
Apa yang kau lakukan di sini?" Tiba-tiba seseorang menghampiri dan bertanya padanya.
Amelia menoleh.
"Aku sedang melihat air yang bergerak dengan bebas tanpa terikat apapun." Ucap Amelia sambil bernafas berat.
Devano tersenyum.
"Seperti kita yang harus terikat oleh pernikahan." Kata Devano menoleh pada Amelia.
Amelia tidak menjawab ia hanya terdiam.
"Apa kau memiliki kekasih juga? Tanya Devano.
Amelia mengeleng. tidak, aku tidak memiliki kekasih, karena sejak dulu mommy melarangku berpacaran.
Devano mengangguk sambil melihat ke arah pantai.
"Kau sendiri, kenapa menerima pernikahan ini, sedangkan kau memiliki kekasih." Tanya Amelia.
"Aku tidak tahu jika mommy menjodohkan kita. Saat aku di Swiss, mommy memaksa ku kembali ke Indonesia untuk mengurus perusahaan daddy dan ternyata aku harus kembali kesini untuk menikah."Devano melipat Kedua tangannya sambil masih melihat ke arah pantai. "Bagaimana jika kita membuat perjanjian."
Amelia menoleh, perjanjian apa?
"Mari kita berpisah setelah setahun kita menikah." Kata Devano.
Amelia menoleh.
"Maksud kamu kita berpisah?"tanya Amelia.
"Heem, aku mencintai Cristin dan Jujur saja, aku sangat mencintainya." Kata Devano lagi.
"Baiklah jika itu mau mu."balas Amelia.
Dari jauh anaya dan Adrian sibuk memotret anak dan menantunya.
"Hasilnya bagus yah dad." Kata Anaya saat melihat hasil foto Adrian.
Setelah Devano dan amelia sudah lama duduk di sana, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel.
Mereka berjalan menyusuri bibir pantai, sesekali tersenyum, entah apa yang mereka bicarakan. Anaya dan Adrian Hanya bisa melihat tanpa bisa mendengar pembicaraan mereka, karena jarak putra dan menantunya terlalu jauh. Mereka sengaja mengambil jarak agar tak di ketahui.
Sesampainya mereka di kamar hotel, Amelia membersihkan tubuhnya sedangkan devano bermain dengan ponselnya.
Sesekali ia cekikikan.
Amelia yang melihat itu berusaha acuh, ia tidak mau mengambil pusing ataupun ikut campur dengan apa yang di lakukan Devano.
Tak lama ponselnya berdering. Noureen mengambil ponselnya dan ternyata Noureen yang melakukan panggilan video call.
"Mas, mommy." Amelia mengarahkan ponselnya pada Devano. Devano berdiri dari sofa dan Duduk di samping Amelia." Apa yang akan aku lakukan." Tanya Amelia.
__ADS_1
" Tentu saja mengikuti permainan mommy." Devano menarik Amelia ke dalam pelukannya kemudian menekan tombol hijau.
"Ada apa mom?' tanya Devano sambil mengusap rambut Amelia
"Tidak apa-apa, mommy hanya merindukan kalian."jawab Noureen.
"Oh," Amelia dan Vano Langsung tersenyum."
"Kau begitu mommy matikan."
"Bay, mom." Ucap Devano sambil tersenyum.
Setelah panggilannya terputus, buru-buru Amelia menjauhkan tubuhnya dari Devano.
"Kau tidak usah takut, aku tidak mungkin berselera dengan mu."ujar devano dan kembali melangkah menuju sofa.
***
"Apa kau lapar?" Tanya Devano.
Amelia menoleh." Sedikit."
"Apa kau juga lapar?" Tanya Amelia.
"Iya, bagaimana kalau kita keluar untuk mencari makan." Usul Devano.
"Boleh." Balas Amelia.
Devano berjalan di depan, di ikuti Amelia yang berjalan di belakangnya.
Setelah mereka sampai di lobby. Devano menyuruh Amelia menunggu di sana, sedangkan devano berjalan ke resepsionis. Setelah berbicara cukup lama Devano kembali.
"Kau tunggu di sini dulu, aku akan mengambil motor." Devano meninggalkan Amelia di depan lobby hotel.
Devano datang sambil mengendarai motor metik.
"Motor siapa mas?" Tanya Amelia.
"Aku menyewa motor ini pada perempuan yang duduk di bangku resepsi." Devano menunjuk dua perempuan yang saat ini duduk di depan meja resepsionis.
"Oh "
"Cepat naik." Devano menyuruh Amelia untuk naik ke motor.
Amelia mengangguk, dan langsung naik ke motor.
"Pegangan." Titah Devano.
"Tidak usah." Tolak Amelia.
"Nanti kau jatuh."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku bisa kok." Balas Amelia.
Devano menarik tangan Amelia lalu melingkarkan tangan amelia ke pinggangnya.
"Mas tidak apa-apa." Amelia berusaha menarik tangannya.
"Kau jangan menolak, aku tidak bisa memberi alasan pada mommy jika kau terjatuh. Pasti aku yang akan disalahkan karena tidak bisa menjagamu." Devano menarik kembali tanga Amelia.
Kali ini Amelia menurut tanpa menolak ucapan Devano.
Devano melajukan kendaraannya. Dia berkendara cukup pelan. Menikmati indahnya suasana jalanan di Bali. Tidak ada pembicaraan antara keduanya, Amelia terdiam, begitupun Devano.
Devano berhenti di sebuah restoran sederhana yang ada di pinggiran Bali.
"Tidak apa-apa kan kalau kita makan di sini?" Tanya Devano. Dia turun dari motornya.
"Tentu saja tidak. Aku bisa memakan makanan apapun." Jawab Amelia ikut turun dari motor.
Mereka berdua berjalan memasuki restoran, setelah mendapatkan kursi. Devano dan amelia duduk di sana. Tidak ada kemesraan antara Devano dan amelia, Devano juga tidak ada inisiatif menarik kursi untuk Amelia. Mereka melakukan hal itu sendiri-sendiri.
Devano lalu memanggil waiters. Dia memesan banyak makan untuk mereka berdua.
"Apa tidak kebanyakan?" Tanya Amelia.
"Tidak masalah. Aku bisa menghabiskan Semuanya." Ujar Devano.
Amelia hanya menanggapi dengan senyum.
Makanan yang di pesan akhirnya datang. Amelia menatap heran pada semua makan yang ada di sana.
"Mas, siapa yang akan menghabiskan ini semua?"tanya Amelia.
"Tentu saja kamu, siapa lagi." Balas Devano.
"Tidak, mas. Aku tidak bisa menghabiskannya."
Devano mengambil piring dan nasi, ia lalu mulai menyuap nasi ke dalam mutunya.
"Kenapa kau tidak memakan makananmu? Kau tidak menyukainya?" Tanya Devano
"Bukan begitu, mas. Makanannya begitu banyak." Ucap Amelia tersenyum.
"Tidak apa-apa, makanlah, jika kau tidak bisa menghabiskannya tidak apa-apa." Balas Devano.
Amelia tersenyum. Amelia lalu mengambil nasi dan beberapa lauk untuk di nikmati. Namun baru beberapa suap, terlihat seorang wanita cantik menghampiri mereka Berdua."
"Honay." Panggil wanita cantik itu.
Devano dan amelia menoleh.
Devano…...
__ADS_1