Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 173. season 3


__ADS_3

Dua puluh tahun kemudian.


Pesawat Swis air line mendarat dengan sempurna di bandara internasional Soekarno Hatta. Pria jangkung dengan wajah tampan yang hampir mirip dengan wajah sang ayah berjalan sambil menyeret kopernya keluar dari bandara.


Pria tampan itu bernama Devano, dia baru saja menyelesaikan studiy s2nya di Swiss. Sebenarnya, setelah menyelesaikan studinya, ia masih ingin berlama-lama di Swiss. Entah mengapa ia sangat menyukai kota itu. Namun, mommynya memaksa agar ia segera kembali ke Indonesia dengan alasan harus memimpin cabang perusahaan Daddynya.


Devano Menatap jam di pergelangan tangannya setelah ia tiba di pintu kedatangan.


"Devano," ucap seorang wanita cantik berusia sekitar 50 tahun. Ia berdiri tepat di belakang putranya.


"Mommy? Apa yang mommy lakukan di sini, bukankah pak Toto yang akan menjemput Vano." Vano menatap wajah mommy nya, dari senyum yang mommynya perlihatkan, perasaan Devano seketika tidak nyaman.


"Mommy merindukan putra mommy, hampir dua tahun mommy tak melihat mu, sayang." Noureen memeluk putranya. Bibirnya tersenyum sambil mengedipkan matanya sebelah.


Cakra menaikan sebelah alisnya, saat melihat apa yang dilakukan Noureen. Ia mengangkat tangannya seolah ia tidak ingin ikut campur tentang rencana istrinya.


"Mom, mobil Vano mana?tanya Vano setelah melepaskan pelukannya.


"Mobil ada di rumah, kau ikut dengan mommy sekarang." Noureen Menarik tangan putra menuju ke parkiran mobil.


"Kita mau kemana, Mom, Vano bisa pulang sendiri." Balas Vano.


"Tidak. sekarang kau ikut mommy, kita akan ke suatu tempat."titah Noureen


Devano Menatap Cakra, seolah meminta penjelasan pada Daddynya. Cakra hanya menaikkan kedua bahunya, seolah tidak tahu apa yang akan dilakukan istrinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sejak tadi Noureen sibuk memainkan ponselnya, sesekali ia menelpon seseorang untuk mempersiapkan segalanya.


Devano yang duduk di jok depan, hanya bisa mendengarkan apa yang dilakukan mommynya. Ia tidak tahu tentang rencana Noureen hari ini, yang jelas ia ikut kemana Noureen akan membawanya.


Mobil Cakra berhenti di sebuah rumah mewah bertingkat di sekitaran Cempaka putih.


"Ayo cepat keluar " titah Noureen.


"Kita akan kemana, mom? Lalu, rumah siapa ini? Vano menatap rumah di depannya.


"Kau ikut saja, tidak usah banyak tanya." Ujar Noureen


Vano mendengus kesar. Ia mengikuti langkah Cakra dan  Noureen memasuki rumah megah itu.

__ADS_1


"Eh, kalian sudah datang." Ucap Anaya memeluk Noureen.


"Devano, salam sama calon ibu mertua mu." Titah Noureen.


Mata Devano langsung membulat, sekarang ia paham. perasaan tidak tenang yang ia rasakan sejak tadi ternyata tepat. Ada yang mommynya rencanakan.


"Salam." Noureen menggoyang-menggoyangkan tangan Devano saat Devano melamun. 


"Ah, iya." Devano menyalami Anaya lalu berpindah menyalami Adrian yang sekarang mengobrol dengan Cakra.


"Ayo duduk, kenapa kita berdiri saja di sini." Ucap Anaya lalu mengajak semua tamunya untuk duduk.


Anaya berbisik pada pembantunya , menyuruh pembantunya agar memanggil Amelia.


Bi arum lalu berjalan menuju ke kamar Amelia.


Lima menit kemudian, Amelia turun dari tangga menuju ke ruang tamu, saat Amelia menginjakkan kakinya di sana, tanpa sengaja matanya dan mata Vano saling bertemu.


Saat mata mereka saling bertemu, Amelia Langsung membuang wajahnya ke arah lain.


"Duduk sini." Ajak Anaya.


"Karena kalian semua sudah lengkap, aku akan mengumumkan sesuatu." Ujar Noureen.


Vano langsung menoleh pada Noureen begitupun Amelia ia menoleh pada Anaya.


"Mom, tolong jelaskan, aku tidak mengerti dengan semua ini." Ucap Vano.


"Apa yang tidak jelas vano, Vano akan menikah tiga hari lagi." Noureen menyeruput teh yang di siapkan bi Arum tadi.


"Tapi, mom!"


"Sssttttt, tidak ada kata tapi. mommy sudah menyiapkan semuanya. Jadi, kalian persiapkan diri kalian dari sekarang.


Vano dan Amelia saling tatap, entah apa yang dipikirkan keduanya. Namun, tatapan tak bersahabat mereka bertemu satu sama lain.


Hampir dua jam mereka berada di kediaman Adrian. Cakra kembali melajukan mobilnya Menuju kediamannya.


"Mom, aku bukan anak kecil lagi yang terus harus mengikuti perintah mommy. Mom, Vano sudah dewasa, lagi pula Vano masih bersama cristin. Vano mencintai Cristin."

__ADS_1


"Tidak, mommy tidak setuju jika kau menikah dengan Cristin. Selain karena keyakinan kita berbeda, mommy juga tidak tahu asal usul Cristin. Di banding Amelia, jelas mommy tau Asal usulnya, dari mana bibit dan bebetnya." Tegas Noureen.


"Tapi, mom."


"Sssttt, mommy tidak mau mendengar penolakan. Mommy sudah putuskan tiga hari lagi kalian menikah."pungkas Noureen.


"Mom." Seru Vano, Namun perkataannya terpotong saat Cakra menyuruh Vano untuk diam.


***


Setelah mengucapkan ijab kabul, kedua mempelai dipersilahkan sungkeman kepada kedua orang tuanya mereka.


Noureen memberi beberapa kata pesan untuk putra dan menantunya di ikuti oleh orang tua Amelia yang memberi beberapa pesan pada anak dan menantunya.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu." Titah Cakra. Ia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 10 siang."masih ada waktu kalian untuk berduaan sebelum acara resepsi di mulai." Goda Cakra.


Vano hanya bisa tersenyum miring mendengar godaan daddynya.


Sesampainya Mereka di kamar yang sudah dipersiapkan Noureen, mereka berdua langsung masuk.


Amelia berjalan dan duduk di ranjang. Sedangkan vano Duduk di sofa yang ada di sana.


Mereka sama-sama terdiam, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Vano sibuk dengan ponselnya dan sesekali ia Tertawa.


Sedangkan Amelia memilih untuk Mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.


Beberapa lama di kamar mandi, pintu terdengar terbuka, Amelia keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar, ia memilih cuek dan tidak memperdulikan Vano. Amelia merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya. Amelia harus mempersiapkan tubuhnya, agar nanti malam saat resepsi ia tidak terlalu kelelahan.


Melihat Amelia yang sudah berbaring, Vano melirik sekilas, lalu bangkit dari sofa berjalan ke kamar mandi. Vano butuh menyegarkan tubuhnya, tiga hari di Indonesia belum cukup dia beristirahat. Tubuhnya sangat lelah dengan semua perintah mommynya.


Sehari setelah sampai di Indonesia, Noureen menyuruh Vano untuk menjemput Amelia di rumahnya, mengajaknya mencari cincin kawin, walaupun Vano sudah menolak mati-matian. Tapi tekad yang kuat dari mommynya, membuatnya terpaksa mengajak Amelia mencari cincin pernikahan mereka.


Setelah berendam, Adrian keluar dari kamar mandi. Ia beberapa kali menguap, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 12, Vano memilih untuk merebahkan tubuhnya.


Vano mengambil bantal, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Vano Terlihat mendengus karena harus terjebak dengan pernikahan tidak jelas ini." Tau begini aku tidak akan pulang ke Indonesia." Gumam Vano lalu memejamkan Matanya.


 


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2