Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 175. season 3


__ADS_3

"emmm...Anu ..mom." Amelia gelapkan.


"Sssttt. Kau tidak usah banyak bertanya pada putrimu, mereka sedang membuatkan kita cucu." Timpal Noureen. 


Anaya mengangguk seraya tersenyum.


"Duduk, Nikmati sarapan kalian. Kami sudah sarapan sejak tadi." Ucap Noureen.


"Iya, mom." Jawab Amelia seraya tersenyum.


"Mommy tidak mau tahu, pokoknya secepatnya kalian harus memberi kami cucu. Mommy tidak mau tahu!" Noureen mengambil tasnya, lalu mengeluarkan amplop.


"Apa ini mom?" Tanya Vano.


"Itu tiket honeymoon kalian, kalian bisa menghabiskan seminggu di Bali. Pokoknya pulang dari Bali Amelia sudah harus mengandung."titah Noureen.


Vano dan Amelia tersendat.


"Tidak boleh begitu donk, mom. Kami baru saja menikah, dan kami juga belum siap memiliki anak." Balas Vano.


"Tidak, itu hanya alasanmu saja. Pokoknya mama pengen cucu." Noureen berdiri dari meja makan lalu meninggalkan semua orang yang ada di sana. Namun, sebelum keluar dari Aula makan, Noureen menghentikan langkahnya, ia melirik menggunakan ujung matanya." Maafkan mommy Vano, hanya dengan ini kau akan menyentuh Amelia." Ucap Noureen kemudian melangkah meninggalkan area itu.


Setelah Noureen pergi, Vano mengusar kepalanya.


"Dad, aku tidak suka di kekang, aku bukan anak kecil lagi." Portes Vano.


Cakra memegang bahu putranya, maafkan daddy, daddy kali ini tidak bisa menolongmu."jadilah suami yang baik untuk istri mu " Cakra bangkit dari kursinya lalu berjalan meninggalkan ruang makan di ikuti mereka semua. hanya tersisa Amelia dan Vano yang ada di sana.


Setelah keluar dari aula, Cakra ikut tertawa. Ya, sebelum pengantin baru itu keluar dari kamar, para orang tua mereka sudah mulai akting mereka. Mereka tahu tidak mudah bagi seseorang yang belum saling kenal lalu memiliki ikatan dan Tiba-tiba saja serumah. Kedua orang tua mereka akan membuat mereka saling membutuhkan satu sama lain.


"Apa yang harus kita lakukan setelah ini." Kata Amelia.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kau tahu sendiri buka bagaimana sifat mommyku, dia selalu membuat keputusan sendiri tanpa bertanya pada kami." Vano menyeruput air putih yang ada di dalam gelas.


"He,em." Amelia terlihat pasrah.


"Masalah itu, nanti saja kita pikirkan lagi, kepalaku pusing." Vano mulai menikmati sarapannya, begitupun Amelia. Mereka makan tanpa berbicara.


Setelah menghabiskan makanan mereka berdua, Vano bangkit menuju ke kamar di ikuti Amelia.


"Bereskan semua barang-barangmu, kita akan kembali ke apartemen ku sore ini. Besok pagi kita akan terbang ke Bali." Ucap Vano sambil menyalakan tv yang ada di kamar hotel.


"Apa kita tidak pulang ke rumah mommy?"tanya Amelia


"Tentu saja tidak, selama ini aku tinggal di apartemen, jika kau mau ikut, ikut aku ke apartemen. Jika tidak, akan kuantar kau ke rumah mommy." Ujar Vano 


"Baiklah, aku akan ikut ke apartemenmu, lagi pula apa yang akan dikatakan mommy jika aku pulang tak bersamamu." Jawab Amelia.


Ponsel Vano berdering.


Seketika Vano tersenyum saat melihat panggil dari Cristin.


"Hallo sayang." Jawab Vano.


"Sayang, aku baru aja tiba di Indonesia, apa kau bisa menjemputku di Bandara?" Tanya Cristin.


Vano melirik Amelia.


"Harus sekarang?" 


"Tentu saja sayang, aku sudah lama menunggu, ponselmu juga susah untuk di hubungi."


"Baiklah, tiga puluh menit lagi aku sudah sampai di bandara." Vano menyimpan ponselnya. Ia berdiri dari sofa, mengambil kunci mobilnya. Namun sebelum melangkah ia menoleh pada Amelia.


"Dia kekasihku, aku sangat mencintainya. Aku harap kau tidak ikut campur dengan urusan kami. Dan satu lagi, kau jangan mengadu pada mommy." Ucap Vano lalu meninggalkan Amelia.


"Cih siapa juga yang mau ikut campur." Amelia tersenyum miris, walau bagaimanapun ia tetap seorang istri. Bisa saja mulutnya berkata tidak, Namun hatinya mengatakan lain.


***


"Sayang." Panggil Cristin saat berlari menghampiri Vano.


Vano tersenyum, menyambut pelukan Cristin.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika kau terbang ke Indonesia."tanya Vano.


" Sorry honey, aku ada pemotretan di Bali lusa. Ini pun dadakan. Awalnya aku ingin menolak namun aku teringat dengan mu, itu sebabnya aku memutuskan menerima tawaran itu." Cristin merangkul tangan Vano." Aku sangat merindukanmu, kau sangat susah di hubungi."


" Maafkan aku, aku sangat sibuk mengurus perusahaan Daddy." Vano mengusap rambut Cristin. Lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Vano.


Cristin mengeleng." Belum." 


"Kalau begitu mari kita makan, kau mau makan apa?"tanya Vano lagi.


"Tentu saja steak sayang." Jawab Cristin.


"Ayo." Vano tersenyum kemudian membelai rambut Cristin dengan manja.

__ADS_1


Setelah sampai di restoran, Vano mengajak Cristin masuk. Namun Langkahnya terhenti saat melihat Noureen dan Cakra Duduk di antara kursi-kursi yang tersusun rapi.


Vano memutar tubuhnya, lalu mengajak Cristin keluar dari restoran.


"Ada apa sayang?" Tanya Cristin.


"Sepertinya makanan di sini tidak enak, bagaimana kalau kita makan di restoran lain saja."balas Vano membuka pintu mobil untuk Vano.


"Tapi sepertinya makan di sini lezat sayang." Kata Cristin.


"Tidak, makan di sini tidak enak." Pungkas Devano lalu masuk ke dalam mobil.


Cristin menatap heran Devano sambil menaikkan kedua bahunya.


Setelah berkendara cukup jauh dari lokasi restoran yang tadi, kini Vano Berhenti di sebuah restoran mewah yang menyediakan makan ala barat.


Vano mengajak Cristin masuk lalu duduk di kursi. Vano memanggil waiters lalu memesan makan. Sambil menunggu, mereka berbincang-bincang.


Pesanan yang mereka pesan datang. Namun baru saja Vano akan memotong steaknya. Adrian masuk ke dalam restoran dengan menggandeng tangan Anaya, mereka terlihat begitu mesra.


Buru-buru Vano mengambil buku menu yang ada di depannya kemudian menutup wajahnya menggunakan buku.


"Sayang kau kenapa?" Tanya Cristin saat melihat gelagat aneh dari Vano.


Vano tidak menjawab.


"Apa kau sudah selesai makan?" Bisik Devano lalu melirik piring Cristin. Vano memejamkan matanya saat melihat isi piring Cristin yang belum tersentuh . Ia mengambil uang dari dompetnya. Menaruhnya di bawa piring.


"Ayo, nanti saja makannya." Vano menarik Cristin keluar dari restoran. Menyuruh Cristin masuk ke dalam mobil lalu memacu mobilnya meninggalkan restoran itu.


"Sayang ada apa? Aku belum menghabiskan makanannya." Protes Cristin.


"Maaf sayang, kita harus meninggalkan tempat itu, aku tidak bisa menjelaskan apa penyebabnya sekarang, yang jelas..maafkan aku." Vano mengusap pipi Cristin.


"Santang." Panggil Devano.


Cristin tidak menoleh, bibirnya terlihat Manyun sambil melipat tangannya di dada.


"Maaf kan aku sayang. Ya sudah, atas permintaan maaf ku, kau boleh membeli semua barang yang kau inginkan."


Cristin menoleh." Benar begitu?"


"Tentu saja. Aku tidak pernah bohong. Jadi kau mau memaafkan ku?"


Seketika Cristin tersenyum lalu mengangguk.


***


"Tentu saja berhasil. Vano sampai lari terbirit-birit." Balas Anaya.


"Bagus, kau memang besan ku yang paling bisa diandalkan."


"Tentu donk." Balas Anaya.


Di hotel Amelia sudah membereskan semua barang-barangnya. Amelia duduk di kasur sambil menunggu Devano. Tadi Devano mengatakan jika ia akan berangkat ke apartemen Vano nanti sore. Tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat. Namun yang ditunggu belum juga kelihatan batang hidungnya.


Amalia mendengus."tau begini aku tidak akan bersiap cepat, aku masih bisa bersantai sebelum berangkat."


Pintu terbuka, Vano masuk ke dalam kamar dengan wajah lesu.


Devano membuang tubuhnya ke sofa. Ia lalu menoleh pada Amelia.


"Mel, bisa tolong ambilkan aku air."titah Devano.


Tanpa menolak, Amelia bangkit kemudian mengambilkan segelas air untuk Devano lalu menaruhnya di depan Devano.


"Habis ketemu pacar, kok wajahnya kusut mas."tanya Amelia.


"Mommyku dan mommymu entah kenapa di manapun aku pergi selalu tiba-tiba saja ada mereka." Ucap Devano kesal.


"Memangnya ada apa mas?" Tanya Amelia.


"Aku ke restoran ada mereka, aku ke mal ada mereka, sampai-sampai aku bertengkar dengan Cristin karena ulah mereka."jawab vano kesal.


Amelia terkikik mendengar ucapan Devano.


 


"Kau menetawaiku yah?"


Amalia mengeleng."Sepertinya mereka memata-matai kita deh mas." Kata Amelia


"Sepertinya begitu." Balas Devano.


"Jadi langkah apa yang harus kita lakukan?" Tanya Amelia.


"Tidak ada jalan lain kecuali mengikuti permainan mereka." Jawab Devano menatap kosong ke depan.


"Apa kau sudah siap, mau berangkat sekarang?" Tanya Devano.

__ADS_1


"Sudah mas." Jawab Amelia.


Vano bangkit dari sofa, lalu berjalan keluar kamar diikuti Amelia yang menarik kopernya.


"Mas, tunggu." Panggil Amelia.


Devano menoleh."ada apa?"


"Koperku berat, aku tidak bisa membawanya sendiri." Kata Amelia.


Devano mendengus." Dasar anak manja." Devano mengambil alih koper Amelia dan berjalan lebih dulu. 


Amelia terlihat geram saat Devano menyebutkan anak manja. Ia mengepalkan tangannya ke udara seolah ingin memukul Devano. Tapi devano keburu menoleh hingga Amelia pura-pura menggoyang-menggoyangkan tangannya ke udaranya.


Sesampainya mereka di apartemen, Devano keluar dari mobil di ikuti Amelia. Mereka lalu berjalan memasuki lobby apartemen.


Setelah masuk ke dalam lift dan pintu besi itu tertutup tak ada pembicaraan di antara mereka.


Pintu lift terbuka, mereka keluar dan berjalan Menuju unit milik Devano kemudian membuka pintu apartemen.


"Masuklah." Titah Devano


Amelia menoleh saat Devano ta ikut masuk.


"Kau mau kemana?" Tanya Amelia.


"Aku akan menginap di apartemen temanku." Jawab Vano.


"Mas, tapi aku takut disini sendirian. Aku baru pertama kali di sini, bisakah kau menginap di sini saja." Pinta Amelia.


"Tapi di apartemen ini cuma ada satu kamar."balas Devano.


"Bukankah semalam kita juga berbagi tempat tidur." Ucap Amelia. Ia terpaksa membuang rasa gengsinya daripada ditinggal Devano keluar.


"Baik kalau itu maumu, tapi jangan salah aku jika aku berbuat lebih." Mata Amalia membulat. Ia bergidik saat memikirkan hal aneh itu.


"Jangan coba-coba menyentuh ku." Ucap amelia ketus.


Vano berjalan lalu berbisik di telinga Amelia." Bukankah mommy kita sudah meminta cucu."goda Devano lalu berlalu meninggalkan Amelia yang masih mematung.


Seketika Amelia bergidik.


***


Setelah membersihkan tubuhnya, Amelia membaringkan tubuhnya ke ranjang, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut karena ia masih memakai lingerie yang ada di kopernya.


"Kau kenapa?" Tanya Devano.


"Aku lupa memesan baju." Ucap Amelia.


"Bagus donk, kau tidak akan kepanasan." Jawab Vano asal. Amalia mengambil bantal lalu melemparkannya pada Devano.


"Dasar mesum." Ujar Amelia.


"Kau tidak usah takut, aku tidak berselera dengan tubuhmu, bahkan di Swis aku melihat yang lebih seksi setiap hari."  Balas Devano.


Amalia terdiam." Ternyata dia sering melakukan hubungan dengan banyak wanita." Batin Amelia.


"Ayo tidur." Ucap Devano saat ia membaringkan tubuhnya di kasur.


Amelia lalu mengambil guling menaruh di antara mereka.


"Kau jangan melewati batas ini, awas saja jika kau berani menyentuhku." 


Devano tidak menggubris, ia lebih memilih memejamkan matanya.


Amelia ikut membaringkan tubuhnya, lalu menutup seluruh tubuhnya.


Pukul tujuh pagi Anaya terbangun Ia merasa sesuatu menimpa tubuhnya. Amalia membuka matanya lalu bangkit dan memukuli Devano.


"Ada apa sih?" Tanya Devano mengusap matanya.


"Aku sudah menaruh pembatas tapi Kenapa kau melewatinya." Katus Amelia.


"Mana aku tau." Jawab Devano santai.


Devano kembali membaringkan tubuhnya."kau jangan berisik, aku masih mengantuk.


Anaya mendengus kesal lalu bangkit."Dasar. Pria kulkas." Umpat amelia.


Amelia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. 


.


.


Terima kasih masih mengikuti, gift pulsa 50k di awal bulan untuk dukungan terbanyak.


 

__ADS_1


__ADS_2