Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 120. season 2


__ADS_3

Adrian melajukan kembali mobilnya meninggalkan kompleks perumahan sederhana milik keluarga Darwis. Tujuannya saat ini, ia lah mencari keberadaan Anaya. Namun, baru saja mobil yang ia kendarai akan berbelok, dari kejauhan tampak seorang gadis berjalan di trotoar sambil menunduk dan Adrian kenal siapa gadis itu.


Adrian lalu memutar kemudi mobilnya dan langsung berhenti. ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu keluar dan menghampiri Anaya.


Anaya yang berjalan menunduk sambil memikirkan nasibnya, tidak menyadari sosok pria yang berhenti tepat di hadapannya. Seketika Anaya terperanjat kaget lalu mendongak.


Matanya membulat saat melihat siapa pria yang ada di hadapannya, seketika Anaya menghindar dan pura-pura tidak mengenali Adrian. Ia berusaha mempercepat langkahnya, sebisa mungkin ia harus menghindari Adrian.


Namun, sayangnya Adrian sudah lebih dulu memegang pergelangan tangannya.


" Lepas!" Ucap Anaya." Kita sudah tidak punya urusan apa-apa lagi tuan."lanjut Anaya.


" Tapi menurut ku kita masih punya urusan, aku tidak terima surat perjanjian pembatalan sepihak." Jawab Adrian." Sekarang ayo ikut aku!" Pungkas Adrian, dan langsung manarik paksa pergelangan tangan Anaya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah Adrian menutup pintu kemudi penumpang ia berputar dan masuk kedalam kursi kemudi.


Saat mereka sudah sama-sama terduduk di dalam mobil, Adrian menyungingkan senyumnya pada Anaya. Sebisa mungkin ia akan berpura-pura baik pada Anaya.


" Aoa yang kau inginkan! " Teriak Anaya " aku rasa, kita sudah tidak punya urusan lagi.  jadi tolong jangan ganggu aku lagi." Ujar Anaya. Ia berbicara tanpa melihat ke arah Adrian melainkan menatap keluar jendela.


Namun, Adrian tidak menggubris, ia tetap saja tersenyum.


"Aku rasa, urusan kita belum selesai. Aku tidak terima pembatalan secara Sepihak." Jawab Adrian.


" Tapi aku sudah membayar denda sesuai perjanjian kita, lantas apa lagi yang kau inginkan dari ku? Apa masih kurang banyak?tanya Anaya.


" Jika aku jawab kurang banyak apa kau mau memberi lebih banyak dari cek ini? Apa kau sanggup? Hahh? Ucap Adrian masih dengan expresi tenang, sebisa mungkin ia akan berusaha mengambil hati Anaya.


Anaya terdiam tak sanggup menjawab ucapan dari Adrian. Jika Adrian berkata kurang banyak, dimana ia akan mencari tambahannya.


Adrian kembali tersenyum. Kemudian melanjutkan ucapannya.


Adrian berdehem." Kau mendapatkan uang ini dari mana ?"tanya Adrian, Adrian saat ini masih berusaha tenang. Ia akan mengambil hati Anaya hingga Anaya mau bekerja di perusahaan.


" Itu bukan urusan mu."


Mendengar ucapan Anaya, adrian tersenyum kecut."


Ia berusaha meraih tangan Anaya." Nay, ayolah menikah dengan ku, aku akan membayar mu lebih besar dari cek ini." Ujar Adrian.


Seketika Anaya menarik tangannya dan langsung melayangkan tamparan ke pipi Adrian.


"Jangan berharap lebih, tuan. Aku tidak akan menikah denganmu. Sampai kapanpun tidak akan.


Setelah mengatakan itu, Anaya keluar dari dalam mobil meninggalkan Adrian yang masih di dalam mobil. Ia berjalan dengan lesu, matanya mulai membasah. Selama ini, ia  tak pernah membayangkan akan bertemu pria semacam Adrian.

__ADS_1


Flashback on


Pukul setengah enam pagi, Anaya berjalan mondar-mandir di depan pagar mewah milik pak Satrio. Tujuannya adalah ingin bertemu dengan Noureen, ia berniat meminta bantuan pada Noureen, untuk meminjamkannya uang sebesar 200 juta dengan jaminan sertifikat rumah peninggalan ibunya.


Dengan ragu ia mulai mendekat ke arah pagar, memencet bel beberapa kali, tak lama ada seorang security yang datang menghampirinya. Awalnya security itu tak memberi izin pada Anaya untuk masuk. Tapi beruntung bibi yang bekerja di rumah pak Satrio mengenal Anaya dan akhirnya Anaya diizinkan untuk masuk oleh security itu.


Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya Noureen menuruni anak tangga, ia lalu berjalan mendekat ke arah Anaya. 


Noureen tampak mengernyitkan alisnya saat melihat kondisi sahabatnya yang tampak murung seperti sedang memiliki masalah yang sangat rumit. Akhirnya Noureen Pun mulai bertanya. 


"Nay, ada apa dengan mu, tidak biasanya kau datang sepagi ini." Noureen mendudukkan tubuhnya tepat di samping Anaya.


Anaya menggigit bibir bawahnya. Ia sepertinya ragu untuk menyampaikan niatnya.


Noureen yang melihat wajah sendu Anaya, mulai mengenggam tangan Anaya."Bicaralah, apapun itu aku akan siap membantu mu.


Mendengar ucapan Noureen, Anaya Langsung menghambur memeluk tubuh Noureen.


Perlahan Anaya mulai menceritakan semua masalah yang menimpanya pada Noureen, tanpa pikir panjang, Noureen memberinya pinjaman tanpa ada jaminan apapun.


"Terima kasih, Reen." Ucap Anaya saat Noureen memberinya cek.


Noureen mengangguk." Kau simpan saja sertifikat itu. Kau tidak usah khawatir. Kau bisa mengembalikannya jika kau sudah punya uang." Ujar Anaya.


***


Matahari mulai terbenam diganti oleh cahaya bulan untuk menyinari langit malam.


Sudah seminggu berlalu, setelah kejadian pertemuan  Anaya dan Adrian di depan gang. Selama itu pula Adrian tak pernah lagi datang untuk mencari Anaya.


Diruang tamu Anaya sedang fokus membaca rentetan tulisan yang tertera di lembar lowongan kerja yang ada di koran harian Jakarta.


Sambil fokus membaca koran, sesekali tangannya mencomot keripik singkong yang ada di dalam  toples. Satu persatu lowongan kerja yang menurutnya cocok dengan keahliannya ia lingkari.


" Sepertinya ini cocok, besok aku akan mencoba mengirimkan CV ke alamat ini, semoga saja keterima," gumam Anaya tersenyum. Ia mengambil notebook kemudian mencatat secara rinci alamat PT yang ada di dalam koran itu.


Setelah mencatat, anaya menghitung jumlah perusahaan yang akan ditempatinya untuk memasukkan CVnya. " 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7. Ada tujuh perusahaan," Gumam Anaya tersenyum. " Semoga ada salah satunya yang nyangkut." Lanjut Anaya kemudian menutup notebooknya dan menaruh bolpoinnya tepat diatas notebook.


Anaya kemudian meluruskan kakinya, menguap lebar-lebar sambil merentangkan tangannya. " Ahhhh, capek juga," ucap Anaya. Ia kemudian bangkit dari kursinya, membereskan semua benda yang ada diatas meja lalu masuk ke dalam kamarnya.


****


Pukul dua siang, Anaya berjalan gontai diatas trotoar. hari ini tubuhnya benar-benar sangat lelah, semua perusahaan yang ia datangi untuk memasukkan lowongan ternyata semuanya sudah terisi. 

__ADS_1


sambil berjalan, sesekali ia menghapus keringat yang ada di keningnya. Cuaca siang ini sangatlah panas, Ia kemudian berhenti sejenak. tiba-tiba rasa haus mendera kerongkongannya, ia lalu merogoh dompet yang ada di tasnya, ia membukanya. Sejenak ia terdiam lalu Menghela nafas panjang, ternyata uangnya  hanya tersisa dua ribu perak. Untuk membeli air minum pun tak cukup apalagi untuk naik angkot. 


Dengan terpaksa Anaya bangkit lalu berjalan kembali menyusuri trotoar. Namun, baru beberapa langkah terdengar seorang gadis memanggilnya, ia menoleh kebelakang, Tampaklah seorang gadis kecil yang ia kenal berdiri tepat di belakangnya. Gadis kecil itu Viona, adik sambungan Adrian.


" Hai kakak, apa kabar, senang bertemu dengan mu," ucap viona mendongak ke atas memandang wajah Anaya.


Anaya tersenyum, kemudian berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Viona.


" Hai juga viona, kabar kakak baik, kakak juga senang bertemu dengan viona. Jawab Anaya tersenyum." Eh, Viona kesini sama siapa, mamanya viona mana? Tanya Anaya memegang kedua bahu viona.


" Sama mamah kak, itu mamanya," balas viona sambil menunjuk Bu Indri yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Anaya berbalik mengikuti telujuk Viona.


Seketika Anaya berdiri dan tersenyum kepada Bu indri.


" Apa kabar, nay," tanya Bu Indri saat tiba didepan Anaya dan putrinya.


" Baik Tante," jawab Anaya sambil meraih dan mencium punggung tangan Bu Indri.


" Kamu ngapain disini nay?" Tanya Bu Indri sambil tersenyum.


" Mau pulang Tan. Kebetulan rumah nay dekat dari sini." Jawab Anaya tersenyum canggung karena saat ini ia sedang berbohong, ia tidak mungkin mengatakan kalo ia sedang kehabisan uang. " Tante sendiri ngapain disini? Tanya Anaya tersenyum.


" Tante mau ke butik." Jawab Bu Indri." Bagaimana kalo nay ikut, kita ngopi sambil ngobrol, nay ngak sibuk kan? Tawar Bu Indri.


Anaya tersenyum kemudian berpikir. Rasanya tidak enak jika menolak tawaran Bu Indri, lagi pula kerongkongannya terasa kering, ia butuh segelas air putih untuk menyiramnya. Akhir Anaya mengangguk.


Saat sampai di butik, Bu Indri mempersilahkan Anaya duduk di kursi khusus tamu.


" Mau minum apa nay?" Tanya Bu Indri sambil tersenyum.


" Tidak usah Repot-repot tan, air putih aja cukup." Jawab Anaya malu.


Bu Indri pun tersenyum, lalu memanggil salah satu karyawannya untuk mengambilkan minuman untuk Anaya.


Tak lama minuman pun datang, mereka bertiga pun mengobrol sambil tertawa mendengar celotehan viona.


.


.


.

__ADS_1


Vote, like, komen, dan beri hadiah. di awal bulan, ada gift pulsa 50k untuk dukungan terbanyak. terima kasih.


__ADS_2