Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 114. season 2


__ADS_3

Setelah Erwin sampai di Abraham grup ia langsung keluar dari mobilnya dan berjalan tergesa-gesa memasuki lift menuju lantai teratas ruang atasannya yang tak lain adalah adrian.


Saat tiba di depan ruangan, Erwin langsung mengetuk pintu ruangan direktur utama. Tak lama terdengar suara seorang dari dalam.


" Masuk." Ucap Adrian.


Tanpa menunggu lama, Erwin langsung masuk kedalam ruang dengan nafas yang naik turun, ia harus meminta penjelasan pada adrian tentang kejadian semalam. 


Setelah Erwin sampai di depan Adrian, ia langsung menarik kerah kemeja Adrian." Apa Maksud Lo ninggalin Anaya semalam."


Adrian mengernyitkan alisnya heran karena tiba-tiba Erwin masuk kedalam ruangannya dan menanyakan perihal Anaya.


" Ada apa dengan Anaya." Tanya Adrian.


"Kau tanya ada apa dengan anayah? Cih?"Erwin berdecak kesal dan langsung memberikan Bogeman mentah pada Adrian hingga Adrian tersungkur kelantai. Ia berusaha bangkit dan hendak membalas Erwin. Namun dengan cepat Erwin menahan tanga Adrian.


Saat Erwin kembali akan melayangkan pukulan pada Adrian, Adrian langsung bersuara.


"Sumpah, gue gak tau ada apa dengan anaya?" Adrian berusaha melepaskan kerah kemejanya dari cengkeraman Erwin dan langsung bangkit dan duduk di lantai.


Erwin ikut duduk di samping Adrian. Ia menetralkan emosinya. Kedua sahabat itu sedang terdiam. Tak lama Adrian kembali bersuara." Ada apa dengan Anaya." Tanya Adrian. Ia memegang pipinya yang saat ini memer akibat pukulan Erwin.


"Anaya hampir saja di gagahi oleh preman yang mabuk di pinggir jalan. Untung saja gue cepat datang." Ujar Erwin bangkit dari duduknya dan mengambil kopi yang ada di atas meja dan langsung meminumnya.


Saat Erwin menyeruput kopi yang ada di atas meja, Adrian bangkit dan kembali merebut kopi yang diteguk Erwin yang tersisa kurang dari seperempatnya lagi.


"Enak saja main Embat, buat sendiri sana." Ucap Adrian saat melihat cangkir kopinya yang sudah tersisa sedikit. Saat ini, mereka kembali berbaikan. hal biasa yang mereka lakukan. Mereka akan bertengkar dan kembali berbaikan kembali saat emosi mereka sudah mereda.


" Ya, elah bro, minta dikit aja pelit amat." Erwin mengusap sisa kopi yang ada di bibirnya.


Tak lama Adrian kembali bertanya, ia penasaran dengan kondisi Anaya saat ini.


"Win jadi gimana kondisi Anaya saat ini?" Tanya Adrian dengan wajah yang serius, pasalnya setelah mendengar ucapan Erwin ia tampak khawatir dengan kondisi Anaya 


Erwin menarik nafasnya, dan ia mulai bercerita secara detail tanpa mengurangi sedikitpun.

__ADS_1


Saat mendengar semua cerita Erwin, wajah Adrian seketika berubah pucat, penyesalan dan rasa bersalah  tiba-tiba menubruknya secara bersamaan.


Erwin menatap heran pada atasannya.


"lo, kenapa bro?" Tanya Erwin saat melihat Adrian terdiam.


Ia lalu menepuk pundak sahabatnya" Lo ngak usah khawatir, Gue lihat dia udah agak mendingan." Jawab Erwin.


"Syukurlah." Ucap Adrian sambil bernafas lega.


" Bro gue gak tahu masalah Lo dengan Anaya seperti apa, gue juga ngak mau ikut campur masalah pribadi lo. Tapi gue saranin, jangan sampai membuat wanita terluka bro." Ucap Erwin menatap manik bulat coklat bekilau yang Juga menatap.


Adrian tak menjawab, ia terdiam, ia kembali mengingat kejadian semalam saat ia meninggalkan Anaya di tengah jalan. harusnya saat Anaya menolak, ia harus tetap memaksa gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya, walaupun harus mendapatkan amukan dari gadis itu. Namun nyatanya ia meninggalkannya tanpa berfikir kemungkinan buruk yang akan terjadi.


***


Seminggu berlalu setelah kejadian itu, sudah seminggu pula Anaya mendiamkan Adrian. Anaya tetap bekerja   dan mengikuti semua perintah atasannya tanpa menolak sedikit pun. Ia baru akan berbicara ketika di tanya, setelah itu, ia akan terdiami Adrian kembali.


Tepat saat pukul setengah dua siang, Adrian Baru saja keluar dari ruangan meetingnya dan langsung masuk ke ruangannya. hari ini ia benar-benar sibuk, ia meeting dengan beberapa divisi membahas masalah di bagian keuangan yang membuat perusahaannta mengalami kerugian yang tidak sedikit.


" Sudah hampir lewat jam makan siang," ucapnya lalu mengambil telpon yang ada di atas meja untuk menghubungkannya dengan telpon yang ada di pantry, 


Adrian berniat menyuruh salah satu ob yang bertugas di lantai teratas untuk membelikannya makanan. Ia cukup lelah jika harus keluar kantor.


Adrian kemudian menghubungi pantry beberapa kali, Namun, tak ada yang mengangkat panggilannya. Dikarenakan saat ini masih jam istirahat untuk para karyawan. Dan akhirnya Adrian bangkit dari kursinya Keluar dari ruangan.


Saat tiba di depan ruangan, Ia melihat Anaya yang baru saja Membuka kotak bekal makanan siangnya. Ia kemudian mendekat.


" Kau masih sama seperti dulu, kemana-mana pasti bawa bekal." Ucap Adrian saat berdiri didepan meja Anaya.


Anaya tak menggubris, ia tetap fokus pada makanannya, ia cukup lelah jika harus menghadapi Adrian.


"Kau masih marah, ya? atas kejadian tempo hari." Tanya Adrian.


Anaya tetap saja tak menggubris ucapan Adrian.

__ADS_1


"Nay, kau denger kan, aku lagi ngomong apa?" Tanya Adrian mulai terpancing emosi.


Anaya bangkit dari duduknya" Tuan Adrian yang terhormat, aku ngak Kenapa-kenapa, aku baik-baik saja, dan tolong jangan ganggu aku. Aku dan tuan hanya sebatas atasan dan bawahan, disini, aku berusaha bersikap profesional dalam bekerja tanpa harus mengikut campurkan masalah pribadi. dan satu lagi, tuan, tolong jangan pernah mendekatiku. sampai masa perjanjian kontrak itu selesai. Aku tidak mau ikut campur masalah pribadi tuan.


Setelah mengucapkan itu, Anaya kemudian menutup kembali kotak bekal makan siangnya, lalu beranjak dari kursinya meninggalkan Adrian yang masih berdiri disana.


"Dasar! gadis yang ngak punya sopan santun." Ucap Adrian saat Anaya pergi meninggalkannya.


Anaya turun kelantai bawah. Rasanya ia betul-betul sangat muak dengan Adrian. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia masih terikat kontrak dengan Adrian.


Setelah sampai di lantai bawah, Anaya keluar dan langsung berjalan ke taman yang ada di samping perusahaan. Ia duduk di garden bench yang ada di sana sambil melihat air mancur yang ada di tengah taman itu.


Tiba-tiba dari arah belakang seseorang datang menghampirinya dan memberikan sekaleng minuman untuknya. Anaya menoleh dan melihat Erwin Berdiri di belakang nya. Ia tersenyum kemudian dan langsung mengeser duduknya dan mengajak Erwin untuk duduk.


"Apa aku mengganggumu?" Tanya Erwin.


Anaya menggeleng." Tidak sama sekali."


"Apa yang kau lakukan di sini." Tanya Erwin. Ia membuka kaleng minumannya dan menyeruput isinya.


"Aku hanya mencari udara segar." Balas Anaya. Terpaksa ia berbohong jika ia mencari udara segar padahal ia berjalan ke taman karena ia menghindari adarian


.


.


.


.


Like, komen, vote.


 


 

__ADS_1


__ADS_2