
Setelah memarkir mobilnya di basement apartemen, Adrian kini berjalan dengan sedikit berlari. Ia ingin cepat-cepat sampai ke unitnya.
Sesampainya Adrian di unit apartemennya, ia kemudian menekan pin digital door lock. Pintu seketika terbuka, Adrian lalu berlari menuju ke kamar yang biasa Anaya tempati. Namun kening Adrian mengerut saat ia memegang knop pintu, dan pintu itu langsung terbuka. Biasanya jika Anaya ada di dalam kamarnya, Anaya selalu menguncinya. Dan sekarang saat Adrian sampai di depan kamar Anaya. Ia mengetuk dan tak mendapatkan Jawaban. Akhirnya Adrian masuk dan tak mendapatkan Anaya berada di kamarnya.
"Nay." Panggil Adrian.
Namun tak ada sahutan dari Anaya, Adrian lalu berjalan ke kamar mandi. Ia mengetuk dan masih tak mendapatkan jawaban. Akhirnya Adrian memutar knop pintu dan masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandi juga sama kosong.
Adrian kemudian keluar dari kamar dan berjalan menuju pantry. Anaya juga tak ada di sana. Adrian lalu mendekat ke arah meja makan dan anehnya ia tidak menemukan makanan apapun yang tersaji di atas meja, padahal biasanya saat Adrian pulang, makanan di meja makan sudah tersedia.
Setelah itu, Adrian menuju ke ruang kerjanya, ia tidak masuk hanya melihat dari pintu dan tetap sama, Anaya tidak ada di sana.
Seketika wajah Adrian berubah pias, jantungnya berdegup sangat kencang."jangan-jangan." Lirih Adrian.
Adrian lalu berjalan ke kamar Anaya dan membuka lemari pakaian Anaya. Tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak, jantung seperti ditusuk ribuan belati saat melihat lemari pakaian Anaya yang kosong. Adrian mengusap wajahnya kasar." Apa yang sudah aku lakukan."Gumam Adrian.
Lama terdiam di sana, akhirnya Adrian memutuskan untuk mencari Anaya ke rumah BI Asih.
Adrian berlari keluar dari apartemen dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan apartemen.
Adrian melajukan mobilnya dengan begitu kencang, sesekali terlihat ia hampir menabrak pengendara lain. Ada juga Beberapa pengendara yang mengumpat padanya. Namun, Adrian tidak menggubrisnya ia tetap melajukan mobilnya. Hingga akhirnya ia sampai di depan rumah sederhana milik paman dan bibi Anaya.
Setelah mematikan mesin mobilnya, tanpa menunggu lama, Adrian keluar dari dalam mobilnya dan menutupnya dengan agak keras. Saat ini, Adrian benar-benar takut jika Anaya tidak mau lagi kembali padanya.
Adrian bejalan masuk, setelah ia sampai di teras, ia kemudian mengetuknya. Hanya menunggu beberapa menit, Bu asih membuka pintunya dengan sedikit tersenyum. Adrian lalu mencium punggung tangan Bu asih.
"Eh, Nak Adrian." Ucap Bi asih kemudian melihat ke belakang Adrian, mencari keberadaan Anaya."kau datang sendiri? Di mana Anaya?"tanya bi asih.
Bukannya menjawab pertanyaan Bu asih, Adrian malah melontarkan pertanyaan pada bi asih.
"Anaya tidak ke sini bi? Justru aku ke sini ingin mencari Anaya."
Bi asih mengeleng. Ia lalu memberi jalan untuk Adrian." Ayo, nak. Masuk dulu, kita bicara di dalam, tidak enak di lihat para tetangga." Ujar Bi asih.
Adrian mengganguk. Dengan langkah lesu ia berjalan masuk ke dalam rumah BI asih. Adrian menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada di ruang tamu.
Bi asih datang dengan membawa secangkir teh dan meletakkannya di atas meja. Dan langsung mendudukkan tubuhnya tepat di seberang kursi yang di duduki Adrian.
"Kalian ada masalah?" Tanya Bi asih. Ia langsung melontarkan pertanyaan pada Adrian.
__ADS_1
Adrian yang sedang menunduk, langsung mengangkat wajahnya menatap bi Asih.
"Ia bi, beberapa hari ini kami ada kesalahpahaman dan jujur aku sangat menyesal." Adrian bernafas berat." Ini semua memang kesalahan saya bi, saya yang bodoh dan tidak jujur dari awal." Adrian mengusar wajahnya.
Bi asih bernafas berat kemudian tersenyum.
"Bibi tidak menyalahkanmu atau pun menyalakan Anaya. tapi, bibi sudah menasehatimu tempo hari, jika ada masalah sebaiknya Kalian selesaikan dengan baik, bukan diam dan tak saling bicara." Bi asih menautkan kedua jarinya sambil menumpuhkan tangannya ke pegangan kursi yang ia duduk.
"Saya memang bersalah Bi. Semua ini memang salah saya." Adrian terlihat sangat menyesali perbuatannya.
Bi asih hanya bisa menatap wajah Adrian yang ada di depannya. Ia juga tidak bisa menghakimi Adrian, toh selama ini Anaya jug tidak pernah bercerita tentang apapun pada bi asih. Anaya memang sering berkunjung ke rumah mereka. Namun Anaya hanya sebentar. Setelah melihat kondisi bi asih ia langsung pulang.
"Bi, jadi biasakah saya tau di mana Anaya sekarang?"wajah Adrian terus memohon pada bi asih agar bi asih memberi tahu di mana Anaya sekarang.
Bi asih bernafas berat." Bibi tidak tahu di mana Anaya sekarang, sudah beberapa hari dia tidak menghubungi bibi. Tapi, jika kau ingin mencarinya, kau coba datang ke alamat ini, ini rumah peninggalan ibu Anaya. Tetapi jika kau tak menemukan Anaya di sana…." Bi asih terdiam, ia tampak ragu, jika Anaya ada di sana." Kau coba datangi alamat ini, ini alamat rumah eyang uti yang ada di Bandung, ibu Anaya juga di makamkan di sana, mungkin kau bisa bertemu Anaya di sana ." Bi asi menyerahkan selembar kertas pada Adrian.
"Terima kasih, Bi." Adrian tersenyum saat meraih kertas yang di berikan bi asih. Tanpa menunggu lama, ia langsung berpamitan. Setelah itu, ia berdiri dan meninggalkan rumah BI asih.
Adrian kembali melajukan mobilnya menuju ke alamat yang sudah di berikan bi asih tadi. Dan di sinilah dia, di rumah usang yang entah sudah berapa tahun tidak di tempati, pohon rambat yang masuk melalui jendela, lumut di mana-mana bahkan atap rumahnya yang terlihat bocor. Adrian menatap bangunan di depannya. Tidak mungkin Anaya ada di Rumah ini, rumah ini seperti tidak berpenghuni. Namun, Adrian tetap mengetuk pintu, setelah tidak mendapatkan respon apapun dari penghuni rumah. Akhirnya Adrian pergi meninggalkan rumah itu.
Tujuannya saat ini ia lah Bandung. Tanpa menunggu lama, Adrian kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan rumah mendiang orang tua Anaya.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya Adrian sampai di area perbatasan Bandung. Ia lalu menepikan mobilnya bertanya pada warung kaki lima yang masih buka di area itu.
"Maaf kang, numpang tanya?" Ucap Adrian sopan.
"Mangga, kang?" Balas pria yang usianya kira-kira 50 tahunan.
"Bapak tau alamat ini?" Adrian memperlihatkan alamat yang di berikan bi asih.
Pria itu telihat membaca, lalu menjelaskan pada Adrian alamat yang ada di kertas itu.
Terlihat Adrian mengganguk-anggukkan kepalanya. Dan setelah itu, ia berpamitan pada bapak itu. Adrian kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kembali ketempat tujuan.
Setelah berjalan cukup jauh, dan bertanya pada beberapa orang, akhirnya Adrian berhenti di sebuah rumah sederhana. Rumah yang tidak begitu besar, Namun tampak bersih. Terlihat beberapa pohon menghiasi rumah itu. Dan beberapa pot yang berjejer di teras, dari yang terbuat dari plastik bahkan dari kaleng sisa susu berjejer rapi di sana.
Adrian kemudian keluar dari mobilnya dan melangkah Menuju teras. Ia berhenti tepat di depan pintu. Ia terdiam sejenak, dan kembali bernafas panjang kemudian membuangnya. Ia terlihat berpikir," Jika Anaya tidak ada di rumah ini lagi, ia harus mencari Anaya di mana lagi." Batin Adrian.
Setelah lama terdiam, Adrian akhirnya mengetuk pintu. Entah beberapa lama ia mengetuk. Terdengar dari dalam seseorang memutar kunci. Seketika pintu terbuka. Seorang wanita setengah baya membuka pintu dengan wajah sayunya. Sepertinya wanita itu baru saja terbangun.
__ADS_1
"Anda mencari siapa yah?" Tanya wanita itu dengan sedikit menguap.
"Apa benar ini rumah eyang sari?" Tanya adrian.
Wanita itu terlihat mengangguk." Iya benar, anda mencari siapa yah?"
"Apa Anaya ada di sini?" Tanya Adrian
"Kalau boleh tahu anda siapa yah, malam-malam mencari neng naya?"tanya wanita itu.
"Saya suaminya. Apa Anaya ada?" Tanya Adrian lagi.
Wanita itu telihat menatap masuk ke dalam rumah, dan kembali menatap adrian. Wanita itu terlihat agak ragu.
Adrian yang menangkap gelagat aneh dari wanita di depannya langsung bersuara.
"Anda tidak usah takut, saya orang baik." Ujar Adrian." Apa Anaya ada di dalam?"tanya Adrian lagi.
Seketika wanita itu mengangguk." Ada, kang. Neng naya sedang tidur di kamarnya." Ujar Wanita itu.
"Saya boleh masuk?" Ucap Adrian.
"Silahkan, kang. Kamar neng ada ada di sana." Wanita itu menunjuk kamar Anaya.
"Baik, Bi." Pamit Adrian dan langsung berjalan menuju kamar Anaya. Setelah sampai di depan kamar Anaya. Adrian terlihat memutar knop pindu, dan membuka pintunya dengan pelan.
Seketika hatinya menjadi damai, saat melihat Anaya tidur di atas ranjang Dengan posisi meringkuk di bawah selimut. Adrian perlahan mendekat dan langsung mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur.
Ia menatap wajah Anaya, memindahkan rambut yang menutupi wajah Anaya kemudian mengecupnya pucuk kepala Anaya.
"Maafkan aku, Nay." Lirih Adrian. Ia bisa melihat wajah Anaya yang tampak sembab. Entah seberapa banyak air mata yang di keluarkan gadis ini untuknya.
Lama menatap wajah Anaya, Adrian perlahan membuka jasnya, hingga saat ini ia hanya memakai kaos. Ia merebahkan tubuhnya di samping Anaya. Mencium aroma tubuh Anaya yang sudah beberapa hari ini tidak pernah ia rasakan.
Adrian kemudian memeluk Anaya dan menengelamkan kepala Anaya ke dalam dadanya.
"Mas, bahkan saat aku sudah pergi dari mu, aku masih bermimpi dan merasakan jika kau sedang memelukku." Racau Anaya.
Adrian tersenyum mendengar Anaya mengigau. Ia kembali memindahkan anak rambut yang menutupi wajah Anaya."kau sedang tidak bermimpi, sayang. Aku ada di sini." Lirih Adrian. Dan kembali menengelamkan wajah Anaya ke dalam dadanya. Ia tersenyum sembil memejamkan matanya.
__ADS_1