Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 141. season 2


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah mewah papanya, Adrian langsung masuk ke dalam mobilnya, ia mengusap wajahnya kasar dan langsung memukul setir mobilnya." Sial." Umpat Adrian, Ia benar-benar kesal dengan papanya yang selalu mencampuri urusan pribadinya.


Lama terdiam di dalam mobil, Adrian kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan halaman rumah papanya. 


Sepanjang jalan, Adrian tak hentinya menggeram, tak jarang ia mengepalkan tangannya. Entah bagaimana caranya agar papanya bisa mengerti dengan pilihannya yang tidak ingin menikah dengan Siska.


Ya, Siska adalah Anak dari sahabat Suhendi Abraham, ayah Siska adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidan perkebunan kelapa sawit yang ada di Kalimantan.


Dulu, ayah Siska yang membatu membangkitkan perusahaan Suhendi Abraham setelah sempat koleps beberapa saat yang lalu.


Setelah melaju dengan cukup jauh, Adrian kini sampai di bestmen apartemennya. Dan langsung mematikan mesin mobilnya, tetapi ia tidak  keluar dari mobilnya ia malah duduk diam di sana dan menyandarkan tubuhnya kebelakang. Terlalu banyak masalah yang datang secara bersamaan. Ia tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalahnya satu persatu. Belum masalah saat ia menjebak paman Anaya, kini muncul masalah baru yaitu Siska dan papanya.


Lama terdiam, Adrian kembali menarik nafas panjang dan membuangnya Secara kasar. Ia mengambil earphone dan menghubungi Erwin, hampir tiga puluh detik menunggu, akhirnya terdengar suara Erwin dari seberang sana.


"Hallo, win." Ucap Adrian.


Bukannya menjawab, Erwin malah melontarkan pertanyaan pada adrian"Lo kemana aja, bro? Kenapa lo Blom balik kantor, bentar lagi kita maeting?"


"Gue sepertinya ngak bilik, win, tolong Lo gantiin gue. Kepala gue pusing." Ujar Adrian.


"Lo sakit?" 


"Ngak. Gue hanya pusing mikirin semua masalah gue. Lo tau sendirikan, gimana kerasnya bokap. jika dia menginginkan sesuatu, dia akan menghalalkan segala cara." Ucap Adrian.


"Lo bisa gantiin gue kan?" 


"Bisa, bro. Tapi ingat, gaji gue di naikin." 

__ADS_1


"Dasar, Lo. Mata duitan." Setelah mengucapkan itu, Adrian langsung mematikan ponselnya tanpa berpamitan pada asistennya. Lalu Adrian keluar dari mobilnya dan berjalan Menuju lift menuju ke unitnya


Saat sampai di unitnya, Adrian langsung membuka pintu setelah menekan kode PIN digital door. Pintu terbuka, Adrian mengendarakan pandangannya ke segala arah. Namun tidak menemukan Anaya di sana. Setelah itu, ia berjalan ke arah pantry. Membuka kulkas dan meneguk segelas air dingin.


Setelah meneguk segelas air, Adrian berjalan ke meja makan, tiba-tiba perutnya terasa lapar. Ia membuka tudung saji. Adrian tersenyum saat di meja makan sudah tersaji sayur asem beserta ayam goreng. Buru-buru Adrian mengambil piring lalu menyatap makanan yang ada di meja makan. Setelah makan Adrian habis, ia langsung berjalan masuk ke dalam kamar lebih tepatnya ruangan kerjanya, ia akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. 


Hampir sejam Adrian berendam. Akhirnya ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dengan handuk di pinggangnya. Ia berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaiannya.


Saat ini Adrian sudah terlihat segar, ia keluar dari kamar dan langsung berjalan ke arah kamar Anaya. Ia membuka pintu dan pandangannya langsung mengarah pada Anaya yang saat ini meringkuk di atas kasur. Adrian tersenyum dan berjalan ke ranjang, ia merebahkan tubuhnya di samping Anaya dan langsung memejamkan matanya. 


Waktu menunjukkan pukul lima sore, Anaya mengerjab dan langsung membuka matanya, pandangannya langsung mengarah pada perutnya yang saat ini sudah melingkar lengan kekar di sana.


Anaya menoleh ke belakang, melihat Adrian tertidur Dangan sangat pulang, terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulutnya.  Anaya tersenyum lalu melihat jam yang tergantung di dinding. Waktu menunjukkan pukul lima, Anaya mengeryit, pasalnya jam kantor biasanya bubar di jam lima sore, sedangkan Adrian saat ini ada di sampingnya tertidur dengan sangat pulang. 


Anaya kembali tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepala. Dulu saat Anaya masih menjadi sekretaris Adrian, Adrian biasanya pulang lebih dari jam enam sore, sangat jarang pria ini pulang lebih awal dari sebelumnya. Bahkan pria itu biasa lembur Hingga larut malam. 


Perlahan Anaya memindahkan tangan Adrian, Namun bukannya berpindah, pria itu kembali mengeratkan pelukannya." Kau sudah bangun, ya?" Tanya Adrian. Matanya masih terpejam tapi ia tahu jika Anaya sudah bangun dan hendak bangkit dari kasur.


"Kau tidak usah bangun, kau temani aku sebentar." Titah Adrian.


"Tapi…. Mas."Potong Anaya.


"Tolong temani aku, sebentar saja. Aku tidak akan macam-macam." Ujar Adrian. 


"Kamu sakit, mas?" Tanya Anaya. Pasalnya  tidak biasanya Adrian seperti ini.


"Tidak. Aku hanya ingin di temani." 

__ADS_1


Akhirnya Anaya menurut setelah mendengar perkataan Adrian yang memintanya untuk di temani.


"Nay."panggil Adrian


"Ada apa, mas?" Balas Anaya.


"Nay, jika aku membuat kesalahan, apa kau akan memaafkan ku? Tanya Adrian. Ia mengusap-usap perut Anaya yang saat ini ada di pelukannya.


"Tentu saja aku memaafkanmu, mas." Jawab Anaya.


Adrian tersenyum dan mencium kepala Anaya." Terima kasih, Nay."


Tak lama Anaya menoleh." Memang kesalahan apa yang kau lakukan pada ku, mas?"


Seketika Adrian menegang saat Anaya melontarkan pertanyaan yang entah bisa ia jawab atau tidak. 


Di tempat lain.


"Kau cari tahu informasi tentang wanita ini, aku ingin tahu semua tentang dia, jangan ada yang terlewat sedikitpun." Titah siska, ia memberikan selembar foto pada orang suruhannya.


"Baik, nona. Akan kami cari tahu tentang wanita ini. Tapi….."


"Tapi apa?" Tanya Siska melotot pada pria bertubuh besar di depannya.


"Dpnya, nona."


Siksa menarik nafas panjang, dan langsung membuka laci mejanya. Ia mengambil uang yang sudah ia persiapkan sebelum Kemudian melemparnya pada pria itu." Kerjakan semua pekerjaanmu dengan benar, jangan sampai salah. Jika kau berhasil, setelah ini aku akan mentransfer sisanya.

__ADS_1


"Beres, nona. Semua beres asal fulus lancar." Ujar orang itu sambil mencium amplop coklat yang ada ditangannya.


Setelah orang suruhannya pergi, Siska menyandarkan tubuhnyanya kebelakang, sambil menekuk kedua tangannya. Ia tersenyum jahat saat memikirkan adrian dan Anaya.


__ADS_2