
Setelah meninggalkan kediaman Suhendi, kini mereka duduk terdiam didalam mobil.
"Adrian!" Panggil Anaya.
"Hmmm, ada apa? Adrian menoleh.
" Maksud kamu apa, bicara tentang pernikahan? Kita tidak punya hubungan apa-apa dan perjanjian kita hanya sebatas pura-pura berpacaran di depan papamu. Tidak ada pernikahan," anaya menekan kata pernikahan saat berucap. "Jujur, aku tidak mau tahu apapun dan aku tidak mau ikut Campur masalahmu dan juga papamu maupun dengan wanita itu." Anaya menatap Adrian." Tolong selesaikan kesalahpahaman ini. Aku bukan pacarmu dan aku tidak akan pernah menikah dengan anda.
"Tapi nay," Adrian menatap anaya dengan wajah memohon.
" Tidak! Aku tak mau terlalu ikut campur urusan mu. Aku rasa semenjak bertemu dengan mu, banyak masalah yang datang menghampiri ku.
"Nay, aku mohon bantu aku, kali ini saja, plis." Adrian berucap sambil menatap memohon pada Anaya.
Anaya menarik nafasnya sambil memejamkan mata lalu membuangnya dengan kasar.
"Adrian! Maaf tapi seberapa kali pun kau memohon aku tidak akan mengubah keputusan ku. Tolong jangan paksa aku.
"Ok Fine, tapi jangan salahin aku jika aku bertindak lebih keras dari sebelumnya." Emosi Adrian ikut terpancing. Di pikirannya jika Anaya tidak bisa diajak berbicara dengan kata halus Adrian akan memaksa agar anaya mau mengikuti kemauannya.
"Terserah apapun keinginan anda! Aku mau pulang." Anaya keluar dari dalam mobil berjalan cepat meninggalkan Adrian didalam mobil sendiri.
" Nay tunggu," Adrian keluar dari dalam mobil lalu mengejar Anaya.
"Ayo masuk, biar aku antar pulang," Adrian menghalangi jalan Anaya.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri." Anaya mempercepat langkahnya.
Melihat Anaya yang keras kepala, tiba-tiba emosi Adrian terpancing.
" Terserah loh." Adrian kembali ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya kemudian meninggalkan Anaya yang masih terus berjalan.
Sesaat Adrian memberhentikan mobilnya lalu menurunkannya kaca mobilnya. Ia mengajak Anaya untuk ikut. Namun, Anaya tetap kekeh dan menolak ikut dengan mobil Adrian.
__ADS_1
"Yah sudah, jika itu mau mu, aku tidak akan memaksa lagi. hati-hati yah." Adrian melajukan mobilnya meningkatkan Anaya sendiri di jalan yang sepi.
Sesaat setelah mobil Adrian menjauh Anaya mengambil ponsel yang ada di tasnya, ia berniat memesan ojek online. Dan sialnya setelah ia menyalakan ponselnya ternyata ponselnya mati, seharian ini ia tidak mencharge ponselnya karena ia sibuk berkeliling dengan Adrian.
"Sial! ponselnya mati." Umpatnya.
Dengan terpaksa Anaya berjalan menyusuri jalanan yang sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Ia menyusuri jalan sambil melepaskan high' heelsnya kemudian berjalan cepat, agar ia cepat sampai ke jalan raya untuk mencari taksi.
Tiga puluh menit berlalu, malam kian larut. Namun, Anaya tak kunjung menemukan jalan menuju ke jalan raya, bulu kuduknya Mulai merinding, ia bergidik beberapa kali sebelum ia memperlebar langkahnya.
Sesaat ia berhenti, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Ia menoleh kemudian. Namun, saat ia menoleh ia tak menemukan siapapun. Ia kembali memperlebar langkahnya sambil berlari kecil. Tiba-tiba ada seseorang yang mencekal tangan.
"Kamu mau kemana sayang, ayo kita bersenang-senang." Seorang pemuda yang sedang mabuk mencekal tangannya.
" Tolong lepas, aku mau pulang," ujar Anaya ia terus menangis sesegukan , namun pria itu malah semakin mempererat genggaman tangannya." tolong, tolong," teriak anaya. Anaya berusaha menarik tangannya dari cekalan pemuda yang sedang mabuk. wajah Anaya pucat pasih, ia terlihat sangat ketakutan.
Pemuda itu kemudian melempar botol minumannya kesembaran arah kemudian semakin menarik lengan Anaya." Ayo ikut aku, kau tidak usah takut. Kita akan bersenang-senang malam ini."
Anaya terus saja memberontak. Karena kekuatan pemuda itu yang lebih besar dari pada anaya akhirnya Anaya terjungkal ke tanah.
Anaya merangsek mundur kebelakang. Keringat dingin membasahi tubuhnya diikuti air mata yang terus menetes.
"Ku mohon lepaskan aku." Anaya terus saja memohon di tengah ketakutan nya.
Pemuda itu kian mendekat. Lalu dengan paksa ia mencium paksa leher Anaya hingga meninggal bekas kemerahan di sana. Anaya terus saja memberontak. Tangisnya kian luruh, tepat saat pemuda itu ingin menarik dress yang dipakai Anaya. Seseorang langsung menerjang pemuda itu dengan membabi buta.
Anaya terus saja menangis, ia meringsek mundur sambil memeluk tubuhnya. Tangis kepiluan kian terdengar.
Tak lama seorang datang menghampirinya. Lalu memakainya sebuah jas untuk menutupi tubuh Anaya.
"Kamu tidak usah takut." Ucap pria itu.
Anaya mengangkat pandangannya menatap siapa yang baru saja menolongnya.
__ADS_1
"Pak Erwin."ucap Anaya dengan refleks, ia kemudian berdiri lalu ia langsung memeluk tubuh Erwin.
"Tolong aku pak, aku takut."ucap Anaya dengan tubuh bergetar.
"Nay tenang, aku disini." Erwin membalas pelukan Anaya sambil mengusap punggung gadis itu memberi ketenangan.
Erwin lalu mengajak anaya masuk kedalam mobil.
"Tenang ya nay, kamu minum dulu," Erwin memberikan sebotol air mineral pada Anaya.
Anya menerima minuman itu dengan tubuh yang masih bergetar.
Erwin menatap Anaya tanpa ingin bertanya lebih lanjut karena ia tahu saat ini Anaya masih ketakutan.
Anaya terus saja menangis, bayang-bayang pemuda itu masih saja terus menari-nari di pikirannya. Tangis Anaya kian terdengar.
"Nay, tenang nay, kamu aman." Erwin meraih tubuh Anaya yang bergetar hebat karena ketakutan, ia memeluk tubuh Anaya, memberi ketenangan pada gadis itu.
Saat Anaya sudah tenang, Erwin kemudian melajukan mobilnya kembali.
"Nay alamat rumah kamu dimana." Tanya Erwin saat sudah dijalan raya berniat untuk mengantar Anaya pulang.
Tak ada suara, Anaya tak menjawab.
Erwin kemudian menoleh kesamping, ternyata Anaya sudah tertidur. ia lalu melajukan mobilnya Menuju apartemennya. Ia berniat, nanti setelah Anaya terbangun, barulah ia mengantarkan Anaya pulang ke rumahnya.
Sejam membelah kota Jakarta barulah Erwin sampai di apartemennya. Beberapa menit ia menunggu Anaya tak kunjung terbangun. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa Anaya ke unitnya. Erwin mengendong Anaya ala bridal style, saat masuk menuju ke unit apartemennya beberapa penghuni menatapnya. Namun, Erwin tidak memperdulikannya toh ia dan Anaya bukan siapa-siapa dan tidak mungkin melakukan hal yang buruk.
Tadi, saat Erwin pulang dari kantor dan berniat untuk pulang ke apartemennya, tiba-tiba papa Adrian menelponnya dan menyuruhnya untuk datang ke kediamannya. Namun saat tadi melewati jalan ia melihat seorang wanita yang berteriak meminta tolong. Erwin menghentikan mobilnya dan berjalan mendekat ke arah wanita itu. Betapa kagetnya ia saat melihat wanita yang saat ini meminta tolong adalah Anaya. Sesaat ia berpikir tentang Adrian. Dimana Adrian? Bukankah tadi Anaya pergi Bersama Adrian?.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih yang masih mengikuti.