
Jadi bagaimana? Apa kau sudah mempertimbangkan permintaan ku? Tanya Anaya masih dalam dekapan Adrian.
"Sudah aku pikirkan."balas Adrian masih memejamkan mata, tangannya tidak berpindah barang sedikitpun dari salah satu benda bulat yang menjadi favoritnya akhir-akhir ini. Sesekali terlihat ia memijat bulan kacang hitam yang menempel di sana, membuat empunya sedikit meringis.
"Jadi…..?"
"Ya, aku mengizinkan mu Bekerja. Tapi bukan di cafe, melainkan kau kembali menjadi sekretaris ku."balas adrian
Tentu.saja apa yang.diucapkan Adrian barusan membuat Anaya terperanjat. Bagaimana bisa dia kembali menjadi sekretaris adrian.
" Tapi, aku tidak mau jika harus menjadi sekretaris mu." Tolak Anaya.. ia memikirkan jika ia menjadi sekretaris Adrian, ia akan bersama Adrian dua puluh empat jam
Bagaimana jika dikantor, apa pria ini akan terus menempel padanya seperti saat mereka di rumah.
"Kenapa? Tidak ada salahnya kau menjadi sekretaris ku."
"Tapi…."
"Tapi apa lagi, tidak ada kata tapi. Bagaimana kata orang di luar sana jika.istri seorang CEO bekerja menjadi seorang pelayan di sebuah cafe keci." Ujar Adrian.
Anaya melongos dan menghembuskan nafas kasar." Terserah kau saja." Ucap Anaya dengan pasrah. Ia tahu sekalipun ia memberi seribu alasan pada Adrian, Adrian punya seribu car untuk menjawab.
Setelah mereka cukup lama berbaring di kasur, Anaya pamit ingin ke toilet, ia ingin membersihkan tubuhnya, setelah itu ia akan memasak makan malam untuk mereka. Namun baru saja Anaya Bergerak, tetapi Adrian sudah lebih dulu menindihnya."kau tidak usah memasak aku akan memesan makanan, tapi biarkan aku bermain satu ronde dulu." Bisik Adrian.
Namun dengan cepat Anaya mengeleng." Tidak, kita tidak bisa melakukannya."
"Kenapa? Apa kau menolak ku?
"Bukan itu, tapi….."
"Tapi apa?"
"Aku sedang datang bulan." Balas Anaya nyengir, menampilkan deretan giginya.
Wajah Adrian terlihat kecewa, ia langsung melepaskan Anaya dan membuag dirinya kesamping.
"Kenapa sejak tadi kau tidak ngomong? Kalau sudah begini bagaimana caraku untuk menidurkannya." Ujar Adrian
Anaya terlihat mengulum senyumnya." Maaf, maafkan aku."balas Anaya
Tiba-tiba Adrian tersenyum misterius." Ada satu cara untuk menidurkannya."
Anaya mengernyitkan alisnya." Caranya?"
Adrian lalu berbisik di telinga Anaya, membuat mata Anaya Membulat Seketika. Tetapi tak lama ia mengangguk mengikuti perintah Adrian.
Setelah bermain cukup lama, Adrian kini keluar dari toilet dengan rambut basah dengan handuk melingkar di pinggangnya, membuat dadanya terekspos dengan sempurna.
Anaya yang saat ini berada di kasur, sempat menelan salivanya saat melihat dada Adrian yang begitu kekar.
Adrian yang menyadari raut wajah Anaya, seketika mendekat." Apa kau ingin memegangnya?"
Bagai terhipnotis, Anaya seketika mengangguk
Adrian langsung mengambil tangan Anaya, kemudian meletakkannya Tepat di dadanya namun beberapa detik kemudian, Anaya tersadar dengan gugup ia menarik tangannya sambil tersenyum malu. Saat ini ia sedang merutuki dirinya atas tindakan bodohnya barusan yang ingin memegang dada Adrian.
Melihat wajah Anaya yang bersemu, lantas Adrian berucap." Jika ku ingin memegangnya, kau tidak usah meminta izin. Aku akan senang hati memperlihatkannya untuk mu." Seru Adrian lalu meninggalkan Anaya dengan senyum menggoda.
"Dasar mesum." Anaya menggerutu. Bisa-bisanya pria itu berucap seperti itu, selalu merasa cool di depan para wanita.
***
Keesokan harinya. pagi-pagi sekali, Anaya sudah terlebih dahulu bersiap. Setelah itu, ia menguncir rambutnya ke atas lalu berjalan menuju panty, ia harus menyiapkan sarapan untuk mereka berdua sebelum berangkat ke kantor.
"Pagi." Sapa Adrian. Ia baru saja bangun,dan langsung keluar dari kamar. Wajahnya terlihat masih setengah mengantuk.
"Pagi." Balas Anaya.
"Kau masak apa?"tanya Adrian.
"Nasi goreng, aku tidak sempat memasak macam-macam. Hari ini, hari pertama ku Bekerja. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum ke kantor."balas Anaya sambil mengaduk nasi goreng yang ada di wajah.
Adrian tersenyum mendengar ucapan Anaya. Ya, Anaya tipe perempuan pekerja keras, dulu saat Anaya masih kuliah, gadis itu selalu mengambil kerja paru waktu di dua tempat.
Setelah semua makanannya sudah siap di meja makan, Anaya kemudian beranjak dari panty.
"Kau mau kemana?"Tanya Adrian
__ADS_1
"Aku ingin bersiap." Jawab Anaya.
"Kau tidak usah terburu-buru, siapa yang akan memarahimu, suami mu adalah pemilik perusahaan." Ujar Adrian.
Anaya menghela nafas." Tidak boleh seperti itu juga, aku di Kantor adalah karyawan, bawahan mu. Tetap saja aku harus memenuhi seluruh tanggung jawabku sebagai karyawan. Aku tidak ingin semua karyawan berbisik-bisik tentang diriku." Balas Anaya. Ia terlihat Langsung menunduk." Apalagi mereka belum tahu jika kita sudah menikah. Akan bertambah banyak karyawan yang akan bertanya tentang hubungan kita."
"Jadi kau ingin seperti apa? Apa kau mau aku mengumumkan pernikahan kita?" Tanya Adrian.
Anaya mengeleng." Bukan seperti itu, hanya saja jika mereka melihat Kita begitu dekat, mereka akan berpikir jika aku menggoda mu. Kau tentu tahu bukan polemik yang selalu terjadi di lingkungan perusahaan, ibarat kata, dinding pun bisa mendengar." Pungkas Anaya.
Adrian tersenyum mendengar penuturan Anaya. Ia lalu bangkit dari kursinya dan langsung berjalan ke arah anaya, ia berdiri tepat di belakang lalu memegang pundaknya. "Tapi bisakah, pagi ini kau menemani suami mu ini makan?"
Tanpa mendengar jawaban Anaya. Adrian lalu menuntun Anaya menuju ke kursi. Setelah Anaya sudah duduk di kursi, Adrian dengan telaten mengambil nasi goreng dan menuangkan secangkir teh tepat di samping Anaya." Kau sarapan, setelah itu kita bersiap ke kantor bersama."
Anaya mengangguk dan langsung tersenyum." Terima kasih, mas."
Hampir tiga puluh menit mereka menikmati sarapannya. Kini Anaya sudah terlihat sudah rapi dengan seragam kerjanya.
Ia menatap jam di pergelangan tangannya, sudah pukul tujuh, Namun Adrian belum juga selesai bersiap. Anaya langsung menyimpan tasnya dan berjalan menuju kamar. Ia membuka pintu dan melihat Adrian baru saja selesai mengancingkan kemeja. Anaya menggelengkan kepalanya dan langsung berjalan menghampiri Adrian. Ia mengambil dasi." Sini biar aku bantu, mas." Ucap Anaya, ia Berdiri di depan Adrian, membantu pria itu bersiap agar lebih cepat selesai.
Adrian tersenyum, saat Anaya sibuk memasangkan dasi ke lehernya, tiba-tiba ia langsung ******* bibir Anaya. Seketika mata Anaya Membulat saat mendapatkan serangan mendadak dari Adrian.
"Sangat manis." Ucap Adrian.
Mendengar ucapan Adrian, pipi Anaya langsung memerah, ia langsung mencubit pinggang Adrian."mas, kita sudah telat. Kau masih saja menggoda ku."gerutu Anaya dan kembali memasangkan jas ke tubuh Adrian.
Setelah mereka sudah selesai bersiap. Adrian keluar dari kamar di ikuti Anaya di belakangnya.
"Apa sudah tidak ada yang terlupa?" Tanya Adrian.
"Sepertinya tidak, mas. Ayo kita jalan."ucap Anaya.
Adrian mengganguk dan keluar dari apartemen di ikuti Anaya di belakangnya.
Setelah mereka sampai di basement apartemen, Anaya langsung bersuara." Bagaimana jika aku naik taksi saja, mas. Karyawan akan melihat ku datang bersama mu." Ucap Anaya. Pasalnya saat ini jam sudah menunjukkan pukul delapan, pasti sudah banyak karyawan yang sudah berada di kantor.
Adrian mengeleng." Kenapa jika mereka melihat kita." Potong Adrian. Ia membuka pintu mobilnya dan menyuruh Anaya masuk.
Sepanjang perjalanan bibir Anaya tidak berhenti mengerucut. Dan hal itu terlihat dari Indra penglihatan Adrian.
Adrian kembali tersenyum, ia mengusap kepala Anaya." Kau tidak usah khawatir, nanti aku akan mengumumkan pada seluruh karyawan jika kau istriku." Pungkas Adrian dan kembali fokus pada kemudinya.
***
Adrian keluar dari mobilnya, berlari kecil dan membuka pintu untuk Anaya.
Anaya yang baru saja keluar dari mobil Adrian, seketika langsung menunduk saat beberapa karyawan melihatnya keluar dari mobil. Setelah itu, Adrian lalu merangkul tangan Anaya mengajaknya untuk masuk." Ayo." Ujarnya tanpa memperdulikan orang sekitar, Adrian sengaja Seolah ingin mempertontonkan ke mesraan mereka.
Malihat Anaya yang berjalan sambil di rangkul oleh petinggi perusahaan, jelas-jelas semua mata karyawan mengarahkan ke pada mereka dan mempertanyakan hubungan Adrian dan anaya. Lalu gadis yang biasa datang menemui Adrian itu siapa?
Seketika semua karyawan berbisik-bisik tentang Anaya." Dasar gadis murahan."
"Pasti dia yang menggoda pak Adrian duluan, mana mau pak Adrian dengan gadis berpenampilan seperti itu."
"Bukannya dia karyawan baru, yang beberapa waktu lalu resign, kok dia masuk lagi."
"Hmmm, pasti dia Memakai pelet."
Bisik-bisik karyawan terlihat hingga Anaya dan Adrian masuk ke dalam lift khusus Presdir.
Setelan pintu lift tertutup, Anya membuang nafas kasar lalu melapas tangan Adrian yang masih menempel di bahunya.
"Ini semua gara-gara, mas." Seru Anaya . Ia melipat tangannya di depan dada.
"Lha, kok mas." Adrian menunjuk dirinya.
"Tentu mas, jika bukan karena mas yang memaksaku semobil. Semua karyawan pasti tidak akan berbisik-bisik tentang aku."balas Anaya. Ia mengerucutkan bibirnya. Rasanya begitu tidak nyaman sekantor dengan suami sendiri, apalagi orang-orang belum ada yang tahu jika mereka sepesang suami istri.
"Ya sudah, maaf. Jangan cemberut lagi." Adrian menarik Anaya. Mendekapnya dan langsung ******* bibir Anaya. Lidahnya tidak berhenti menjelaja seakan tidak puas, ia menempelkan Anaya ke dinding dan kembali ******* bibir Anaya. Namun tak lama pintu lift terbuka. Erwin yang baru saja selesai memeriksa di bagian perlengkapan seketika terperanjat kaget saat melihat Adrian dan Anaya bercium di dalam lift.
Anaya yang lebih dulu menyadari kehadiran Erwin, buru-buru mendorong tubuh Adrian dan langsung membuang wajahnya ke arah lain. Sungguh rasanya sangat malu kedapatan berciuman di tempat umum seperti ini. Anaya memejamkan matanya dan memperbaiki pakaiannya. Tadi Adrian tanpa sadar melepaskan kancing kemeja bagian atas anaya. Anaya terlihat salah tingkah sedangkan Adrian hanya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Bedahalnya dengan Erwin, ia terkikik geli, kemudian berbisik di telinga Adrian." Jika kau ingin bermesraan, cari tempat yang pas, jangan di tempat umum seperti ini." Ujar Erwin dan kembali mengulum senyum.
Setelah sampai di lantai atas, buru-buru Anaya keluar dari lift tanpa menunggu Adrian yang masih di sana dengan asisten.
Saat Anaya pergi, seketika tawa Erwin pecah.
__ADS_1
" Lo kalau mau main, cari tempat yang pas, jangan tempat umum. Lihat cewek Lo langsung marah."
"Sial, Lo." Umpat Adrian pada asistennya. Ia langsung meninggalkan Erwin yang masih menertawainya dan mengejar Anaya.
Setelah Adrian sampai di ruangannya ,ia melihat Anaya terlihat Duduk di sofa. Ia langsung menghampiri sang istri dan mendudukkan bokongnya di samping Anaya." Maaf, Nay. Aku khilaf." Ucap Adrian dan langsung tersenyum.
Anaya hanya bisa mengangguk tanpa berniat menjawab ucapan Adrian
***
Pak suhendi meremas jari jemarinya saat baru saja mendapatkan informasi dari orang suruhannya jika hari ini Anaya kembali bekerja manjadi sekretaris Adrian.
Pria paruh baya itu terlihat mengertakkan giginya, bagaimana tidak, bisa-bisa usahanya untuk mendekatkan Siska dan Adrian pasti akan gagal jika wanita itu terus menempel pada putranya.
Tentu ia tak akan membiarkan itu semua terjadi, ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia akan bergerak cepat, ia tidak ingin semua usahanya Gagal hanya karena wanita udik yang tak tahu malu.
"Kau jalankan rencana kedua kita, jangan sampai gagal, aku tidak ingin kita gagal lagi." Ujar pak Suhendi.
"Baik,bos. saya akan mengatur semuanya."
Setelah mengatakan itu, pak Suhendi mematikan ponselnya dan langsung menghubungi Siska.
"Hallo, om." Sapa Siska di seberay sana.
"Hallo, Siska. Besok kau bersiap ke Bogor. Tampil yang cantik di depan Adrian, aku tidak ingin wanita udik itu merebut posisi mu menjadi menantu om." Ujar pak sehendi.
"Baik, om. Aku tidak akan mengecewakan om." Balas Siska.
"Kalau begitu sudah dulu ya om, Siska lagi di jalan."pamit Siska.
"Baik, om tunggu kabar baik dari mu."
"Siap, om."
Setelan itu, pak suhendi mematikan ponselnya. Dan tersenyum jahat. Ia Tertawa keras. Hingga memenuhi ruangan kerjanya.
***
"Bro ada kiriman undangan dari pak Tommy. Dia ngadain parti di Bogor besok malam, Tapi gue gak bisa hadir. Lo berangkat sendiri yah?"
"Kenapa?"
"Biasa bro, gue di suruh bokap Lo untuk gantiin dia maeting dengan pihak permata Husada di Bandung. Ngak apa-apa kan?
"Ya sudah ngak apa-apa. Gue berangkat sendiri."jawab Adrian. Saat ini ia masih fokus dengan layar leptop di depannya. Ia sedang membaca grafik penjualan produk perusahaannya hari ini.
"Terima kasih, bro?"
"Sama-sama."
" oh, iya. Lo udah makan blom? Makan yuk? Gue lapar." Ajak Erwin.
"Lo duluan aja. Nanti gue nyusul."balas Adrian.
"Bilang aja, kalau lu mau makan bareng Anaya." Ujar Erwin.
Adrian terkekeh."kan Lo dah tau." Balas adrian
"Ya udah, gua jalan."
"Hati-hati bro."titah Adrian saat Erwin hendak keluar dari ruangannya.
"Ya.." teriak Erwin.
setelah Erwin pergi, Adrian lalu mengambil Telpon interkom yang ada di depannya dan langsung menghubungi Anaya dan menyuruh Anaya untuk masuk ke ruangannya.
tak lama pintu di ketuk. Anaya masuk ke dalam ruangan Adrian.
"apa bapak mencari saya." tanya Anaya.
bukannya menjawab Adrian malah mengambil remote kontrol dan langsung......
.
.
__ADS_1
.
terima kasih yang masih setia mengikuti. gift di umumkan setiap tanggal 1.