
Cakra menggebrak meja yang ada di depannya. Dia langsung melemparkan kertas yang ada di atas mejanya tepat di hadapan Alex.
"Kenapa semua ini bisa jadi seperti ini? Hhaa! Ucap Cakra dengan emosi. Wajahnya terlihat merah padam. emosinya menguap hingga ke ubun-ubun.
Alex hanya terdiam sambil menunduk. tak berani membalas ucapan atasannya. Ia juga heran kenapa bisa dana perusahaan bisa mengalir begitu saja. Alex juga sudah memeriksa kepala divisi dan staf keuangan, dan benar saja tidak ada tanda-tanda korupsi dari kepala divisi maupun stafnya.
"Jawab!" Teriak Cakra menatap tajam ke arah asistennya.
"Maaf, Tuan. Saya sudah memeriksa kepala divisi dan juga para stafnya, tetapi tidak ada tanda-tanda aliran dana masuk ke dalam rekening mereka." Balas Alex, wajahnya masih menunduk tidak berani menatap mata atasannya.
"Lalu, siap yang berani berbuat curang seperti ini?hah?" Bentak Cakra.
Alex masih diam
"Cepat urus semuanya, aku tidak mau tahu. Secepatnya bawa orang itu ke hadapanku"Cakra berucap. Ia memijat pelipisnya, dan berbalik duduk ke kursi putarnya.
Tak lama terdengar ponsel Cakra berdering. Ia mengambil ponsel yang ada di mejanya.
" Iya, ada apa? Cakra mengangkat panggilan dari ponselnya.
"Maaf tuan. Apartemen yang baru saja anda bangun ambruk dan ada beberapa pekerja yang dilarikan ke rumah sakit," ucap orang yang ada di seberang sana.
"Kenapa bisa seperti itu? Bagaimana cara kerja kalian? Hah!" Bentak Cakra. Saat ini wajahnya terlihat merah padam. Belum juga satu masalah selesai timbul masalah baru.
"Kami juga tidak tahu, tuan. Tiba-tiba saja bangunannya ambruk." Balas orang itu.
"Aku akan segera kesana." Pungkasnya. Dia lalu mematikan sambungan teleponnya.
Cakra mengeram, dia memukul meja kerja yang ada di hadapannya.
"Kenapa bisa seperti ini?" Cakra menghempaskan tubuhnya ke kursi putarnya kemudian bersandar. Kedua Tangannya terangkat mengusap wajahnya.
Dari luar terdengar seseorang mengetuk.
"Masuk."
Sinta masuk kedalam ruangan atasannya. Sesampainya di depan meja atasnya. Mata Sinta disuguhkan dengan berkas-berkas yang berserakan di lantai.
"Ada apa kau kemari?" Tanya Cakra the point. Pasalnya ia tidak mau banyak berbasa-basi. Pikirannya saat ini sedang kalut. Cakra tidak tahu harus bagaimana caranya ia menjelaskan semua ini ke pak Satrio.
"Anu, tuan….." jawab Sinta gugup.
"Apa?" Tanya Cakra.
"Kita… kalah tender." Jawab Sinta gugup.
__ADS_1
"Apa! Kenapa bisa seperti itu?"lagi-lagi Cakra menggeprak meja di depannya.
"Saya tidak tahu, tuan!" Jawab Sinta. Ia terlihat masih sangat gugup. Sepanjang karirnya di SS, Crop. Ini kali pertama atasannya marah seperti itu.
Cakra berdiri dari kursi, ia mendongak ke atas sambil mengusap wajahnya dan berjalan memutar di tempat yang sama.
"Akkhhh aku harus bagaimana? Keuangan saat ini sedang kacau." Gumamnya.
Tak lama, seseorang masuk dengan wajah merah padam. Ia berjalan ke arah meja Cakra.
Cakra yang saat itu berdiri di dekat meja kerjanya melirik Sinta agar keluar dari ruangannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?"tanya pak Satrio.
"Cakra juga nggak tahu, yah. Kenapa bisa seperti ini. masalah datang secara beruntung di hari yang sama." Ucap Cakra dan kembali mengusap wajahnya.
"Panggilkan Alex sekarang." Ujar pak Satrio.
Cakra mengangguk.
Ia kemudian menghubungi Alex.
Tak lama Alex masuk keruangan kerja atasannya. Di sofa sudah ada pak Satrio dan Cakra yang menunggunya disana.
"Lex," panggil pak Satrio.
"Apakah ada orang yang kau curigai berada di balik semua masalah di kantor ini?' tanya pak Satrio menelisik wajah Alex yang saat ini agak menunduk.
"Maaf, tuan. Jika sebelumnya saya salah maafkan saya. saya tahu beliau keponakan anda. Tapi menurut kecurigaan saya sepupu tuan Cakra sendiri yang bernama Chandra ikut andil dalam masalah ini. Beberapa waktu yang lalu saya sempat berpapasan dengannya saat ia baru saja keluar dari divisi keuangan." Jawab Alex. Ia tampak terlihat gugup saat mengucapkan kata itu.
Cakra terlihat mengepalkan tangannya." Periksa semua CCTV yang ada di seluruh ruangan di kantor ini dan jangan sampai ada yang tahu kalau kita sedang menyelidiki semua ini. Dan satu lagi, suruh orang mu untuk memata-matai Candra, satu kali dua puluh empat jam, jangan sampai lengah sedetikpun."
Alex mengangguk." Baik, tuan."
Mereka bertiga lalu mulai merencanakan penyelidikan mereka.
Cakra terlihat mengepalkan tangannya, ia bersumpah akan mengusut tuntas semua masalah ini. Kalau memang benar Chandra adalah dalang dari semua masalah ini. Ia akan segera menjebloskan Candra ke dalam penjara.
***
Sore ini Cakra datang ke lokasi pembangunan apartemen miliknya. Ia akan menemui kontraktor yang bertanggung jawab atas pembangunan apartemennya.
Terlihat Cakra keluar dari mobilnya dengan menggunakan helm berwarna putih.
Para pekerja di sana satu persatu mulai menghampiri Cakra dan langsung menyapanya.
__ADS_1
"Selamat siang, tuan," sapa pekerjaan disana.
"Siang," jawab Cakra tersenyum.
Seseorang datang menghampiri Cakra dengan memakai helm berwarna biru.
"Selamat siang, tuan." Sapa pak Anton yang tak lain adalah kontraktor Yang bertanggung jawab atas pembangunan gedung ini.
"Siang, pak," jawab Cakra. Wajahnya tampak datar tak ada senyum sedikitpun.
"Sebenarnya apa yang terjadi pak? Sehingga bangunan ini bisa roboh seperti ini? bukankah bapak sudah mempresentasikan semuanya pada saya, dan Anda menjamin jika bangunan yang akan Anda kerjakan di jamin Kokoh. Dan sekarang belum juga selesai, semuanya sudah rata dengan tanah." Ucap Cakra. Netranya menatap lurus kedepan bangunan yang saat ini sudah ambruk.
"Maafkan saya, tuan! Saya sudah menginstruksikan kepada semua pekerja. Mungkin ini salah satu keteledoran saya." Jawab pak Anton memelas.
Cakra lalu berjalan ke arah puing-puing bangunan di depannya. Dia berjongkok dan mengambil sisa butir-butir pasir dengan menggunakan kedua jarinya.
"Sepertinya ada yang Aneh," lirih Cakra saat tangannya memegang butiran pasir itu. Cakra lalu merogoh sapu tangan yang ada di saku celana yang saat ini ia kenakan. Ia mengambil segenggam butiran pasir. Ia membungkus butiran pasir itu dengan sapu tangan yang ada di tangannya. Ia berniat menyelidiki semua ini. Pasalnya Cakra merasa dari semua masalah yang terjadi hari ini ia merasa banyak kejanggalan yang terjadi.
***
Di sebuah apartemen mewah, sepasang kekasih sedang merayakan kemenangannya dengan meminum-minuman beralkohol . Sesekali ia menabrakan gelas piala yang Mereka pegang lalu meminumnya.
"Kau memang hebat, honay,"sesekali gadis itu memuji kecerdikan kekasihnya.
"Jelas donk. Siapa dulu," ucapnya dengan memuji dirinya sendiri. Pria itu kembali meneguk wine yang ada di tangannya.
"Honey, bagaimana jika mereka tahu, jika kita adalah dalang dari semua masalah yang mereka alami?"ucap gadis itu. Sesekali ia bergidik ngeri jika ia membayangkan harus terperangkap di jeruji besi.
"Kau jangan khawatir sayang, aku lebih cerdik dari mereka. Tidak akan ada yang tahu jika aku dalang dari semua masalah ini. Aku sudah meretas semua bukti-buktinya. Mereka tidak akan bisa menemukan siapa dalang di balik semua masalah ini." Pria itu berucap dengan sangat percaya diri.
"Kau memang cerdik, honey." Gadis itu berjalan mendekat. Mengecup bibir pria itu. Pria itu membalas ciuman kekasihnya. Dengan satu gerakan. Gadis itu sudah berada di gendongan kekasihnya. Mereka berjalan ke arah ranjang, lalu melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
Di kediaman Satrio Sanjaya.
Noureen berjalan mondar mandir di balkon kamarnya. Sudah pukul dua dini hari. Namun, Cakra belum juga kembali ke kediamannya. Sesekali terlihat Noureen menghubungi suaminya melalui ponsel yang saat ini Noureen pegang. Namun, hasilnya masih tetap sama, suaminya masih sangat sulit untuk di hubungi.
"Mas, kamu di mana sih?" Noureen kembali melihat layar ponselnya. Tak ada pesan maupun panggilan dari suaminya. Rasa khawatir memenuhi seluruh rongga dadanya. Ia takut terjadi apa-apa pada suaminya. Tak biasanya Cakra seperti ini.
Hingga tepat pukul tiga dini hari, Noureen memutuskan untuk pergi ke kantor suami. Noureen ingin tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Ia tak boleh tinggal diam dirumah tanpa tahu kabar di mana suaminya berada saat ini.
"Sus, titip vano yah." Ucap Noureen pada babysitter vano.
"Baik, nyonya."
__ADS_1