
Adrian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Melipat kedua tangannya di dada, ia menatap Anaya. Sedangkan Anaya hanya dapat menunduk.
Tak lama Adrian mulai berbicara.
"Mulai hari, kau kerjakan semua pekerjaan di apartemen ini dari mencuci, mengepel dan masak. Bibi yang biasa bekerja di sini sudah aku pecat.
mendengar itu, sontak membuat Anaya mengangkat wajahnya, menatap ke arah Adrian.
"Tapi, bolehkan aku bekerja. Aku janji menyelesaikan semua pekerjaan di sini, setelah itu aku baru berangkat ?" Tanya Anaya ragu. Ia lalu Menatap Adrian berharap Adrian akan memberinya izin untuk bekerja.
"Boleh, tapi dengan satu syarat. Kau hanya bekerja sampai pukul 5. Dan kau sudah harus berada di apartemen ini lebih dulu dari aku," tegas Adrian.
"Tak masalah, aku akan mengusahakan pulang lebih awal dari mu," Anaya tersenyum. Sontak membuat Adrian terdiam. Ini kali pertama gadis itu tersenyum kembali setelah kejadian di Bogor beberapa waktu lalu.
Adrian kembali membaca korannya yang tersedia di atas meja. Tak lama bel berbunyi, Anaya lalu bangkit, berjalan ke arah pintu.
Setelah Anaya sampai di pintu Anaya lalu membuka pintu apartemennya, saat pintu terbuka, nampaklah wajah Erwin yang sudah tersenyum ke arahnya.
"Selamat siang, nay," sapa Erwin. Ia tersenyum pada Anaya.
"Selamat siang, pak."jawab Anaya. Anaya seolah malu menatap Erwin. Ia terdiam cukup lama hingga Erwin menyadarkannya.
"Boleh saya masuk?" Tanya Erwin.
Seketika Anaya tersadar."Boleh, pak. Silahkan," Anaya kemudian menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Erwin untuk masuk ke dalam apartemen.
Erwin kemudian berjalan masuk, mencari dimana keberadaan sahabat itu. Sesampainya ia di dalam ia lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di samping Adrian.
" Cieee yang pengantin baru, gimana rasanya, bro. Mantap Ngak?" Tanya Erwin, berbicara sambil menaik turunkan alisnya. Sebelumnya ia belum mengetahui masalah Anaya dan Adrian di Bogor waktu itu, Anaya maupun Adrian belum menceritakan apapun pada Erwin.
Adrian yang mendengar ocehan sahabat seketika bangkit.
"Lo mau jalan sekarang? atau gue tinggal." Adrian berucap. Lalu meninggalkan Erwin yang masih disana. Seutas senyum tipis terlihat di wajah Adrian. Namun Anaya yang masih berada di pintu masih tidak menyadari.
Erwin tersenyum kecut.
"Baru juga nyampe udah pergi lagi." Erwin menggelengkan kepalanya. lalu bangkit menyusul bosnya keluar dari apartemen.
***
Seminggu kemudian.
Anaya menatap jam di pergelangan tangannya, sudah pukul empat, sebentar lagi Adrian pasti sampai di apartemen.
Anaya lalu mempercepat pekerjaan.
Setelah ia Menyelesaikan semua pekerjaannya, ia lalu pamit pada atasan-nya . Anaya melangkah keluar dari kafe dan langsung berjalan sedikit berlari menuju ke halte.
Sesampainya di halte, Anaya lalu menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di sana.
Hampir tiga puluh menit Anaya menunggu, Namun belum juga ada tanda-tanda bis kota yang biasanya ia tumpangi lewat di halte padahal ia sudah menunggu cukup lama.
Lama menunggu, Akhirnya ia memutuskan untuk mencari ojek di sekitar sana.
Anaya berlari kecil, saat ini ia benar-benar was-was, ia takut jika Adrian lebih dulu sampai di apartemen.
Gadis itu kembali melirik ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya.
Seketika matanya membulat. " Mati aku," pasalnya sepuluh menit lagi jam sudah menunjukkan pukul lima, itu artinya Adrian sudah ada di apartemennya. Akhirnya ia memutuskan pulang dengan menggunakan taksi.
Tiga puluh menit kemudian, Anaya keluar dari dalam taksi yang ditumpanginya setelah memberikan beberapa lembar kepada driver taksinya.
Anaya lalu berlari. Memasuki lift menuju ke unit apartemen milik Adrian.
__ADS_1
Sesampainnya di sana, Anaya berhenti sejenak, mengatur nafasnya lalu menekan pin digital door lock apartemen Adrian.
Saat pintu terbuka, ia memasukkan kepalanya terlebih dahulu. Melihat situasi apartemen Adrian yang tampak sepi, gadis itu berjalan masuk.
Ia menghela nafas saat melihat situasi apartemen Tampak sepi.
"Syukurlah, sepertinya dia belum pulang." lirih Anaya mengusap dadanya ia menyunggingkan senyumnya.
Setelah itu Anaya lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen. Ia menutup pintu sangat Pelang, Namun, Saat pintu tertutup tiba-tiba Adrian sudah berdiri di depannya.
"Jam berapa sekarang?"tanya Adrian yang saat ini bersandar di samping pintu kamarnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
mendengar suara Adrian. sontak saja membuat Anaya kaget. ia lalu memutar tubuhnya ke arah Adrian.
"su....dah jam lima tiga puluh,"jawabnya gugup.
"itu artinya apa,"lanjut Adrian lagi.
"itu artinya aku telat lebih dari sejam," balas Anaya lagi.
"Kau tahu bukan perjanjian kita?"tanya Adrian.
Anaya mengangguk.
"apa?"
"Aku harus berhenti bekerja."
Adrian tersenyum.
"karna kau sudah tau, jadi mulai besok kau tidak boleh bekerja di kafe itu lagi.
"tapi…. jangan seenaknya begitu donk. kan aku baru sehari bekerja. Anaya berjalan mendekat ke arah Adrian. Tolong beri aku satu kesempatan. Aku janji tidak akan telat lagi. Aku sangat butuh pekerjaan ini." Ujar Anaya. Ia memohon pada Adrian agar Adrian mengizinkannya Bekerja.
"Plis." Anaya berdiri di depan Adrian dan memohon pada pria itu.
Anaya masih belum bergerak.
"Kau membantah ku?" Tanya Adrian.
Anaya mengeleng. " Plis, beri aku satu kesempatan.
Adrian menghela nafasnya." Baiklah aku akan mempertimbangkannya. Cepat kau siapkan makan malam ku sebelum aku berubah pikiran."
Anaya tersenyum menanggapi." Baik, aku ganti baju dulu."
Anaya tersenyum mendengar ucapan pria itu, walaupun pria itu selalu bertindak seenaknya. Setidaknya ia masih memiliki sedikit hati untuk mengizinkan Anaya Bekerja.
Setelah dua puluh menit Berlalu, Anaya keluar dengan baju kaos dan celana pendek. Ia mengingatkan rambutnya ke atas lalu berjalan ke pantry.
Saat sampai di pantry ia langsung mengambil apron, memakainya dan berjalan ke arah kulkas. Anaya mengernyit." Apa yang akan aku masak, tidak ada Apapun di sini." Lirih Anaya. Ia bangkit, melepas apronnya dan langsung berjalan ke arah Adrian.
Anaya menjatuhkan bokong di kursi yang ada di seberang Adrian.
"Makanannya mana?" Tanya Adrian yang saat ini berada di meja makan sambil memainkan gadgetnya.
"Apa yang akan aku masak. Seminggu ini, kita belum membeli bahan makanan apapun. Kau selalu pulang larut malam dan mengirimkan makanan untuk ku. tentu saja seminggu ini tidak ada Apapun di kulkas." Ujar Anaya. Ya, seminggu ini sikap Adrian ada kemajuan sedikit, ia tidak pernah lagi berbuat kasar pada Anaya. Mereka bertemu hanya di saat pagi hari dan Adrian akan pulang larut malam. Pekerjaannya sangat menumpuk. Ia juga tak pernah lagi menyentuh Anaya.
Mendengar itu, sontak membuat Adrian menepuk jidatnya.
"Kau bersiaplah, ayo kita berbelanja hari ini." Ujar Adrian.
"Kau serius? Kau akan mengajakku ke supermarket?" Tanya Anaya.
__ADS_1
"Tentu saja." Adrian bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah ruang kerja.
Setelah tiga puluh menit berlalu, pintu kamar Adrian dan Anaya terbuka secara bersamaan. Mereka keluar.
"Kita jalan sekarang?" Tanya Adrian.
Anaya mengangguk.
Setelah melihat anggukan dari Anaya, Adrian lalu berjalan keluar pintu apartemen di ikuti anaya di belakangnya.
***
Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Adrian dan Anaya sampai di sebuah supermarket. Mereka keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam supermarket.
Sesampainya di dalam, Adrian lalu mengambil troli.
"Kau Mau membeli apa dulu?" Tanya Adrian. Satu tanganya memegang troli. namun matanya tetap fokus pada ponselnya.
"Aku ingin membeli sayuran dulu." Anaya berjalan lebih dulu Tanpa melihat ke arah belakang. Saat sampai di stan penjualan sayuran, Anaya mulai memilih-milih sayuran apa yang akan ia beli. Namun saat ia mengambil satu dan hendak menyimpannya di troli, ia menengok ke belakang dan ternyata Adrian tidak ada di sana. Anaya kembali menyimpan sayurannya dan berjalan ke arah di mana tadi ia berbicara dengan Adrian.
Saat sampai di sana, seketika Anaya menggeleng. Ternyata sejak tadi Adrian tidak mengikutinya. lalu tadi, saat Anaya akan berbelok ke stan sayuran
Ia sempat berbicara pada Adrian. Anaya membulatkan matanya. Pantas saja tadi ada beberapa orang yang melirik ke arahnya yang sempat berbicara pada Adrian. Anaya mengusap wajahnya." Mereka mungkin mengataiku tidak waras karena berbicara sendiri." Lirih Anaya menggelengkan kepalanya.
"Adrian." Panggil Anaya.
Adrian yang saat ini menatap ponselnya, Langsung mendongak." Ada apa, Nay?"
" Kita jadi belanja, tidak? Sejak tadi aku sudah berjalan ke stan sayuran dan ternyata kau masih di sini." Anaya menghembuskan nafasnya kasar. Ia merasa agak sedikit lelah hari ini.
" Jadi, ayo." Adrian mendorong troli di ikuti Anaya. Mereka langsung berhenti di stan penjualan sayuran. Anaya memilih-milih sayuran dan meletakkannya di troli.
Adrian yang juga berada di sana terlihat tersenyum tipis melihat kepiawaian Anaya dalam memilih sayuran.
Setelah dari stan sayuran, Anaya beralih ke stan penjualan ikan. Anaya memilih beberapa ikan dan memasukkannya ke dalam troli. Dan hal itu tidak luput dari tatapan Adrian yang sejak tadi mengikuti pergerakannya.
"Apa sudah selesai?" Adrian bertanya saat melihat Anaya tampak terdiam.
Ia menoleh ke arah Adrian. Dan langsung mengeleng." Apa di apartemen mu ada bahan dapur?" Tanya Anaya.
" Tidak, aku tidak pernah membeli bahan dapur. Aku lebih sering membeli makanan dari luar." Ujar Adrian.
Anaya kembali mengangguk- anggukkan kepalanya dan berjalan ke arah stan bumbu masakan. Anaya kembali mengambil satu persatu bumbu masakan yang ia butuhkan. setelah itu, ia kembali melihat troli dan memeriksa apakah semuanya sudah ia beli." Sepertinya semuanya sudah cukup." Ujarnya pada Adrian.
"Yah sudah, ayo." Balas Adrian dan langsung berjalan mendahului Anaya.
Setelah mereka sampai di kasir, Adrian memberikan black card pada Anaya." Bayarlah." Ujarnya pada Anaya.
Anaya melihat kartu yang diberikan oleh Adrian. Ia sepertinya ragu untuk mengambil kartu itu, siapa yang tidak tahu black card, kartu yang hanya dimiliki oleh para konglomerat. Anaya tampaknya ragu untuk mengambilnya." Ambillah, pakai kartu ini untuk berbelanja semua kebutuhan kita." Seru Adrian.
Anaya mengernyitkan alisnya." Untuk kita. Itu berarti untuk ku juga." Batin Anaya.
"Nay… ambil ini."seru Adrian menyodorkan kartu itu pada Anaya.
Ya, Adrian tidak seburuk apa yang orang lain pikirkan tentangnya. Sebenarnya sebelum orang tua Adrian meninggalkan Adrian adalah pribadi yang baik. Namun semuanya berubah setelah mengetahui papanya berselingkuh dengan Indri dan hal serupa dilakukan oleh Clara yang juga berselingkuh di belakang Adrian.
Anaya kemudian mengambil black card yang di berikan Adrian. ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Adrian. Beberapa Minggu yang lalu ia bersikap kasar padanya. dan hari ini, adrian bersikap Manis padanya. Tentu saja Anaya merasa sangat heran dengan perubahan sikap Adrian yang begitu drastis. tanpa mengucapkan sepatah kata apapun Anaya langsung berjalan ke arah kasir untuk membayar semua belajaannya.
.
.
.
__ADS_1
trimakasih yang masih setia mengikuti. di awal bulan ada gift pulsa 50k untuk dukungan terbanyak.