
Adrian membawa semangkuk bakso masuk ke dalam kamar, Anaya tersenyum saat mencium aroma bakso yang di bawa Adrian.
Anaya bangkit lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Mas." Gumam anaya tapi masih bisa terdengar dari Indra pendengaran Adrian.
Adrian tersenyum. Meletakkan semangkuk bangso yang ia buat sendiri dari hasil tangannya. Ini masakan kedua yang Adrian masak. Yang pertama Adrian pernah membuat nasi goreng omelet yang hangus. Dan sekarang, Adrian kembali membuat bakso yang diminta istrinya. Semoga rasanya enak, tidak mengecewakan seperti sebelumnya.
"Aromanya sangat lezat, mas." Puji Anaya. Ia tersenyum sambil memandang wajah Adrian yang masih mengeluarkan keringat.
"Mau aku suapi?" Tanya Adrian.
Anaya mengangguk." Kalau mas tidak keberatan."
Adrian dengan telaten mulai menguapi Anaya bakso hasil racikannya. Tidak lupa sebelum masuk ke dalam mulut Anaya, Adrian sudah lebih dulu meniupnya.
"Bagaimana?" Tanya Adrian. Ia menatap wajah Anaya dengan intens, menunggu reaksi Anaya tentang rasa bakso buatannya.
Anaya terdiam, sambil mengunyah.
"Rasanya enak, mas."balas Anaya.
Mendengar ucapan Anaya, Adrian mengelus dadanya lega. Akhirnya bakso yang ia buat dengan sepenuh hati tidak gagal.
Setelah menghabiskan hampir setengahnya, kini Anaya menolak saat Adrian akan menyuapinya kembali.
"Sudah, mas. Aku sudah kenyang." Anaya menolak saat Adrian akan kembali menyuapinya.
"Satu suap lagi, ya, Nay?" Bujuk adatin.
Anaya kembali menggeleng." Sudah mas, rasanya aku mual lagi."
Adrian meletakkan mangkuk baksonya, Kemudian mengambil vitamin untuk Anaya.
"Diminum dulu obatnya." Titah Adrian. Ia menyerahkan beberapa tablet vitamin beserta air putih.
Anaya menerima obat tersebut, lalu meminumnya." Terima kasih, mas."
Adrian kembali membantu Anaya untuk berbaring.
"Mas."
"Heemmm."
Anaya menarik tangan Adrian lalu memeluknya." Mas aku ingin pulang ke Indonesia." Ucap Anaya.
"Belum bisa, Nay. Kesehatanmu masih memburuk."balas Adrian.
"Aku baik-baik saja, mas. Aku ingin pulang, aku rindu masakan bibi." Rengek Anaya. Ia memohon agar mereka bisa kembali ke Indonesia.
"Baik, aku akan mengurus semuanya. Tapi sebelum kita pulang, kita ke makam ibu dulu."
Anaya mengangguk tapi masih memeluk lengan Adrian dengan manja.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Anaya sudah siap, pagi ini mereka akan mengunjungi makam ibu Adrian.
"Nay, apa kau sudah siap?" Tanya adrian yang baru saja masuk ke dalam kamar. Beberapa saat yang lalu, Erwin sempat meneleponnya membahas masalah pembangunan pabrik yang ada di Bandung.
"Sudah mas, bagaimana menurut mu." Anaya memperlihatkan penampilannya pada Adrian.
"Bagus." Adrian berjalan. Memeluk tubuh Anaya, lalu berbisik." Apapun yang kau kenakan, akan selalu terlihat cantik di mata ku." Adrian mencium pipi Anaya.
Setelah itu, Adrian melepaskan pelukannya, kemudian berjalan ke kamar mandi. Ia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Sejam kemudian mereka berdua suda siap. Mereka keluar dari kamar.
Haris yang duduk di meja makan sambil membaca koran, meletakkan korannya saat melihat Adrian keluar dari kamar.
"Ayo sarapan." Ajak Haris.
"Kalian mau kemana?" Tanya Vera.
" Kami akan ke makam ibu." Jawab Adrian.
Adrian lalu menarik kursi untuk Anaya. Kemudian menarik kursi untuk dirinya juga.
Dengan telaten Adrian mengambil roti, mengoleskan slai coklat dan meletakkannya ke piring Anaya.
"Terima kasih, mas." Balas Anaya.
Anaya menyeruput teh hangat kemudian menikmati roti yang di buatkan oleh Adrian.
"Kau banyak berubah."ujar Haris.
"Aku masih seperti dulu." Ucap Adrian sambil Menyuapkan roti ke dalam mulutnya.
Haris tersenyum sambil menyeruput kopinya." Nay, kau tau, Adrian itu pria tempramental, suka marah dan sangat arogan. Siapapun yang mendengar derap langkah sepatunya, mereka akan langsung lari ketakutan."
Anaya tersenyum lalu melirik Adrian, kemudian menyeruput tehnya.
Kali ini Anaya teringat pertemuan pertama mereka hingga berakhir menikah.
"Apa benar begitu, Ris? Tanya Vera.
"Tentu, dia pria paling arogan di SMA. Semua cewek di sekolahpun takut mendekat padanya." Haris terkekeh. Dan kembali menyeruput kopinya.
Vera tersenyum lalu mengelengkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong kalian bertemu di mana?"tanya Vera.
Anaya dan Adrian seketika saling tatap.
Anaya tersenyum kikuk begitu pun Adrian yang tersenyum sambil mengaruk kepalanya.
"Kami bertemu di kampus." Jawab Adrian kembali menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Jadi kalian satu fakultas?"tanya Vera.
"Tidak. Iya." Jawab mereka bersama.
" Jadi yang benar gimana? Iya atau tidak."
"Kami sekampus tapi tidak se fakultas." Jawab Anaya sambil tersenyum.
***
Setelah menghabiskan sarapan keduanya. Adrian langsung berangkat menuju makam ibunya. Dan disinilah mereka, duduk berdua di samping makam sang ibu.
"Apakabar Bu, maaf Adrian baru sempat mengunjungi ibu. Adrian sangat sibuk Bu. Oh iya Bu, papa sudah meninggal. Apa ibu sudah bertemu dengannya ?tanya Adrian.
Adrian memegang nisan ibunya, ia menunduk tak terasa setetes cairan bening terjatuh dari wajah tampannya. Adrian rindu, sangat merindukan ibunya.
Anaya menatap sedih pada suaminya saat menyadari jika adrian saat ini sedang bersedih. Anaya mengusap punggung Adrian." Mas jangan bersedih, ibu sudah tenang di sana."
Setelan lama menunduk, Adrian menyeka air matanya kemudian menatap Anaya sambil tersenyum. Adrian mengenggam tangan Anaya." Ibu perkenalkan ini Anaya, istri Adrian. Sekarang Anaya sudah mengandung cucu ibu, aku harap ibu bahagia seperti apa yang aku rasakan saat ini. Anaya istri yang baik, Bu. Walaupun berkali-kali aku sering menyakiti perasaannya, tapi dia tetap memaafkan ku."
Adrian merangkul pundak Anaya, menggenggam erat tangan Anaya, mengecupnya di depan nisan sang ibu.
"Bu, perkenalkan saya Anaya, istri, mas Adrian. Bu, saya janji akan menjaga dan menemani mas Adrian sampai kapanpun."
Setelah mengucapkan itu, Anaya dan Adrian lalu menabur bunga dan menaruh beberapa buket bunga di nisan sang ibu.
"Bu, Adrian harus kembali ke Indonesia. Suatu saat nanti, kami akan kembali ke sini. Mengunjungi ibu bersama dengan cucu ibu.
Adrian tersenyum menggenggam tangan Anaya lalu mengecupnya.
Setelah berpamitan, mereka keluar dari area pemakaman menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Nay." Panggil Adrian.
Anaya menoleh."ada apa, mas?"
Adrian menangkup pipi Anaya." Terima kasih."
"Terima kasih untuk apa, mas?"
"Terima kasih karena kau sudah memaafkan semua kesalahanku."
"Sama-sama, mas." Jawab Anaya.
Adrian menyatukan dahinya dengan dahi Anaya.
"Berjanjilah untuk selalu bersamaku dan tidak akan pernah meninggalkan ku."
"Aku berjanji mas, akan selalu bersama mu dan tidak akan pernah meninggalkanmu."
Adrian mengecup pucuk kepala anaya lalu menenggelamkan Anaya ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Aku juga, Sangat mencintaimu, mas. Sangat mencintai mu."