
Saat kesadaran Anaya sudah mulai kembali, tiba-tiba dua bulir bening kembali terjatuh dari kelopak matanya, ia memegangi dadanya sesak, merasakan rasa yang tak dapat diungkapkan melalui lisan.
Anaya kemudian memutar tubuhnya kesamping lalu meringkuk. tangisannya kembali pecah, pikirannya kosong, entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Pikirannya benar-benar buntuh.
Adrian yang baru saja masuk kedalam kamar, langsung mendekat ke arah Anaya. Kemudian mendudukkan bokongnya di kursi yang ada disamping ranjang.
" Nay," panggil Adrian, ia kemudian meraih tangan Anaya." Kita bisa bicara baik-baik, aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kita perbuat. Mari kita menikah! Ajak Adrian.
Namun, Anaya tak menjawab, ia malah menghempaskan tangan Adrian.
"Jangan berani sentuh aku lagi." Teriak Anaya histeris. Ia kembali menangis.
" Ok! kalo itu maumu. tapi setidaknya kau mau makan, biar tubuhmu punya tenaga." Bentak Adrian. Ia kemudian bangkit lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Adrian keluar dari kamar mandi, ia menatap ke arah nakas, ternyata Anaya belum juga memakan makanannya. Anaya masih setia meringkuk di atas tempat tidur.
Karena takut terjadi apa-apa dengan Anaya, dan ia yang disalahkan, akhirnya Adrian kembali mendekat. Dan Dengan paksa ia kembali meraih tubuh Anaya.
" Nay! Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kau tidak usah jadi istri sungguhanku, kita bisa menikah. Dan hanya sementara. setelah itu kita bercerai, aku akan melepaskan mu jika sudah waktunya dan akan memberimu uang sebagai jaminan hidup. Kau tinggal bilang, kau mau berapa banyak." Ucap Adrian memegang kedua pundak Anaya.
Anaya tak bergeming, ia menatap Adrian dengan tatapan kosong. Bahkan tak berekspresi sedikit pun.
Plak
Satu tamparan mengenai pipi Adrian. Ia meringis merasakan rasa panas yang menjalar ke seluruh bagian rahangnya. Ia memegang pipinya.
Anaya menyunggingkan senyumnya."Hanya sebatas itu penghargaanmu pada wanita, aku tidak akan Sudi menikah dengan pria bejat seperti mu."balas Anaya, dengan sekuat tenaga, ia kemudian bangkit dari tempat tidur dan hendak berjalan keluar meninggalkan Adrian.
__ADS_1
Baru saja Anaya memegang knop pintu. tapi, tiba-tiba saja tangannya di cekal oleh Adrian.
"Kau mau kemana?" Tanya Adrian menatap tajam kearah Anaya.
Anaya tak menjawab, ia malah membalas menatap tajam ke arah Adrian.
" Lepas brengsek." Teriak Anaya, ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Adrian. Namun, bukannya Adrian melepas ia malah mempererat cengkramannya, ia kemudian maju dan langsung mengangkat tubuh Anaya lalu menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
" Kau mau apa?" Tanya Anaya, lalu meringsek mundur. " Tolong jangan sentuh gue." Ujar Anaya dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
Adrian yang saat ini dipenuhi rasa emosi tak dapat mengontrol emosinya. ia lalu menarik paksa pakaian yang dikenakan Anaya, hingga kini Anaya tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
Anaya bergerak mundur.
"Kau mau apa?! Jangan mendekat." Seru anaya dengan tubuh yang bergetar.
Air mata kepedihan terus mengalir di wajah Anaya, ia tak dapat melakukan apa pun, tubuhnya begitu lemah untuk melawan tenaga Adrian yang lebih besar darinya. hingga ia memilih pasrah, melawan pun percuma.
Setelah Adrian puas Melakukan hal bejatnya, ia kemudian bangkit lalu memakai kembali pakaiannya.
Ia kemudian merogoh sakunya lalu melemparkan beberapa lembar uang ke arah Anaya " ini bayaran mu, kalau masih kurang, kau bisa hubungi aku," ucap adrian lalu meninggalkan Anaya dengan posisi menangis sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
***
Adrian keluar dari hotel dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Setelah Adrian duduk di kursi ia lalu memukul setir mobilnya." Sial." Ujar Adrian. Saat ini, ia menyesali apa yang baru saja ia perbuat. Lama terdiam, ia akhirnya melajukan mobilnya ke suatu tempat.
Setelah Adrian menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya, mobil Adrian berhenti di sebuah Villa. Ia melihat villa mewah yang ada didepannya. Sudah bertahun-tahun ia tidak mengunjungi villa ini. Lama terdiam, Adrian keluar dari dalam mobilnya dan melangkah masuk ke dalam villa dengan langkah gontai.
__ADS_1
Villa ini adalah villa Opa dan Oma Adrian. Setelah ibu adrian meninggal, Adrian tak pernah lagi datang ke villa ini. Dulu saat ibunya masih hidup, Adrian selalu menghabiskan waktunya di sini bersama dengan ibunya. Banyak kenangan indah yang Adrian lewati berdua dengan ibunya.
Saat Adrian sudah masuk ke dalam villa, ia melihat sekeliling villa itu. Tak ada yang berubah, masih sama seperti dulu. Adrian lalu berjalan ke arah ruang keluarga. Di sana juga masih tampak seperti dulu. Banyak foto yang masih berdiri di tempatnya. Adrian berjalan ke arah lemari di sana foto ibunya masih tertata rapi. Ia lalu mengambil salah satu foto ibunya, kemudian berjalan ke sofa dan langsung duduk di sana."Bu, maafkan Adrian. Adrian salah, Bu." Adrian menangis tergugu kemudian meringkuk di sofa.
Sedangkan di tempat lain
Anaya berjalan dengan langkah yang pelan, ia menatap kosong ke depan, ia berjalan antara Sadar dan tidak sadar. Seolah kakinya berjalan sendiri tanpa ia sadari. Air matanya terlihat terus mengalir dari kedua pipinya.
Terlihat dari jauh, anaya terus berjalan terus di antara mobil yang sibuk lalu lalang disampingnya.
kini Anaya sudah tidak peduli lagi dengan dirinya, jiwanya telah pergi bersamaan dengan noda yang digoreskan oleh Adrian padanya. hingga Kini Apalagi yang ia banggakan dari tubuhnya yang kotor. semuanya hilang dalam sekejap. Tanda merah, cairan merah yang ia akan hadiahkan untuk imamnya suatu saat nanti sudah direnggut paksa oleh Adrian hingga kini ia tak dapat berdiri tegap.
Anaya berhenti Tepat di perempatan jalan, Anaya berhenti di sebuah jembatan, ia menatap arus air yang begitu deras, ingatanya berputar-putar saat tadi Adrian menyentuhnya dengan paksa.
Suara gemuruh kian terdengar bersama dengan gemercik air yang sudah Mulai turun. Anaya memeluk tubuhnya, rasa dingin mulai menembus hingga ke permukaan kulitnya.
Dua puluh menit Anaya menatap turun kebawah, akhirnya ia memutuskan untuk meloncat, ia sudah tak sanggup lagi dengan semua beban ini.
Perlahan Anaya mulai naik ke sisi jembatan, kemudian mendongak ke atas lalu merentangkan tangannya lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Baru saja Anaya ingin.melompat, namun tiba-tiba saja tangannya di cekal oleh seseorang.
.
.
.
__ADS_1
Vote, like, komen. Terima kasih yang masih bersedia mampir. di awal bulan ada gift pulsa 50k yah, untuk dukungan terbanyak di awal bulan.