
Pagi-pagi sekali Adrian sudah sampai di Abraham grup. Hari ini ia ada meeting dengan Kliennya. Membahas masalah pembangunan pabrik yang terletak di Bandung.
Saat sampai di depan ruangannya. Adrian lalu masuk. Ia mengerutkan keningnya saat ada seseorang yang berani duduk di kursi kerjanya.
Adrian berdehem.
Wanita itu terlihat memutar kursinya, lantas tersenyum.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ha?" Tanya Adrian. Ia menatap tajam wanita yang sudah berani duduk di kursinya yang tak lain adalah Siska.
Siska tersenyum." Aku kesini karena aku merindukanmu."
Siska terlihat nampak tak tahu malu. Ia lantas berdiri dari kursi Adrian dan berjalan menghampiri Adrian. Siska terlihat mengitari tubuh Adrian sambil memegang bahu Adrian.
"Apa kau tidak merindukan ku?" Siska terlihat tersenyum mengejek.
" Jangan menyentuhku." Bentak Adrian.
"Slow honay." Siksa kembali tersenyum.
"Keluar dari sini! Atau aku akan menyuruh security menyeretmu keluar dari tempat ini!" Adrian terlihat mengepalkan tangannya. Seandainya Siska adalah seorang pria sudah di pasti ia akan menghajarnya habis-habisan.
Siska kembali tersenyum.
"Ternyata kau lebih cerdik dari yang aku kira, kau berani menipuku! Kau tau honey, aku bisa melakukan hal lebih bahkan menghancurkan mu." Siska berhenti di depan Adrian. Lantas menatap Adrian tajam
"Jika aku tak bisa mendapatkan mu, berarti wanita itu juga tidak! Kau tahu, aku mencintaimu cukup lama, tapi…kau lebih memilih dia. Apa kurangnya aku di bandingkan dia! Hah? Teriak Siska di depan wajah Adrian.
"Kau bertanya tentang kekuranganmu? Kekuranganmu dan istriku banyak. Kau dan dia bagai langit dan bumi! Apa kau pikir aku tidak mengetahui sepak terjang di dunia malam? Kau salah, aku sangat mengetahui itu. Itu alasan mengapa saat papa menjodohkanku dengan mu aku menolak mati-matian, itu karena aku tidak ingin menikah dengan wanita murahan seperti mu."
Siska terdiam mendengar ucapan Adrian. Siska terlihat mengepalkan tangannya. Lantas mengangkatnya dan ingin melayangkan tamparan ke wajah Adrian.
"Jangan sekali-kali kau berani menyentuh wajah ku!" Adrian menahan pergelangan tangan Siska saat wanita itu berniat menamparnya. kemudian ia menghempaskan tangan Siska.
"Keluar!" Teriak Adrian.
Tak lama ada dua security yang datang menghampiri Adrian.
"Ada apa, pak?" Tanya security.
"Tolong bawa wanita ini keluar dari sini. Dan Pastikan jika dia tidak bisa lagi menginjakkan kakinya di perusahaan ini."
"Baik, pak." Dua security itu menunduk hormat kemudian memegang tangan Siska.
"Kalian jangan berani memegang ku." Siska terlihat berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman security. Namun tenaganya tidak cukup kuat.
Saat akan melangkah ia menatap wajah Adrian." Ingat!
jika aku tidak bisa memiliki mu, maka wanita itu juga tidak!"
Setelah mengucapkan itu, Siska mulai melangkah di bantu dua oleh security yang membawanya keluar dari apartemennya.
Adrian hanya bisa memandangi punggung ketiga orang yang mulai masuk ke dalam lift.
Setelah Siska sudah meninggalkan ruangan. Ia lantas berjalan ke kursi kerjanya. Ia menjatuhkan tubuhnya di sana, kemudian memijat Pangkal batang hidungnya.
Ia benar-benar sangat lelah, moodnya seketika hilang. padahal, pagi ini ia akan mengadakan meeting dengan klien penting.
Adrian lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Erwin, tak lama Erwin masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Ada apa, bro?" Tanya Erwin.
"Win, tolong gantikan aku menghadiri meeting pagi in!"
"Kenapa bro? Apa ada masalah?"
Adrian terlihat menggeleng." Bukan masalah serius. Siska tadi datang ke sini."
"Mau apa lagi dia?" Tanya Erwin.
"Entahlah, tapi dia mengancam jika dia tak bisa mendapatkanku maka Anaya juga tidak." Adrian berucap sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Erwin terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya udah, gue balik dulu bro, mumet." Adrian bangkit dari kursinya." Jangan lupa kabari gue kalau ada apa-apa."
"Lo mau kemana?"
"Biasa bro, gue pengen balik."
"Lah yang ngerjain semua pekerjaan Lo siapa?"
"Lo tentang aja, gue akan ngerjain semuanya dari rumah." Adrian berjalan meninggalkan ruangannya.
Erwin yang masih berada di sana hanya bisa menatap punggung Adrian yang mulai menjauh. Sambil menggelengkan kepalanya.
***
"Lo mas, kok balik lagi? apa ada yang ketinggalan?"
Adrian mengangguk dan duduk di samping Anaya." Aku meninggalkan istri ku di rumah."
"Apa-apaan sih mas. Hobi banget bercanda."
"Siapa yang bercanda. Aku serius yang ketinggalan istri ku, makanya aku balik lagi "
Mendengar ucapan Adrian, Anaya memutar bola matanya jegah dan kembali menikmati kripik kentang yang ia makan.
"Makan apa sayang?" Tanya Adrian.
"Kripik kentang, mas."
"Mas, mau?
Adrian mengangguk.
Anaya lalu menyodorkan kripiknya. Tetapi bukannya mengambil Adrian malah menggeleng.
"Suapi." Adrian terlihat membuka mulutnya.
"Makan sendiri, mas."
"Ya udah mas ngak mau."
Anaya terlihat menggeleng melihat tingkah Adrian yang tiba-tiba manja.
Adrian tersenyum." Terima kasih, sayang." Adrian berucap setelah mendapatkan suapan dari Anaya.
Setelah lama duduk di sana. Anaya hanya sibuk menonton drama Korea kesukaannya. Sedangkan Adrian hanya duduk diam di sana memandangi Anaya yang terus tersenyum melihat Soong Joong ki.
__ADS_1
"Nay."
"Heem."
"Tampan mana, aku atau dia." Adrian menunjuk oppa Soong Joong Ki yang ada di layar Tvnya.
Anaya menoleh sekilas, kemudian kembali menatap televisi.
"Cepat jawab, siapa yang lebih Tampan."
"Ya pasti oppa lah, mas."Anaya menjawab dengan masih menatap TV sambil tersenyum tidak jelas.
"Siapa oppa?" Adrian mengerutkan alisnya. Memang ia tidak begitu tahu tentang drama Korea.
"Oppa Soong Joong Ki. Kan mas tadi nanya. Tampan mana, dia atau mas. Karena aku tidak mau berbohong, jadi aku menjawab jujur."
"Jadi menurutmu, mas mu ini tidak tampan. Ia?
Anaya tersenyum
"Kamu tampan tapi lebih tampan dia." Anaya kembali menatap tv dan kembali tersenyum." Oh oppa."
Mendengar ucapan sang istri. Wajah Adrian berubuh. Ia cemburu pada oppa Soong Joong Ki. Ia mengambil remote tv dan langsung mematikannya.
"Mas, kok dimatikan sih." Tanya Anaya.
"Kau jangan sekali-kali melihatnya lagi."
"Lah mas, kok gitu."
"Aku tidak ingin kalah saing dengan dia. Itu sebabnya kau tidak usah melihatnya."
"Mas, kau keterlaluan."
"Ketahuan gimana? Jelas-jelas kau mengatakan jika dia lebih Tampan dari suami mu ini."
"Oh, jdi mas cemburu?" Tanya Anaya. Ia tertawa cekikikan melihat Adrian yang cemburu pada oppa Korea yang ada di dalam TV.
"Tidak, mas tidak cemburu."
"Hayo ngaku." Anaya menunjukkan wajah Adrian dan mendekat pada Adrian.
Namun tanpa sengaja ia terjatuh dan menindih tubuh Adrian. Wajah mereka seketika saling mengunci. Adrian yang menyadari itu lalu menekan tengkuk Anaya hingga mereka berciuman. Adrian ******* bibir mereh Anaya yang begitu menggoda.
lama berciu*an. Adrian melepaskan bibirnya. Ia lalu menatap wajah Anaya. Mengusap bibir Anaya.
"Kau sangat manis." Adrian berucap. Kemudian memutar tubuh Anaya dengan satu kali hentakan. Sehingga saat ini Anaya yang berada di bawa.
Mereka bertatapan. Menyalurkan cinta melalui tatapan mata." Aku mencintaimu." Adrian mengecup pucuk kepala Anaya.
Anaya tersenyum." Aku juga mencintaimu mas." Anaya terlihat malu-malu saat mengucapkan itu.
Membuat Adrian tersenyum geli.
Dengan tatapan mata, Adrian mulai melepaskan kancing baju Anaya, tangannya mulai bergerak kesana kesini. Mengabsen semua benda kesukaan.
Deru nafas keduanya saling bersahutan. Menyalurkan kenikmatan satu sama lain. Tak ada jarak yang membentang di antara mereka. keringat yang menyatu dan tubuh yang saling menempel, menjadi saksi betapa panasnya pertempuran mereka siang ini.
Setelah menyelesaikan pergumulan panasnya. Adrian mencium kening anaya. merebahkan tubuhnya di samping Anaya. Kemudian berusaha menormalkan nafasnya yang masih tersengal.
__ADS_1