Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 119. season 2


__ADS_3

Adrian memutar kursi yang sedang ia duduk dan menatap keluar jendela. Pemandangan dari lantai paling teratas gedung Abraham grup hanya ada gedung-gedung pencakar langit yang ada di hadapannya, tak ada pemandangan lain.


Ia memijat pelipisnya, mengingat betapa kejamnya ia pada Anaya. Niatnya hanya untuk membuat Anaya mau menerima tawarannya, malah berujung pengunduran diri anaya dari perusahaan. Ia mengusar rambutnya kasar, kemudian. Menghempaskan semua barang yang ada di atas mejanya." Sial." Upat Adrian.


Ia kemudian meremas amplop coklat yang ada di tangannya. saat ini, ia sedang memutar otaknya bagaimana caranya agar Anaya mau menerima tawarannya untuk menjadi istrinya.


Tok,,tok..tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Adrian. Ia kemudian memutar kursinya lalu menatap ke arah pintu dan mengizinkan siapa pun yang ada di balik pintu itu untuk masuk. 


Erwin masuk ke dalam ruangan Adrian sambil tersenyum, lalu mendudukkan tubuhnya di depan meja kerja Adrian. Ia kemudian memberikan Sebuah amplop coklat pada Adrian.


Adrian menerima amplop itu, kemudian membuka.


Mata Adrian membulat saat membaca isi dalam amplop itu, sebuah surat dan cek dengan jumlah besar.


" Tidak mungkin! bagaimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak ini." Seru Adrian, kemudian menatap ke arah Erwin. Apa kau yang memberinya uang sebanyak ini?hah? 


Erwin mengeleng,"aku tidak pernah memberinya uang."


"Lalu, bagaimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak ini?" Tanya Adrian ia menatap tajam pada Erwin. Ia sepertinya curiga jika Erwin yang sudah menolong meminjamkan uang pada Anaya.


Erwin menaikkan bahunya acuh, seolah tak tahu apa-apa.


" Kau mendapatkan surat ini dari mana?" Tanya Adrian, matanya kembali menatap tajam ke arah Erwin.


" Tadi ada seorang kurir mengantarnya kemari, gue juga ngak tau apa isi amplop itu. Tiba-tiba saja kurir itu memberikan amplop itu pada ku dan amplop itu di tujuka untukmu." Terang Erwin.

__ADS_1


" Aggrr," teriak Adrian lalu mengepalkan tangannya kemudian langsung meninju meja kerja yang ada di hadapannya. 


Bughhh. kaca meja pecah, darah mengalir deras di sela-sela tangan Adrian.


" Kau kenapa bro? Ada apa dengan mu?" Tanya Erwin ia kemudian berdiri, lalu menghampiri Adrian. Dan berjalan keluar mengambil kotak p3k.


Setelah Erwin mengobati dan membalut tangan Adrian dengan perban, Erwin mulai bertanya kembali.


" Ada apa sih bro? Akhir-akhir ini gue heran dengan kelakuan kalian berdua. Kemarin gue nyelamatin Anaya dari jembatan, saat ia akan meloncat. hari ini, Lo yang sengaja nyelakain tangan Lo sendiri. Ada apa sih dengan kalian berdua?" Tanya Erwin dengan gemasnya. Ia benar-benar heran pada kedua orang ini.


Adrian bukannya menjawab, ia malah berdiri dan meninggalkan Erwin di dalam ruangannya.


" Bro, Lo mau kemana? Main ninggalin aja." Ucap Erwin menggeleng. sambil memandang punggung Adrian yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu yang terbuat dari kayu Ulin kualitas terbaik.


Adrian berjalan keluar meninggalkan Abraham group, tujuannya saat ini adalah mendatangi rumah Anaya, ia tak terima, jika Anaya membatalkan perjanjian sepihak padanya. ia juga tak terima dengan cek yang diberikan Anaya untuk mengganti rugi atas pembatalan kontrak kerjanya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil Adrian terparkir sempurna tepat didepan rumah sederhana bercat putih milik Pak Darwis dan Bu Asih.


Adrian berhenti sejenak, lalu menarik nafasnya dalam sebelum keluar dari dalam mobil.


Adrian kemudian berjalan menghampiri pagar, ternyata pagarnya tak terkunci. ia kemudian masuk dan berjalan melewati halaman Menuju ke teras rumah. Setelah sampai, seketika ia langsung mengetuk pintu.


Tok, tok, tok.


" Permisi…" ucap Adrian. 


Namun, sampai 15 menit tak kunjung ada yang membukakan pintu, akhirnya Adrian memilih untuk pulang. Saat hendak masuk kedalam mobil. Salah satu tetangga Bu Asih menghampiri.

__ADS_1


" Cari siap." Tanya Bu Darmini tersenyum ramah.


" Pemilik rumah kemana ya, Bu.?" Tanya Adrian.


" Bu Asih sepertinya tidak ada di rumah, beliau mungkin berkunjung ke rumah saudaranya. kalo Anaya, pagi tadi sempat sih ibu lihat. tapi sepertinya dia berangkat kerja." Lanjut Bu Darmini.


" Oh, kalo begitu saya permisi dulu bu nanti saya kesini lagi. '' ucap Adrian  dan di ikuti anggukan oleh Bu Darmini. Adrian kemudian menekan tombol remote kunci mobilnya. Kemudian langsung meninggalkan rumah Anaya.


***


Anaya berdiri di depan kantor Abraham grup, sambil menatap bangunan yang ada di depannya. Awalnya ia senang dan berpikir jika bekerja di Abraham grup bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik dan orang tua Rio akan menerimanya menjadi menantu. Ternyata dugaannya salah, bekerja di Abraham grup ternyata adalah awal kehancurannya.


Setelah puas menatap bangunan di depannya Anaya menghembuskan nafas panjang dan berjalan meninggalkan Abraham grup.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Anaya menghentikan taksi yang baru saja ia tumpangi."stop, pak." Aku turun di sini saja." Ujar Anaya dan memberikan beberapa lembar uang pada supir taksi itu.


Anaya kemudian keluar dari taksi, dan langsung masuk ke area pantai. Sejenak ia terdiam dan memandang ke arah air laut.


Angin berhembus kian kencang menerpa wajah Anaya dengan suara ombak yang saling bertubrukan. Anaya melepaskan sendalnya dan berjalan di sisi pantai. Lama berjalan ia menghentikan langkahnya dan duduk di atas pasir. Ia menatap air laut dengan tatapan kosong. Saat ini, ia belum tahu tujuan hidupnya kedelapannya setelah keluar dari Abraham grup. Tetapi satu hal yang sudah melekat di kepalanya. Yaitu, menceritakan semua ini pada Rio dan memintanya untuk mengakhiri hubungan ini, bukan karena ia sudah tidak ingin berjuang untuk hubungan mereka. Tetapi Anaya sudah putus asa, ia berfikir jika Rio tidak pantas mendapatkan wanita kotor sepertinya. Itu sebabnya ia lebih memilih mengakhiri hubungan mereka.


.


.


.


vote, like, komen. dan beri hadiah. di awal bulan ada gift pulsa 50k untuk dukungan terbanyak. terima kasih

__ADS_1


__ADS_2