Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 136. Season 2


__ADS_3

Anaya memejamkan mata, setelah itu, ia mengangguk.


Adrian tersenyum. Kemudian bersorak sorak seolah saat ini, ia Sadang memenangkan lotre puluhan miliar.


Tanpa menunggu lama, ia langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Anaya. Dengan perlahan tapi pasti, saat bibir mereka saling menyentuh dengan rakus Adrian ******* bibir Anaya. Anaya tak bereaksi Tetapi Adrian menggigit kecil bibir Anaya, Hingga bibir merah itu terbuka dengan sempurna. Tanpa melepas pagutan mereka, Adrian memposisikan tubuhnya tepat di atas Anaya, ia membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya Anaya. Dengan lincah tangannya bermain di sana, menyusuri setiap lekuk tubuh anaya, melayangkan kecupan kecil di area tengkuk dan bergerak turun ke d*d* . Ia berhenti di sana ******* dan bermain dengan bulatan kecil yang ada di area tersebut. Erangan dan ******* terdengar jelas memenuhi ruangan kerja yang di sulap menjadi kamar. Hujan deras seiring gemuruh beserta petir saling bersahutan menemani malam panas yang sedang berlangsung di ruang itu. Anaya mengerjap, jemari lentik itu menekan punggung Adrian saat merasakan gesekan miliknya dan milik adrian semakin lama semakin cepat. Melihat Anaya yang menggigit bibirnya Adrian bergerak ******* bibir Anaya Hingga Adrian mengeram saat lahar panasnya menyembur masuk ke rahim Anaya. Entah berapa lama mereka menghabiskan malam panjang ini. Adrian tersenyum kemudian mengecup dahi Anaya setelah berhasil menetralkan nafasnya. Ia bangkit dari tubuh Anaya dan merebahkan tubuhnya di samping Anaya. Sedangkan Anaya memutar tubuhnya membelakangi adrian ia menarik selimut menutupi hingga batas muka. Adrian yang melihat Anaya tampak malu, ia langsung menarik selimut dan memutar tubuh Anaya kemudian memeluk tubuh Anaya hingga saat ini posisi mereka begitu dekat.


"Tidurlah, kau pasti sangat lelah." Ujar Adrian dan langsung kembali memeluk anaya. Deru nafas Anaya terdengar beraturan. Adrian yang masih terjaga kembali mengecup pucuk kepala Anaya. Ia tidak menyangka semenyenangkan ini memiliki istri. Ia juga tidak pernah menduga akan jatuh cinta pada Anaya. Adrian tersenyum dan ikut memejamkan matanya.


***


Pagi menyapa, suara burung terdengar saling bersahutan. Anaya mengerjap dan langsung membuka matanya dan mendapati posisinya dan posisi Adrian begitu dekat. Anaya tersenyum malu, ia menunduk sambil menggigit bibirnya. Perlahan ia bergerak, berusaha melepas tubuhnya dari tubuh Adrian. Setelah berhasil melepaskan diri. Perlahan Anaya bangkit, menurunkan kedua kakinya dan dengan langkah Pelang ia mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai lalu keluar dari kamar.


Setelah berhasil keluar dari kamar Adrian. Anaya langsung masuk ke dalam kamar, tubuhnya terasa remuk setelah semalam Adrian berhasil menguras habis tenaganya.


Hampir tiga puluh menit  Anaya Menghabiskan waktu di toilet. Akhirnya ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat segar. ia lalu mengambil pakaiannya, memakainya dan berjalan ke Meja rias. Anaya menatap pantulan tubuhnya di cermin melihat tengkuknya serta dadanya terlihat banyak bekas kecupan Adrian. Anaya melongos sebal, bagaimana jika ada orang lain yang melihat, pasti mereka akan salah paham.


Setelah lama terdiam di depan cermin, Anaya keluar dari kamar. Dengan tubuh lemas, ia melangkah menuju ke pantry. Namun saat ia sudah sampai di pantry Adrian sudah lebih dulu ada di sana. Adrian terlihat memainkan memainkan ponselnya sambil menyeruput kopi di depannya. Tetapi saat Anaya berjalan di sampingnya, Adrian langsung menarik tubuh Anaya, hingga Anaya terjatuh di pangkuannya.


"Adrian lepas, aku ingin membuat sarapan." Seru Anaya. Ia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Adrian.


Namun, Adrian tidak menanggapi, ia semakin memeluk tubuh Anaya. Melayang kecupan di tengkuk Anaya. Aroma shampoo serta sabun yang menyeruak di hidung Adrian membuat pria itu semakin nyaman dengan posisi mereka saat ini.

__ADS_1


"Kau tidak usah masak, aku akan memesan makanan untuk kita." Balas Adrian. Ia semakin mengeratkan pelukannya sambil memainkan ponselnya. 


Anaya melongos malas." Kau akan telat ke kantor jika kau tidak melepaskan ku." Anaya berusaha mencari alasan agar bisa terbebas dari Adrian yang saat ini mengunci Tubuhnya


"Hari ini aku tidak akan ke kantor, aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan mu. Semalam belum cukup membuat dia tertidur pulas." Ujar Adrian ia semakin menggoda Anaya. Membuat pipi Anaya seketika bersemu merah.


Anaya memejamkan mata, Tubuhnya seketika melayang ke atas ia berteriak terperanjat kaget saat tubuhnya sudah berada di gendong Adrian.


"Kau akan membawa ku kemana? Turunkan aku? Anaya meronta-ronta meminta untuk dilepaskan.


"Jika kau tak berhenti bergerak kau akan terjatuh." Seru Adrian. Mau tidak mau Anaya langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Adrian kemudian menyembunyikan wajahnya ke dalam dada Adrian.


Adrian mengulum senyumnya bersorak gembira merasakan Anaya tidak meronta dan menuruti ucapannya.


Adrian memejamkan matanya, ia lupa jika ia memesan makanan barusan. Mau tidak mau ia bangkit dari tubuh Anaya dan kembali memakai kaosnya." Ayo kita sarapan dulu, kau harus mengisi tenaga mu sebelum kita bertempur nanti." Adrian memperbaiki posisi pakaian Anaya, kemudian menarik tangan Anaya untuk keluar dari kamar. Anaya yang terus mendapatkan perlakuan manis dari Adrian tetap diam. Walaupun hatinya bahagia, Anaya tidak mau menautkan hatinya terlalu dalam pada hati Adrian. Ia takut terluka jika suatu saat nanti Adrian meninggalkannya.


Setelah sampai di pantry, Adrian menarik kursi untuk Anaya, menyuruh Anaya duduk manis di kursi. Kemudian ia berjalan Membuka pintu dan mengambil makanannya. Setelah mendapatkan makanan dari kurir, Adrian berjalan ke pantry. Mengambil mangkuk dan langsung menyajikan buburnya.


Setelah makanan sudah tersaji di meja, Adrian lalu menarik kursi mendekat pada Anaya kemudian perlahan menyuapi Anaya dengan bubur.


Anaya mengeleng." Biar aku saja. Kau makan saja makanan mu. Bukankah kau masih sakit? Mengapa kau harus menyuapi ku." Ucap Anaya.

__ADS_1


Adrian kembali tersenyum." Aku sudah sembuh, kau sudah menyembuhkan sakit ku semalam."


Mendengar ucapan Adrian yang tidak berhenti mengucapkan kata yang bisa membuatnya melambung tinggi. Anaya memutar bola matanya, ia lebih memilih diam daripada meladeni pria yang pintar bersilat lidah seperti Adrian.


"Aakkk, cepat buka mulut mu."dengan malas Anaya membuka mulutnya menerima suapa yang diberikan Adrian.


"Kau juga makan." Titah Anaya, ia mengambil sendok, tanpa sadar ia menyuapi Adrian dengan bubur yang sama dengan piringnya hingga isi dari mangkuk bubur itu habis.


setelah bubur yang ada di piring habis, Adrian kemudian mengambil gelas yang berisi air dan langsung memberikannya pada anaya. Anaya menerima gelas air yang di berikan Adrian kemudian meminumnya Hingga tandas.


"apa kau sudah kenyang?" tanya Adrian dengan senyum misterius. ia mengusap-usap dagunya sambil menatap Anaya.


Anaya yang di tatap seketika bergidik melihat tatapan Adrian yang seolah akan menerkamnya seperti harimau yang kelaparan.


.


.


.


Terima kasih

__ADS_1


.


__ADS_2