Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 140. season 2


__ADS_3

tadi sebelum Erwin mengajak Adrian keluar, pak Suhendi lebih dulu bertanya tentang keberadaan Adrian. Tentu saja Erwin tau jika pak Suhendi akan mengirim Siska untuk datang keperrusaan. Ini bukan yang pertama, pak Suhendi selalu menyuruh Siska untuk menemui Adrian. Tentu saja sebelum Siska datang, pak Suhendi menelpon Erwin terlebih dahulu, untuk mengetahui keberadaan Adrian.


Wanita tinggi kira-kira 170 cm dengan dres di atas lutut mengikuti bentuk lekuk tubuhnya berjalan berlengak-lenggok menghampiri ke-dua pria yang sangat berpengaruh di Perusahaan itu.


Setelah sampai di hadapan Adrian dan Erwin tanpa tahu malu, wanita itu langsung bergelayut manja di tangan Adrian." Honay, aku merindukan mu." Ujarnya dan langsung mengecup pipi Adrian tanpa memperdulikan orang di sekitar.


"Lepas, Siska. Apa yang kau lakukan di sini." Tanya Adrian.


"Tentu saja menemui kekasih ku." Balas Siska.


"Siapa yang mau menjadi kekasih mu, aku sudah memiliki istri."Adrian yang merasa risih terus berusaha melepaskan tangan Siska dari lengannya. Namun nampaknya wanita itu begitu tidak tahu malu. Walaupun Adrian berusaha melepaskan lengannya dan secara terang-terangan menolaknya. Tetapi wanita itu punya seribu wajah tetap bertahan.


Erwin yang berada di samping Adrian seketika menarik Siska untuk menjauh dari bosnya.


"Siska, kami ada maeting dengan Klian penting. Jadi dengan rasa hormat, bolehkah jika anda meninggalkan kantor ini." Titah Erwin.


Siska menatap Erwin dari atas sampai bawah." Kau tidak usah terlalu ikut campur dengan urusan ku dan adrian. Kau bukan siapa-siapa di sini. Jadi tutup mulut mu jika nanti aku dan Adrian sudah menikah, kau orang yang pertama akan aku pecat." Seru siska.


Adrian menarik nafas panjang mendengar ocehan Siska dan  melihat sekelilinnya. Ternyata sejak tadi semua mata karyawan melihat ke arah mereka. Adrian langsung menatap tajam ke arah semua karyawan." Bubar jika kalian tidak ingin aku pecat." Seru Adrian.


Seketika semua karyawan yang ada di sana membubarkan dirinya masing-masing, dari pada mereka berakhir dengan di pecatnya dari kantor ini.


Setelah semua karyawan bubar, Adrian langsung menarik tangan Siska." Ikut aku." Titah Adrian.


"Kau akan membawaku kemana?"tanya Siska.


"Kau ikut saja, nanti kau akan tahu sendiri." Pungkas Adrian.


Setelah itu, Mereka berjalan keluar perusahaan dan membawa Siska menuju parkiran, setelah sampai di parkiran adrian langsung membuka pintu mobilnya dan mendorong Siska masuk ke dalam mobilnya lalu ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan area perusahaan.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Adrian sampai di halaman rumahnya. Lebih tepatnya rumah papanya. Setelan itu, ia mematikan mesin mobilnya dan langsung keluar dari mobil. Ia berlari kecil mengitari mobilnya dan membuka pintu depan mobilnya dan menarik tangan Siska agar keluar dari mobil.


"Lepas Adrian, tanganku sakit." Siska terlihat merintih. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Adrian yang begitu kuat. 

__ADS_1


Tanpa mendengarkan rintihan Siska Adrian terus menyeret wanita itu masuk ke dalam kediaman papanya.


"Papa….papa…" teriak Adrian.


Tante Indri yang saat ini sedang membaca majalah seketika bangkit dari sofa saat melihat Siska di seret oleh Adrian masuk ke dalam rumah.


"Ada apa ini?" Tanya Indri.


"Papa mana Tante?" Tanya Adrian.


"Papa ada di ruang kerjanya. Ada apa ini?" Tanya Indri lagi.


"Tante langsung Tanya aja ke papa." 


Adrian kembali menarik tangan Siska menuju lantai dua di mana ruang kerja papanya berada. Saat sampai di depan ruangan kerja pak Suhendi. Adrian langsung masuk ke dalam ruang kerja pak Suhendi tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Setelah sampai di dalam ruang papanya, Pak Suhendi langsung menatap tajam pada Adrian karena barusan ia melihat Adrian mendorong tubuh Siska hingga terjatuh di atas sofa.


"Apa yang kau lakukan Adrian!" Bentak pak Suhendi.


"Tutup mulutmu Adrian! Papa hanya ingin yang terbaik untuk mu, papa ingin kau menikah dengan keluarga sedejat dengan keluarga kita. Bukan wanita itu yang dari keluarga rendahan. Bahkan wanita itu tidak tahu kemana ayahnya." 


Mendengar ucapan pak Suhendi, jelas Adrian kaget. Darimana papanya tahu tentang orang tua Anaya." Apa papa memata-matai kami." Tanya Adrian.


"Bukan hanya memata-matai. Papa tahu hubungan kalian dari awal hingga kalian menikah. Ingat Adrian aku sehendi Abraham, tidak ada yang bisa berbuat licik pada ku." Pungkas pak Suhendi. Ia menjeda kalimatnya." Jadi ceraikan wanita itu secepatnya, sebelum papa bertindak lebih." Ancam pak Suhendi.


"Tapi pa, sekarang aku mencintai istri ku. Jadi papa jangan berani-berani memisahkan ku dengan Anaya." 


Mendengar ucapan Adrian, pak Suhendi langsung terkekeh ." Cinta? Kau bilang cinta." 


Adrian terlihat mengangguk.


"Adrian, Adrian. jaman sekarang kedudukan itu lebih penting dari cinta. Jika kau memiliki kedudukan kau bisa mendapatkan cinta apapun yang kau mau, jadi ceraikan dia sekarang" Seru pak sehendi.

__ADS_1


"Tidak pa, aku tidak akan menceraikan Anaya. Cukup papa membuat ku kehilangan ibu, jangan buat aku kehilangan istri ku lagi." Ujar Adrian dan langsung keluar dari ruangan kerja papanya.


"Adrian, tunggu. Papa belum selesai bicara." Teriak pak Suhendi.


Siska yang masih ada di sofa Langsung bangkit.


"Apa kau tidak apa-apa Siska?" Tanya Suhendi.


"Tidak apa-apa om." Jawab Siska tersenyum. Sebenarnya dalam hati ia begitu kesal dengan Adrian. Tatapi wanita itu tetap bersikap manis di depan pak suhendi. Ia tidak ingin jika Suhendi berubah pikiran menjodohkannya dengan Adrian.


"Kau tenang saja, om akan mencari cara agar Adrian menceraikan istrinya dan menikah dengan mu." Pak suhendi terlihat menatap lurus ke depan, entah apa yang di pikirkan lelaki paru baya itu, yang jelas ia akan terus berusaha mencari cara agar Adrian mau menikah dengan Siska, anak sahabatnya.


Setelah meninggal ruang kerja papanya, Adrian turun dari tangga dengan emosi yang masih memuncak, ia tidak terima jika papanya terus-terusan menghina Anaya. 


Saat Sampai di lantai bawa, tiba-tiba viona berlari menghampiri Adrian." Kakak ada di sini?" Tanya viona.


Adrian yang masih dalam kondisi emosi seketika menetralkan perasaannya. Kemudian menekuk kakinya." Iya, Kakak datang ke sini bertemu papa, ada urusan dewasa yang harus kami selesaikan." Ucap Adrian.


Gadis kecil itu seketika mengganggu-anggukkan kepalanya." Tapi kakak akan menemani Viona bermain kah?" Tanya viona.


"Maaf adik kecil kakak, Kaka harus pergi. Kakak punya banya pekerjaan." Balas Adrian.


Seketika wajah vione menjadi sendu. Ia menunduk semakin Adrian mengatakan jika ia tidak bisa menemani Viona bermain.


Melihat viona yang terlihat sedih seketika Adrian tersenyum. Tapi kakak janji, akan menemani Viona lain waktu." Ujar Adrian.


"Kakak janji? Tanya viona


"Ya , kakak janji. Akan bermain dengan Viona lain waktu.


"Hore...hore.." teriak gembira bocah itu.


Adrian lalu mengusap kepala bocah itu dan pamit untuk pulang.

__ADS_1


Viona hanya dapat tersenyum kemudian mengangguk. melihat punggung Adrian yang keluar dari pintu rumah.


__ADS_2