
Tanpa aba-aba, Adrian langsung mengangkat tubuh Anaya, hingga Anaya terperanjat kaget."akkk, Adrian." Teriak Anaya saat tubuhnya terasa sudah melayang di udara.
"Berpeganglah, jika kau tidak ingin terjatuh ." Titah Adrian.
Dengan malu-malu Anaya mengalungkan tangannya ke leher dan langsung menyembunyikan wajahnya Ke dalam dada Adrian, aroma maskulin menyeruak masuk ke rongga hidungnya. Anaya tersenyum.
Setelah masuk ke dalam kamar, Adarian langsung meletakkan Anaya ke atas kasur. Mereka bertatapan cukup dalam. Perlahan Adrian memposisikan tubuhnya. kemudian me*um*t bibir memerah yang sejak tadi terlihat menggodanya.
Setelah berciuman cukup lama, Adrian kemudian melepas p*ngutangnya menatap wajah Anaya yang saat ini menunduk. Tangan Adrian memindahkan anak rambut kemudian menyelipkannya tepat di belakang telinga.
"Apakah aku boleh melakukannya lagi?" Tanya Adrian.
Anaya yang sedang menunduk terlihat mengangguk kemudian tersenyum malu.
Setelah mendapatkan persetujuan Adrian dengan perlahan Adrian melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, ia mengulang percintaan panas yang terjadi semalam.
***
"Apa kau lelah?" Tanya Adrian setelah menuntaskan permainannya.
Anaya yang sedang menenggelamkan wajah ke dalam dada Adrian langsung mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Adrian. Dia benar-benar sangat lelah. Adrian seperti harimau kelaparan, tidak ada kata lelah, ia terus menguncang tubuh Anaya, menguras tenaga Anaya hingga wanita itu tergolek lemas di kasur tanpa berniat untuk bangun.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, Adrian dan Anaya masih betah bergulum di bawah selimut tebal tanpa berniat untuk bangun.
"Nay." Panggil Adrian. Ia menepuk-nepuk pipi Anaya yang masih betah di alam bawa sadarnya.
Merasakan ada yang menepuk pipinya, perlahan Anaya mengerjap, meraup kesadaran kemudian membuka matanya.
"Aku lapar." Ucap Adrian. Ia memegang perutnya yang saat ini terus berbunyi.
Dengan Langkah malah Anaya perlahan bangkit dari berbaringnya." Tunggu sebentar. Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu setelah itu aku akan membuat makanan untuk kita."
Namun, Adrian menahan pergerakannya saat melihat Anaya terlihat kelelahan." Kau istirahat saja. Aku akan Memesan makanan untuk kita, kau ingin makan apa?"
"Terserah kau saja, aku pasti memakannya."balas Anaya kemudian bangkit dari kasur Menuju ke kamar mandi.
Setelah Anaya mesuk ke kamar mandi. Seketika Adrian tersenyum misterius. Entah apa yang saat ini ada di otaknya pria itu. Dengan penuh semangat ia ikut bangkit dari kasur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Anaya yang baru saja akan masuk ke dalam bathtub seketika terperanjat saat sebuah tangan kekar memeluk pinggangnu.
__ADS_1
"Adrian apa yang kau lakukan di sini, aku ingin membersihkan tubuhku." Ujar Anaya.
Adrian yang saat ini memeluk Anayaa tersenyum."Tentu saja Aku akan mandi bersama mu."
Anaya bernafas berat."kau keluar dulu, kita akan menghabiskan waktu cukup lama Jika kita mandi berdua." Jelas Anaya sudah tau maksud Adrian masuk ke dalam kamar. Jika mereka melakukannya lagi, Adrian tidak akan pernah berhenti jika ia belum puas. Itu sebabnya Anaya mendorongnya keluar.
Mendengar ucapan Anaya, Adrian kambali tersenyum. Ternyata istrinya sudah tau apa isi di kepalanya." Satu ronde saja , aku janji akan melakukannya sebentar." Pinta Adrian dengan wajah memerah.
Anaya menghembuskan nafas berat." Baiklah sekali saja. Aku sudah sangat lapar." Elak Anaya. Ia sengaja mengatakan jika ia lapar agar Adrian tidak meminta mengulang-ulang kegiatannya.
Setelah menghabiskan waktu berduaan di bawah guyuran shower. Kini Anaya dan Adrian keluar dari kamar mandi hanya mengunakan bathrobe.
Adrian tersenyum saat melihat Anaya berjalan dengan langkah terseok-seok. Sejak. Semalam ia benar-benar membuat Anaya merintis di bawah Kungkungannya. Setelah itu Adrian berjalan ke arah nakas mengambil ponsel kemudian memesan makan.
Hampir sejam menunggu akhirnya makanan yang di pesan Adrian datang. Adrian kemudian mengambil makanannya. dan seperti tadi pagi, ia menyiapkan makanannya ke piring sebelum memanggil Anaya. Ya, Adrian sengaja melayani Anaya. Ia tahu jika wanita itu sangat kelelahan sejak semalam. Ia tidak berhenti membuat wanita itu merintih di bawah Kungkungannya.
Setelah makanan sudah tersaji di atas meja makan. Adrian berjalan ke kamar, memanggil Anaya untuk makan. Anaya mengangguk dan mengikuti langkah Adrian keluar dari kamar.
Saat mereka sampai. Anaya kembali' tersenyum saat melihat makanan yang ada di meja makan. Sop janda beserta nasi sudah tersusun rapi di atas meja. Anaya sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya Sop janda ini dipadukan dengan kuah pedas dengan nasi hangat di sampingnya.
Adrian yang duduk tepat di samping Anaya. Hendak merebut piring yang di pegang Anaya, ia ingin menyuapinya. Namun Anaya menolak. Ia ingin makan sendiri sambil menikmati kuah pedas dari SOP janda itu.
"Apa kau suka sopnya?" Tanya Adrian.
Anaya mengangguk. dan kembali menyeruput kuah sopnya." Ini makanan favorit ku. Aku suka dengan makanan yang berkuah. Tetapi dulu aku hanya bisa menikmatinya sekali sebulan, pada saat aku gajian di cafe. Selain harganya mahal, aku juga harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan ku serta membayar biaya kuliah." Jawab Anaya . Ia kembali menyediakan nasi ke dalam mulutnya.
Adrian hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum. Namun di dalam hatinya ia merasa perih. Bagaimana tidak dulu ia dengan puas bisa berbelanja sesukanya tanpa berfikir untuk berhemat sedangkan Anaya ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Ya kemarin Adrian sempat bertanya pada Bi Asih makanan apa yang Anaya suka. Bi Asi menyebut jika Anaya menyukai sup janda. Sup dari tulang iga dan diberi banyak rawit ijo. Rasa pedas serta gurih yang membuat Anaya menyukai SOP janda itu.
Setelah menghabiskan makanan yang ada di meja. Anaya bangkit dari kursi dan membawa piring-piring sisa makanannya ke dapur.
"Biar aku saja." Ujar Adrian.
Anaya mengeleng." Kau duduk saja. Untuk apa aku di sini jika hanya makan dan tidur." Balas Anaya menimpali sambil tersenyum.
Mau tidak mau Andrian menurut tanpa membantah perkata Anaya. Ia keluar dari pantry dan berjalan ke ruang tengah dan menjatuhkan bokong di sofa. Ia mengambil remote tv dan menyalakannya.
Tiba-tiba terdengar bel berbunyi." Siapa yang bertamu sore-sore begini." Gumam Adrian. Dengan langkah malas ia berjalan Menuju pintu.
Setelah pintu terbuka, Tampak wajah Erwin yang tersenyum sambil menenteng sebuah paper bag.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi lo, kata Anaya kau sakit?" Tanya Erwin. Ia mengikuti langkah Adrian Menuju ke ruang tengah.
"Seperti yang Lo lihat, gue baik-baik saja." Jawab Adrian dan kembali duduk di sofa.
Erwin mengeleng." Percuma donk gue kasini. Kalo Lo ngak sakit." Ujar Erwin kemudian menyandarkan bokongnya di kursi.
"Gimana urusan kantor? Semua aman kan?" Tanya Adrian.
"Amanlah, bos. Lo ngak usah khawatir, semua aman. Ada gua, bro." Seru Erwin sambil membusungkan dadanya.
Adrian tersenyum geli melihat tingkah asistennya yang suka nyeleneh.
Tak lama, dari arah pantry terlihat Anaya datang dengan Nampan di tangannya. Ia membawa dua gelas cangkir dan meletakkannya di depan Adrian dan Erwin. Namun saat Anaya bangkit, mata Erwin seketika terbelalak. Bagaimana tidak leher Anaya dipenuhi bekas kecupan Adrian. Hal itu sukses membuat Erwin terdiam, lalu menatap Anaya dan Adrian secara bergantian.
Setelah Anaya kembali ke pantry. Erwin langsung menepuk punggung adrian." Lo apain anak orang, Sampai leher dia di penuh bekas merah gitu?" Ujar Erwin. saat ini, ia bisa membayangkan bagaimana panasnya percintaan mereka berdua, hingga membuat leher Anaya dipenuhi bekas kemerahan.
"Lo ngak usah tau. Makanya nikah, sana. lo akan tau gimana rasanya menghabiskan malam panjang berdua dengan pandangan Lo." Balas Adrian dan menyeruput kopi di depannya.
Erwin menghembuskan nafas berat." Gimana mau nikah, bro. Pasangan aja gue kaga punya." Pungkas Erwin dan mengambil cangkir kopi di depannya. Ia menyeruput kopi itu sambil mengeram." Kopi buatan Anaya sangat nikmat." Seru Erwin dan meletakkan kembali kopinya.
Adrian yang melihat tingkah aneh Erwin langsung mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Makanya cepat cari pasangan." Balas Adrian. Ia mengambil remote tv dan Mengganti Channelnya.
Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Erwin pamit untuk pulang, ia sengaja pulang lebih awal, ia berencana ke club malam ini dan bersenang-senang dengan salah satu wanita yang ada di sana. Ia sudah tidak sabar menghabiskan malam panjangnya dengan seorang wanita. Tadi, ia sempat berpikir aneh saat melihat leher Anaya yang dipenuhi tanda kemerahan. Pikiran liarnya berjalan saat berhasil memerengkap seorang wanita di bawahnya kemudian membuat tanda kemerahan di sana.
"Bener Lo ngak mau ikut?" Tanya Erwin. Tadi, ia sempat mengajak Adrian ke club' malam ini. Namun Adrian menolak. Untuk apa ia ke club' malam ini, jika hanya untuk mencari wanita yang menghangatkan ranjangnya. Sedangkan di kamarnya sudah ada Anaya yang mampu memberikannya kepuasan lebih besar dari wanita ****** yang akan ia sewa.
Setelah Erwin pamit dan meninggalkan apartemen Adrian. Kini Adrian bangkit dari sofa dan berjalan ke ruang kerjanya, lebih tepatnya kamar. Ia harus mengecek file-file yang dikirim beberapa kepala devisi berusan.
Saat sampai di ruang kerjanya, Adrian menjatuhkan bokongnya. Ia membuka laptopnya. Setelah itu ia mengecek emailnya dan memeriksa beberapa laporan yang dikirim kepala divisi.
Setelah memeriksa beberapa berkas. Tiba-tiba Adrian men scroll pesan di emailnya. Matanya membulat saat melihat kembali pesan email yang hampir sebulan ia tidak periksa. Di sana jelas-jelas terlihat semua bukti saat Pak Darwis dituduh menggelapkan uang perusahaan.
Adrian bangkit dari kursi. Mengunci pintu dan kembali duduk di kursinya. Wajahnya terlihat pias. Satu persatu pesan dan bukti yang ada di emailnya, ia hapus, ia tidak ingin Anaya melihat pesan itu kemudian membencinya. Ia sadar jika ia memang bersalah. Awalnya ia hanya ingin menjadikan Anaya istri sementara. Namun makin ke sini. Ia merasa nyaman dengan Anaya. Ia juga tidak tahu apakah ia sudah jatuh cinta pada Anaya atau belum, Tetapi ia ingin selalu bersama wanita itu dan melindunginya.
Setelah selesai menghapus semua bukti, Adrian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Pikirannya kembali menerawang. Ia mengingat kembali pertama Kali bertemu dengan Anaya dan berakhir menjadi istrinya.
Adrian mengusap wajahnya kasar. Bagaimana jika nanti Anaya tahu jika ia adalah dalang dari semua masalah yang menimpanya Anaya dan berakhir menjadi istrinya.
__ADS_1
Adrian dengan cepat menggeleng." Tidak...tidak… Anaya tidak boleh tahu. Ia pasti akan marah dan meninggalkan ku. aku tidak bisa membiarkan dia kembali lagi pada Rio."