
Setelah Adrian berbicara dengan Bi Asih, ia langsung masuk ke dalam kamar. Ia tersenyum kikuk sambil berjalan masuk ke dalam kamar. di dalam kamar, Anaya sedang membereskan beberapa barang di lemari hendak ia masukkan ke dalam tas.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Adrian saat melihat Anaya mengemasi pakaiannya.
"Apa kau tidak lihat? Apa yang sedang aku lakukan?" Balas anaya. Dan kembali mengemasi barang-barangnya.
" Tentu saja aku tahu, kau sedang mengemasi barang-barang mu. Lalu untuk apa semua itu di bawa" Ujar Adrian.
Anaya mendengus sebal."kemarin aku hanya membawa beberapa potong pakaian. Karena aku berpikir aku akan kembali ke rumah bibi. Tetapi ternyata kau mengajakku tinggal di apartemen." Balas anaya. dan kembali memasukkan barang-barangnya.
Adrian berjalan menghampiri, lantas menahan pergerakan Anaya." Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Anaya. Namun Adrian tidak menjawab pertanyaan Anaya, ia membawa Anaya untuk duduk di kasur.
Setelah Anaya dan Adrian sudah duduk di kasur. Anaya menutup Dadanya menggunakan kedua tangannya, ia terlihat waspada.
Adrian kembali tersenyum melihat apa yang di lakukan Anaya. Adrian kemudian Mengenggam tanga Anaya." kau tidak susah membawa semua itu, mari kita berbelanja setelah ini."Adrian menatap wajah Anaya. Entah apa yang di pikirkan pria itu. Adrian berubah 180 derajat dari sebelumnya, padahal pria di depannya terkenal sangat tempramental.
"Tapi... Adrian, semua itu masih layak untuk di pakai." Pungkas Anaya.
Adrian mengeleng." Kau boleh membeli seberapa banyak yang kau inginkan." Adrian mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu ATM dan memberikannya pada Anaya.
Anaya hanya menatap kartu itu dan tak berniat mengambilnya. Namun tak lama Adrian menarik tangannya dan memberikan kartu itu.
"Untuk apa kartu ini, bukankah saat di supermarket kau sudah memberikan ku kartu. Lantas untuk apa lagi kartu ini.?" Tanya Anaya.
" Di kartu itu, aku menyimpan semua tabungan ku selama ini, jika kau membutuhkan uang cash, kau bisa mengambilnya dari sana." Anaya Dengan cepat mengeleng. Dan mengembalikan kartu itu pada adrian." Ini uangmu, ini hasil kerja keras mu, aku tidak berhak mengambilnya." Ujar Anaya lalu bangkit.
"Kenapa, tidak? Kau istriku, kau berhak menggunakan uang itu." Ujar Adrian.
Mendengar itu, Anaya sempat terdiam. Ia berusaha mencerna ucapan Adrian yang mengatakan jika dirinya adalah seorang istri. Dengan cepat Anaya mengeleng, menyadarkan dirinya. Tidak mungkin Adrian akan mengakuinya sebagai seorang istri, yang jelas-jelas kemarin Adrian sendiri yang mengatakan jika hubungan mereka hanya pura-pura. Lama terdiam, Anaya kembali mengemasi buku-bukunya dan beberapa barang-barangnya. Kecuali pakaiannya, karena Adrian mengatakan jika Anaya tidak usah membawa pakaian.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada paman dan bibinya, Adrian melajukan motornya membelah jalan menuju kesuatu tempat.
"Kita akan kemana?"teriak Anaya. Ia meninggikan suaranya agar terdengar oleh Adrian.
"Nanti kau akan tahu sendiri." Balas Adrian.
Anaya melongos kesal. Ia memilih merebahkan kepalanya di pundak Adrian sembari berpegang di pinggang Adrian. Entah mengapa ia begitu sangat nyaman saat kepalanya bersandar di pundak Adrian.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Adrian sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Saat sampai di parkiran, Ia langsung memarkirkan motornya. Kemudian masuk kedalam mall dengan mengenggam tangan Anaya.
"Untuk apa kita kesini?" Tanya Anaya.
"Tentu saja untuk membeli pakaian untukmu." Ujar Anaya.
Setelah mereka sampai di salah satu outlet yang cukup terkenal. Adrian lalu memanggil salah satu karyawan yang ada di toko itu." Kau temani istriku memilih pakaian yang ia mau, Bungkus semua yang ia pegang." Pinta Adrian pada salah satu karyawan. Setelah itu, Adrian mendaratkan punggungnya di kursi tunggu yang ada di sana.
Hampir tiga jam Adrian menunggu. Namun gadis itu tidak terlihat batang hidungnya. Akhirnya Adrian bangkit dari kursinya dan berjalan memasuki area pakaian wanita.
"Ada apa?" Tanya adrian yang baru saja datang.
Anaya menatap beberapa potong pakaian yang sudah di masukkan ke dalam keranjaam belanjaan. Anaya melongos Ia begitu heran dengan banyaknya pakaian yang sudah dibungkus oleh karyawan hendak di bawa ke kasir untuk di bayar. Padahal tadi Anaya berniat hanya membeli dua atau tiga Potong pakaian.
Melihat tatapan Anaya, Adrian lalu menatap karyawan. Karyawan itu langsung menjawab." Bukannya bapak sendiri yang bilang, semua yang di pegang istri anda harus di bungkus." Seru karyawan yang saat ini berada di sana.
Adrian memukul jidatnya. Apakah ia yang salah atau karyawan yang salah? " Yah sudah, semua barangnya di bawah ke kasir. " Titah Adrian dan langsung merangkul tubuh Anaya untuk keluar." Apa ada lagi yang kau inginkan?" Tanya Adrian.
Anaya mengeleng," tidak. Semua ini sudah cukup."
Adrian lalu berjalan ke arah kasir membayarnya lalu meminta untuk mengirimkan barangnya ke apartemen.
__ADS_1
Setelah mereka selesai berbelanja pakaian. Adrian lalu mengajak Anaya untuk makan. Mereka masuk ke sebuah restoran yang ada di area mall. Setelah mendapatkan kursi kosong. Adrian lalu menarik kursi yang akan diduduki Anaya. Anaya tersenyum walaupun hatinya masih heran dengan perubahan sikap Adrian akhir-akhir ini.
Setelah memesan makanan, Anaya terdiam ia menunduk kan wajahnya. Sungguh saat ini, ia malu menatap wajah Adrian.
Hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya makanan mereka datang. Mereka langsung menikmati makanannya tanpa berbicara.
Setelah makanan yang ada di atas meja tandas tak tersisa. Mereka langsung bangkit dari kursi, berjalan ke kasir. Kemudian membayarnya. Dan langsung keluar dari restoran. Namun saat mereka sampai di depan restoran tiba-tiba seorang bocah kecil menabrak Anaya.
"kakak." seru bocah itu saat melihat siapa yang ada di depannya.
Adrian dan Anaya seketika menoleh."Viona." seru mereka.
bocah itu tersenyum. Anaya Langsung menekuk kakinya, menyetarakan tingginya dengan tinggi viona." kamu ke sini dengan siapa?"
"papa dan mamah." jawab bocah itu.
Tak lama, terlihat pak Suhendi dan Bu Indri datang menghampiri mereka. Anaya berdiri kemudian tersenyum. Adrian langsung mencium punggung tangan papanya dan ibu sambungnya di ikuti Anaya, Namun saat Anaya hendak mencium punggung tangan pak Suhendi, pak Suhendi hanya mengangguk tanpa mengulurkan tangannya. Anaya yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari papa mertuanya hanya bisa tersenyum kecut. sedangkan Adrian yang ada di samping Anaya langsung mengenggam tangan Anaya.
"papa, Tante, kami pamit duluan." ujar Adrian. Namun Viona menarik-narik jaket yang di kenakan Adrian.
"kakak, ayo kita makan bersama."titah Viona dengan wajah memelas. air matanya sudah hampir terjatuh.
Adrian bernafas berat. mau tidak mau ia harus menuruti permintaan Viona. adiknya itu selalu seperti itu saat bertemu dengan Adrian, ia selalu merengek minta di temani." baik, kakak akan menemani Viona makan."
setelah itu, mereka berlima masuk ke dalam restoran yang sebelumnya Anaya dan Adrian datangi. Anaya dan Adrian tidak memesan makanan. Adrian hanya memesan secangkir kopi sedang Anaya memesan segelas lemon tea.
sudah dua jam berlalu, selama itu pula Anaya menunduk. ia begitu takut saat melihat mata pak Suhendi yang terus menatapnya dengan tatapan tidak suka. dan hal itu terlihat dari netra Adrian. sebenarnya Adrian ingin membawa Anaya cepat-cepat dari sana. Namun ia tidak tega dengan rengekan adik kecilnya.
Setelah menyuapi viona makan, Adrian dan Anaya pamit pulang, Adrian sudah tidak ingin berlama-lama di sana walaupun Viona tetap merengek, tetapi Tante Indri berusaha meyakinkan Viona dan berjanji jika Adrian. nanti akan datang ke rumah.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan pak Suhendi dan Tante Indri. mereka langsung menuju ke parkiran. wajah Anaya terlihat sendu setelah mendapatkan perlakuan kurang nyaman dari papa mertuanya.
.