Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 165. season 2


__ADS_3

Mery melangkah menuju pintu utama rumahnya, setelah sampai di sana, ia begitu heran saat melihat ada beberapa orang berseragam polisi. dan yang membuat Merry bertambah heran, karena di antara orang itu, ada Adrian yang juga berdiri di sana.


"Kalau boleh tahu, ada urusan apa anda mencari putri saya." Tanya Mery.


Polisi itu memberikan sebuah amplop kepada Bu mery." Ini surat penangkapan putri anda. Putri anda terbukti telah melakukan percobaan pembunuhan kepada pak Suhendi dan ibu Anaya." Jalas polisi itu.


"Tidak mungkin, pak. Putri saya tidak mungkin melakukan hal seperti ini." Bu Mery tidak terima, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Menahan polisi itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Jangan coba-coba menangkap putri ku, putriku tidak bersalah!" Bentak Bu Mery. Ia tidak terima jika Siska akan di bawah oleh polisi.


"Tolong jangan menghalangi, polisi. Tangkap Siska sekarang!" Seru polisi itu.


"Siap komandan." Mereka semua menerobos masuk ke dalam rumah hendak mencari Siska. Tiba-tiba pak Sutomo datang.


"Ada apa ini?" Tanya pak Sutomo.


"Ded, mereka ingin menangkap putri kita." Bu Mery menangis meraung-raung.


"Ada apa ini, kenapa kalian ingin menangkap putri ku?"


Adrian maju ke hadapan pak sutoma,"putri anda yang sudah membunuh papa saya dan mencelakai istri."


Pak Sutomo terlihat kaget. Ia mengambil kertas yang masih dipegang mery kemudian membacanya.


Pak Sutomo terlihat mengepalkan tangannya. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sungguh saat ini ia merasa malu, mau di taruh di mana wajahnya. Apakah selama ini, ia tidak mendidik putrinya dengan baik, sehingga putrinya bisa melakukan hal kotor seperti ini.


"Silahkan tangkap dia pak." Pak Sutomo mundur, ia terlihat pasrah saat semua polisi masuk untuk mencari Siska. 


Beberapa menit kemudian Siska di bawa keluar oleh dua orang polwan.


"Lepas! apa-apaan kalian, saya tidak bersalah, cepat lepas. Ded, mom tolong Siska." Siska berteria Histeris.


Mery terlihat maju lalu memeluk putrinya. Mommy akan berusaha melepaskan mu. Pak sutoma menarik istrinya hingga pelukan ibu dan anak itu terlepas.


Pak Sutomo lalu memandangi putrinya." Daddy malu, mau di taruh di mana muka daddy." Ia menatap tajam putrinya. Walaupun saat ini hatinya sedang bergejolak, ia tidak percaya bahwa Siska berani melakukan ini.


Melihat tatapan daddynya, Siska menunduk. Hatinya terasa ngilu, kenapa tidak ada orang yang berpihak padanya.


"Cepat bawa dia." Salah satu polisi kembali berucap.


Polwan itu mengangguk. Lalu membawa Siska keluar dari mobilnya.


"Dad, mom. Tolong Siska, siksa tidak mau di penjara." Teriak Siska.


Mery dan Sutomo hanya bisa memandang putrinya sambil menagis, ia tidak bisa menolong Siska, putrinya itu memang sangat keterlaluan. Kali ini, Sutomo membiarkan Siska menerima pelajaran, Ia tidak ingin seperti sebelumnya, saat Siska berulah, pak sutomo dan pengacaranya yang selalu turun tangan.


"Terima kasih atas kerjasamanya, pak." Polisi itu menyalami pak Sutomo dan di ikuti anggukan olehnya.


Di dalam mobil Siska terus memberontak, ia tidak mau di penjara.


"Lepaskan, aku akan menuntut kalian semua." Teriak Siska. Ia terus meronta-ronta.


"Terima Kasih atas kerjasamanya, pak." Adrian menyalami polisi itu kemudian pamit.


***

__ADS_1


Anaya duduk di brankar sambil menunggu Adrian datang. Ini sudah dua jam Berlalu. Namun Adrian tidak kunjung datang.


"Sus, bisa tolong bantu saya turun." Ia memandangi Suster yang masuk ke dalam ruangannya.


"Bu Anaya duduk dulu. Pesan pak Adrian, ibu tidak boleh kemana-mana Sampai pak Adrian kembali." Ucap Suster sambil berjalan mendekat ke arah Anaya.


"Saya tidak akan kemana-mana, Sus. Saya hanya ingin duduk di kursi sambil melihat keluar jendela." Balas Anaya.


Suster itu tersenyum." Maaf, Bu. Pak Adrian sudah berpesan seperti itu." Tolaknya pada Anaya.


Anaya melongos. Hanya kakinya yang sakit kenapa ia tidak diperbolehkan bergeser sedikit pun dari brankar.


Anaya mengambil ponselnya lalu menghubungi Adrian. 


Tak lama panggilannya tersambung.


"Hallo, mas. Kamu dimana? Kenapa lama sekali?" Anaya memberondong Adrian dengan berbagai pertanyaan.


"Tunggu sebentar, mas. Sebentar lagi mas sampai." Balas Adrian.


Anaya langsung mematikan ponselnya.


Adrian yang masih menyetir langsung terkekeh.


Sesampainya Adrian di parkiran rumah sakit, ia langsung keluar, lalu berjalan dengan cepat Menuju ke ruangan perawatan Anaya.


Saat melihat Adrian masuk, mata Anaya langsung berbinar."mas kau lama sekali." Gerutu Anaya. 


"Maaf, tadi mas ada urusan mendadak." Adrian membai kepala Anaya kemudian mengecupnya.


"Apa masih sakit?" Adrian menekuk kakinya. Mensejajarkan posisinya dengan kaki Anaya.


"Sudah tidak sakit, mas. Dokter juga sudah mengizinkan ku untuk pulang." Ujar Anaya.


"Benarkah itu?" Adrian terseyum mendongak menatap Anaya.


Anaya mengangguk.


" Syukurlah, Berarti nanti malam kita bisa melakukan itu." Ucap Adrian.


"Melakukan apa, mas?" Tanya Anaya bingung


Adrian bangkit ia tersenyum genit.


"Membuat Adrian junior." Adrian menarik turunkan alisnya, mengoda Anaya.


Wajah Anaya seketika memerah, ia membuang wajahnya ke sembarang arah.


Melihat wajah Anaya memerah, Adrian langsung mengambil dagu Anaya kemudian mencium bibir Anaya.


"Terima kasih, sayang." Ucap Adrian lalu mengusap bibir sang istri.


***


Tiga Minggu kemudian.

__ADS_1


Adrian tersenyum memasuki apartemennya. wajahnya terlihat sumringah. Beberapa hari ini, ia lembur sampai larut malam. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa secepatnya terbang ke belanda berziarah ke makam ibunya.


Sesampainya di dalam apartemen. Adrian mengendarakan pandangannya, mencari sosok Anaya di mana-mana. Namun, yang dicari tak kunjung ketemu. 


Adrian melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Anaya meringkuk di atas kasur. Padahal biasanya saat Adrian lembur, Anaya biasa menunggunya di sofa 


Tidak mau mengganggu Anaya yang tertidur pulas, Adrian memutuskan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu setelah itu, ia akan ikut berbaring di samping Anaya.


Setelah berendam beberapa lama, Adrian keluar dari kamar mandi. Ia Mengganti bathrobenya dengan jubah tidur yang sama persis dengan yang di pakai Anaya. Kemudian merebahkan tubuhnya di samping Anaya. Memeluk Anaya lalu ikut memejamkan matanya.


Pagi-pagi sekali, Anaya terbangun, perutnya bergejolak. Dengan cepat ia bangkit dari kasur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. 


Hampir tiga puluh menit Anaya baru keluar, wajahnya terlihat lesu dengan keringat yang mengucur di wajahnya.


Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Adrian mengerjab. Ia melihat Anaya dengan tampilan berantakan kuat dari ka.at mandi.


Adrian bangkit dari kasur lalu membantu Anaya duduk di kasur.


Adrian lalu mengambil air untuk Anaya . Anaya meraih gelasnya kemudian meminumnya.


"Bagaimana? Apa sudah enakan?" Tanya Adrian. Ia mengusap kening Anaya yang terlihat berkeringat.


"Apa perlu kita ke dokter?" Tanya Adrian lagi.


"Tidak usah, mas. Aku hanya masuk angin. Nanti juga baikan." Tolak Anaya.


Melihat Anaya yang sudah baikan. Adrian lalu mengambil tasnya, mengeluarkan amplop kemudian memberikannya pada Anaya.


"Ini apa mas?" Tanya Anaya.


"Buka saja, nanti kau akan tahu sendiri."


Tanpa menunggu lama Anaya Mai membuka amplop. Anaya membaca isi amplop itu. Matanya seketika berbinar. Anaya tersenyum.


"Kita akan ke Belanda?" 


Adrian tersenyum. Lalu mengangguk."ia sayang, lusa kita akan ke Belanda.


Anaya langsung menghambur memeluk Adrian.


"Kita akan keluar negri. Aku harus memakai yang mana yah, bagaimana rasanya di pesawat." Anaya berucap di dalam pelukan Adrian.


Perlahan Adrian melepaskan pelukannya.


"Nay, jangan norak, kita hanya ke Belanda." Ucap Adrian.


Anaya langsung memanyunkan bibirnya mendegar Ucap Adrian.


Seketika Adrian tersadar." Mas hanya bercanda, sayang." Adrian merutuki dirinya. Kenapa ia bisa keceplosan begitu. Adrian berkali-kali memukul bibirnya yang asal bicara.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2