
Cristin berjalan mendekat ke meja yang di duduki Devano serta Amelia. Dia langsung mencium pipi Devano.
Dari jauh, Adrian dan Anaya Membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan perempuan itu pada Devano menantunya. Sedangkan Putrinya Hanya diam Tanpa bereaksi saat melihat suaminya di cium oleh perempuan lain.
Devano terlihat kikuk dan salah tingkah, ia melihat ke arah Amelia. Dan berusaha melepas pelukannya Cristin.
Cristin mendudukkan bokongnya di samping Devano. Dia lalu melihat ke arah Amelia.
"Dia siapa honey." Tanya Cristin.
"Dia….." Devano tampak ragu.
"Aku adik sepupu Devano." Amelia tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Cristin tersenyum sambil membalas uluran tangan Amelia.
Sedangkan vano masih terlihat salah tingkah.
"Kau makan apa honey?" Cristin mengambil sendok yang dipegang Devano lalu mencoba makanan Devano.
"Enak," Cristin mengangguk-anggukkan kepalanya saat mencoba makanan Devano. Setelah itu, dia menyendok lalu menyuapi Devano.
"Aakkk honey." Cristin mengarahkan sendoknya ke mulut Devano. Devano terpaksa membuka mulutnya. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman bermesraan di depan Amelia.
Amelia terlihat Menunduk sambil cepat-cepat menghabiskan makanannya.
"Mas, aku ketoilet dulu." Pamit Amelia pada Devano.
__ADS_1
Devano mengangguk.
"Cristin ini Indonesia, bukan di Swiss, di sini kita harus menjaga Attitude, jaga sikap mu." Ujar Devano lalu menyuruh Cristin agar menjaga jarak.
Cristi terlihat mengerutkan alisnya, tidak biasanya Devano bersikap di Dingin seperti ini.
"Honey ada apa dengan mu? Kau sepertinya berubah." Cristin memegang kedua pipi Devano.
Devano menjauhkan tubuhnya." Aku tidak apa-apa."
Amelia kembali dari toilet. Dia menghampiri meja Devano lalu mendudukkan dirinya di tempat yang tadi dia duduk.
Lagi-lagi Amelia tersenyum meris.
Sedangkan Adrian sejak tadi ingin menghampiri devano, dia ingin sekali menghajar pria yang berani bermesraan di Depan putrinya.
"Tenang dad. Kau tidak boleh gegabah. Kau bisa menghancurkan segalanya. Aku yakin suatu saat nanti mereka bisa Saling mencintai." Ujar Anaya.
"Ayo dad. Ayo kita pulang. Besok lagi kita melanjutkan mengikuti mereka." Ajak Anaya saat terlihat emosi suaminya mulai tidak terkontrol.
"Setelah makanan Devano habis, Devano pamit pada Cristin jika dia harus pulang. Awalnya Cristin tidak membiarkan devano pergi. Namun Devano berjanji jika dia akan menemui Cristin besok Setelah Cristin selesai pemotretan.
Devano melambaikan tangannya kepada Cristin, saat motornya mulai melaju.
Devano melajukan motornya menuju hotel. Tidak ada pembicaraan antara keduanya, mereka sama-sama larut dalam pikiran mereka masing-masing hingga mereka sampai di lobi hotel.
"Terima kasih." Ucap devano saat memberikan kunci motor yang ia pakai kepada resepsionis.
__ADS_1
"Sama-sama, pak." Balas resepsionis itu.
Devano dan amelia melangkah Menuju kamar hotel. Kali ini Devano tidak berjalan lebih dulu, dia berjalan tepat di samping Amelia hingga saat ini mereka sedang berjalan Saling berjejeran
Devano meremas jarinya sambil sesekali mencuri pandang pada Amelia.
"Mel."
"Iya. Ada apa mas???"
"Maafkan atas kelakuan Cristin tadi. Jujur aku tidak mengundangnya. Dia datang ke Bali hanya untuk melakukan pemotretan."kata Devano.
"Tidak apa mas. Toh dia kekasihmu, aku juga tidak ada hak untuk marah kepada mu."Amelia mempercepat langkahnya meninggalkan Devano.
Mata Amelia terlihat berair, dia menyeka air matanya yang menggenang di ujung matanya.
Amelia juga tidak bisa seenaknya marah, ia tahu jika Mantan kekasihnya memiliki kekasih.
"Mel," tunggu
Amelia tidak menghiraukan panggilan Devano, dia terus berjalan Masuk ke dalam hotel.
"Mel, kau kenapa?" Tanya Devano mencengkeram tangan Amel.
"Aku tidak Kenapa-kenapa mas, aku hanya lelah.' Amelia berusaha melepas cengkraman tangan Devano.
"Kau cemburu?"
__ADS_1
Amelia menatap Devano."sudah kukatakan, aku lelah mas." Amelia menarik tangannya lalu masuk ke dalam toilet.
Devano mengeram. Dia juga tidak tahu apa yang membuat perasaannya tidak nyaman.