Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 109. season 2


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Adrian meninggalkan rumah sederhana milik Anaya. Ia kemudian melajukan mobilnya membela jalan ibu kota menuju apartemennya.


Sesekali ia bernyanyi mengikuti alunan musik yang terdengar dari audio mobilnya.


Tak berselang lama mobil Adrian masuk ke dalam halaman apartemen mewah miliknya, ia lalu melajukan mobilnya masuk Menuju basement untuk memarkirkannya di sana.


Setelah memarkirkan mobilnya ia keluar dari mobil sambil bersiul menuju lift. Hari ini, ia sangat senang, setelah beberapa tahun akhirnya ia bisa menikmati masakan yang rasanya hampir sama dengan buatan sang ibu, walaupun ia harus menikmati makanannya dengan Anaya, itu tidak membuat moodnya hancur. Pria itu terlihat senang saat Anaya bersikap ketus padanya.


Pintu lift terbuka. Adrian menekan tombol lantai unit apartemennya, perlahan lift berjalan naik, terdengar suara denting lift berbunyi. Beberapa detik kemudian, pintu lift tergerak menyamping, pintu terbuka. Tampaklah sepasang kekasih yang saling merangkul hendak masuk ke dalam kotak besi itu.


Adrian Tertawa sinis, ia lalu keluar tanpa ingin menoleh lagi pada sepasang kekasih yang menatapnya sinis. Pasangan itu menatap ke arah Adrian. Kemudian Lelaki itu berdehem, menatap tajam ke arah Adrian.


Adrian tak menanggapi, ia terus berjalan, hari ini moodnya sedang baik. Ia tak ingin membuat moodnya hancur dengan meladeni Clara dan kekasihnya.


Beberapa saat kemudian Adrian sampai di apartemennya, ia menekan kode apartemennya beberapa detik kemudian pintu terbuka, ia masuk ke dalam lalu merebahkan tubuhnya disofa.


Hari ini ia benar-benar sangat lelah ia butuh berendam beberapa saat, untuk menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan saat Adrian tiba di perusahaan dan disambut senyum oleh Erwin yang sudah menunggunya di dalam ruangan.


"Bro, daddy Lo menghubungi gue semalam, hp Lo ngak aktif," Erwin menghampiri Adrian. " Sepertinya ia sedang mengatur rencana perjodohan Lo dengan Siska."ujar Erwin.


Adrian tersentak.


"Ngak! gue ngak mau dijodohkan!" Adrian berjalan lalu mendudukkan bokongnya di meja kerjanya. "Gue ngak mau ngikutin kemauan gila bokap gue.


Erwin memberikan ponselnya pada Adrian. Pesan singkat yang dikirim Suhendi Abraham, pria yang tak lain adalah ayah dari Adrian, pemilik perusahaan yang ia tempati Bekerja saat ini.


Adrian mengepalkan tangannya, sesaat setelah membaca pesan singkat dari Suhendi Abraham yang menyuruhnya datang ke kediamannya malam ini. Apalagi jika bukan membahas rencana pernikahannya dengan Siska anak dari  rekan kerjanya.


Adrian memijat pelipisnya lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sedang berfikir bagaimana caranya bisa terbebas dari perjodohan gila ini.


Tiba-tiba ide gila muncul di otaknya. Ia kemudian menghubungi Anaya lewat telepon kantor yang ada di atas mejanya yang tersambung langsung dengan telpon yang ada di atas meja sekretaris..


"Halo, ada yang bisa saya bantu pak." Ujar anaya.


"Kamu keruangan saya sekarang,"titah Adrian tanpa menunggu Jawa dari Anaya ia langsung mematikan sambungan teleponnya.


Anaya lalu menatap heran pada telpon yang masih ada di genggamannya. Lalu berdiri dan berjalan ke arah ruang kerja Adrian.

__ADS_1


 terdengar pintu di ketuk.


"Masuk," Adrian menoleh ke arah pintu.


" Ada yang bisa saya bantu, pak."tanya Anaya saat ia sudah berada di depan meja kerja Adrian.


" Kau bersiap sekarang, hari ini kita ada acara." Perintah adrian.


"Tapi, pak! Hari ini bapak ada jadwal maeting." Jawab Anaya. Pasalnya hari ini Adrian ada janji maiting dengan perusahaan gw grup.


"Batalkan semuanya, hal ini lebih penting dari penandatanganan surat kerjasama. Cepat! Aku tidak mau di bantah, kau bersiap sekarang. Aku tunggu lima menit lagi.


Anaya tak menjawab, ia masih diam ditempat, ia bingung, ia akan diajak kemana. Ia lalu melirik ke arah Erwin. Namun Erwin menanggapinya dengan menaikkan kedua bahunya. 


" Kenapa masih diam disini, buruan! Aku menunggumu lima menit lagi.


"Tapi tuan."


"Tidak ada kata  tapi! Kau masih ingatkan perjanjian kerjasama yang kau tanda tangani!" Adrian menarik laci dihadapannya lalu mengambil kertas yang ada disana.


Tanpa menunggu lama Anaya keluar dari dalam ruangan Adrian. Ia harus segera bersiap. Ia tidak ingin mendengar amukan dari pria yang menjadi atasannya itu.


Adrian tersenyum penuh kemenangan.


Adrian tertawa. " tenang saja bro, gue ngak punya niat jahat, gue cuma pengen dia jadi pacar pura-pura gue nanti malam.


Erwin mengeleng-gelengkan kepalanya. Pasalnya selama ia berpisah dengan Clara, Adrian tak pernah lagi memiliki kekasih. Ia biasa bersama dengan wanita di club tapi hanya sekedar menghangatkan ranjangnya saja.


"Awas, ya. Jika nanti kau jatuh cinta." Erwin tertawa.


"Mana mungkin gue jatuh cinta dengan dia, bukan level gue bro." Adrian berdiri, "bro,  handel semua pekerjaan hari ini."Adrian kemudian meninggalkan Erwin didalam ruangan.


"Lah gue di tinggal," Erwin menggaruk tengkuknya."nasib-nasib." Erwin langsung berdiri di ikuti Erwin di belakangnya.


Setelah sampai di luar ruangan, Adrian mencari keberadaan Anaya." Di mana dia." Erwin berjalan ke arah meja kerja Anaya. Namun Anaya tidak ada di tempat.


Tak lama, terlihat Anaya keluar dari toilet yang ada di lantai itu." Habis dari mana saja kau?" Adrian berbicara saat melihat Anaya.


"Maaf, pak. Tadi aku ke toilet." Ujar Anaya.


Adrian mengganggu. Apa kau sudah siap?"

__ADS_1


"Tunggu sebentar, pak." Anaya berjalan ke mejanya dan mengambil tas dan kotak bekalnya.


"Itu apa?"


" Kotak bekal pak."


"Kenapa di bawa segala?" Adrian bertanya.


Anaya tersenyum." Makanannya belum aku makan, pak. kan mubasir jika di tinggal. Pasti akan basi." Ujar Anaya.


Adrian melirik kotak bekal yang dibawa Anaya. Ia berfikir jika rasanya pasti seperti makanan yang dibuat bi asi.


"Nay." Panggil Adrian.


"Iya, ada apa, pak?" 


"Apa masakan itu buatan Bi asi?"


"Hmmm, iya, pak." 


"Apa boleh, aku memakannya separoh." Ucap Adrian tanpa tahu malu.


"Bo….." sebelum Anaya menjawab, Adrian sudah menyambar kotak bekal itu dan langsung berjalan ke arah ruangannya.


Anaya yang masih berdiri di sana, diam terpaku menatap punggung Adrian yang mulai menghilang di balik pintu.


Tepat saat ia akan masuk ke ruangannya. Erwin baru saja akan membuka pintu untuk keluar.


"Ada apa lagi bro? Apa ada yang kelupaan. Bukankah kau akan pergi bersama Anaya?" Adrian tidak merespon ia malah berjalan ke arah sofa dan mulai membuka isi dari kotak itu.


Adrian menyunggingkan senyumnya saat membuka kotak bekal makan siang Anaya. Ia memejamkan matanya seraya menikmati aroma yang berasal dari makan Anaya. Erwin yang sedari tadi ada di sana. Langsung menyambar perkedel kentang yang ada di kotak itu. Seketika Adrian memukul tangan.


"Au, sakit." Rintih Erwin.


"Pelit amat sih." 


"Bukan pelit bro. Rasa makanan ini sama persis dengan buatan almarhum ibu gue."


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih. salam sayang dari author.♥️


__ADS_2