Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 127. season 2.


__ADS_3

Nay," panggil Adrian. Ia mengetuk pintu kamar Anaya.


"Iya." Anaya Membuka kamar setelah ia menyahut.


"Ayo, makan. Bukankah kau belum makan sejak tadi?" Tanya Adrian. Tanpa menunggu jawaban dari Anaya ia langsung meninggalkan Anaya yang masih bengong di depan pintu. 


Dengan langkah gontai ia mengikuti langkah Adrian menuju ke meja makan. Sebenarnya saat ini ia tidak berselera untuk makan. Namun, Adrian sudah susah payah memasak makanan untuk mereka jadi mau tidak mau Anaya mengikuti langkah Adrian ke meja makan.


Setelah sampai di meja makan, mata Anaya membuat. Di meja makan telah tersedia telur dadar yang terlihat menghitam di beberapa sisi nya dan di sebelahnya terdapat cah kangkung yang terlihat sangat pucat, entah bagaimana rasanya.


Anaya menarik kursinya lalu duduk. Ia kemudian mengambil piring, mengisi piring Adrian dan juga piringnya. Namun, saat suapan pertama. Mata Anaya membulat merasakan rasa makanan yang di buat Adrian. Telur yang terasa asin dan cah kangkung yang terasa hambar. dengan susah payah Anaya berusaha menelannya. sekilas ia menoleh ke arah Adrian yang masih memainkan ponselnya. Setelah membalas pesan dari Erwin, Ia mengambil sendok. kemudian, Menyuapkan sesendok masuk ke mulutnya. Saat suapan pertama Adrian langsung mengeluarkan nasi yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Kemudian menoleh ke arah Anaya yang tetap menikmati makanan yang baru saja di buat Adrian. Tanpa berkata apapun, Adrian menarik piring Anaya.


Anaya mendongak."mengapa kau mengambil piring ku?" 


"Kau tidak usah memakannya lagi, rasanya begitu buruk." Adrian menumpukkan semua piring di depannya." aku pun  tidak sanggup memakannya, jadi lebih baik aku memesan makanan dari luar saja." Ujar Adrian. Ia mengambil ponselnya, hendak memesan makanan. Namun pergerakannya terhenti saat Anaya menahannya.


"Kau tidak usah memesan makanan, biar aku yang memasak. Lagi pula, untuk apa kita berbelanja di Supermarket, jika kita tetap memesan makanan dari luar." Seru Anaya. Ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah pantry kemudian Memakai apron. Setelah memakai apronnya, Anaya mengambil bahan makanan dari kulkas kemudian mulai membersihkan ikan dan mengupas beberapa sayuran.


Adrian yang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya sesekali melirik Anaya. Segaris senyum terlihat di kedua sudut bibir Adrian kala melihat pergerakan Anaya yang begitu lincah mempersiapkan bahan makanan untuk mereka berdua.


"Mau aku bantu?" Tanya Adrian.


"Tidak usah, kau duduk saja di situ." Balas Anaya dan mulai mengupas udang yang tadi ia beli di supermarket. 


Hampir sejam Anaya memasak. Dan saat ini ia mulai mempersiapkan masakannya di atas meja makan.


"Wangi." Ujar Adrian refleks saat mencium aroma udang asam manis di depannya. Selama ini Adrian tak pernah memasak makanan untuk dirinya. Biasanya saat ia pulang dari kantor, ia sengaja mampir di restoran untuk membeli makan malam.


Setelah semua makanan tersaji di meja. Tanpa disuruh Adrian buru-buru menyimpan ponselnya dan langsung mengambil piring. Ia mengisi nasi beserta udang asam manis dan tumis buncis. Ia menikmati masakan pertama Anaya dengan begitu nikmat. Sudah lama sekali Adrian tidak menikmati makanan di meja makan seperti ini. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya menikah. Adrian jarang pulang ke rumah. Ia selalu menghabiskan waktunya di kantor dan club' malam.


"Makanannya enak." Ujar Adrian tanpa menoleh ke arah Anaya.


Seutas senyum terlihat di kedua sudut bibir Anaya saat melihat Adrian menikmati masakan hasil racikannya." Aku ingin kau memasak makanan ini setiap hari."seru Adrian 


Anaya tersenyum sambil memainkan gelas yang ada di tangannya." Apa kau tidak akan bosan jika aku memasak ini setiap hari." Ujar Anaya.


Adrian mendongak." Tentu saja aku bosan. Maksud.ku.kau harus memasak makanan seenak ini setiap hari." Titah Adrian.


Anaya mengangguk-anggukan kepalanya, seraya tersenyum." Baiklah, aku akan memasak makan tiap hari untukmu."


"Ya seharusnya begitu, jadi istri harus rajin memasak untuk suaminya." Adrian berhenti mengunyah saat tersadar akan ucapannya barusan. Ya saat ini Adrian kembali gengsi." Ah lupakanlah, tadi aku hanya salah berucap." Ujar Adrian dan kembali menyuapkan makanan masuk ke dalam mulutnya.


Kedua sudut bibir Anaya terangkat. Setidaknya hubungannya dengan Adrian sudah mulai membaik. Tentang kejelasan hubungan pernikahan mereka Anaya tidak terlalu memusingkan hal itu. Menurutnya biarkan pernikahan mereka berjalan sebagaimana mestinya.


***

__ADS_1


Setelah makanan yang ada di atas meja makan habis. Kini Anaya mencuci piring. Sedangkan Adrian duduk di sofa sambil menonton tayangan bola di tv.


Tak lama, Anaya muncul dari pantry dengan membawa secangkir kopi untuk Adrian. Ia meletakkan kopi itu tepat di depan Adrian.


"Terima kasih." Seru Adrian.


Anaya mengangguk dan dengan perlahan ia menjatuhkan bokong di kursi tunggal yang ada di dekat Adrian.


"Adrian."panggil Anaya.


"Hmmm." Adrian hanya berdehem.


"Jadi bagaimana? Apa besok aku boleh bekerja kembali?" Tanya Anaya dengan suara super pelan.


Adrian yang saat ini sedang memindahkan Chanel TV Terlihat Menghentikan gerakannya kemudian mematikan tv yg ada di depannya. Ia kemudian menoleh."apa? Kau ingin bekerja kembali?"seru Adrian.


Melihat expresi wajah Adrian, Anaya langsung mengigit bibir bawahnya.


"Iya." Jawab Anaya sambil menggigit bibirnya, Takut jika Adrian tidak memberinya izin.


"No. Aku tidak mengizinkanmu Bekerja di tempat itu." Ujar Adrian.


Anaya terlihat menunduk. Matanya terlihat sudah berkaca-kaca saat tak mendapatkan izin dari Adrian.


"Apakah kartu yang aku berikan tadi belum cukup? Sehingga kau ingin kembali bekerja?" Tanya Adrian.


Adrian mengernyitkan alisnya saat mendengar Anaya meminjam uang pada sahabatnya." Seberapa besar uang yang kau pinjam?" Tanya Adrian.


Aku meminjam sebesar dua ratus juta. 


Mendengar ucapan Anaya, Adrian langsung terkekeh." Bahkan jika malam ini kau ingin membayarnya aku akan memberikan dua kali lipat dari itu."


Anaya mengeleng." Tidak. Aku tidak ingin kau membayarnya. Cukup aku menerima uang yang beberapa hari lalu kau berikan. Aku tidak ingin terlalu terikat Dengan mu." 


Mendengar ucapan Anaya, entah mengapa perasaan Adrian begitu marah, Dadanya terasa sesak. Adrian memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang, ia berusaha mengontrol dirinya, ia tidak ingin lagi berbuat kasar pada Anaya. 


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Adrian bangkit dari kursi dan berjalan ke kamarnya, saat ia masuk, ia langsung menutup pintu begitu keras.


Anaya memandang aneh ke arah pintu." Ada apa dengannya? Apa dia marah?"seru Anaya. Ia menaikan ke-dua bahunya acuh dan bangkit dari sofa menuju ke arah kamarnya.


***


Keesokan harinya, Anaya bangun lebih pagi dari biasanya. Karena mulai pagi ini ia akan memasak sarapan untuk Adrian sebelum ia berangkat ke cafe.


Setelah sampai di dapur. Anaya Langsung menguncir rambut, kemudian memakai apron dan langsung mengambil ikan gurame yang ada di kulkas kemudian membersihkannya. 

__ADS_1


Setelah Anaya membersihkan ikannya, ia kemudian memberikan bumbu marinasi pada ikannya, kemudian. Mendiamkan selama 5 menit. Sembari menunggu bumbu meresap pada ikannya. Anaya beralih memotong sayuran. Hari ini, ia akan membuat ikan goreng gurame dengan sayur Sop. 


Saat Anaya sibuk memasak. Pintu ruangan kerja Adrian terbuka. Terlihat Adrian keluar dari kamar dengan hanya memakai celana pendek dengan kaos t-shirt. Nampaknya Adrian baru saja terbangun.


Adrian berjalan mendekat ke arah Anaya." Hari ini kau memasak apa?" Tanya Adrian mendongak ke arah kitchen set dimana Anaya sedang sibuk menumis bumbu. 


"Gurame goreng dan sayur sup jamur." Balas Anaya.


Adrian tersenyum dan langsung berjalan ke arah meja makan." Karena aroma masakan mu, aku jadi bangun lebih awal dari biasanya." Ujar Adrian setelah meneguk air putih yang ada di atas meja makan.


Anaya menoleh dan langsung tersenyum. Sesaat Adrian terpaku saat melihat senyum Anaya . Namun dengan cepat ia menggeleng." Kau jangan melihatku seperti itu. Apa kau berniat menggodaku?" Tuding Adrian.


Anaya tersenyum mendengar ucapan Adrian." Cih, siapa juga yang berniat mengoda mu." Balas Anaya dan kembali fokus pada masakannya.


Setelah beberapa saat menunggu, Anaya berjalan membawa secangkir kopi dan meletakkan tepatt di depan Adrian." Terima kasih." Ujar Adrian.


Anaya mengangguk dan berjalan kembali ke pantry mengambil makanan yang sudah ia masak dan meletakkan di depan Adrian.


"Apa kau tidak akan mandi dulu?" Tanya Anaya.


Adrian mengeleng." Tidak, aku tidak ingin menyia-nyiakan aroma masakanmu." Adrian mengambil mengambil piring, mengisi nasi dan beberapa lauk pauk kemudian Menyuapkannya masuk ke dalam mulutnya.


"Rasanya sangat enak. Terima kasih." Seru Adrian dan kembali menyuapkan makanan masuk ke dalam mulutnya.


Saat sibuk menikmati masakan Anaya, Adrian mendongak pada Anaya yang saat ini duduk di meja dengan meminum teh hijau yang baru saja ia seduh.


"Apa kau tidak makan." Tanya Adrian.


Anaya mengeleng."nanti saja. Kau makanlah duluan." 


"Tidak, kau harus makan juga." Adrian mengambil piring dan mengisi nasi beserta lauk." Kau harus sarapan." Adrian meletakkan piring di depan Anaya. Dan kembali menikmati makanannya.


Anaya menyunggingkan senyumnya. Ternyata apa yang ia pikirkan tentang adrian selama ini salah, pria di depannya begitu baik. Mungkin karena ia memiliki trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi yang sangat tempramental.


Setelah menikmati makanannya, Adrian meraih air putih yang ada di sampingnya lalu melap mulutnya menggunakan serbet yang ada di sana." Terima kasih. Kau sangat pandai memasak. Kau sama seperti ibu ku yang juga pandai dalam membuat makanan untuk kami dulu." Ujar Adrian. Ia bangkit dari kursi. Berniat masuk ke dalam kamar untuk bersiap ke kantor. Namun saat Adrian melangkah, Anaya memanggilnya.


Adrian menoleh." Ada apa?"


"Jika kau tak mengizinkan aku Bekerja. Bolehkah aku ke cafe untuk menyerahkan surat pengunduran diri." Ujar Anaya. Ia menunduk setelah mengucapkan itu.


"Boleh. tapi ingat, kau sudah harus ada di apartemen sebelum aku pulang." Balas Adrian.


Anaya mengangkat wajahnya. Kemudian, tersenyum dan langsung mengangguk." Aku akan segera pulang."


Setelah itu, Adrian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar dengan memegang dadanya. Ia tersenyum. Entah mengapa jantungnya seperti berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Anaya tersenyum.

__ADS_1


 


__ADS_2