
Hari yang dinanti pun tiba. hari ini, hari dimana akan dilangsungkan operasi Caesar untuk kelahiran bayi pertama Cakra dan Noureen.
Para tim dokter sudah mempersiapkan semuanya secara matang.
di sisi lain, di kamar ruang perawatan Noureen. Noureen Duduk di atas brankar. Kakinya menggantung ke bawah. Sedangkan Cakra duduk di kursi tepat di depan Noureen. ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua paha sang istri.
Beda Halnya dengan Noureen ia tampak tersenyum, berusaha kuat di depan sang suami, agar suaminya tidak terlalu bersedih. Padahal dalam lubuk hatinya paling dalam, saat ini perasaannya sedang ketar-ketir.
"Mas, jangan seperti ini," ucap Noureen. Tangannya terulur untuk mengusap-usap rambut sang suami.
Namun, Cakra tidak bergeming. Ia terus saja menyembunyikan wajahnya.
Sesekali terdengar Isak tangis kecil keluar dari bibir pria tampan yang sudah menginjak usia kepala tiga itu.
Noureen kembali tersenyum.
"Mas, jangan seperti ini, mas! ada baiknya kita berdoa agar semuanya baik-baik saja," ucap Noureen. Kembali membelai kepala sang suami.
Entah kenapa, rasa haru seketika menyelimuti perasaannya. Ia sungguh tak tega melihat suaminya seperti ini.
"Mas," panggil Noureen lagi.
Namun, Cakra masih tidak merespon.
"Mas, dengarkan aku. Kita tidak akan pernah bisa melampaui kehendak yang maha pencipta. Jodoh, rezeki dan kematian. Sudah ditentukan atas kehendak sang pencipta, mas." Ucap Noureen masih membelai rambut suaminya.
Mendengar itu, seketika Cakra mengangkat kepalanya menatap manik hitam wanita yang sangat ia cintai.
"Tapi tidak dengan kehilangan kamu, aku rela kehilangan apapun tapi tidak kehilangan kamu. Aku rela menghadapi masalah apapun, asal bukan kehilangan kamu," ucap Cakra. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. Rasa sesak memenuhi seluruh rongga dadanya. Andai bisa di tukar, ia rela menggantikan Noureen berada di ruang operasi.
Mendengar ucapan sang suami. Tangis yang Noureen Tahan seketika tumpah. rasa takut, rasa sedih, bahagia. melebur jadi satu.
lama menangis Noureen mengusap air matanya lalu menangkup wajah sang suami.
"Aku janji, aku pasti akan baik-baik saja,"ucap Noureen.
Tangannya perlahan mengusap air mata suaminya. Memberi kecupan singkat di bibir Cakra.
"Aku pasti akan baik-baik saja, mas." lanjut Noureen.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, seketika Cakra memeluk tubuh Noureen." Kamu sudah janji pada ku, ingat kau harus menepatinya, akan aku tagih nanti," Cakra berbisik di telinga Noureen.
Mendengar ucapan sang suami. Noureen mengangguk." Aku janji, mas!" Balas Noureen. Kemudian memeluk leher sang suami begitu erat.
***
Pukul sepuluh pagi seorang suster mendorong meja instrumen masuk ke dalam kamar inap Noureen.
"Selamat pagi. Bu." Ucap perawat itu.
"Pagi, sus." Noureen membalas sapaan perawatan itu.
"Pagi ini kita akan mulai pemeriksaannya, bu. Saya akan mengambil darah ibu terlebih dahulu untuk memeriksa kadar hemoglobin ibu." Ucap suster itu mulai mengambil spuit syringe yang ada di dalam plastik. Setelah itu, ia memasangkan jarum." Maaf, yah, Bu." Suster itu mulai memberi alkohol pada permukaan kulit Noureen. setelah itu, ia kemudian menyuntikkan jarum lalu menyedot darah Noureen hingga memenuhi tabung spuit syringe itu.
Setelah pengambilan darah, suster itu kemudian memberikan sebuah tabung kosong pada Noureen.
"Silahkan di isi dengan urine, Bu. Untuk pemeriksaan tes urine.
Noureen mengambil tabung itu, lalu berjalan pelan memasuki kamar mandi.
Tak lama Noureen keluar dari dalam kamar mandi dengan membawa sebuah tabung yang sudah terisi.
"Terima Kasih, bu. Hasilnya akan keluar dua jam lagi." Ucap suster itu. Lalu Berpamitan meninggalkan ruang inap Noureen.
Tiga jam kemudian. setelah melakukan serangkaian tes dan tanda tangan persetujuan operasi Caesar. Kini seorang suster datang dengan membawa kursi roda masuk kedalam kamar Noureen.
"Apakah, ibu sudah siap?" Tanya suster itu setelah menghampiri Noureen di dalam kamar.
"Tunggu sebentar, ya suster." Cakra meminta izin.
Suster itu mengangguk.
Cakra kemudian berjalan ke arah brankar Noureen.
Ia memeluk sang istri, menenggelamkan kepala Noureen di dadanya.
"Kau sudah janji akan baik-baik saja, jadi tepati janjimu," Cakra berbisik di telinga Noureen. Ada dua bulir bening kembali terjatuh dari kelopak matanya, dan dengan cepat ia segera menghapusnya.
Noureen mengangguk, tanpa mengucapkan kata apa pun. Sejujurnya saat ini, ia benar-benar sangat takut. Rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Ingin rasanya ia menumpahkan seluruh tangisannya. Tapi… lagi-lagi ia melawan egonya. Ia tak ingin membuat sang suami kembali bersedih.
__ADS_1
Sebelum pelukan mereka terurai. Cakra menghadiahkan Noureen sebuah kecupan di dahi.
"Ini bukan kecupan terakhir, masih ada banyak kecupan yang aku siapkan untuk mu. Jadi ingat! jangan sekali kali pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Ingat! aku menunggu mu." Lanjut Cakra, lalu mengurai pelukannya. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata Noureen yang masih menggenang di pelupuk matanya. lalu berpindah turun ke perut Noureen. Membisikkan doa-doa untuk sang cabang bayi yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini. " Nak, papa titip mommy, beri mommy kekuatan agar bisa bertahan bersama kita." Lanjut Cakra kembali mencium perut Noureen.
Perawatan yang Berdiri tidak jauh dari brankar, ikut meneteskan air mata saat mendengar interaksi keduanya.
Setelah interaksi keduanya berakhir. Cakra berbalik." Sus silahkan, kalau ingin membawa istri saya." Ucap Cakra mempersilahkan sister itu untuk membawa Noureen ke ruang operasi.
Suster itu seketika mengangguk. mulai berjalan maju, sambil mendorong kursi roda yang akan di duduki Noureen Menuju ke ruang operasi.
Cakra dengan sigap membantu Noureen turun dari brankar dan mendudukkannya di kursi tersebut.
Bu citra yang ada di pintu, berjalan mendekat. mencium kening putrinya." doa ibu ada untuk mu, nak,"Bu citra meneteskan air mata.
***
sesampainya Noureen di ruang transfer. seorang suster membantu Noureen melepaskan pakaiannya. lalu menggantinya dengan pakaian operasi, serta rambutnya di tutup mengunakan penutup kepala yaitu Cap. setelah itu perawat menyuruhnya melepas semua perhiasannya.
"sus, apakah cincin kawin saya harus ikut dilepas?" tanya Noureen.
"iya, Bu."
seketika Noureen menghembuskan nafas berat lalu mulai melepas cincin pernikahannya.
sebenarnya cukup berat melepas cincin pernikahannya. tapi demi kepentingan persalinan akhirnya Noureen melepasnya.
setelah semua pakaian Noureen berganti dan tidak memakai perhiasan apa pun. barulah suster mulai mencukur bagian bulu ***********.
"permisi, Bu." ucap suster itu mulai mengambil Gillet dan dengan perlahan ia mulai mencukur bagian ******** Noureen.
saat semua prosedur di ruang transfer selesai, kini Noureen di bawa menggunakan kursi roda menuju ke ruang tindakan ( ruang operasi).
DI RUANG OPERASI
Di ruang operasi terlihat semua Dokter sudah berkumpul.
Noureen kini di baringkan di atas brankar meja operasi.
Namun, sebelum operasi berlangsung. seorang Dokter memimpin doa terlebih dahulu.
__ADS_1
Dan selanjutnya.....????