan," balas Noureen.
Saat tiba di perusahaan Cakra kemudian memperlebar langkahnya menuju ke lantai paling teratas ruangannya. Saat tiba di sana, Cakra tidak langsung masuk ke dalam ruangannya melainkan langsung menuju ke ruangan meetingnya.
Saat tiba Di ruangan meeting, semua kepala divisi sudah menunggu kedatangan cakra.
Mereka semua menunduk hormat saat Cakra menuju ke kursi khusus direktur.
"Selamat pagi, tuan" sapa Alex yang sudah duduk di samping kursi Cakra.
"Pagi," balas Cakra kemudian membuka meetingnya.
Satu persatu kepala devisi menjelaskan laporan hasil kerjanya selama sebulan. Namun, saat Cakra membaca laporan keuangan dari maneger keuangan, Cakra mengernyitkan alisnya. Ada kejanggalan dalam laporan tersebut.
"Kau menghadap keruangan ku setelah ini. ada hal yang perlu kau jelaskan padaku," Cakra berucap. Sebisa mungkin ia akan berusaha tenang. Ia akan membaca satu persatu laporannya dan mencari kejanggalan apa saja yang terjadi selama ini.
"Ada apa, tuan. Apa ada yang salah dengan laporan saya?" Tanya manajer keuangan. Wajahnya seketika pucat.
" Kau tidak usah banyak bertanya. Kau datang saja ke ruangan ku dan bawa semua laporan keuangan yang kau buat selama bekerja di perusahaan ini.
__ADS_1
"Baik, tuan."
***
Pukul sebelas malam Cakra memasuki kediaman dengan berjalan gontai. Hari ini tubuhnya benar-benar lelah akibat pekerjaannya yang menumpuk saat mendampingi Noureen selama persalinan di Singapura.
"Saat masuk kedalam kamarnya ia melihat ke arah ranjang, istrinya sudah tertidur. Ia kemudian berjalan ke arah box bayi untuk melihat putranya.
Ia tersenyum. Rasa lelahnya seketika menghilang saat melihat putranya yang tidur.
"Papa mandi dulu yah," Cakra berucap. Lalu melangkah memasuki kamar mandi.
Setelah membersihkan seluruh tubuhnya ia keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan piyama tidurnya. Ia menengok bayinya sebentar lalu berjalan Menuju ranjang, saat tiba di ranjang dengan perlahan ia mendudukkan tubuhnya, ia takut Noureen terbangun karena merasakan adanya pergerakan.
Ia lalu menaikkan kedua kakinya, masuk kedalam selimut lalu membaringkan tubuhnya.
Cakra memutar tubuhnya menghadap sang istri. Ia memeluk tubuh Noureen. Membenamkannya ke dada bidangnya.
"Kau sudah pulang, mas?" Noureen berucap dengan mata yang masih terpejam.
"Hmmm," jawab Cakra singkat.
"Apa pekerjaanmu sangat banyak, mas?" Tanya Noureen lagi.
"Lumayan, sayang," jawab Cakra singkat.
"Apa kau lelah," tanya Noureen lagi.
"Lumayan," balas Cakra lagi.
"Kau sudah makan?" Tanya Noureen lagi.
Mendengar ucapan sang istri yang tidak ada akhirnya, ia kemudian merenggangkan pelukannya lalu menatap wajah Noureen.
Ia sekatika menggeleng saat melihat Noureen yang masih terpejam. Entah sadar atau tidak mungkin istrinya saat ini sedang mengigau.
Cakra kemudian mempererat kembali pelukannya, mengecup pucuk kepala Noureen berkali-kali dan ikut mulai memejamkan matanya.
Tak lama terdengar suara dengkuran halus keluar dari bibir Cakra, pertanda saat ini ia sudah berada di alam bawa sadarnya.
__ADS_1