Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
Episode 64


__ADS_3

Seorang kurir menurunkan satu-persatu buket bunga yang ada di dalam box pick upnya. setelah selesai menurunkan semua buket bunganya, seorang kurir menghampiri mereka.


" Pak silahkan ditandatangani, ini tanda terimanya," ucap seorang kurir. Ia menyerahkan selembar kertas yang harus ditandatangani beserta sebuah kwitansi pembayaran.


Cakra mengangguk kemudian menandatangani kertas yang diberikan oleh seorang kurir.


" Terima Kasih." Ucap Cakra tersenyum.


" Sama-sama pak," jawab  kurir itu." kalo begitu saya permisi pak," lanjut kurir itu berjalan Menuju mobilnya setelah menerima anggunkan dari Cakra.


Noureen kemudian berjalan menghampiri Cakra," mas, Ini semua untuk apa? Tanya Noureen. Menatap suaminya, lalu mengalihkan tatapannya pada semua bunga yang berjejer di halaman Rumahnya.


" Ini semua untuk mu sayang. Kemarin aku melihatmu sangat menyukai mawar merah pemberian, Rio. Jadi aku berniat memberikan mawar merah ini untuk mu sayang. Agar bunga pemberian Rio dibuang saja." Ujar Cakra dengan entengnya.


Noureen berdecak kesal, entah akhir-akhir ini suaminya begitu sangat menjengkelkan.


"Mas, jangan seperti itu, niat mas Rio baik, dia datang ke acara wisuda ku hanya untuk memberikan selamat. Tidak ada maksud tertentu," ucap Noureen menatap kesal ke arah Cakra.


"Tapi feeling ku mengatakan dia menyukaimu. ada hal yang berbeda saat aku melihatnya tersenyum menatapmu." Jawab Cakra meyakinkan Noureen.


" Terserah mas saja! aku lelah membahas masalah ini terus-menerus." Ucap Noureen, lalu meninggalkan Cakra yang masih diam dihalaman rumah.


Saat melihat Noureen pergi, Cakra lalu mengejarnya.


" Sayang, tunggu," ucap Cakra. Namun Noureen masih tidak memperdulikan panggilan dari Cakra. Noureen terus saja berjalan ke arah ruang keluarga.


" Kamu marah, ya." Tanya Cakra saat menghampiri sang istri. Ia kemudian mendudukkan bokongnya disamping Noureen

__ADS_1


" Mas pikir saja sendiri," jawab Noureen ketus. Mengambil menjalah yang ada di atas meja.


" Sayang kamu jawab dulu," Cakra menarik majalah yang dipegang oleh Noureen lalu menyimpannya kembali ke atas meja.


" Mas! Majalah Nya," Noureen menatap kesal.


" Jawab dulu." Ucap Cakra. Kemudian mencium pipi Noureen sekilas.


Seketika pipi Noureen bersemu merah


" Awas, ya. Mas! Aku tak akan memberikanmu jatah lagi," ucap Noureen masih menatap kesal pada sang suami.


Cakra terkekeh. Mencium lagi pipi Noureen. Melingkarkan tangannya pada perut buncit sang istri.


" Semakin hari kamu semakin terlihat cantik sayang," gombal Cakra. Mengusap-usap perut Noureen.


" Serius sayang, makin hari kamu makin cantik," gombal Cakra. Kembali mencium pipi Noureen.


" Mas, sudah gombalnya. Ke Kantor gih, kamu sudah telat." Ucap noureen. berusaha melepas tangan Cakra dari pinggangnya.


" Yah sudah, cium mas dulu, setelah itu mas ke kantor," jawab Cakra. Mengarahkan pipinya ke wajah Noureen.


" Cepat cium!


Noureen mengeleng


" Ya sudah, mas ngak ke kantor hari ini, jadwal meeting dengan klien penting, mas tunda saja. sampai kamu mau mencium mas," Ucap Cakra tersenyum.

__ADS_1


" Loh kok gitu mas," jawab Noureen sambil mengerutkan alisnya.


" Ya, sudah. Cium mas sekarang," balas Cakra terkekeh.


Seketika Noureen mencium pipi Cakra," sudah! Berangkat gih."


" Makasih, sayang," Ucap Cakra kembali bangkit lalu berpamitan pada Noureen.


Noureen tersenyum kemudian, menggeleng melihat tingkah suaminya.


***


Sebulan kemudian


Di gedung tertinggi SS grup. Cakra berdiri menatap keluar jendela. Satu tangannya ia selipkan di saku celananya. 


Pikirannya sedang kacau setelah mendapat informasi dari seorang dokter kandungan yang menangani Noureen tentang masalah kandungannya.


Noureen di diagnosis plasenta Previa totalis dengan curiga akreta. Hancur tentu hati Cakra hancur mendengar semua ini, Akibatnya akan beresiko besar dan akan terjadi pendarahan hebat saat Noureen melahirkan bayinya..


.


.


.


Vote, Like, Komen.

__ADS_1


 


__ADS_2