Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 150. season 2


__ADS_3

Anaya mengerjap lalu mengedarkan Pandangannya ke segala arah. Ia kemudian menoleh ke samping ranjangnya dan tak menemukan Adrian di sana.


Perlahan ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Kamar mandinya kosong." Apa mas Adrian belum pulang yah?" Gumam anaya. Adrian semalam berjanji jika ia akan pulang setelah acaranya selesai. Namun saat Anaya bangun dia tidak menemukan sosok Adrian di sampingnya.


Seketika rasa khawatir menyelimuti pikirannya. Ia berjalan dan mendudukkan tubuhnya di kasur, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Adrian. Beberapa kali Anaya menghubunginya dan panggilannya pun tersambung, tapi hasilnya nihil, pria itu tidak mengangkat panggilannya.


Setelah menghubungi Adrian berkali-kali dan hasilnya tetap sama. Anaya Menghembuskan nafas kasar dan memejamkan matanya. Ia Berusaha tetap tenang. 


Anaya kemudian menghubungi Erwin, mungkin Erwin tahu di mana Adrian sekarang. Anaya lalu mencari nomor ponsel Erwin, lalu menghubungi Erwin. Beberapa saat panggil Erwin tidak tersambung, Namun Anaya mengulangnya lagi hingga terdengar suara serak Erwin yang ada di seberang sana.


"Hallo, Pak Erwin." Sapa Anaya. Ia berusaha tenang tetapi perasaannya saat ini sedang di landa khawatir.


"Iya ada apa, Nay?balas Erwin.


"Apa pak Adrian ada bersama bapak?" Tanya Anaya


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Semalam ia mengatakan jika ia akan pulang, tetapi sampai sekarang Adrian bum pulang." Seru Anaya.


"Apa kau sudah menghubunginya?" Tanya Erwin.


"Sudah pak, tetapi panggilannya tak di jawab." Balas Anaya.


"Kau tidak usah khawatir, mungkin semalam ia kelelahan dan tak sempat memberimu kabar." Erwin berucap. Ia terus menenangkan Anaya yang saat ini khawatir.


"Baik, pak. Jika ada informasi dari Pak Adrian, mohon hubungi aku " titah Anaya. Dan kemudian mematikan ponselnya.


Anaya kemudian beranjak dari kasur dan berjalan ke kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. setelah itu, ia baru akan menghubungi Adrian kembali. mungkin saja semalam suaminya kelelahan, itu sebabnya ia menginap di sana.


Setelah menyegarkan tubuhnya, Anaya berjalan ke balkon. Kemudian menyandarkan tubuhnya ke tralis besi yang ada di sana.  ia meraih ponselnya kemudian menghubungi Adrian.


Nihil lagi-lagi hasilnya nihil, hanya suara operator yang terdengar dari ujung sana. Anaya terlihat mengembungkan pipinya kemudian bernafas berat. Entah kenapa saat ia tak mendapatkan kabar Adrian ia seolah tak bersemangat. Padahal semalam Adrian menghubunginya.

__ADS_1


***


Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat ini, ia sudah meninggal Bogor. Berkali-kali ia menyangkal dan tak membenarkan apa yang ia lihat pagi ini. Tapi nyatanya ini semua nyata, ia tidur dengan Siska. Dan darah itu, bercak darah di seprei yang menjawab segalanya. Ia melakukannya dengan Siska walaupun ia tidak yakin jika ia melakukannya, tapi bukti di seprei itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


"Sial, mana mungkin aku melakukannya." Umpat Adrian, ia berulang kali memukul setir mobilnya dan mengepalkan tangannya, tapi otaknya saat ini buntuh, ia tak tahu harus berbuat apa. Di lain sisi ia tidak yakin jika ia melakukannya dan di lain sisi ada bukti bercak darah si kasur yang membuktikan jika ia habis melewati malam panjang bersama dengan Siska.


Lagi-lagi Adrian mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya sedang kacau, apalagi tadi siska meminta pertanggungjawaban darinya. Lalu apa yang harus ia katakan pada Anaya. Haruskan ia jujur, ia tidak ingin Anaya salah paham padanya.


Setelah Adrian menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya ia sampai. Tetapi Ia bukannya pulang ke apartemennya, melainkan Adrian ke apartemen Erwin. Ia harus bertukar pikiran dengan Erwin dan mencari jalan keluar dari masalah ini.


Sesampainya Adrian di unit milik Erwin, ia langsung menekan kode PIN digital door. Pintu terbuka. Adrian masuk dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia memijat Pangkal hidupnya. Ia benar-benar pusing dengan masalah ini.


Dari dapur Erwin keluar dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya." apa yang sebenarnya terjadi, bro? Tadi Anaya sempat menghubungi ku dan mengatakan jika kau belum pulang sejak semalam." Ujar Erwin ia meletakkan kopi yang ada ditangannya kemudian duduk di kursi seberang yang saat ini di duduki oleh Adrian.


"Anaya menghubungimu?"tanya Adrian.


"Ya dia menghubungiku, dari suaranya ia terdengar sangat khawatir."


"Kenapa ngak Lo angkat, bro?" Tanya Erwin yang saat ini menyeruput kopi di tangannya.


Adrian hanya mengeleng dan menyimpan ponselnya di atas meja.


"Aku bersalah. Aku bersalah padanya." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Adrian.


Erwin mengeryitkan keningnya,"maksud Lo?" Erwin menatap Adrian meminta penjelasan tentang ucapannya barusan.


"Coba jelaskan secara rinci, gue ngak mengerti dengan ucapan Lo?"titah Erwin.


Adrian menegakkan kembali duduknya. Ia menghembuskan nafasnya secara kasar dan mulai bercerita dari awal sejak ia sampai di Bogor dan berakhir tadi pagi saat ia sudah terbangun.


"Tidak mungkin." Erwin terlihat mengeleng-gelengkan kepalanya." Apa Lo meminum atau memakan sesuatu?"tanya Erwin. Ia meletakkan cangkir yang ia pegang ke atas meja dan kembali menatap wajah Adrian.


Adrian mulai mengingat-ingat. Sejak ia sampai di Bogor ia makan di restoran dan malamnya ia belum memakan apa-apa. Ia hanya meminum segelas minuman yang di letakkan oleh pelayan.

__ADS_1


Adrian mengeleng."tidak. Aku hanya meminum segelas wine yang di letakkan pelayan. Setelah itu aku tidak memakan ataupun meminum apa-apa." Balas Adrian.


Seketika Erwin memutar otaknya, ia sedang berpikir dan kembali menatap Adrian.


"Apa jangan-jangan Lo di jebak?" Seru Erwin.


"Di jebak?"tanya Adrian. Ia mengerutkan alisnya saat menatap Erwin.


"Iya, ada kemungkinan Lo di jebak. Lo masih ingat siapa yang menyimpan segelas wine di meja Lo?"tanya Erwin.


Adrian mengeleng." Gue tidak ingat wajahnya, yang gue ingat dia seorang pria. Tinggi kira-kira 165 cm. Selebihnya gue lupa."balas Adrian.


"Lo harus cari tau, siapa waiters itu. Setelah itu kita gali informasi darinya. Mungkin saja ia adalah orang suruhan Siska. Lo tau sendiri bukan, jika Siska sangat terobsesi pada lo"ujar Erwin.


Adrian mengagguk mengerti.


Tak lama ponsel Adrian kembali berdering.


Adrian melihat ponselnya dan melihat id si penelepon, kali ini bukan panggilan dari Anaya melainkan panggilan dari pak Suhendi. Papa Adrian.


Adrian tidak menanggapi. Ia membiarkan ponselnya terus berdering. Ia lelah dengan ocehan papanya yang terus menyuruhnya meninggalkan Anaya dan menikah dengan Siska.


.


.


.


Terima kasih yang masih mengikuti. Pemenang untuk dukungan terbanyak kemarin jatuh pada…



Selamat untuk yang memberi dukungan terbanyak. anda bisa menghubungi saya via pesan FB atas nama Putriyani Mursalim. Pulsanya akan di kirim paling lambat tanggal 5 atau Minggu sore. Untuk yang belum beruntung, semoga di awal bulan berikutnya anda beruntung juga. Jadi jangan berkecil hati. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2