
Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Baru saja ia mendapatkan informasi jika pak suhendi baru saja mengalami kecelakaan dan di larikan ke rumah sakit.
"Pelan-pelan, mas." Ucap Anaya. Ia mengusap lengan Adrian yang terlihat sangat khawatir.
Adrian hanya mengangguk, ia memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam dan kembali menyetir dengan tenang.
Setelah Adrian melajukan mobilnya cukup jauh, akhirnya Adrian sampai di rumah sakit. Adrian langsung turun dari mobilnya dan mengajak Anaya untuk masuk ke dalam rumah sakit.
"Bagaimana kondisi papa, Tante?" Tanya Adrian setelah mereka sampai di depan ruangan Operasi.
Bu Indri terlihat menggeleng." Tante belum tahu, papa masih di ruang operasi." balas Bu Indri sambil sesekali mengusap air matanya
Adrian terlihat menoleh pada pintu besi yang masih tertutup dengan lampu indikator yang masih menyala.
__ADS_1
Adrian terlihat menarik nafas dan mengembungkan mulutnya dan membuang nafasnya cukup kasar. Saat ini ia benar-benar saya khawatir. Kemarin pak Suhendi sempat datang ke kantor Adrian bersama dengan Siska. Adrian sempat bertengkar dengan papanya. Pasalnya walaupun pak suhendi melihat semua bukti rekaman Siska. Tetapi pak Suhendi tetap memaksa Adrian untuk menikah dengan Siska. Hal itu yang membuat Adrian mati-matian menolak dan membuatnya adu mulut dengan papanya.
"Mas tenangkan dirimu." Ucap Anaya saat melihat Adrian terus mondar-mandir.
"Bagaimana aku bisa tenang, Nay. Papa di dalam sana sedang berjuang untuk hidup." Balas Adrian. Saat ini, ia benar-benar sangat menyesal. Jika terjadi apa-apa dengan papanya, ia takut, Ia belum meminta maaf atas kejadian kemarin.
Melihat kekhawatiran Adrian, Anaya langsung mengajak adrian untuk duduk di kursi.
Adrian tidak menjawab, ia menunduk sambil menutup wajahnya.
Hampir 3 jam Adrian Duduk di depan ruangan operasi. Lampu indikator akhirnya mati.
Adrian langsung berdiri dan berlari menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan operasi.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi papa saya, dok?"tanya Adrian.
Dokter itu menggeleng." Maafkan saya, pak. Pasien tidak bisa diselamatkan. Pasien mengalami aneurisma di Otak akibat benturan yang cukup keras di bagian kepala yang membuat pembuluh darah di otak pecah." Ucap dokter itu ambil melepas topi okanya.
Mendengar ucapan Dokter Adrian langsung tumbang, ia terduduk di lantai. Ia Menangis meraung-raung, memang selama ini hubungannya dengan papanya memang tidak terlalu baik setelah perceraian orang tuanya. Namun walau hubungan mereka tidak begitu membaik, sesekali Adrian tetap dapat ke rumah papanya dan mendengarkan semua keputusan papanya.
Sedangkan Bu Indri di larikan ke UGD, tadi setelah Bu Indri mendengar jika suaminya meninggal. Ia langsung dilarikan ke ruang UGD.
Lama menangis. Anaya langsung menghampiri Adrian." Ayo mas, sudah. Aku tau kau sangat sedih. Lebih baik mas mendoakan yang terbaik untuk papa." Anaya membantu Adrian berdiri dan membantunya melihat jenazah pak Suhendi.
Sesampainya mereka di dalam ruangan jenazah. Adrian langsung menghampiri brankar pak Suhendi. Ia berdiri di samping brankar dan mulai membuka penutup wajah papanya.
Seketika tangis Adrian kembali pecah, saat melihat mayat pak Suhendi terbujur kaku dengan luka lebam di beberapa bagian tubuhnya, padahal kemarin ia masih bertemu dengan pak Suhendi di ruangan kerjanya dan saat ini pak Suhendi sudah dinyatakan meninggal.
__ADS_1