
Hari pertama menjadi sekretaris
Suasana restoran Sangat Hening, tak ada pembicaraan antara kedua insan yang sedang duduk di sebuah ruangan privasi yang dipesan Adrian untuk melakukan meeting dengan kliennya. Adrian sengaja memesan ruangan privasi agar kliennya kali ini merasa nyaman.
Setelah selesai mempersiapkan beberapa berkas, sesekali Anaya menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Hari ini adalah hari pertamanya menjadi sekretaris, tentu saja ia merasa gugup, pasalnya menjadi seorang sekretaris bukanlah keahliannya. Adrian tampak mengulum senyum saat ekor matanya tidak sengaja menangkap gelagat Anaya yang tampak cemas.
"Kau kenapa?" tanya Adrian, ia bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari benda pipih yang sedang ia pegang
Anaya mengeleng."saya tidak apa, pak" jawab anaya acuh. Ia tetap fokus pada beberapa berkasnya. Ia menunduk, ia tidak ingin Adrian melihat wajahnya yang terlihat sangat cemas.
"Ingat! kita akan bertemu dengan klien penting. Bersikap biasalah, semua akan baik-baik saja." Adrian berucap seolah saat ini ia sedang berusaha menenangkan Anaya.
Wajah gadis itu terlihat bersemu saat Adrian memberinya perhatian kecil. tapi bisa membuat Anaya malu. ia membuang wajahnya ke arah lain ia tidak ingin Adrian melihat wajahnya saat ini.
"Ada apa dengan mu," tanya Adrian saat melihat Anaya menatap ke arah lain.
Dengan cepat Anaya mengeleng." Saya tidak apa-apa, pak." Jawab Anaya.
Ya, saat ini Adrian dan Anaya berada di sebuah restoran Le Quartier, Senopati, Kebayoran baru. Restoran ala Eropa yang menyajikan makanan khas Perancis. Adrian sengaja memilih Le Quartier sebagai tempat meetingnya kali ini untuk menyambut klien pentingnya.
Selang beberapa lama menunggu akhirnya terdengar Suara Ketukan pintu dari luar. Seorang pelayan membuka pintu.
" Silahkan masuk tuan," ucap seorang pelayan.
Adrian dan Anaya langsung berdiri dari kursinya untuk menyambut kedatangan klien pentingnya hari ini.
" Selamat siang tuan Rey," ucap Adrian tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada kliennya.
" Selamat siang tuan Adrian," jawab Rey menyambut uluran tangan Adrian.
" Perkenalkan tuan, ini sekretaris saya." Ucap Adrian tersenyum sambil memperkenalkan Anaya.
Seketika Anaya mengulurkan tangannya.
" Anaya,"Anaya memperkenalkan diri sambil tersenyum Manis.
" Reyhan panggil saja Rey." Balas Rey tersenyum pada Anaya. Pria tampan dengan senyum yang menawan.
Setelah perkenalan, Adrian Pun mempersilahkan kliennya Duduk lalu melanjutkan meetingnya.
__ADS_1
Dua jam berlalu akhirnya meeting pun diakhiri dengan penandatanganan kontrak kerjasama antara kedua perusahaan.
" Karena urusan kita sudah selesai, saya izin pamit undur diri," ucap Reyhan berdiri sesaat setelah menaruh bolpoinnya di saku bajunya.
Adrian berdiri lalu mengulurkan tangannya.
Senang bekerjasama dengan Anda tuan Rey," ucap Adrian saat mereka bersalaman.
Setelah Rey pamit, kini tersisa Anaya yang sibuk membereskan berkas-berkas dan Adrian yang masih sibuk dengan benda pipihnya. di ruangan itu masih tak ada pembicaraan Antara keduanya hingga Adrian menatap jam yang ada di pergelangan tangannya lalu mulai membuka suara.
" Sekarang sudah pukul lima sore, jam kantor sudah selesai, kau boleh pulang. Oh iya, apa kau mau ikut atau mau pulang dengan menggunakan taksi?" tukas Adrian.
Anaya terdiam, ia masih menimbang-nimbang, ikut dengan bosnya atau pulang sendiri dengan menggunakan taksi. Namun, jika ia pulang dengan taksi, pasti saat ini jalanan akan sangat macet dan butuh beberapa jam hingga ia sampai di kantor.
"Aku ikut sampai kantor. Motorku masih ada di sana." Jawab Anaya.
" sekarang kau ikut dengan ku pulang, motormu biar di kantor dulu. Besok pagi aku akan menyuruh orang untuk menjemput mu. bahaya wanita berkendara malam-malam." Ucap Adrian berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan meninggalkan anaya sendiri dengan gaya sok cool nya.
" cihhh, bahaya apanya."Anaya memutar bola matanya jegah dan keluar dari ruangan privasi.
Setelah keluar dari restoran. Adrian lalu berjalan ke arah parkiran di ikuti Anaya. Mereka lalu.masuk ke dalam mobil. Setelah memasang sabuk pengamannya. Adrian menoleh. Setelah ini kau ingin kemana?
Anaya mengeleng." Sepertinya kita langsung pulang saja."
Anaya mengangguk. Adrian keluar dari mobilnya dan langsung berjalan mendekati kerumunan orang yang ada di sana.
"Ada apa. Pak?" Tanya Adrian.
"Truk menyerobot beberapa mobil dan puluh motor, tuan. Sepertinya rem dari truknya blong." Jawab pengendara yang saat ini berada di antara kerumunan orang.
Adrian mengangguk tanpa berniat ikut menyerobot orang-orang yang ada di sana." Terima kasih, pak." Adrian meninggalkan tempat itu dan langsung berjalan dan masunke dalam mobilnya.
"Ada apa, pak?" Tanya Anaya.
"Sepertinya tabrakan berantai." Jawab Adrian ia memutar mundur mobilnya mencari jalan lain.
"Apa ada korban, pak?"tanya Anaya lagi.
"Aku tidak tahu, tadi aku hanya melihat dan tidak sempat menerobos masuk ke dalam kerumunan orang." Pungkas Adrian.
Anaya mengangguk. Pertanda memahami ucapan bos-nya.
__ADS_1
"Sial." Ujar Adrian saat ia mencari jalan dan ternyata, jalan yang akan ia lalui juga mengalami kemacetan.
Anaya melihat keluar. Ternyata saat ini mereka berada di sebuah lapangan yang menyediakan banyak pedagang gerobak yang mangkil di sana. Setelah melihat itu, seketika terpikir ide untuk mengajak Adrian untuk keluar dari mobilnya sembari menunggu kemaceta segera terurai." Pak, bagaimana jika kita keluar sebentar duduk di sana. Dari pada kita harus menunggu di sini dan tidak tahu kapan macetnya terusai." Ujar Anaya.
Adrian tampak berpikir lalu menimbang ajarkan Anaya.
"Baiklah." Mereka keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan ke rah garden bench yang ada di sana.
Anaya tampak mengulas senyum. Setelah sekian lama, ini kali pertama ia datang ke sini lagi. Karena Hampir beberapa bulan ia sibuk untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmunya.
Setelah sampai di sebuah taman, Anaya menarik tangan adrian untuk duduk. Adrian mendudukkan tubuhnya.
"Bapak tunggu disini. Saya akan kesana membeli makanan ringan untuk kita." Ujar Anaya dan langsung pergi setelah mendapatkan anggukan dari Adrian.
Tiga puluh menit berlalu, Anaya datang dengan memegang beberapa bungkus cemilan. Dari cilok, cilur, seblak, dan sosis bakar.
"Apa ini?" Pria tampan itu bertanya dengan alis mengerut.
Anaya kemudian mulai menyebutkan semua nama makanan dan mulai menyuapi Adrian.
" Itu apa?"
"Cilok bapak mau?" Anaya menyodorkan setusuk cilok di depan Adrian. Tetapi pria itu dengan ceoat mengeleng." Jauhkan makan itu, aku jijik memakannya." Bentak Adrian.
Anaya memanyunkan bibirnya dan mengalihkan tatapannya ke arah lain, ia sedang fokus menikmati ciliknya.
Mata Adrian tak berhenti menatap pergerakan tusukan Anaya den mengunyah makanan itu.
Adrian menelan salivanya saat melihat Anaya kembali mulai menyiapkan cilok masuk ke dalam mulutnya. Tanpa di duga saat suapan terakhir Adrian langsung menarik tusuk sate itu dan langsung memakannya. Ia memejamkan matanya sambil menikmati nikmatnya cilok yang Anaya Beli.
Anaya menyungingkan senyumnya." Tadi katanya jijik, lah sekarang. Dimakan juga kan." Pungkas Anaya.
"Aku hanya mencobanya." Ujar Adrian. Namun Anaya kembali menyunggingkan senyumnya saat melihat Adrian menyicipi satu persatu makanan yang tadi di beli Anaya.
***
Langit sudah menghitam, matahari telah kembali ke tempat peraduannya. waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat mobil Lamborghini Aventador merah berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Jakarta. Sore tadi jalanan sangat macet membuat Adrian dan anaya terjebak diantara mobil-mobil yang mengantri menunggu giliran terbebas dari macetnya kendaraan akibat adanya kecelakaan lakalantas.
" Terima kasih." Ucap Anaya singkat.
" Ya." Adrian mengangguk.
__ADS_1
Belum juga Anaya membuka handle pintu, seorang wanita paruh baya sudah berdiri di samping pintu mobil.
Anaya >>>