
Pukul sembilan malam Adrian keluar dari kamarnya dan berjalan masuk ke dalam kamar Anaya. Setelah sampai, Adrian langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Ranjang terlihat masih kosong, sepertinya Anaya masih berada di dalam kamar mandi.
Setelah Anaya keluar, ia langsung membelalakkan matanya saat melihat Adrian sudah ada di ranjangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Anaya.
"Tidur bareng istri." Jawab Adrian santai. Ia menarik selimut dan menutup tubuhnya.
"Keluar ngak." Anaya menarik tangan Adrian. Menyuruh Adrian untuk luar dari kamar. Namun bukannya bangkit Adrian malah menarik tangan Anaya hingga Anaya terjatuh tepat di atas tubuhnya.
Adrian dengan cepat memeluk tubuh Anaya dan menggulingkannya. Memerangkap tubuh Anaya di bawah Kungkungannya.
"Adrian, aku sangat lelah, aku ingin istirahat. Bisakah Besok saja kita melakukannya." Ujar Anaya polos. Ia membuang wajahnya ke samping. Ia malu jika Adrian melihat wajahnya yang saat ini sedang bersemu karena menahan malu.
Mendengar ucapan Anaya, seketika Adrian terkekeh." Memangnya kita akan melakukan apa? Aku hanya ingin tidur di sini." Lanjut Adrian. Kemudian merebahkan tubuhnya kembali.
Anaya mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Adrian. Ia langsung bangkit, menghentakkan kakinya dan berjalan menuju lemari, mengambil pakaiannya dan Menggantinya. Setelah itu Anaya kembali ke ranjang. Ia mengambil guling dan menaruhnya di tengah.
"Kau tidak boleh melewati guling ini." Ucap Anaya dan kembali mengusung guling. Mengunakan guling itu sebagai pembatas antara dirinya dan Adrian.
Adrian yang melihat apa yang di lakukan Anaya tidak merespon. Ia dengan santai melipat tangannya kebelakang menjadikannya sebagai tumpuan kepala.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini pada suami mu" Tiba-tiba Adrian melontarkan pertanyaan yang membuat Anaya menghentikan aktivitasnya. Wajah Adrian terlihat datar dan serius. Ia juga tak melihat ke arah Anaya. Ia berbicara sambil melihat langit-langit kamar.
Seketika Anaya menyadari kesalahannya. ia menunduk, tidak berani menatap pria di depannya. Ia pun tidak menjawab pertanyaan Adrian. Ia langsung membaringkan tubuhnya dan membelakangi tubuh Adrian. Ya, Anaya saat ini sadar jika Adrian sudah membayarnya, sudah menolong pamannya agar pamannya tidak di masukkan ke dalam penjara. Anaya juga menyadari, Tubuhnya adalah milik Adrian, Cinta, kebahagiaannya, lukanya bahkan semua yang ada pada dirinya adalah milik Adrian. bahkan hubungan yang sudah terjalin dan terikat atas dasar kasih sayang dan suka sama suka sudah di rengut paksa darinya, lalu untuk apa ia menjaga jarak dengan Adrian . Namun ada satu hal yang ia jaga. Perasaannya, ia memberi batasan hatinya untuk tidak membiarkan Adrian menyetuh hatinya terlalu dalam. Ia takut mencintai dan akhirnya akan berakhir meninggalkan luka.
Adrian yang ada di samping Anaya menoleh, Melihat Anaya yang tidur sambil membelakanginya. Tubuh wanita itu terlihat bergetar, walaupun ia tidak mendengar tangisan Anaya tapi ia tahu jika wanita itu sedang menagis.
Saat ini, Anaya menyadari jika semua ini sudah di gariskan tuhan, ia tidak mampu menolak semua ketetapan yang sudah di Takdirkan untuknya. Tangisnya luruh, ia mengigit bibir bawahnya agar tangisnya tak terdengar, hingga sebuah tangan kekar meraih tubuhnya. Menenggelamkan wajah gadis itu ke dalam pelukannya.
Adrian menyadari jika perkataannya barusan membuat Anaya tersinggung. Sungguh Adrian baru menyadari jika gadis yang sedang ia peluk saat ini adalah gadis yang sangat perasa.
Setelah lama memeluk tubuh Anaya. Nafas Anaya terdenger sudah mulai beraturan. Adrian kemudian melepas pelukannya dan memandang wajah Anaya. Ia menyelipkan rambut tipis Anaya, menyelipkannya ke belakang telinga.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nay." Ujar Adrian mengecup pucuk kepala Anaya dan langsung ikut memejamkan matanya sambil memeluk kembali tubuh Anaya.
***
"Mas, bagus yang mana?" Tanya Noureen. Saat ini mereka sedang duduk di kasur sambil melihat desain gaun dan toksedo yang akan mereka pakai di acara ulang tahun pernikahan mereka yang ke tujuh.
"Terserah kau saja, apapun yang kau pilih pasti cocok dengan ku." Balas Cakra sambil melayangkan kecupan di dahi sang istri.
Noureen tersenyum mendengar Jawaban Cakra. Ya selama tujuh tahun ini, Cakra tidak pernah lagi memilih pakaian yang akan ia kenakan, soal pakaian ia sudah menyerahkan semuanya pada sang istri. Menurutnya apapun yang di pilih Noureen akan terlihat cocok untuknya.
Saat Noureen sibuk melihat desain gaun dan toksedo. Tiba-tiba Devano membuka pintu kemudian masuk ke dalam kamar." Mommynya." Panggil Devano.
Noureen dan Cakra langsung menoleh ke arah putra mereka." Ada apa, sayang." Tanya Noureen.
Devano terlihat cemberut." Bolehkah mommy menemani ku tidur malam ini." Ujarnya pada sang mommy.
Namun dengan cepat Cakra menyahut." Daddy yang akan menemanimu, anak laki-laki harus jadi pemberani." Potong Cakra. Ya , Cakra lebih memilih menemani Devano tidur di kamarnya di banding Noureen yang menemaninya. Kerena jika Noureen yang menemani putranya. Putranya tak akan melepaskan Noureen hingga pagi datang.
Noureen mengeleng melihat Cakra, suaminya ini selalu saja seperti ini jika Devano meminta untuk di temani.
Noureen tersenyum melihat tingkah putranya, Tiba-tiba ada ide yang telintas di kepalanya.
"Bagaimana jika Devano tidur di sini bersama mommy dan daddy." Ujar Noureen memberi ide.
Mendengar itu Cakra memejamkan mata." Jika Devano tidur di kamar ini, itu berarti ia tidak bisa berpelukan dengan Noureen dan menggempur Noureen malam ini." Batin Cakra.
"Apa boleh mom? Tanya Devano. Ia menatap wajah mommynya. meminta persetujuan.
Lagi-lagi Noureen mengagguk." Boleh donk sayang,"balas Noureen. Ia kemudian menoleh pada cakra." bolehkan dad?" Tanya Noureen pada suaminya. Seketika Cakra tersenyum dan langsung mengangguk. mau tidak mau ia harus menyetujui ide Noureen dari pada Noureen mendiaminya.
"Hore...hore…." Sorak Devano. Bocak itu begitu senang saat di izinkan tidur bersama daddy dan mommy.
Selama ini, Cakra memang agak keras pada Devano, ia tidak ingin putranya menjadi pria yang gampang cengeng.
__ADS_1
***
Pagi menjelang, kicauan burung saling bersahutan terdengar dari luar jendela. Anaya yang saat ini sudah sibuk di dapur menoleh saat sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya.
"Apa yang kau masak." Bisik Adrian di telinga Anaya sambil melayangkan kecupan di pipi Anaya dan kembali mengeratkan pelukannya.
"Masak cumi saos Padang." Jawab Anaya singkat.
"Sepertinya enak." Ujar Adrian.
Anaya hanya tersenyum menanggapi." Apa kau tidak kekantor lagi?" Tanya Anaya.
"Tidak, aku masih ingin menemanimu di rumah." Bisik Adrian lagi.
"Kau jangan seperti itu, bagaimana jika pak Suhendi tahu dan aku yang di salahkan." Pungkas Anaya. Ia cukup sadar diri dengan posisinya di sisi Adrian. Jika ada sesuatu yang terjadi, pasti ia yang akan paling di salahkan.
Mendengar ucapan Anaya. Seketika dada adrian berdesir, ia mengingat saat terakhir kali Anaya bertemu dengan papanya. Pak Suhendi menatap tidak suka pada Anaya.
Adrian tersenyum. menetralkan perasaannya dan semakin memeluk tubuh anaya.
"Adrian lepas, aku kesusahan menyajikan makanannya." Ujar Anaya.
"Baiklah, aku akan melepaskan mu, tapi panggil aku dengan panggilan lain jangan Adrian." Pinta Adrian.
"Jangan mengada-ada. Duduklah. Jika kau tidak mau mendengarkan ku, aku akan memukul mu." Anaya mengangkat spatulanya.
Adrian terkikik." Ampun nyonya." ucapnya dan langsung melepaskan pelukannya, kemudian duduk di meja makan sambil menunggu Anaya menyiapkan masakannya.
.
.
Terima kasih
__ADS_1
.