Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 105. season 2


__ADS_3

Nay,  Dicariin pak manajer tuh. katanya, kamu dipanggil ke ruangan CEO." Ucap salah seorang karyawan yang bertugas di ruang yang sama dengan Anaya saat menghampiri Anaya di depan meja kerja Anaya..


 


Anaya mengernyit heran, untuk apa karyawan rendahan sepertinya disuruh menghadap ke ruang pemimpin tertinggi perusahaan ini. Apa dia berbuat salah? Apa dia akan dipecat? Banyak pertanyaan-pertanyaan buruk tiba-tiba terlintas di kepala Anaya. Hingga ia belum juga menjawab ucapan karyawan yang menghampirinya.


"Nay,"karyawan itu mengagetkan Anaya saat Anaya sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Maaf kak, aku melamun." Jawab Anaya saat tersadar dari lamunannya. Pikirannya saat ini sedang mengembara jauh, entah kesalahan apa yang sudah ia perbuat sehingga baru sehari bekerja pemimpin tertinggi perusahaan ini sudah memanggilnya


" Makanya kalau kerja yang fokus, cepetan gih, kamu udah ditunggu tuh, di ruang CEO." Rekan kerja Anaya terlihat ketus. Ia adalah serli karyawan senior di Abraham. 


Anaya mengangguk" terima kasih, kak." Jawab Anaya bangkit dari kursinya menuju ke ruang CEO. Sepanjang jalan berbagai macam pertanyaan terlintas di kepalanya, rasa was-was terus melanda pikirannya. Sambil berjalan ia terus memanjatkan doa-doa. ia seakan-akan akan bertemu dengan Malaikat pencabutan nyawa.


Saat tiba di depan ruangan CEO, Anaya berhenti sejenak. Ia berdoa dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu menetralkan perasaannya yang terlihat sangat gugup. Setelah ia merasa tenang, barulah ia mulai mengetuk. Saat ini, pikiran aneh terus terlintas di kepala Anaya, ia begitu heran, baru hari pertama ia bekerja di perusahaan ini, ia malah mendapatkan panggilan dari pimpinan tertinggi perusahaan ini. Apa iya berbuat kesalahan? Padahal hari ini adalah hari pertamanya Bekerja di perusahaan ini.


Tok.


Tok.


" Masuk." Terdengar suara maskulin dari balik daun pintu kayu yang berdiri Sangat kokoh di depannya. Anaya kembali menarik nafas dalam-dalam setelah mendengar suara maskulin itu rasa gugup menderanya. Ia pernah mendengar jika pemimpin perusahaan ini adalah pria yang sangat tempramental itu sebabnya Anaya bagitu Sangat takut.


Anaya memegang knop pintu lalu memutarkan. Seketika pintu terbuka. Ia memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya. Kemuy berucap.


" Permisi, tuan," ucap Anaya saat berjalan masuk kedalam ruangan, lalu berhenti tepat di depan meja kerja Adrian.


Hening


Hening 


Masih belum ada yang bersuara. Anaya masih setia berdiri di depan meja kerja CEO sambil menatap pria yang duduk di kursi kerjanya sambil membelakanginya. Punggung kekar yang bersandar di balik kursi terlihat sangat kokoh. Anaya sudah bisa memastikan jika pemimpin perusahaan ini adalah pria yang masih muda.

__ADS_1


" Duduklah." Tiba-tiba pria itu bersuara dengan posisi masih membelakangi Anaya.


Anaya maju, lalu mendudukkan bokongnya  di kursi yang ada didepan meja CEO." Terima Kasih, tuan," ucap Anaya saat sukses mendaratkan pinggulnya di kursi empuk yang ada di ruang itu.


Haning.


Hening.


Masih belum ada yang bersuara. seketika adrian memutar kursinya lalu menyungingkan senyum di bibirnya saat menatap gadis dihadapannya.


Seketika mata Anaya membulat, wajahnya tampak pias, ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu saat terakhir kali bertemu dengan Adrian. Anaya kemudian tersadar, seketika ia berdiri dari kursinya, dan mundur beberapa langkah. Hendak meninggalkan ruangan itu.


" Mengapa kau... bisa ada... disini?" Tanya Anaya, ia tampak gugup menatap pria yang duduk di kursi kebesarannya sambil tersenyum miring.


" Seharusnya aku yang akan berbicara seperti itu. Perusahaan ini milikku." Adrian bangkit dari kursinya lalu berjalan maju beberapa langkah mendekat ke arah Anaya.


Anaya tampak gugup," aku kerja disini. Tapi….. Anaya menjeda ucapannya. Karena kau pemiliknya, mulai detik ini aku resign dari kantor ini. Aku tidak Sudi  bekerja sama dengan pria mesum seperti kau." Ucap Anaya dengan sombongnya, lalu memutar tubuhnya hendak meninggalkan ruangan Adrian. 


" Stop" ucap Adrian kemudian mengambil map yang ada di dalam laci mejanya.


Anaya berhenti kemudian memutar tubuhnya." Apa lagi yang kau inginkan tuan mesum,? Tadikan aku udah bilang, aku resign. Jadi, aku bukan karyawan anda lagi." Jawab Anaya ketus, hendak melangkahkan kembali kakinya keluar dari dalam ruangan. Tapi sebelum melangkah, Adrian sudah terlebih dahulu melemparkan selembar kertas tepat kehadapan Anaya.


" Kau baca baik-baik." Pinta Adrian sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Anaya seketika memungut selembar kertas yang tadi mendarat tepat di bawah kakinya lalu membacanya. Terlihat Anaya berulang kali membaca kertas yang ada di tangannya. ia mengucek matanya berulang kali, berharap tulisan yang ada di kertas itu salah.


" Ini tidak mungkin! Aku tidak pernah menandatangani perjanjian kerja macam ini," gumam Anaya syok saat membaca isi dari kertas itu berulang kali.


Anaya mengangkat wajahnya menatap wajah Adrian dengan penuh Amarah. "Aku tidak akan pernah menandatangani surat ini. Ini pasti palsu." Ucap Anaya geram lalu menyobek-nyobek kertas itu menjadi beberapa bagian kecil.


" Surat itu asli. Dan itu hanya fotocopy. yang asli ada disini,"ucap Adrian sambil memperlihatkan map itu pada Anaya.

__ADS_1


"Dasar pria mesum." Ucap Anaya dengan geramnya.


" Bagaimana?  apa kau bersedia menjadi sekretaris ku atau kamu harus mengganti penalti sebesar 200 juta jika kau tidak ingin menjadi sekretaris ku." tanya Adrian tersenyum mengejek.


Mata Anaya membulat….


Ia memutar otaknya, di mana ia akan mendapatkan uang sebesar 200 juta untuk Mengganti penalti pembatalan kontrak kerjanya, ia tak memiliki apa-apa kecuali bibi dan pamannya.


Anaya terdiam setelah membaca rentetan tulisan itu, tapi sejujurnya ia sangat heran. Pasalnya ia tak pernah menandatangani hal semacam itu.


"Jadi bagaimana, apa kau bersedia menjadi sekretaris ku?" Tanya Adrian. Bibirnya tersungging, menampilkan deretan gigi putih dengan lesung pipi di wajahnya.


"Kau begitu licik." Ujar Anaya.


Mendengar ucapan Anaya, bukannya marah, Adrian malah Tertawa. Pria itu begitu menikmati setiap detik setiap menit tatapan tajam Anaya. Entah apa yang membuatnya tertarik pada wanita ini. Biasanya setiap ada wanita yang mengenalnya, wanita itu akan mendekatinya bahkan menghangatkan ranjangnya. Namun, berbeda dengan Anaya, gadis ini begitu pemberani. Ia akan melawan siapa saja yang berusaha melecehkannya.


Adrian berjalan mendekat pada Anaya, gadis itu perlahan memundurkan tubuhnya hingga membentur dinding ruang itu.


Adrian kemudian mengapit rahang Anaya, berani sekali kau." Aku bisa saja melakukan yang lebih sadis dari ini. Adrian melepaskan wajah Anaya. Dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Bagaimana, apa kau menerima tawaran ku?" Tanya Adrian lagi. Bibirnya kembali tersenyum saat mengucapkan kata itu


.


.


.


Terimakasih untuk kalian semua yang sudah mampir.


jangan lupa. like, komen, vote dan beri hadiah

__ADS_1


__ADS_2