Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 113. season 2


__ADS_3

Disisi lain bi asih sedang mondar mandir di dalam rumahnya, ia sangat khawatir karena sampai pukul sepuluh malam Anaya tak kunjung pulang. Biasanya saat Anaya pulang terlambat ia akan menghubungi bibinya. Namun sampai sekarang Anaya belum juga kembali.


Berulang kali Bi Asi menghubungi Anaya tapi tak kunjung mendapatkan kabar dari Anaya. Hanya suara Operator yang terdengar di seberang sana. Setelah lelah mondar mandir. Bu asih kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di sana. Ia memijat ujung batang hidungnya. Tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri.


"Pak gimana ini, ponsel Anaya tidak aktif pak, ibuk khawatir pada Anaya." Ucap Bi Asih ia kembali berdiri dan langsung mengintip dari tirai jendela yang tertutup.


"Sabar toh Bu, mungkin Anaya lembur dan lupa menghubungi ibu." Pak Darwis menenangkan sang istri yang terlihat sangat khawatir. Sebenarnya pak Darwis saat ini sama merasakan khawatir. Namun, karena ia tidak ingin istrinya semakin khawatir jadi ia berusaha bersikap setenang mungkin.


"Ibu khawatir pak, perasaan ibu ngak enak sejak tadi." Jawab bi asih ia kembali mengintip dari tirai jendela. Raut wajah khawatir jelas tergambar di wajah wanita yang hampir menginjak usia setengah abad itu.


"Sabar Bu, Anaya pasti ngak kenapa-kenapa, ibu tidur saja, biar bapak yang menunggu Anaya pulang." Ujar pak Darwis karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Yah sudah, ibuk kekamar. Kalau nanti Anaya pulang bangunkan ibu ya pak. Ibuk sangat khawatir pada anak itu, tidak biasanya ia belum pulang selarut ini.


"Ya Bu," jawab pak Darwis diikuti anggukan kepala.


Setelah itu bi asih langsung pergi dan berjalan ke arah kamarnya.


Pak Darwis melihat istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar, ia lalu merogoh ponselnya dan menghubungi teman-teman Anaya. Pak Darwis juga adalah seorang karyawan. Di jam seperti ini mana ada karyawan yang masih ada di kantor. 


***


Malam berganti pagi, sinar matahari menelusup masuk kedalam kamar. Anaya membuka mata. Ia kemudian mengendarakan pandangan ke sekeliling kamar. Namun, ia tak mengenali kamar ini. Ini bukan kamarnya. Sesaat ia mengingat-ingat kejadian semalam.


Ia kemudian bangun dari posisi berbaringnya, lalu bersandar di kepala ranjang. Ia melihat tubuhnya. pakaiannya masih utuh, masih sama seperti semalam.


Sejenak, otaknya kosong ia tak mengingat apapun. Namun,  tak lama kemudian ia teringat kejadian semalam.


Air matanya kembali menetes. ia sangat bersyukur untung saja semalam ia bertemu dengan Erwin, sehingga ia dapat selamat dari kejadian naas itu.


Seketika pintu terbuka membuat Anaya tersadar dari lamunannya kemudian buru-buru ia mengusap cairan bening yang menetes di wajahnya.


 Entah nasib seperti apa yang ia dapatkannya hingga ia selalu berakhir seperti ini.

__ADS_1


Terlihat Erwin masuk dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan segelas susu.


Erwin tersenyum saat ia menaruh nampang itu di atas nakas.


" Kamu sudah bangun, apa sudah enakan?" Tanya Adrian.


Anaya mengangguk.


"Terimakasih pak, aku berhutang budi pada bapak, entah apa yang akan terjadi jika bapak tidak datang menolongku semalam.


Erwin tersenyum." Tidak apa nay, semalam aku kebetulan lewat dan melihat ada seorang wanita yang meminta tolong. Saat melihat itu, aku langsung keluar, dan ternyata kamu." Jawab Erwin.


"Makanlah, setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Pasti keluargamu khawatir. 


Anaya mengangguk  diikuti senyum manis dari bibirnya saat Erwin meninggalkannya dan langsung keluar dari dalam kamar.


Rasa kagum akan sosok erwin secara tiba-tiba datang menghampiri pikirannya. Ia menepis pikirannya dan langsung menikmati bubur dan segelas susu yang masih hangat.


Anaya kembali menghembuskan nafas kala ponselnya susah di charge. Ia lupa membawa chargenya. Lama terdiam Anaya menyimpan ponselnya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Pukul tujuh, Anaya keluar dari dalam kamar dan masih mengunakan gaun yang semalam ia pakai.


Ia langsung berjalan ke arah sofa, di sana Erwin sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi." Duduk, Nay." Ajak Erwin. Sejak pertama kali mereka bertemu, pria di depannya ini begitu sangat baik. Beda halnya dengan Adrian. Pria itu kadang baik, kadang manis, dan kadang judes, entah ada apa dengan pria itu, sikapnya sering berubah-ubah.


Anaya mengangguk.dan tersenyum malu.


"Apa kau sudah baikan." Tanya Erwin dan kembali menyeruput kopi.


"Sudah. Terima kasih karena kau sudah menolongku."balas Anaya.


" Ia, tidak masalah. Jika kau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi ku. Aku akan membantumu," ujar Erwin. Anaya tersenyum tipis mendengar ucapan Erwin. Pria di depannya ini memang benar-benar baik.


"Ngomong-ngomong semalam, kau kenapa bisa ada di tempat itu." Tanya Erwin. Melihat Anaya sambil menyimpan cangkir ke atas meja.

__ADS_1


Anaya tersenyum mengingat kejadian semalam, ia lalu menceritakan pertengkarannya dengan Adrian sebelum ia mengalami hal tragis seperti semalam.


Mendengar ucapan Anaya. Tatapan Erwin terlihat kecewa. Ia menghembuskan nafasnya kasar." Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang." Ujar Erwin langsung berdiri dari sofa tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lalu masuk kedalam kamarnya untuk bersiap.


Setelah sampai di kamar, ia mengepalkan tangannya kuat, ia harus meminta penjelasan pada Adrian akan sikapnya yang seperti itu pada Anaya. Ia kecewa pada sahabatnya itu, setidaknya ia bisa menjaga seorang wanita walaupun wanita itu adalah bawahannya.


***


Disisi lain saat Adrian tiba di kantor ia melihat kursi sekretarisnya kosong, ia lalu melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.


" Sudah pukul delapan, kemana dia, awas saja jika dia berani seenaknya." Adrian lalu masuk kedalam ruangannya dan langsung mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya. Ia kemudian menghubungi Erwin. Namun saat ia menghubungi Erwin, sambungan teleponnya  tersambung tapi urung diangkat oleh pemiliknya.


" Ahhh...kemana dia."ucap Adrian. Beberapa kali Adrian menghubungi Erwin. Namun, si pemilik ponsel tak juga menerima panggilannya. Akhirnya Adrian mengirimkan pesan singkat.


Di Tempat lain, Erwin yang baru saja masuk kedalam mobilnya, ia langsung melihat ponselnya yang ada di kantong penyimpanan ponsel yang ada di mobilnya. tadi saat Erwin masuk kedalam rumah Anaya, ia lupa membawa ponselnya sehingga saat Adrian menghubunginya urung diangkat oleh-nya.


Melihat panggil dari Adrian. Emosi Erwin seketika memuncak ia akan meminta penjelasan atas apa yang terjadi pada Anaya semalam.


Ia lalu mengirimkan pesan pada Adrian mengabarkan jika sebentar lagi dia akan kembali ke kantor.


Dengan cepat Erwin meninggalkan rumah Anaya dan langsung masuk ke dalam mobilnya Menuju ke  Abraham grup.


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak.


 


 

__ADS_1


__ADS_2