
Bu Ratna masuk ke dalam penthouse miliknya di Jerman. Matanya terlihat memerah akibat terlalu banyak menangis.
"Mah, sabar. Menantu kita pasti kuat," ucap pak Satrio terus menekan sang istri.
"Ayah, jangan berusaha membohongi ku. Aku pernah di posisi ini. Papa masih ingat kan? dua puluh tahun lalu saat melahirkan adik Cakra secara prematur. Mama mengalami hal yang sama seperti menantu kita. mama kehilangan adik Cakra, dan saat ini mama tidak ingin kehilangan cucu mama lagi," balas Bu Ratna. Tangisnya semakin luluh. Sejak kemarin ia sudah ingin terbang ke Singapura. Namun, faktor cuaca yang sangat buruk membuat pihak bandara menutup sementara penerbangan .
Ya, 20 tahun yang lalu, Bu Ratna pernah kehilangan bayinya akibat melahirkan secara prematur.
"Ayah tahu, mah. Ayah juga khawatir. Tapi bagaimana caranya kita berangkat. Cuaca sedang buruk. Menyewa jet juga bukan solusi. cuaca sedang buruk. mama tenangkan diri mama dulu. Semoga besok tidak terjadi hujan badai lagi. Sehingga penerbangan bisa di buka kembali.
"Mama tidak bisa tenang, pah."ujar Bu Ratna, mengusap air matanya dan hidungnya secara bergantian menggunakan tissue yang ada di meja.
Pak Satrio menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sikap sang istri yang begitu keras.
"Begini, deh. Agar mama tenang hubungi Cakra sekarang. Biar mama tahu kondisi menantu mama seperti apa saat ini,"balas pak Satrio yang saat ini mendudukkan tubuhnya di kursi Tunggal yang ada di samping Bu Ratna.
Akhirnya Bu Ratna mengangguk. Ia kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tas tangannya. Ia mulai menghubungi putranya.
Tet….tet…..tet.
Panggilan tersambung, menampakkan wajah Cakra terpampang nyata di layar ponsel 6,7 inci diagonal itu. Dengan logo apel di gigit sebelah.
"Iya, mah. Ada apa?," Tanya Cakra di seberang sana.
"Bagaimana kondisi istrimu? apa janinnya baik-baik saja? apa ia bergerak? apa Noureen mengalami nyeri? atau kran perut?"Bu Ratna memberondong Cakra dengan berbagai pertanyaan.
"Satu-satu dong, mah. Cakra bagaimana jawabannya,"Cakra tersenyum saat melihat kekhawatiran sang mamah pada istrinya.
Pak Satrio yang ada di samping sang istri kembali memgeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh istrinya begitu tidak sabaran.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi istrimu," tanya Bu Ratna mengulang pertanyaannya.
"Sejauh ini masih aman-aman saja, mah. Ia sedang tertidur," ucap Cakra kemua mengarahkan ponselnya ke arah brankar.
Bu Ratna terlihat tersenyum di seberang sana. Kemudian melanjutkan pertanyaannya.
"Kondisi janinnya bagaimana, apa ia bergerak?"tanya Bu Ratna lagi.
"Kondisi janinnya sehat mah, bergerak menurun yang awalnya 10 kali gerak per dua belas jam sekarang menurun ke 7 kali selama per dua belas jam. Itu efek dari suntikan pematang paru," jawab Cakra lagi. Masih fokus menatap wajah sang mama yang terlihat Sangat khawatir.
Wajah Bu Ratna seketika meredup.
Melihat itu, Cakra kembali bersuara.
"Tapi, mama tenang saja. Noureen pasti baik-baik saja. Ia akan ditangani oleh beberapa dokter spesialis Terbaik di Asia Pasifik."lanjut Cakra menenangkan sang mama yang terlihat tampak khawatir.
Bu Ratna mengangguk seraya mengusap kembali sisa air matanya.
"Baik, mah. Itu pasti. Cakra akan terus mengabari mama tentang kondisi Noureen,"balas Cakra.
"Kalau begitu, mama tutup telponnya. Jaga kesehatan kalian," pungkas Bu Ratna.
Cakra mengangguk dan mengucapkan salam, beberapa detik kemudian. sambungannya terputus.
Setelah panggil terputus. Bu Ratna kini bisa tersenyum." Ahhh, semoga menantuku dan cucuku baik-baik saja," ucap Bu Ratna tersenyum lalu kembali menyimpan ponselnya.
Pak Satrio yang ada di sana menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memutar bola matanya jegah melihat tingkah istrinya yang seperti itu.
"Tadikan ayah sudah bilang, tapi mamah masih saja ngotot," ucap pak Satrio menatap sang istri.
__ADS_1
"Maaf deh, yah. Mama salah," ucap Bu Ratna. Ia menarik tangan pak Satrio agar duduk di sampingnya. Ia bermanja di pelukan sang suami. Meski saat ini mereka sudah terlampau berumur tapi kemesraan keduanya tidak berkurang.
Terlihat tangan bu Ratna mengusap-usap dada pak Satrio.
"Mama sedang menggoda ku, ya?"tiba-tiba saja pak Satrio berucap.
"Tidak, mama hanya mengusap-usap dada ayah,"elak Bu Ratna tersenyum.
"Tapi mama membuat papa menegang," ucap pak Satrio.
"Ah, ayah ada-ada aja. Sudah tua juga," ucap Bu Ratna.
"Mama meragukan kekuatan ayah?" Ucap pak Satrio.
Bu Ratna tersenyum menanggapi, lalu kembali menenggelamkan wajahnya ke dada sang suami. Namun, pak Satrio tidak tinggal diam ia malah merebahkan tubuh sang istri.
"Ayo mah, mari kita coba kekuatan pria yang mama bilang sudah tua ini," ucap pak Satrio lalu melanjutkan aksinya.
Mereka pun melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, kekuatan pak Satrio tidak berkurang di usianya yang sudah tua ini, ia melakukannya dengan sangat baik, ia membuat sang istri terbang melayang di udara akibat sensasi yang pak Satrio lakukan. Terbukti dari erangan-erangan yang keluar dari mulut sang istri.
***
Di sisi lain di depan rumah sakit mount Elizabeth, tepatnya di hotel The Elizabeth yang terletak tepat di depan rumah sakit, Bu citra menyandarkan tubuhnya di ranjang. Saat ini, ia sedang berbicara dengan pengacaranya.
"Baik lah, kau urus semua pengalihan kekayaan ku untuk putri ku. Aku sudah cukup sangat tua untuk mengurusi semua pekerjaan yang ada di perusahaan," ucap Bu Citra kemudian menutup sambungan teleponnya.
Tadi setelah melihat menantunya sangat mencintai putrinya, ia memutuskan untuk menyerahkan semua asetnya pada Noureen dan menyatukan perusahaannya dengan perusahaan sang besan agar dikelola oleh menantunya.
Bu citra tersenyum kembali. Saat melihat layar ponselnya yang terdapat foto Noureen semasa ia kecil.
__ADS_1
Bu citra mengusap layar ponselnya yang menampakkan foto putrinya. Tidak terasa sekarang putri kecilnya akan menjadi seorang ibu. Ia lalu membaringkan tubuhnya sambil menatap foto sang putri. Tak lama Bu citra terpejam.