
Amelia mengandeng tangan Vano masuk ke gedung tempat di adakannya resepsi pernikahan mereka.
Wajah Vano terlihat datar, tak ada senyum ataupun kebahagiaan di sana.
Sedangkan Amelia sejak tadi diam, sesekali tersenyum. Bukan karena ia bahagia, melainkan ia sedang menghargai tamu undangan papanya.
Sesampainya mereka di pelaminan, Vano dan Amelia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di sana.
Satu persatu tamu undangan datang lalu memberi selamat pada kedua mempelai.
Pukul sepuluh malam, Amelia terlihat menguap, Namun ia tetap duduk di pelaminan tanpa berpindah." Ini semua karena Tante Noureen yang ingin kami menikah." Batin Amelia.
Amelia melihat ke arah Vano yang duduk sambil sibuk dengan ponselnya.
"Vano, sepertinya Amelia sudah lelah, tamu undangan juga sudah tidak ada. Ajak istrimu ke kamar." Noureen berdiri di samping menantunya.
Vano mendengus, tanpa mengucapkan apapun ia berjalan mendahului Amelia.
"Vano. Ajak Amelia bukan mendahuluinya." Pinta Noureen.
Vano tersenyum miring." Kan dia bisa berjalan sendiri mom, mengapa harus aku yang merangkulnya." Vano kembali memutar tubuhnya melangkah dengan cepat, sedangkan Noureen hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vano.
Noureen menghampiri menantunya." Tidak apa-apa, dia hanya malu, lagi pula kalian tidak dekat, lama kelamaan dia akan mencintaimu."bujuk Noureen.
Amalia hanya tersenyum. Tidak membalas ucapan mertuanya.
"Sini, mommy yang antar." Noureen membawa menantunya keluar dari aula pernikahan menuju kamar pengantin putra dan menantunya.
Sesampainya Noureen di depan kamar pengantin, buru-buru ia menyuruh Amelia masuk.
"Masuklah, Vano sudah menunggumu di dalam, jangan lupa buatkan cucu untuk mommy." Ucap Noureen.
__ADS_1
Amelia hanya tersenyum malu. Ia menyalami punggung tangan Noureen lalu masuk ke dalam.
Setelah pintu tertutup. Noureen bernapas panjang. Ia tersenyum." Aku yakin suatu saat Vano akan mencintai istrinya.
***
Amelia melangkah masuk ke dalam kamar, lalu berjalan menuju kopernya. Amelia lalu membuka koper yang tadi ia bawah. Matanya membulat saat melihat semua pakaian yang ada di dalam kopernya.
"Apa-apaan ini. Ini bukan pakaian ku." Kata Amelia.
Amelia mengambil ponselnya lalu menghubungi mommynya. Panggilan tersambung.
"Mommy." Panggil Amelia.
"Ada apa, Mel?"
"Mom, dimana pakaian ku, ini bukan pakaian ku, sejak kapan aku memakai baju kurang bahan begini ." Eluh Amelia.
Anaya tersenyum mendengar aduan putrinya.
Amelia mendengus. Ia tidak mungkin memakai pakaian ini di depan Vano, apa kata Vano nanti, bisa-bisa Vano berpikir jika dia sedang menggoda Vano
Saat sibuk dengan koper di depannya. Pintu kamar mandi terbuka. Vano keluar dari kamar mandi, ia mengusap rambutnya menggunakan handuk. lalu berlalu tanpa menoleh ke arah Amelia.
Setelah dua jam berpikir Namun belum mendapatkan solusi. Amelia terpaksa memilih pakaian yang menurutnya lebih layak dari pada yang lainnya.
Amelia melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya lalu Memakai lingerie yang tadi ia keluarkan dari kopernya.
Pintu kamar mandi perlahan terbuka. Amelia keluar dari kamar mandi sambil menarik-narik ujung lingerie nya.
Vano yang duduk di sofa sambil memeriksa pekerjaannya menoleh. Mata mereka bertemu. Vano melihat penampilan Amelia.
__ADS_1
"Gadis ini ternyata sangat berani juga." Batin Vano.
Amelia melewati sofa berjalan menuju ranjang.
"Baju apa yang kau kenakan itu?" Tanya Vano sambil tersenyum mengejek." Kau pikir aku akan tergoda jika kau Memakai pakaian seperti itu, kau jangan terlalu berharap." Ujar Devano lalu kembali melihat laptop.
Amelia terlihat geram.
"Kau pikir aku mau disentuh oleh pria kulkas sepertimu. Aku terpaksa memakai ini! Mommy mu yang susah menukar semua baju yang aku bawa tadi."balas Amelia lalu berlalu meninggalkan Vano yang masih duduk di sofa.
Amelia membaringkan tubuhnya di ranjang kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Vano bernafas berat, entah dosa apa yang sudah diperbuat, sehingga harus terjebak dalam pernikahan macam ini.
Vano berjalan ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sana, ia menarik Selimut yang di pakai Amelia.
"Apa-apaan kau, ini selimut Ku." Ucap Amelia masih menutup tubuhnya dengan selimut.
Vano mendengus, ia lebih memilih mengalah dari pada berdebat dengan gadis jutek macam Amel.
***
Keesokan harinya semua keluarga sudah berkumpul di aula restoran. Hanya Vano dan Amelia yang belum terlihat.
"Mom, kak Vano mana?" Tanya keyra sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya.
Noureen menaikkan bahunya." Sudah, jangan urusi kakakmu, Namanya juga pengantin baru."
" Betul itu." Cakra menimpali.
Tak lama kemudian sepasang pengantin baru itu baru keluar dari kamar.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan sampai sarapan pun kalian lewati." Ujar Anaya.
"Aa..mu mom." Vano terlihat gelagapan.