
Pagi-pagi Noureen sudah membuka matanya, hari ini ia berniat berjalan-jalan pagi menikmati indahnya kota Paris.
"Mas, bangun." Noureen menggoyang-menggoyangkan lengan suaminya.
"Hemmm." Cakra hanya bergumam dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Mas, bangun." Noureen kembali menggoyang-menggoyangkan lengan kekar suaminya.
" Ada apa, Reen, ini masih terlalu pagi. Aku masih mengantuk."
"Ayo, mas, Bangun. Aku ingin berjalan-jalan pagi."
"Lima menit lagi Reen, mas masih sangat mengantuk." Cakra kembali menarik selimut dan membenamkan wajahnya di bantal yang menurutnya begitu empuk.
Lelah membangunkan Cakra, akhirnya Noureen bangkit dari kasur berjalan ke kamar mandi. Ia menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras. Noureen sangat kesal dengan sikap suaminya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Noureen keluar dari kamar mandi dengan menggunakan blush dipadukan dengan celana bahan scuba panjang. Ia berjalan ke arah meja rias. Beberapa saat setelah memberi sentuhan make up tipis di wajahnya. Noureen bangkit dari kursinya, mengambil tas, dompet dan ponselnya. Namun sebelum keluar dari kamar ia menoleh ke arah ranjang di mana Cakra tertidur dengan sangat lelapnya.
Ia tersenyum dan mengambil pulpen beserta kertas di tangannya." Mas aku keluar, tadi aku sudah membangunkan mu. Tetapi, nampaknya kau sangat mengatuk." Pertanda istrimu. Setelah menulis itu, Noureen berjalan ke arah kulkas dan menempelkan secari kertas yang ia tulis tadi dan berjalan ke arah pintu.
***
Cuaca kota Paris sangat dingin, udara berhembus sangat kencang di ikuti dengan salju yang turun tanpa henti di kota itu. Ia berjalan di sepanjang trotoar kota Paris. Awalnya ia ingin berjalan-jalan menikmati kota Paris seperti yang biasa ia lihat di TV-TV namun sepertinya perjalanannya kali ini gagal akibat cuaca yang tak mendukung.
Noureen sesekali mengerakkan kancing mantelnya sembari memeluk tubuhnya menggunakan kedua tangannya. Lelah berjalan tanpa arah dan tujuan, Noureen berbalik hendak kembali ke apartemen. Namun sepertinya ia tidak menemukan jalan pulang. Semua bangunan di depannya terlihat sama.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan tak ada papan penunjuk jalan, ia ingin bertanya, tetapi tak ada satu orangpun yang bisa ia tanyai. Akhirnya Noureen memutuskan untuk masuk ke sebuah toko yang ada di pinggir jalan.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam toko itu, ia bertanya pada karyawan yang ada di dalam toko. lalu karyawan itu kembali bertanya nama apartemen yang saat ini di tempati oleh Noureen. Namun Noureen lupa nama apartemennya. Ia merogo tasnya hendak menelpon Cakra, lagi-lagi ia harus mengelus dadanya karena ia lupa mencharge ponselnya.
Noureen keluar dari toko. Saat ia tiba di luar, ia menghembuskan kembali nafasnya karena ia tak tahu di mana arah jalan menuju apartemen. Lama berdiam, dan ia juga tampak kedinginan. Akhirnya ia memutuskan akan menyusuri trotoar. Noureen menyusuri trotoar, mengingat-ingat jalan menuju apartemen. Tapi lagi-lagi ia harus bersikap tenang karena jalan yang ia lalui semuanya terlihat sama. Noureen kembali melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, lagi-lagi ia harus menghembuskan nafasnya karena sudah hampir 5 jam ia menyusuri trotoar, Namun tak menemukan di mana apartemennya, hingga ia memutuskan untuk duduk di kursi taman Yang sempat ia lalui beberapa meter yang lalu.
Noureen mendudukkan tubuhnya di kursi sembari menatap ponselnya yang mati. Matanya seketika berembun. Ia tak tahu harus bagaimana, ingin bertanya pada seseorang, ia juga lupa Nama apartemen yang mereka tempati.
Hingga saat ia ingin menangis, tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang mengenakan mantel ke tubuhnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Cakra tersenyum ke arahnya. Seketika Noureen bangkit dari kursinya dan langsung menghambur memeluk tubuh Cakra.
"Mas, aku takut, Hiks, hiks, hiks." Noureen menagis di pelukan sang suami. Tadi ia sempat putus asa karena ia tak tahu jalan Menuju di mana apartemennya. Ingin ke kantor polisi, Namun ia mengurungkan niatnya. Menurutnya percuma juga ke kantor polisi, ia tak tahu alamat apartemen yang saat ini mereka tempati.
"Aku takut, mas." Noureen kembali menangis sambil mengeratkan pelukannya.
"Kau tenang, ada mas di sini." Cakra mengusap rambut Noureen, memberi kehangatan pada wanita yang sudah melahirkan keturunannya.
Lama berpelukan, Cakra melepaskan pelukannya dan langsung mengajak Noureen duduk.
"Reen kau dimana." Cakra berucap dan kembali mencari Noureen. Ia berjalan ke arah pantry dan betapa kagetnya ia, saat mendapati Sebuah pesan dari Noureen. Dengan panik Cakra berjalan ke arah kamar mandi, Mengganti baju dan langsung berlari keluar mencari Noureen. Cakra begitu panik, pasalnya ini kali pertama Noureen menginjakkan kakinya di Paris, dulu ia sempat keluar negri bersama Cakra. Namun itu di Belanda.
Cakra menyusuri jalan trotoar mencari keberadaan Noureen. Hingga ia melihat punggung seorang wanita sedang duduk di sebuah taman. Cakra mengulas senyum dan langsung berjalan mendekat. Dan ternyata memang benar, wanita itu adalah Noureen.
Setelah mendudukkan tubuh mereka di kursi. Cakra kembali mengusap kepala Noureen."maafkan, Mas. Mas tadi benar-benar mengantuk." Cakra meraih punggung tangan Noureen kemudian mengecupnya.
Noureen menoleh." Tidak Apa-apa, Mas. Aku yang salah, aku keluar tanpa seizin mu." Noureen kembali tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di punggung sang suami.
"Jika kau ingin keluar, tunggulah, Mas. Biar Mas yang menemanimu." Ucap Cakra kemudian mengecup kepala Noureen dan di ikuti anggukan oleh sang istri.
Lama duduk di sana, Cakra kembali berucap." Apa kau ingin jalan sekarang?"
__ADS_1
Noureen menggeleng."Aku ingin pulang saja, Mas. aku sangat lelah berkeliling sejak tadi.
Cakra tersenyum mendengar penuturan sang istri.
"Bagaimana jika kita berbelanja, kau boleh memilih dan membeli semua barang yang kau inginkan." Tawar Cakra.
Lagi-lagi Noureen menggeleng." Kita pulang saja, mas." Tolak Noureen. Noureen memang Sepertinya sangat kelelahan. Cakra menawarinya berbelanja barang branded sekalipun Noureen menolak.
"Yah sudah, ayo kita pulang."
Noureen perlahan bangkit dari posisinya yang tadi bersandar di bahu sang suami. Kemudian Mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya.
"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Cakra.
Noureen mengangguk. Tapi sepertinya Noureen saat ini sedang berbohong. Wajahnya terlihat sangat pucat dan hal itu tidak luput dari penglihatan Cakra.
"Biar Mas gendong," tawar Cakra.
Noureen menggeleng." Aku masih bisa berjalan, mas." Tolak Noureen. Kemudian mengapit lengan Cakra.
Cakra terlihat mengangguk." Tapi, jika kau lelah, kau harus bicara. mas selalu siap mengendong mu." ujar Cakra dan berjalan Menuju apartemen yang di tempati mereka.
.
.
.
__ADS_1
BEBERAPA BAB LAGI TAMAT